<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703</id><updated>2012-02-16T03:09:05.184-08:00</updated><title type='text'>my finger tips</title><subtitle type='html'>jika kau menghamba kepada ketakutan kita memperpanjang barisan perbudakan (wiji thukul)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1166603834816016741</id><published>2012-01-31T20:12:00.000-08:00</published><updated>2012-02-04T00:25:30.121-08:00</updated><title type='text'>Pak Ruhmari dan Mas Teguh</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;PAK RUHMARI dan Mas Teguh, ayah dan anak dari Jepara, adalah orang kecil belaka. Jika tak ada&amp;nbsp; peristiwa getir yang melibatkan keluarga mereka, dan diekspos luas media massa, barangkali kita&amp;nbsp; takkan mengenal keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ruhmari dan Mas Teguh adalah orang kecil belaka, bukan sosialita kota yang sering datang ke&amp;nbsp; acara-acara amal untuk orang miskin dengan tas kulit, rambut berlumur jelly, dan sneakers berharga&amp;nbsp; puluhan juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kelapangan dan ketulusan hati mereka melampaui sekat-sekat teritorial dan status sosial yang&amp;nbsp; dibuat manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di tengah sesaknya dada karena duka setelah kehilangan orang-orang yang mereka cintai, Pak&amp;nbsp; Ruhmari dan Mas Teguh membuka hati untuk memaafkan sosok yang telah merenggut nyawa&amp;nbsp; orang-orang terkasih mereka. Padahal, belum genap sepuluh hari tragedi itu terjadi. Sungguh sesuatu&amp;nbsp; yang tak mudah untuk dijalankan oleh manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di layar kaca, Selasa malam lalu, saya menyaksikan itu, saat bara kemarahan meluap di seantero&amp;nbsp; Indonesia; di Bima orang-orang membakar kantor bupati karena pemerintahnya tuli dan buta hati, di&amp;nbsp; Lampung dua etnis saling serang yang menyebabkan puluhan keluarga mengungsi, di Kalimantan Selatan kelompok masyarakat adat menghunus mandau mencegat truk batu bara untuk menuntut ganti&amp;nbsp; rugi atas tanah mereka yang dikeruk isinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ruhmari dan Mas Teguh jadi oase di tengah gerahnya atmosfer hidup di Indonesia belakangan&amp;nbsp; ini, karena pemimpin yang selalu absen saat rakyat membutuhkan kehadiran dan ketegasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ruhmari dan Mas Teguh datang dari Desa Singorojo Wetan, Kecamatan Mayong, Jepara. Jika&amp;nbsp; tak ada kecelakaan "Xenia Maut" di depan Tugu Tani, Jakarta dengan sembilan korban jiwa, Minggu&amp;nbsp; (22/1) lalu, mungkin kita tak pernah tahu dimana desa itu berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, Pak Ruhmari dan Mas Teguh kehilangan empat anggota keluarga mereka&amp;nbsp; sekaligus. Nani Riyanti (anak Pak Ruhmari, adik Mas Teguh), Yusuf Sigit Prasetya (anak Mas Teguh,&amp;nbsp; cucu Pak Ruhmari), Suyatmi (adik Pak Ruhmari, bibi Mas Teguh), dan Nur Alfi Fitriansih (keponakan&amp;nbsp; Pak Ruhmari, sepupu Mas Teguh) takkan bisa dijumpai lagi oleh Pak Ruhmari dan Mas Teguh serta&amp;nbsp; keluarga besar mereka. Mereka pergi dengan cara yang tentu tak pernah terpikirkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berangkat ke Jakarta untuk melihat Monas. Semua terjadi begitu cepat," tutur Mas Teguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya telah mengikhlaskan apa yang terjadi. Sebagai umat Islam, memaafkan itu, harus. Saya tak&amp;nbsp; punya dendam kepada sopir yang menabrak keluarga saya," kata Pak Ruhmari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ruhmari dan Mas Teguh lantas menerima uluran tangan dan pelukan dari ibunda Afriyani Susanti,&amp;nbsp; pengemudi "Xenia Maut"&amp;nbsp; yang menewaskan orang-orang terkasih mereka. Pintu maaf telah dibukakan&amp;nbsp; dan hukum mesti terus berjalan. Tetapi, memelihara dendam sepanjang hidup sembari meratapi&amp;nbsp; kematian tentu bukan pilihan yang baik. Pak Ruhmari dan Mas Teguh menyadari hidup adalah&amp;nbsp; melangkah ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karni Ilyas, Pemimpin Redaksi TV One, yang memfasilitasi pertemuan kedua keluarga itu, mengutip Al&amp;nbsp; Quran surat Ali Imran, yang intinya menyebutkan, "Orang bertakwa adalah orang yang bisa&amp;nbsp; memaafkan di saat kesempitan datang kepadanya dan di saat ia punya kekuasaan besar untuk&amp;nbsp; membalas dendam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ruhmari dan Mas Teguh, terima kasih atas pelajaran hidup yang kalian berikan, setidaknya untuk&amp;nbsp; saya pribadi yang melihat di layar kaca malam itu. Teladan tentang kebesaran hati dan kewibawaan&amp;nbsp; diri tak mesti datang dari pemimpin-pemimpin hebat dan berpendidikan tinggi. Dan, memang, yang kita&amp;nbsp; butuhkan hari ini bukanlah pemimpin, tapi pemberi teladan. Pak Ruhmari dan Mas Teguh telah&amp;nbsp; memulainya. Bravo! ***&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1166603834816016741?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1166603834816016741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1166603834816016741' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1166603834816016741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1166603834816016741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2012/01/pak-ruhmari-dan-mas-teguh.html' title='Pak Ruhmari dan Mas Teguh'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-692860289833408889</id><published>2012-01-23T04:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T04:40:41.470-08:00</updated><title type='text'>Roh Moo-hyun</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;DI usianya yang tak lagi muda, 62 tahun, Roh Moo-hyun mestinya hidup dalam ketenangan. Jabatan&amp;nbsp; Presiden Korea Selatan yang pernah digenggamnya selama lima tahun, dari 2003-2008, lebih dari&amp;nbsp; cukup untuk menjamin kesejahteraan di hari tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di hari-hari masa pensiunnya, Roh adalah seorang yang gelisah. "Banyak orang menderita&amp;nbsp; karena saya," ujarnya. "Apa yang saya lakukan di akhir hayat hanya jadi beban untuk orang lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sabtu pagi, 23 Mei 2009, kegalauan hati dan pikiran Roh mencapai puncaknya. Dari sebuah tebing&amp;nbsp; terjal, tak jauh dari rumahnya di pinggiran Seoul, mantan aktivis hak asasi manusia Korea Selatan itu,&amp;nbsp; terjun bebas. Roh memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah penyelidikan jaksa terhadap dugaan menerima suap semasa jadi presiden, yang ditimpakan&amp;nbsp; kepadanya, yang memicu kegelisahan Roh hingga maut menjemputnya. "Saya tidak mempunyai muka&amp;nbsp; lagi buat rakyat. Saya mohon maaf telah mengecewakan Anda," kata Roh, usai diperiksa jaksa, 22&amp;nbsp; hari sebelum ia bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan tak hanya mengendap dalam diri Roh, jutaan warga Negeri Ginseng juga terguncang&amp;nbsp; setelah terkuaknya skandal yang menimpa figur yang selama ini dikenal antikorupsi. Sebelumnya, Roh&amp;nbsp; adalah simbol politisi bersih dan pekerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan hidupnya, yang berangkat dari sebuah keluarga miskin di Busan hingga bisa meraih kursi&amp;nbsp; presiden, adalah kisah yang kerap diceritakan untuk menginspirasi generasi baru Korea Selatan. Roh&amp;nbsp; tak pernah kuliah. Ia belajar jadi pengacara secara otodidak, dan berhasil memperoleh lisensi sebagai&amp;nbsp; advokat. Karir sebagai pengacaralah yang mengantar Roh meraih reputasi tinggi. Tapi, kemasyuran&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai "orang lurus" yang menjulang itu, kini, pupus sudah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diduga menerima suap sebesar 6 juta dolar AS dari seorang pengusaha bernama Park Yeon-cha. Di&amp;nbsp; persidangan, Roh membantah tuduhan itu. Tetapi, Kim Dae-jung, sahabat sekaligus Presiden Korea&amp;nbsp; Selatan sebelum Roh, mengatakan sorotan media yang tajam terhadap kasus yang menimpa&amp;nbsp; rekannya itu, membuat Roh tak sanggup berada dalam tekanan. Aib itu, meski masih butuh&amp;nbsp; pembuktian di persidangan dan hakim belum menjatuhkan vonis, telah meluruhkan harga diri dan&amp;nbsp; martabatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa malu akibat skandal yang melilitnya membuat hidup Roh harus berakhir tragis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, negara yang berjarak 5.290 kilometer dari Semenanjung Korea, para pejabat dan bekas&amp;nbsp; pejabat yang sudah terbukti korupsi dan terima suap, bahkan dengan bukti yang sangat telanjang&amp;nbsp; sekalipun, tak pernah tahu apa arti kata malu. Di sini, para koruptor malah menjelma jadi selebriti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, ketika melangkah dari kursi pesakitan di pengadilan atau dari penjara menuju ruang sidang&amp;nbsp; dan ruang pemeriksaan, tebaran senyum dan lambaian tangan kepada rakyat yang menonton melalui&amp;nbsp; media massa, adalah bagian yang tak terpisahkan. Itulah selebrasi korupsi di Indonesia. "Mohon doa&amp;nbsp; dan dukungannya, ya." Ampun Gusti! Setelah mengkhianati rakyat, mereka masih meminta rakyat&amp;nbsp; mendoakan mereka! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit pula, di antara mereka yang terbukti korupsi dan terima suap dengan fakta yang telanjang,&amp;nbsp; mengaku masih punya nama baik. Sebab itu, ancaman membuat laporan pencemaran nama baik&amp;nbsp; terhadap orang-orang yang membongkar kasus mereka, kerap dilancarkan. Tidakkah mereka sadar,&amp;nbsp; setelah hakim menjatuhkan vonis, dan menyatakan seseorang terbukti korupsi, ia sudah tak punya&amp;nbsp; nama baik lagi. Mereka adalah koruptor! ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-692860289833408889?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/692860289833408889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=692860289833408889' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/692860289833408889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/692860289833408889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2012/01/roh-moo-hyun.html' title='Roh Moo-hyun'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8163343425643565942</id><published>2011-11-20T05:33:00.000-08:00</published><updated>2011-11-21T18:49:12.577-08:00</updated><title type='text'>Ikan Teri dan Sarung Gubernur Sani</title><content type='html'>SABTU pagi pertengahan Juli lalu, dalam perjalanan usai mengantar istri, saya dihubungi Rizal Saputra,&amp;nbsp; staf khusus Gubernur Kepri Muhammad Sani. Rizal adalah kawan lama. Ia mantan wartawan. Saat&amp;nbsp; aku masih reporter dulu, Rizal pernah jadi koordinator liputan di tempatku bekerja. "Gubernur minta&amp;nbsp; diwawancara soal setahun kepemimpinannya," kata Rizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan?" saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi ini kita ke Tanjungpinang," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik feri pukul 10.00 dari Pelabuhan Punggur sampai di Tanjungpinang hampir pukul 11.00. Setelah&amp;nbsp; makan gado-gado di pintu keluar pelabuhan, kami berjalan kaki ke Gedung Daerah, rumah dinas&amp;nbsp; Gubernur Kepri yang tak jauh dari pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kami menunggu di bagian belakang Gedung Daerah. Ini adalah kamar tempat para ajudan dan&amp;nbsp; supir Gubernur Kepri istirahat menunggu instruksi. Ada tiga kamar di bangunan itu. Semua dilengkapi&amp;nbsp; AC. Di sudut kiri terdapat kamar mandi. Kondisinya cukup bagus dan bersih. Di ruang tamu "rumah&amp;nbsp; para ring satu" itu terdapat tv layar datar 32 inchi. Salah seorang staf Gubernur sedang menonton film&amp;nbsp; di saluran Star Movie, saat kami masuk ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu jam dalam penantian di ruangan itu, saya sempat melihat-lihat beberapa sisi Gedung&amp;nbsp; Daerah, bangunan peninggalan kolonial Belanda. Gedung Daerah terdiri dari tiga bangunan utama.&amp;nbsp; Satu bangunan untuk rumah dinas Gubernur yang menyatu dengan rumah "para ring satu". Di tengah&amp;nbsp; ada bangunan untuk rapat dan pertemuan. Di sisi kanan, sekitar 50 meter dari rumah dinas Gubernur,&amp;nbsp; ada bangunan tempat nginap tamu-tamu khusus. Bangunan ini juga sering digunakan Wakil Gubernur&amp;nbsp; Kepri Soerya Respationo, jika sedang menjalankan tugas di Tanjungpinang. Di bangunan itu pula&amp;nbsp; Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginap saat melakukan kunjungan kerja ke Tanjungpinang&amp;nbsp; awal 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga rumah petinggi, suasananya bersih dan asri. Tentu saja, ada dana khusus milik negara&amp;nbsp; dialokasikan untuk merawatnya. Bahkan sekedar untuk memangkas rumputnya agar tetap rapi. Tuan&amp;nbsp; rumah tinggal beres dan menikmati kenyamanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sedang malas berjalan kaki dari satu bangunan ke bangunan lain di dalam kompleks Gedung&amp;nbsp; Daerah, para petinggi dan orang-orang penting, bisa menggunakan golf car yang terparkir dekat garasi&amp;nbsp; kendaraan dinas Gubernur, walau sebenarnya jarak antara satu bangunan dengan bangunan lain tak&amp;nbsp; lebih dari 50 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai rumah tinggal Gubernur Kepri, Gedung Daerah juga sering difungsikan sebagai kantor&amp;nbsp; oleh Gubernur, meski Gubernur sebenarnya juga punya kantor resmi yang jaraknya sekitar tiga&amp;nbsp; kilometer saja dari Gedung Daerah. Rapat-rapat "kabinet Sani-Soerya" lebih sering diselenggarakan di&amp;nbsp; Gedung Daerah daripada di Kantor Gubernur Kepri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul satu tengah hari, Gubernur Sani mengundang kami masuk ke ruang kerja pribadinya di&amp;nbsp; dalam bangunan rumah dinas. Ruang ini tak terlalu lapang. Ada lemari buku, kursi dan meja tamu,&amp;nbsp; satu unit AC terpasang di dinding bagian atas, dan sebuah meja kerja dengan komputer di atasnya.&amp;nbsp; Saat saya masuk Gubernur Sani sedang memegang mouse komputer kerjanya. "Silakan duduk,"&amp;nbsp; katanya sembari menunjuk kursi tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sani tetap duduk di kursi kerjanya. Ia mengenakan sarung kotak-kotak biru abu-abu dan kaos putih&amp;nbsp; tipis dengan tiga kancing di bagian dada. Kaos macam ini sering digunakan saudagar Tionghoa dalam&amp;nbsp; film-film Indonesia zaman dulu. "Saya baru selesai salat. Sehari-hari ya begini kalau di rumah sedang&amp;nbsp; tak ada tamu resmi, pakai sarung," katanya. Ia lantas bercerita panjang tentang apa saja yang telah&amp;nbsp; dikerjakan selama setahun jadi Kepri 1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu jam berbincang, ia mengajak makan siang. Sebelumnya Gubernur Sani memanggil&amp;nbsp; istrinya, Nyinya Aisyah, menanyakan apakah ada lauk untuk makan siang. "Masak apa hari ini. Kita mau&amp;nbsp; makan nih," kata Gubernur Sani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada goreng ikan dan teri, juga gado-gado. Nggak apa-apalah, cukuplah untuk makan siang ini," kata&amp;nbsp; Nyinya Aisyah. Siang itu, sang Nyonya mengenakan rok hitam sampai betis dan blus berkerah yang didominasi&amp;nbsp; warna hijau. Rambutnya diikat ke belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja makan, saya duduk di sebelah kanan Gubernur Sani, sedangkan Rizal duduk di sebelah kiri.&amp;nbsp; Nyonya Aisyah menuangkan nasi ke piring Gubernur Sani, lalu ke piring saya, dan ke piring Rizal. "Cukup atau&amp;nbsp; kurang?" ia bertanya. Saya jawab cukup saja, meski itu masih kurang dibanding porsi normal saya.&amp;nbsp; Nyonya Aisyah juga mengambilkan saya sepotong goreng ikan sembilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Sani memilih lauk ikan sembilang dan teri kacang. Kepri 1 makan dengan lahap. Ia tak pakai&amp;nbsp; sendok dan garpu, tapi menyuap langsung dengan jari tangan. "Tambah, tambah. Ayo, ambil lagi.&amp;nbsp; Jangan malu-malu," katanya. Beberapa kali Gubernur Sani menuangkan teri kacang ke piring&amp;nbsp; makannya. "Ini enak. Makan saya ya begini-begini saja. Orang di luar mungkin membayangkan makan&amp;nbsp; Gubernur mewah-mewah terus," katanya, sembari menyuap nasi ke mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pikir juga begitu. Jadi Gubernur kan semua tersedia," jawab saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Sani menukas cepat. "Saya ini orang desa. Anda bacalah buku (biografi) saya. Saya dulu&amp;nbsp; makan saja susah. Kalau sekarang ada lebih, ya harus bersyukur. Nggak selalu mewah," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersyukur atas apa yang saya miliki, itu yang membuat saya sehat dan berumur panjang. Resep lain,&amp;nbsp; saya tak pernah menyakiti orang lain," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari makan, Gubernur Sani berkata, dengan usia yang nyaris menginjak 70 tahun, ia tak punya&amp;nbsp; keluhan kesehatan berarti. "Juga tak ada pantangan untuk makan. Saya masih bisa makan daging&amp;nbsp; kambing," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul Waris di ruang makan. Waris adalah lelaki Tionghoa, tinggal di Karimun. Ia dekat&amp;nbsp; dengan keluarga Gubernur Sani sejak sang Gubernur masih menjabat Bupati Karimun. Waris datang&amp;nbsp; membawa buah lengkeng. Lelaki kurus itu ikut duduk di meja makan. "Ayo Waris sekalian ikut&amp;nbsp; makan," ujar Nyonya Aisyah sambil mengambilkan piring dan menuangkan nasi ke piring makan Waris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyonya Aisyah menyajikan buah lengkeng bawaan Waris di meja makan. Gubernur Sani makan sekitar empat&amp;nbsp; biji. Selepas makan, ia bicara tentang sorotan LSM perihal proyek pembangunan pusat pemerintah&amp;nbsp; Provinsi Kepri di Pulau Dompak, Tanjungpinang. "Berkali-kali saya bilang, saya tak pernah menyentuh&amp;nbsp; proyek. Proyek urusan SKPD," katanya. Ia menghela napas panjang. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8163343425643565942?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8163343425643565942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8163343425643565942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8163343425643565942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8163343425643565942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2011/11/ikan-teri-dan-sarung-gubernur-sani.html' title='Ikan Teri dan Sarung Gubernur Sani'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1962991004954554887</id><published>2011-11-14T05:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-14T05:28:09.840-08:00</updated><title type='text'>Ke Jantung Sejarah Malaysia</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;SUNGAI bersih dan tenang. Bangunan tua berarsitektur Eropa, yang terawat baik, berderet&amp;nbsp; di tepi kiri dan kanannya. Sebagian bangunan disulap jadi kafe. Orang-orang duduk di&amp;nbsp; sana menyeruput teh dan kopi, menanti senja, memandang perahu motor yang hilir mudik&amp;nbsp; di aliran sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan di Venezia, Italia yang sudah tersohor itu. Ini di Melaka, jantung sejarah negara&amp;nbsp; Malaysia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Melaka kini tumbuh sebagai kota tujuan wisata utama Malaysia. Ketua Menteri Melaka Ali&amp;nbsp; Mohd Rustam menyebutkan, pada tahun 2010 lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Melaka&amp;nbsp; mencapai 10 juta orang. Sejarah dan budaya adalah andalan utama pariwisata Melaka.&amp;nbsp; "Mengunjungi sejarah Melaka berarti mengunjungi Malaysia". Itulah slogan yang diusung&amp;nbsp; Pemerintah Negara Bagian Melaka. Identitas sebagai "Kota Sejarah" makin kokoh setelah&amp;nbsp; badan PBB, UNESCO menetapkan Melaka sebagai "Kota Warisan Dunia" pada 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Melaka tak setengah-setengah membenahi kotanya. Selain memugar&amp;nbsp; bangunan-bangunan tua dan bersejarah, mereka membangun trotoar dan jalur pejalan kaki&amp;nbsp; yang nyaman dan luas. Dengan fasilitas itu, para wisatawan yang ingin mengunjungi&amp;nbsp; berbagai objek wisata, khususnya di sekitar pusat kota, tidak perlu menggunakan&amp;nbsp; kendaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersihan kota juga sangat terjaga. Di beberapa kedai makan pinggir jalan, sulit&amp;nbsp; menemukan lalat di sana. Dan, tentu saja, tak ada gunungan sampah di sepanjang jalan,&amp;nbsp; seperti yang lazim kita dapati di kota-kota di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tempat menginap yang nyaman, juga bukan masalah besar. Di sekitar Rumah&amp;nbsp; Sakit Mahkota dan Dataran Pahlawan bertebaran hotel sederhana tapi nyaman bertarif 40&amp;nbsp; ringgit (Rp110 ribu) semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri aliran Sungai Melaka yang tepiannya disesaki bangunan tua bergaya Eropa dan&amp;nbsp; rumah-rumah Melayu klasik, adalah salah satu objek wisata andalan Melaka. Oleh&amp;nbsp; pemerintah setempat, program wisata ini dinamai River Cruise. Untuk menikmati aliran&amp;nbsp; sungai sepanjang 9 kilometer yang ditempuh selama 45 menit dengan perahu motor ini,&amp;nbsp; pengunjung cukup membeli tiket seharga 10 ringgit (Rp27.000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu paling pas menikmati River Cruise adalah petang hari saat cuaca sedang cerah.&amp;nbsp; Langit merah dan kelip lampu dari bangunan dan jembatan sepanjang aliran sungai adalah&amp;nbsp; pemandangan yang menakjubkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari konter pembelian tiket River Cruise, terdapat Museum Samudera. Dari&amp;nbsp; namanya saja, museum ini sudah pasti identik dengan segala yang berkaitan dengan laut.&amp;nbsp; Karena itu, bangunan museum dibuat berbentuk kapal. Ini adalah replika kapal Flor de&amp;nbsp; Lamar, sebuah kapal milik bangsa Portugis yang terdampar di Selat Melaka pada zaman&amp;nbsp; kolonial. Di museum yang diresmikan tahun 1994 ini dipamerkan sejarah Kerajaan Melaka&amp;nbsp; di masa-masa keemasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari, di seberang Museum Samudera, terdapat pasar malam yang menjual&amp;nbsp; aneka cenderamata buatan usaha kecil Malaysia. Di samping kiri pasar malam berdiri&amp;nbsp; Menara Taming Sari, semacam "Monas"-nya Melaka. Di malam hari, khususnya akhir&amp;nbsp; pekan, pelataran sekitar Taming Sari luar biasa ramainya. Wisatawan asing dan warga&amp;nbsp; Melaka berbaur menikmati malam di sana. Kedai-kedai makanan, dari masakan Melayu,&amp;nbsp; China, dan India, sangat mudah ditemukan. Beberapa menu, harganya bahkan lebih murah&amp;nbsp; dibanding di Batam.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 500 meter dari Taming Sari terdapat Dataran Pahlawan, alun-alun Kota Melaka.&amp;nbsp; Alun-alun ini dikepung pusat perbelanjaan moderen. Bahkan di bawah alun-alun juga ada&amp;nbsp; mall. Mereka yang ingin berbelanja bisa menyusuri satu per satu pusat perbelanjaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadap ke Barat dari Dataran Pahlawan berdiri bangunan tua, yang kini difungsikan&amp;nbsp; sebagai Pusat Dokumentasi Kemerdekaan. Orang Melaka menyebutnya Memorial&amp;nbsp; Pengisytiharan Kemerdekaan. Bangunan sisa kolonialisme Inggris itu dibangun tahun 1911.&amp;nbsp; Kini di sana terdapat berbagai macam informasi dan benda-benda yang berkaitan dengan&amp;nbsp; sejarah kemerdekaan Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kiri Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan berdiri Gereja St Paul. Gereja berada&amp;nbsp; di atas bukit dengan keringgian sekitar 200 meter. Untuk mencapai gereja, wisatawan harus&amp;nbsp; meniti ratusan anak tangga. Di depan Gereja St Paul berdiri patung St Xavier yang terbuat&amp;nbsp; dari marmer Italia hasil karya seniman Italia G Tony. Di dalam gereja juga terdapat tulisan- tulisan di atas batu yang dibuat pada abad ke 17. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua&amp;nbsp; Menteri Melaka Ali Mohd Rustam menyebutkan, pada tahun 2010 lalu jumlah&amp;nbsp; kunjungan wisatawan ke&amp;nbsp; Melaka mencapai 10 juta orang. Anggaran pendapatan dan&amp;nbsp; belanja Negara Bagian Melaka mencapai&amp;nbsp; Rp12 triliun per tahun. Dan, pariwisata adalah&amp;nbsp; salah satu penyumbang terbesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melaka telah tumbuh&amp;nbsp; menjadi destinasi utama para turis mancanegara. Karena itu, kita&amp;nbsp; patut berbangga," kata Ketua Menteri Melaka Ali Mohd Rustam, di Kompleks Kesultanan&amp;nbsp; Melaka. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1962991004954554887?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1962991004954554887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1962991004954554887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1962991004954554887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1962991004954554887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2011/11/ke-jantung-sejarah-malaysia.html' title='Ke Jantung Sejarah Malaysia'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5586964350210691833</id><published>2011-07-10T21:36:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T21:40:04.134-07:00</updated><title type='text'>Mengendalikan Diri di Meja Makan</title><content type='html'>HAMPIR sebulan lamanya, sejak Mei lalu, saya menderita tukak lambung. Kata dokter di rumah sakit,&amp;nbsp; tukak lambung adalah luka di lapisan lambung atau usus dua belas jari yang disebabkan oleh&amp;nbsp; tingginya asam lambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bersumber dari makanan. "Ini karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas dan minum&amp;nbsp; soda," kata dokter pertama yang saya kunjungi. Dokter perempuan itu saya datangi setelah seminggu&amp;nbsp; saya mencoba bertahan dengan mual di perut dan nyeri di ulu hati, karena tersedak-sedak tiap menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari minum obat yang diberikan ibu dokter, penyakit tak juga reda. Saya beralih ke dokter&amp;nbsp; lain. Kali ini obatnya lumayan membantu, meski tak sembuh total. Dokter kedua menguatkan informasi&amp;nbsp; dokter pertama: penyebabnya adalah makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Selama dua minggu sejak pulang dari dokter kedua, saya tak makan sambal dan lauk bersantan sama&amp;nbsp; sekali. Hanya nasi putih, sayur bening, dan sepotong ayam goreng atau ikan goreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, awal Juni, saya bertemu seorang ahli terapi. Ia memeriksa kondisi tubuh saya. "Lambung&amp;nbsp; Bapak bermasalah," katanya. Seperti dokter-dokter yang pernah saya temui untuk memeriksakan&amp;nbsp; penyakit saya, ia pun mengemukakan faktor yang sama sebagai sebabnya. "Ini karena makanan,"&amp;nbsp; ujarnya. Di tangan dialah, derita yang saya jalani selama satu bulan itu, berakhir. "Lambung Bapak&amp;nbsp; sudah bagus," katanya setelah saya menjalani tiga kali terapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para dokter dan ahli terapi yang saya temui menjelaskan, makanan pedas dan minuman bersoda&amp;nbsp; memacu produksi asam lambung dalam jumlah besar. Setiap orang punya kondisi lambung&amp;nbsp; berbeda-beda. Orang yang lambungnya tak terlalu kuat, jika terus digerus asam lambung, akan&amp;nbsp; menyebabkan luka di lambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejalanya biasanya adalah perut terasa penuh dan kembung terus menerus sehingga kerap sendawa.&amp;nbsp; Sering pula serasa ingin sendawa tapi tak bisa. Situasi ini biasanya menyebabkan nyeri di ulu hati.&amp;nbsp; Gejala lain adalah sakit dan nyeri di punggung dan tulang belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat datang ke dokter kedua, ia menanyakan pola&amp;nbsp; makan saya. Saya bilang, saya adalah pecinta makanan. Saya sering mencatat dan mengingat&amp;nbsp; nama-nama tempat makan berikut alamatnya, yang muncul di media massa. Setiap ada kesempatan&amp;nbsp; saya datang untuk menjajalnya. Jika cocok, saya rutin datang makan di situ dalam periode tertentu.&amp;nbsp; Dokter tertawa. "Kapan-kapan bagi ke saya alamat-alamat itu," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengontrol pola makan tidak saja merawat lambung dari derita tukak lambung. "Makanan itu menentukan kesehatan tubuh kita keseluruhan," kata dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging dan makanan berlemak, misalnya, sudah tentu akan menaikkan kolesterol. Kolesterol yang tinggi (ini juga sering saya rasakan) membuat kepala sering sakit dan bahu hingga leher belakang terasa tegang, nyeri dan pegal-pegal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkomitmen pada diri sendiri untuk mengontrol pola makan adalah tantangan sendiri. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Ketika membaca informasi tentang kesehatan atau mendengar cerita orang-orang akan bahaya yang ditimbulkan oleh kolesterol yang tinggi, dalam hati saya sering bertekad untuk berhenti mengonsumsi makanan dan minuman mengandung kolesterol tinggi. Tapi, kadang, satu jam setelah itu saya sudah duduk di warung bebek goreng langganan atau menyeruput rootbeer di rumah makan cepat saji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kini, saya sudah mengucapkan selamat tinggal, secara total, kepada minuman bersoda. Makan tanpa sambal tentu tak bisa sama sekali, tapi porsinya saya kurangi. Seorang teman Tionghoa menambahkan nasihat tentang kesehatan kepada saya: makan malam yang paling baik adalah sebelum matahari terbenam karena pencernaan masih bekerja dengan baik, dan jangan minum es teh saat makan karena berpotensi melekatkan sisa-sisa makanan pada lambung dan usus.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kita tak harus berubah setelah sakit dahulu. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5586964350210691833?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5586964350210691833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5586964350210691833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5586964350210691833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5586964350210691833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2011/07/mengendalikan-diri-di-meja-makan.html' title='Mengendalikan Diri di Meja Makan'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-3909977510556798473</id><published>2010-09-15T13:40:00.000-07:00</published><updated>2012-01-23T04:42:44.749-08:00</updated><title type='text'>Di Sudut Penjara</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;DI SELA jeruji besi selebar 10 cm, di ruang besuk Lembaga Pemasyarakatan Batam, Senin (6/9), bibir itu beradu. Sebuah kecupan tanda perpisahan. Tak ada kata terucap. Hanya dua pasang bola mata saling menatap, menyiratkan harap bisa berjumpa lagi dalam waktu dekat. Dari balik jeruji, sesosok lelaki berkaus biru melambai kepada perempuan yang baru saja mengecup bibirnya. Setelah si perempuan menghilang di balik pintu penjaga, sang lelaki menyusup ke dalam lingkungan penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit sebelum perpisahan yang mirip jalan cerita di novel cinta itu, keduanya berbincang mesra. Tangan mereka saling menggenggam di sela-sela jeruji penjara. Di sebelah mereka, seorang lelaki paruh baya, yang juga menghuni Lapas Batam, menerima kunjungan istri dan tiga orang anaknya. Istrinya bercerita tentang kelakuan satu per satu anak mereka. Tawa dan keceriaan pecah, meski hanya untuk sementara. Di ujung pertemuan, si istri menyerahkan tiga bungkusan berisi makanan. ''Bapak baik-baik di sini, ya,'' pesannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siang itu, suasana ruang besuk penjara cukup ramai. Silih berganti orang datang menjenguk kenalan atau kerabat mereka yang kebebasan dan kemerdekaannya sedang dititipkan kepada negara karena beragam alasan. Ada yang tertangkap saat memakai atau mengedarkan narkoba, ada yang membunuh, mencuri, memperkosa, ada juga yang terpaksa meringkuk karena tak sengaja menabrak orang di jalan raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang besuk berbentuk persegi panjang itu, pikiran saya bercabang-cabang. Saya coba menduga-duga perasaan orang-orang yang bertemu di sana, baik sebagai pembesuk maupun narapidana. Barangkali, gumam saya dalam hati, kalau diminta memilih, lelaki paruh baya yang dijenguk istri dan anak-anaknya itu akan memilih tinggal di sebuah gubuk tengah sawah sepanjang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga tanpa batasan waktu. Saya tak yakin Arthalita Suryani, narapidana kasus suap pejabat Kejaksaan Agung, benar-benar menikmati sel mewahnya di Rutan Pondok Bambu, Jakarta. Penjara tetaplah sebuah penjara. Kebebasan dan kemerdekaan sesungguhnya tak pernah ada di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ruang yang diisi empat potong bangku kayu panjang itu, pengunjung tak bisa melihat kondisi kamar tahanan. Yang terbayang di benak saya seketika itu justru penjara Alcatraz, penjara untuk penjahat kelas kakap di Amerika Serikat, seperti yang pernah digambarkan dalam film The Rock yang dibintangi Sean Connery dan Nicolas Cage. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Suhaimi bin Ramli. Siapa yang ingin jenguk Suhaimi?'' tiba-tiba seorang petugas jaga bertanya dengan lantang. Suaranya mengalahkan riuh rendah pertemuan para pembesuk dan narapidana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam lingkungan penjara muncul seorang lelaki bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 170 cm. Rambut atasnya berdiri semua seperti tusuk gigi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Puasa, Bang?'' tanya Hasan Aspahani, Ketua Dewan Kesenian Batam, ketika bersalaman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt; puasa,'' katanya. Ia tersenyum, memperlihatkan beberapa gigi depannya yang ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Salat gimana, lancar?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'&lt;i&gt;'Insya Allah&lt;/i&gt; selama di sini salat tak pernah tinggal.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi bin Ramli adalah narapidana kasus narkoba. Sudah tiga Ramadan lelaki kelahiran Medan 28 Desember 1965 itu mendekam di Lapas Batam. ''Bulan ini genap tiga tahun 10 bulan,'' tuturnya. Malam takbiran menyambut Idul Fitri 2010, Suhaimi bakal merasakan kembali udara luar, mengambil kembali kebebasan dan kemerdekaan miliknya yang selama ini diambilalih negara. ''Saya dapat remisi dalam rangka Idul Fitri. Hari Raya ini sudah bebas,'' ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di penjara, tak hanya kebebasan yang hilang dari hidup Suhaimi, tapi juga orang-orang yang ia cintai. Ia putus kontak dengan istri dan tiga anaknya. ''Terakhir kali mereka jenguk Ramadan 2008,'' katanya. Suaranya tiba-tiba pelan. Ia mengusap-usap kepalan tangan kirinya dengan telapak tangan kanan. Wajahnya menunduk. ''Anak saya yang tua seharusnya kini sudah SMP, yang nomor dua kelas lima, dan yang bungsu kelas satu SD,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beberapa kali menyebut penjara sebagai universitas kehidupan, Suhaimi bertekad tak ingin kembali lagi ke sana setelah bebas nanti. ''Ada yang saya syukuri masuk ke sini. Saya bisa hidup teratur. Ibadah lebih baik. Tapi, saya nggak ingin lagi balik ke sini. Cukuplah sekali ini,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dipenjara, Suhaimi yang datang ke Batam tahun 1989, menghabiskan hidupnya di jalanan, dari ngamen hingga jadi calo angkutan umum. ''Dulu Simpang Dam itu kita yang pegang,'' katanya. Pada pertengahan 1990 hingga 2002, kawasan Simpang Dam, yang berada di depan pintu masuk Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning terkenal sebagai daerah angker. Calo, copet, dan preman merajalela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beroperasi di Simpang Dam, Suhaimi beberapa kali ditahan polisi karena perkelahian, tapi ia tak pernah sampai dijebloskan ke rutan atau lapas. ''Paling tiga atau empat hari di kantor polisi, setelah itu keluar lagi. Yang benar-benar penjara baru kali ini,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003, setelah enam tahun menikah dan punya anak, Suhaimi memutar haluan hidupnya. Ia meninggalkan dunia lamanya, dan mendirikan LSM lingkungan hidup. ''Namanya LSM Pecinta Alam,'' katanya. ''Negara kita adalah satu dari tiga negara yang punya hutan tropis terbesar di dunia. Tapi, banyak keputusan pemerintah justru merusak hutan kita sendiri. Ada banyak kepentingan ekonomi dan tekanan dari negara maju sebagai penyebabnya,'' paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan itu tidak sekedar menjelaskan kenapa ia mendirikan LSM lingkungan hidup, tapi juga menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh menjalankan cita-cita organisasi tersebut, dimana ia duduk sebagai pendiri sekaligus ketua. Ia belajar dan mencari sebanyak mungkin infiormasi terkait lingkungan hidup, khususnya pelestarian hutan. ''Hutan kita harus diselamatkan.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulham Effendy, sahabat lama Suhaimi yang datang menjenguk ke Lapas, Senin siang itu, menuturkan, Suhaimi adalah seorang organisatoris ulung. Ia beberapa kali menggalang sekaligus memimpin pertemuan pengamen dan anak jalanan di Batam. ''Dia juga pendiri dan deklarator OI di Batam,'' ungkap Zulham, yang biasa disapa Pendos. OI adalah singkatan dari Orang Indonesia, sebuah organisasi penggemar musisi Iwan Fals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suhaimi, ada orang yang tak senang melihat perubahan hidupnya. Saat ia bersama LSM-nya menggelar pertemuan di hutan Duriangkang, suatu malam bulan November 2006, ia dijebak. Polisi datang melakukan penggerebekan dan menemukan daun ganja kering di sana. ''Pertemuan itu dihadiri tujuh orang. Tapi, waktu polisi datang, yang empat sedang pergi. Tinggal tiga orang termasuk saya,'' tuturnya. Satu dari dua temannya yang ikut tertangkap saat itu sudah menikah dan punya seorang anak. Satu teman lainnya masih bujangan. ''Saya tak tega kalau mereka sampai masuk. Mereka tak salah,'' katanya. Suhaimi pasang badan. Ia digelandang sendirian. Di persidangan, hakim menjatuhkan vonis enam setengah tahun penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah hidup Suhaimi berubah. ''Di dalam (penjara) memang beda jauh dengan di luar,'' katanya. Urusan makan, misalnya, harus pintar-pintar menahan selera. ''Kalau pagi kita hanya dikasih makan ubi rebus dan air panas,'' katanya. Air panas itu biasanya digunakan untuk menyeduh kopi atau teh yang harus disediakan sendiri. ''Ada yang jual di kantin penjara, di dalam sana,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, barulah perut napi bertemu nasi yang dihidangkan bersama sayur dan lauk pauk seadanya. ''Tahu tempe itu sudah bagus,'' ungkap Suhaimi. Makan malam, yang disediakan mulai pukul lima petang, menunya tak jauh beda. Apakah napi tidak pernah makan daging? ''Kalaupun ada itu cuma seupil, nggak beda sama kutil kayu. Kalau dimakan nggak berasa juga dagingnya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, bagi para napi, kunjungan keluarga dan kerabat makin berarti jika disertai kiriman makanan. Memang, tak mudah membawa makanan ke dalam sel. Sebab, setelah serah terima di ruang besuk, para napi harus melewati tiga pintu pemeriksaan barang di bagian dalam penjara. ''Tak masalah diperiksa, bahkan isi kantong sampai di bongkar semua, yang penting bisa makan dengan menu yang lebih baik,'' kata Suhaimi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kungkungan penjara juga membuat seseorang kehilangan akses untuk mendapatkan informasi dan berita-berita terbaru secara lengkap dan banyak versi. Pengelola lapas hanya membenarkan napi membawa radio. Televisi dilarang ada di kamar tahanan. Jendela dunia itu hanya tersedia di lobi lingkungan penjara. ''Itupun, kalau mau nonton, hanya bisa saat jam olahraga. Waktunya tiga jam sehari,'' kata Suhaimi. Dulu, kata dia, pernah disediakan surat kabar untuk dibaca bersama. ''Sudah beberapa bulan ini koran tak ada lagi.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapas Kelas II A Batam kini dihuni sekitar 600-an napi. Menurut pemantauan Suhaimi, 70 persen di antaranya tersangkut kasus narkoba. Baik sebagai pengedar atau pengguna belaka. ''Ada yang baru bebas dua minggu sudah balik lagi ke sini. Kecanduan narkoba memang berat,'' katanya. Suhaimi sendiri ditempatkan di Blok C-14. Ia menghuni sebuah sel yang, menurut dia, luasnya setara lapangan bulu tangkis. Di situ ia menjalani hari-hari bersama sembilan napi lainnya. Semuanya terlibat kasus narkoba. ''Di sel itu saya orang nomor dua,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sel itu, Suhaimi tergolong napi yang jarang dikunjungi kerabat dan keluarga, terlebih setelah hilang kontak dengan istri dan anak-anaknya. ''Mungkin mereka bosan jenguk saya, karena nggak keluar-keluar dari sini,'' ujarnya. Ketika beberapa teman lama datang berkunjung, ia kerap bertanya kenapa jarang membesuk dirinya. ''Mereka bilang: abang lama kali di dalam bosan saya bolak balik ke sini hehe,'' tuturnya. Tapi, jika sudah lama sekali tak dikunjungi, ia akan menghubungi keluarga atau teman-teman terdekat. ''Biasanya saya teriak saja, woi, ingat dong yang di sini. Masih hidup nih, aku belum mati! Biasanya setelah itu ada saja yang datang hehehe,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Suhaimi akan menghirup lagi kebebasan yang lama hilang dari kehidupannya. Pemerintah membebaskannya setelah mendapat potongan dan menjalani dua per tiga masa hukuman yang dijatuhkan pengadilan. Selain mencari keberadaan anak dan istrinya, Suhaimi bercita-cita mengaktifkan lagi LSM Pecinta Lingkungan yang didirikannya. ''Mohon dukungannya,'' kata dia. ***  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-3909977510556798473?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/3909977510556798473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=3909977510556798473' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3909977510556798473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3909977510556798473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/09/di-sudut-penjara.html' title='Di Sudut Penjara'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5986800993079420262</id><published>2010-08-30T22:25:00.000-07:00</published><updated>2012-01-23T04:42:55.661-08:00</updated><title type='text'>Menjaga Bakau demi  Anak Cucu</title><content type='html'>TAHUN 2003, saat pertama kali pindah ke Kavling Pancur Pelabuhan, Kelurahan Tanjungpiayu, Batam, Slamet seperti pulang ke desa. Maklumlah, sebelumnya Slamet tinggal di sebuah permukiman liar yang padat dan sumpek di sekitar Batam Center. ''(Saat itu) suasananya beda banget. Di sini masih benar-benar alami,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekitar seratus meter di belakang rumahnya, laut menghampar luas. Ratusan pohon bakau ukuran besar tumbuh di bibir pantai. ''Mirip hutan di kampung-kampung. Rimbun,'' ujar ayah empat anak kelahiran Yogyakarta itu. Di sela-sela akar bakau itulah, warga sekitar biasa memancing ikan sembilang atau lele laut. Ikan ini biasanya hidup di bagian laut yang dangkal. Di Kepulauan Riau, ikan sembilang adalah salah satu ikan favorit. Banyak rumah makan menyajikannya dalam bentuk asam pedas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Sembilang banyak banget. Kita nyari buat makan saja, malah banyak berlebih. Biasanya dijual lagi ke warga lain,'' tutur Slamet. ''Udang dan mujair juga banyak. Kalau tak ada lauk di rumah, kita mancing saja pasti adalah buat makan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana itu tak berlangsung lama, perlahan sembilang dan udang makin sulit didapat. ''Karena bakaunya habis ditebangi,'' katanya. ''Kini sembilang hampir tak pernah lagi dapat. Udang paling dapat beberapa ekor saja, itu pun butuh waktu lama,'' katanya. Kerusakan hutan bakau di Kavling Pancur Pelabuhan mulai terasa sejak tahun 2006. Pada 2007, bakau di sana bahkan nyaris punah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Yang merusak itu orang-orang pribadi untuk dijual ke dapur arang,'' katanya. ''Mereka bukan warga sini. Kami tak tahu asal mereka darimana. Tapi kami juga tak bisa melarang, karena pantai kan milik umum,'' kata Slamet. Ia menduga penebangan yang serampangan itu dikarenakan banyak orang tak tahu sifat pohon bakau. ''Bakau kalau sudah ditebang tidak bakalan tumbuh lagi. Beda dengan pohon lain,'' katanya menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakau, tanaman berakar tunjang ukuran besar dan berkayu, adalah bahan baku utama dapur arang dan harganya relatif mahal. Karena itulah, kayu bakau banyak diburu orang. Padahal, dengan ketinggian batang yang bisa mencapai 40 meter dan ketinggian akar dari permukaan tanah mencapai dua meter, bakau sejatinya adalah penyangga utama ekosistem pantai. Wikipedia menyebutkan, ''Kegunaan dari hutan bakau yang paling besar adalah sebagai penyeimbang ekologis dan sumber (langsung atau tidak langsung) pendapatan masyarakat pesisir.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya kerusakan bakau di Pancur Pelabuhan menggelisahkan Slamet. Apalagi pantai tempat ia biasa mencari ikan mulai mengalami abrasi. ''Bibir pantai yang hilang karena tidak ada bakau lagi mencapai dua meter. Kalau dibiarkan terus, bisa sampai di perumahan warga,'' ujarnya. Slamet berinisiatif melaporkan kondisi tersebut kepada kelurahan setempat, tapi tak ada respons serius. ''Orang kelurahan cuma bilang: kalau ada yang tebang ya Bapak larang saja,'' tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau menunggu pemerintah, yang entah kapan akan bertindak, Slamet menanami sendiri lahan bekas hutan bakau tersebut dengan bibit yang ia cari sendiri. Ia memulainya tahun 2008. ''Saya lihat kok makin lama makin kayak gini. Kita cemas sendiri. Yang kita pikirkan anak cucu kita nanti. Kita takut kalau-kalau ada tsunami, karena di belakang ini langsung berhadapan dengan laut,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejauh ini, kata dia, jika laut sedang pasang, air belum sampai menjangkau permukiman warga. Tapi jika abrasi terus terjadi, bukan tak mungkin bibir pantai akan tepat berada di belakang tembok rumah warga. ''Kita menanggulangi sebelum itu terjadi,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet mencari sendiri bibit bakau yang akan dia tanam. ''Saya ambil bibit yang jatuh-jatuh dari pohon yang masih tersisa. Saya kumpulkan,'' katanya. Proses pembibitan biasanya memakan waktu sekitar tiga bulan. ''Masuk bulan keempat baru ditanam,'' katanya. Sejauh ini Slamet sudah menanam lebih dari 500 bibit bakau. Dan, ia punya bibit siap tanam sekitar 2.000 pohon. Tak ada biaya yang dia keluarkan. ''Bibir kan ngambil yang jatuh-jatuh ke tanah. Pupuk juga tak ada. Asal telaten merawatnya, pasti tumbuhnya bagus,'' paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Juni lalu, Slamet mengajak saya melihat-lihat area bekas hutan bakau yang sudah ia tanami lagi. Pada beberapa titik, bibit bakau setinggi tak lebih dari satu meter menghampar ke arah pantai. ''Itu semua yang sudah saya tanami,'' katanya. ''Yang itu dulu gundul sekali, sekarang sudah mulai rimbun,'' kata menunjuk kumpulan pohon bakau yang mulai lebat daun-daunnya. Hingga saat ini sekitar dua hektar kawasan pantai sudah ia tanami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet tak sekedar menanam, ia rutin merawat pohon yang sudah ditanam. ''Tiap pagi saya siangi,'' katanya. Ketam dan siput adalah musuh utama pohon bakau. ''Kalau tak dibuang pohon bisa mati. Kerja kita jadi sia-sia,'' ujarnya. Untuk tumbuh kokoh dan besar, pohon bakau butuh waktu sampai lima tahun. ''Kalau saya menunggu dan tak mulai menanam, kapan bakau ini besarnya. Lama-lama air pasang bisa sampai ke rumah warga,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ia mengerjakan itu semua bersama anak perempuannya. ''Sekarang saya yang tangani sendiri. Anak saya yang biasa bantu-bantu sudah kerja di Malaysia,'' ungkapnya. Apakah ada warga sekitar yang turut membantu? Sambil tersenyum, Slamet menjawab, ''Saya sendirian saja. Belum ada warga yang bantu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tamatan STM ini tak tahu pasti jenis bakau yang biasa tumbuh di sekitar pantai Pancur Pelabuhan, dan kini ditanamnya. Di Indonesia terdapat tiga jenis bakau yang biasa hidup di hutan-hutan bakau. Pertama, jenis bakau minyak. Sering juga disebut dengan nama bakau tandok, bakau akik, atau bakau kacang. Cirinya, warna kemerahan pada tangkai daun dan sisi bawah daun. Bunganya biasanya berkelompok dua-dua, dengan daun mahkota gundul dan kekuningan. Buahnya kecil berwarna coklat, panjangnya 2–3,5 cm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah jenis bakau kurap. Nama lainnya bakau betul atau bakau hitam. Disebut bakau hitam karena kulit batang berwarna hitam. Bunga berkelompok 4-8 kuntum. Daun mahkota berwarna putih, berambut panjang hingga 9 mm. Buah berbentuk telur, hijau kecoklatan. Bakau kurap sering bercampur dengan bakau minyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bakau kecil. Bakau ini hanya tumbuh sampai dengan tinggi sekitar 10 meter. Nama ilmiahnya adalah Rhizophora stylosa Griff. Bakau ini menempati habitat yang paling beragam. Mulai dari lumpur, pasir, sampai pecahan batu atau karang. Mulai dari tepi pantai hingga daratan yang mengering. Terutama di tepian pulau yang berkarang. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/THySAbwfIeI/AAAAAAAAAGk/FF4o7NQ7H1Y/s1600/slamet+4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/THySAbwfIeI/AAAAAAAAAGk/FF4o7NQ7H1Y/s320/slamet+4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PERKENALAN Slamet dengan bakau boleh dibilang tanpa sengaja. Meski sejak tahun 2003 sering memancing di hutan bakau Pancur Pelabuhan, Slamet sama sekali tak punya pengetahuan tentang bakau, dari cara menanam hingga pola tumbuhnya. ''Buta sama sekali saya,'' ujarnya. Dengan laut saja, sebenarnya, kata Slamet, dia tak terbiasa. ''Saya pergi mancing ke pantai itu cuma iseng-iseng saja,'' ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar awal tahun 2008, anak perempuannya yang tinggal di Batuaji datang ke rumahnya. Ia mengabarkan, ada pegawai Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Kota Batam yang tinggal di samping rumah anaknya itu mencari orang untuk menanam dan mengembangkan bibit bakau. ''Mereka memesan 5.000 pokok bakau,'' katanya. Meski tak paham soal bakau, Slamet menyambut tawaran itu. ''Saya terima saja, orangnya juga katanya akan kasih tahu cara menanam,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertemu, pegawai Dinas KP2 itu hanya menjelaskan bakau secara garis besar. ''Selebihnya saya pelajari sendiri dan coba-coba saja,'' ujarnya. Seluruh bibit pesanan pemerintah itu tumbuh bagus dan diangkut untuk penghijaun pantai di kawasan Barelang. Berbekal pengalaman itulah, Slamet menghijaukan pantai Pancur Pelabuhan di belakang rumahnya. ''Kebetulan kondisinya sudah hancur. Ya, sudah, kenapa pengalaman ini tidak saya gunakan untuk memperbaikinya,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terjun menanam bakau, Slamet adalah tukang kayu. Ia biasa membuat kusen dan daun pintu. ''Tapi, bos saya bangkrut. Jadi berhenti kerja,'' katanya. Setelah itu, ia ikut teman-temannya kerja bangunan. ''Namanya buruh, nggak pernah tetap,'' katanya. Di rumah, istrinya membuka warung makanan kecil-kecilan. ''Jual es dan pempek,'' katanya. Slamet dan istri belajar membuat pempek saat tinggal di Palembang. ''Sebelum di Batam, keluarga kami merantau di Palembang,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung kecil, yang harus tutup jika hujan turun, itulah Slamet menghabiskan waktunya sehari-sehari, di samping memandangi hamparan bakau di pantai Pancur Pelabuhan. ''Beginilah. Tidak ada aktivitas lain lagi,'' ujarnya sambil berselonjor di ruang tamu rumahnya yang tak punya kursi dan meja. Tak satu kalipun aparat pemerintah datang menengok dan menghargai upaya Slamet menanam bakau tanpa meminta biaya negara. ''Tak ada. Nggak masalah,'' ujarnya. Apakah ia tak ingin dapat penghargaan kalpataru? ''Nggak pernah mimpi saya hehehe.''&amp;nbsp; ***  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5986800993079420262?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5986800993079420262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5986800993079420262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5986800993079420262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5986800993079420262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/08/menjaga-bakau-demi-anak-cucu.html' title='Menjaga Bakau demi  Anak Cucu'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/THySAbwfIeI/AAAAAAAAAGk/FF4o7NQ7H1Y/s72-c/slamet+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5881415035705627870</id><published>2010-06-26T20:56:00.000-07:00</published><updated>2010-06-26T20:56:18.393-07:00</updated><title type='text'>Sahabat Anak-anak Tuna Rungu</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;PEREMPUAN itu mendekatkan wajahnya ke cermin. Bibirnya terbuka lebar ketika melafalkan huruf B dengan suara sedikit nyaring. Seorang anak laki-laki, yang duduk persis di sampingnya, tak bereaksi apa-apa. Si anak mematut cermin, memperhatikan gerak bibir perempuan itu, mengernyitkan dahi, setelah itu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke, sekarang kita coba pakai kertas ini,'' kata Riniatun, perempuan berjilbab biru yang duduk di depan cermin itu. Ia mengeluarkan potongan kertas kecil dari kantong celana olahraga yang dikenakannya. Dengan tetap menghadap cermin, kertas sepanjang sepuluh sentimeter itu didekatkan ke bibirnya sembari melafalkan huruf B. Kertas berayun ke depan dan ke belakang. Ada getaran di situ. Rafi, anak laki-laki yang duduk di samping kanannya, spontan mengikuti. ''B'', kata Rafi. Suaranya cukup jelas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kamis (10/6) siang itu, di ruang belajar B2, lantai dua, Kompleks Sekolah Kartini, Jodoh, Pulau Batam Riniatun tengah memeragakan cara mengajarkan membaca huruf dan angka kepada anak-anak tuna rungu (tidak bisa mendengar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari depan cermin yang berada di pojok belakang ruang kelas, Riniatun pindah, berdiri di depan papan tulis, mengajarkan perkalian. Ia menulis: "5X4 = ?" Tujuh orang anak yang mengisi kelas itu berebut menjawab. Tapi, tak ada suara. Hanya tangan-tangan yang mengacung ke udara. Jari-jari mereka bergerak berubah-ubah, dari semula memasangkan telunjuk dan jari tengah, sesaat kemudian menggabungkan jempol dan telunjuk, membentuk lingkaran. ''Betul, dua puluh,'' kata Riniatun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja sebagai guru khusus kelas tuna rungu, bahasa isyarat bagi Riniatun adalah keseharian hidupnya. ''Sebab, penderita tuna rungu umumnya juga tidak bisa berbicara (bisu). Bahasa isyarat adalah alat komunikasi mereka. Itu yang saya ajarkan,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa isyarat penderita tuna rungu berlaku universal. Artinya, sebuah gerakan yang mengisyaratkan kegiatan atau pengertian terhadap suatu hal berlaku sama di negara manapun. Karena itu, isi kamus bahasa isyarat yang diterbitkan masing-masing negara memuat gerakan yang sama, meski disajikan dalam bahasa nasional yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bahasa isyarat itu terdiri dari ribuan gerakan dan bahasa tubuh,'' kata Riniatun. Sebagai gambaran, kamus bahasa isyarat edisi terakhir yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional tebalnya sekitar sepuluh sentimeter. Apakah Riniatun hapal semua isi kamus setebal itu? ''Kalau semua ya nggak. Tapi, yang umum digunakan saya tahu,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dengan Hati&lt;/b&gt;Riniatun mulai bekerja sebagai guru kelas tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Kartini sejak tahun 2003. ''Sebelumnya, saya kerja jadi operator perusahaan elektronik di Mukakuning,'' ungkap alumnus Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Yogyakarta ini. Riniatun lulus dari sekolah yang berada tak jauh dari rumah orang tuanya itu tahun 1994. ''Lama juga saya nganggur,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, begitu kembali ke habitat aslinya, dunia pendidikan, Riniatun mengaku tak canggung sedikit pun. ''Biasa saja. Yang saya ingat, saya nggak ada grogi. Pertama diterima di Kartini, saya ngajar TK (taman kanak-kanak) tuna rungu,'' katanya. Ketika itu, tuturnya, Sekolah Luar Biasa Kartini masih menempati gedung lama di kawasan Tanah Longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pelajaran yang paling sulit di kelas tuna rungu, kata dia, adalah bina komunikasi, persepsi, bunyi, dan irama. Pada pelajaran ini, selain memperkenalkan alat-alat musik, anak-anak juga diajarkan mengenal bunyi-bunyian. ''Susahnya bukan main,'' katanya. ''Sebab, bunyi-bunyian tidak bisa dilafalkan. Ini benar-benar terkait dengan pendengaran.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengajarkan pelafalan satu jenis huruf atau angka memakan waktu sekitar seminggu, mengajarkan ''menangkap'' bunyi-bunyian lebih lama dari itu. ''Anak-anak biasa dapat menangkap bunyi dari getaran di kaki. Itu syaratnya bunyi yang diperdengarkan harus keras. Misalnya, musik senam. Kalau anak-anak menggoyang-goyangkan tubuhnya saat musik dimainkan, artinya mereka merasakan getaran di kaki mereka.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi lain yang juga sulit diajarkan adalah ilmu pengetahuan alam, seperti gerhana bulan dan benda-benda angkasa. ''Sejarah juga cukup sulit, misalnya memberi pengertian apa itu kerajaan dan dimana posisi raja, itu juga butuh waktu dan contoh-contoh yang harus diulang-ulang,'' kata Riniatun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, kata dia, syarat utama mengajar kelas tuna rungu adalah kesabaran. ''Kita harus lebih mengedepankan perasaan dan hati kita. Anak-anak tahu kalau kita ngajar tidak dengan hati,'' katanya. Intelijensia anak-anak yang terlahir tuna rungu umumnya normal. Ketidakmampuan mendengar dan berbicara dengan baiklah, kata Riniatun, yang membuat mereka lambat menangkap pesan yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bahan yang diajarkan di kelas tuna rungu sama persis dengan bahan untuk murid di sekolah biasa pada masing-masing tingkatan kelas. Cara menyampaikannya saja yang berbeda. ''Saya lebih sering menempatkan diri saya sebagai teman mereka daripada bertindak sebagai guru. Situasi dan kondisinya memang berbeda dengan sekolah biasa.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dengan murid-murid, tidak sebatas menyampaikan pelajaran. Riniatun mengaku kerap menampung berbagai keluhan pribadi anak didiknya. ''Saya sering jadi tempat curhat mereka,'' ujarnya. Ada anak yang curhat karena kesal setelah dimarahi orang tuanya. ''Ada juga yang cerita tentang kedekatannya dengan teman tertentu. Misalnya, ada yang mulai suka pada temannya,'' kata Riniatun yang kini mengajar untuk murid kelas 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati hubungan dengan murid-muridnya, menurut Riniatun, sudah seperti anak dan orang tua, tak menghalanginya untuk bersikap tegas dan menegakkan disiplin selama jam belajar. Bila ada anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan, tetap dijatuhi sanksi. Anak-anak yang nakal juga dimarahi. ''Kalau marah biasanya, saya liatin saja terus. Kalau belum merasa juga baru saya acungin telunjuk saya ke arah anak yang dimarahi. Kalau sudah begitu biasanya mereka langsung ngerti.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti laut yang jadi muara bagi semua aliran sungai. Riniatun tak cuma jadi tempat curhat muridnya, orang tua siswa juga kerap datang berkeluh kesah tentang anak-anak mereka. Dari yang bercerita tentang anak-anak yang berubah, dari anak manis tiba-tiba jadi sulit diatur sampai masalah ekonomi keluarga. ''Namanya juga orang tua, semua hal tentang anak pasti dipikirkan,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau ada anak yang setelah jam bubar sekolah belum juga sampai di rumah, biasanya orang tua mereka telepon saya,'' katanya. Di handphonenya Riniatun menyimpan nomor semua orang tua murid dan murid di kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Provinsi Kepulauan Riau, anak-anak Sekolah Luar Biasa Kartini adalah langganan juara berbagai kompetisi antarpelajar sekolah luar biasa. Ada yang juara lomba desain grafis dan akan mewakili Kepri pada ringkat nasional di Surabaya tanggal 14 Juni 2010. Ada juga juara lomba pantomin dan jadi wakil Kepri pada lomba tingkat nasional. ''Murid-murid kita juga ada yang juara bulu tangkis dan seni lukis tingkat provinsi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pesan Bapak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;''Kamu jadi guru saja. Terserah mau jadi guru apa.'' Pesan itu masih diingat Riniatun. ''Bapak bilang gitu ke saya, waktu saya mikir-mikir mau sekolah ke mana,'' katanya. Ia akhirnya memilih Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Yogyakarta. Awalnya, ia tak punya gambaran apa-apa tentang sekolah yang akan dimasukinya. ''Saya pilih itu, karena hanya sekolah itu yang dekat dengan rumah saya,'' ujar ibu satu anak kelahiran Sleman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memilih jurusan B atau tuna rungu sebagai spesialisasinya, Riniatun juga tak punya alasan khusus karena tak punya informasi apa-apa tentang kelas tuna rungu. ''Pokoknya saya masuk saja. Setelah itu saya jalani saja. Oh, ternyata seperti ini,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Yogyakarta berada satu lingkungan dengan sekolah luar biasa. ''Kita langsung praktik di sekolah itu. Tidak hanya teori. Makanya, meskipun lama nganggur setelah lulus, saya masih ingat pelajaran dan metodenya,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riniatun kini tak hanya menikmati profesinya sebagai guru. Dengan menguasai bahasa isyarat ia kerap diundang sebagai penerjemah di berbagai forum yang dihadiri peserta tuna rungu. Ia juga sering dikirim mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan untuk memperluas pengetahuan dan wawasannya tentang pendidikan di sekolah luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riniatun bertekad mengabdikan hidupnya selamanya sebagai guru untuk anak-anak tuna rungu. ''Insya Allah selamanya saya akan jadi guru tuna rungu. Pahalanya itu yang dicari. Saya senang bisa membantu anak-anak,'' katanya. Ia bahagia dengan apa yang dijalaninya saat ini, sebagai guru sekaligus teman "bicara" anak-anak tuna rungu.&amp;nbsp; ''Saya happy kalau bisa membuat anak-anak ngerti sesuatu dari yang mulanya tidak mengerti sama sekali.'' ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5881415035705627870?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5881415035705627870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5881415035705627870' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5881415035705627870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5881415035705627870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/06/sahabat-anak-anak-tuna-rungu_26.html' title='Sahabat Anak-anak Tuna Rungu'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7489450534188934373</id><published>2010-06-23T06:57:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T20:52:57.210-07:00</updated><title type='text'>Tusiran Merawat Pantun</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;BERKARYA dan menoreh prestasi dalam sunyi. Begitulah potret hidup sastrawan dan budayawan Tanjungpinang Tusiran Suseno. ''Saya sebenarnya tak suka ditulis-tulis media,'' katanya. ''Saya grogi kalau diwawancara.'' &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika kita membuka file pemberitaan media massa tentang kiprah sastrawan dan budayawan di Kepulauan Riau dalam lima tahun terakhir, nama Tusiran muncul, barangkali, tak lebih dari jumlah jari tangan. ''Bukan apa-apa, saya ini dulu wartawan. Kerja saya nanya-nanya kayak Anda ini. Sekarang kalau saya ditanya-tanya, jadi merasa nggak enak saja,'' ujarnya memberi alasan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tusiran adalah sastrawan produktif. Ia memulai karir sastra dan seni secara "formal" ketika bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungpinang, pada tahun 1977. Di radio pelat merah itu, Tusiran yang mulanya bekerja sebagai pesuruh dan tukang bersih-bersih, belajar menulis naskah sandiwara radio. ''Pertama saya tengok-tengok saja cara orang bikin naskah. Lalu saya coba-coba. Akhirnya naskah saya dipakai,'' tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga berhenti dari RRI di penghujung 1990-an, Tusiran telah membuat 1.008 judul sandiwara radio. ''Semuanya sudah pernah ditayangkan,'' katanya. Satu naskah berjudul Ombak Gelombang terpilih sebagai naskah sandiwara radio terbaik nasional pada tahun 1991. Prestasi itu mengantarkan Tusiran mewakili Indonesia pada pemilihan sandiwara radio tingkat Asia di Jepang pada tahun yang sama. ''Namanya Morris High Award. Itu semacam Piala Citranya radiolah,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, tantangan menulis naskah sandiwara radio jauh lebih berat dibanding naskah sinetron yang kini marak di televisi. ''Sandiwara radio lebih imajinatif. Orang hanya dengar suara saja, yang bercerita pun tidak ada di depan mata mereka, tapi pendengar bisa larut dalam cerita. Emosi mereka ikut terbawa,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kata Tusiran, tak semua naskah yang pernah ditulisnya itu bisa diarsipkan. ''Hanya sekitar 800 judul saja,'' katanya. Sisanya terpaksa dibakar saat RRI Tanjungpinang pindah kantor. RRI tak punya tempat lagi untuk menampung seluruh arsip yang mereka miliki. 'Itulah buruknya sistem kearsipan kita. Kalau arsipnya sudah di atas lima tahun, dimusnahkan,'' katanya. Arsip naskah yang bisa diselamatkan itu disimpan di rumahnya. Tapi sial bagi Tusiran, rumahnya kebanjiran pula pada akhir 2009 silam. ''Sebagian naskah-naskah itu rusak karena basah,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis naskah, sesungguhnya, kata dia, sudah terasah ketika kecil dia sering melihat-lihat seniman Tanjungpinang tampil di Teater Grota, yang diasuh Mazumi Daud. ''Kebetulan teater itu di sebelah rumah saya di Batu 2,5,'' katanya. Penampilan Mazumilah yang membuat ia tergila-gila pada seni dan sastra. ''Saya selalu ingin menulis puisi dan cerita,'' ujarnya. ''Sampai-sampai ibu saya menjual peniti miliknya untuk beli mesin tik buat saya,'' Tusiran menuturkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati amat produktif dalam menulis naskah sandiwara radio, di Tanjungpinang Tusiran lebih dikenal karena kepiawaiannya melahirkan pantun. Hingga saat ini, kata Tusiran, dia sudah punya 180 ribu lebih judul pantun dengan beragam tema. Tentu saja, itu tidak termasuk puluhan pantun "konsumsi orang dewasa" yang juga ditulisnya. ''Itu kalau lagi iseng-iseng saja. Makanya, tak pernah saya publikasi,'' ujarnya terkekeh. Walau mengaku hanya untuk "iseng-iseng saja", toh Tusiran tetap mencatat pantun-pantun tersebut dengan rapi dalam sebuh buku catatan. Ia membacakan beberapa pantun ''orang dewasa" itu di tengah wawancara. ''Tapi, jangan Anda tulis pula,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tusiran mengatakan, seluruh pantunnya bersajak sempurna. Artinya, ekor kata di tengah kalimat -bukan saja ekor kalimat- memiliki bunyi yang sama. ''Itu tidak mudah,'' ucapnya. Contohnya: ambil kain di dalam kedai//kain tenun mahal harganya//kalau ingin jadi pandai//belajar tekun sepanjang masa//. Dalam pantun itu, kata "kain" dan "ingin" punya bunyi yang sama. Begitu pula kata "tenun" dan "tekun". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pantunlah Tusiran bisa bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Itu terjadi tahun 2006, saat deklarasi Tanjungpinang Negeri Pantun di Taman Ismail Marzuki. Saat bersalaman, Tusiran menuturkan, SBY kaget dan bertanya, ''Sampeyan ini orang Jawa opo orang Melayu?'' Mendengar pertanyaan itu Tusiran hanya tersenyum. ''Mau dijelaskan ceritanya panjang, waktunya sempit,'' ujarnya.&amp;nbsp; ''Nama saya berbau Jawa, karena memang orang tua saya dua-duanya dari Jawa,'' kata Tusiran yang lahir di Tanjungpinang 30 Juni 1957. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tusiran yang dinobatkan sebagai Seniman Kota Tanjungpinang pada tahun 2009 lalu, telah membukukan sejumlah pantunnya dengan judul Mari Berpantun. ''Buku itu sudah cetak ketiga sekarang,'' katanya. Buku Mari Berpantun dijadikan acuan dalam pelajaran sastra dan budaya di sekolah-sekolah di Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencipta pantun bagi Tusiran bisa di mana saja. Ia tak perlu merenung lama untuk dapat ide melahirkan pantun baru. ''Di mana saja dan kapan saja bisa dapat ide,'' ujarnya. Ia mencatat seluruh pantun-pantun tersebut dengan rapi. ''Sehari maksimal saya bisa buat 100 pantun,'' katanya. Kemana-mana Tusiran membawa empat buah buku tulis, yang masing-masing tebalnya 2 centimeter. ''Kalau lagi di tempat ramai, saya tak catat di buku, tapi catat pakai handphone dulu. Pulang ke rumah baru saya pindah ke buku,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tusiran punya mimpi, kelak sebelum wafat, ia bisa mencipta sejuta judul pantun. ''Memang berat, tapi bukan tak mungkin,'' ujarnya. ''Itu bisa masuk museum rekor,'' ucap Tusiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking cintanya pada pantun, dalam sejumlah novel yang sudah diterbitkannya -Ia sudah menerbitkan empat judul novel-, Tusiran selalu menyelipkan pantun dalam alur cerita novel-novel tersebut. ''Itu ciri khas novel saya. Ada pantun di dalamnya,'' katanya. Satu novelnya berjudul Mutiara Karam terpilih sebagai pemanang pada kompetisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006. ''Kini saya punya naskah empat novel yang siap terbit. Begitu ada sponsor bisa langsung terbit,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tusiran mengaku anti membuat karya yang reaktif terhadap isu-isu yang sedang hangat dan bersifat sesaat. Maksudnya, jika sekarang sedang hangat isu tentang pemilihan gubernur, ia tidak akan membuat karya terkait pemilihan gubernur. ''Saya nggak memanfaatkan isu-isu seperti itu untuk cari keuntungan. Saya alami saja. Makanya, kadang karya saya surut ke belakang berupa refleksi sejarah,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan seniman Tanjungpinang, Tusiran kini dikenal sebagai penasihat Wali Kota Tanjungpinang Suryatati Manan dalam membuat puisi. ''Saya tak bilang begitu. Tapi, setiap kali tampil di depan publik beliau (Suryatati) selalu menyebut saya sebagai gurunya, seperti di acara Kick Andy dan Anugerah Sagang,'' katanya. Suryatati belakangan memang sering tampil membaca puisi di depan publik. ''Biasanya, setiap selesai bikin puisi, beliau kasih lihat ke saya dan tanya-tanya apakah bagus atau tidak. Saya selalu bilang bagus,'' kata Tusiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa tahun lalu, Tusiran diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Pemerintah Kota Tanjungpinang. Ia bertugas di Perpustakaan Kota Tanjungpinang dengan jabatan kepala Seksi Pengolahan. ''Selain itu saya juga mengajar sastra dan budaya untuk muatan lokal di sekolah-sekolah,'' katanya. Ia kini juga membuka kursus gratis sastra kepada warga di rumahnya di Jalan Bhayangkara Nomor 31 Tanjungpinang. Rumahnya diberi nama Rumah Pantun Madah Kencana. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7489450534188934373?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7489450534188934373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7489450534188934373' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7489450534188934373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7489450534188934373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/06/pantun-dewasa-pak-tusiran.html' title='Tusiran Merawat Pantun'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8752847648896404104</id><published>2010-04-26T21:03:00.000-07:00</published><updated>2010-09-20T08:00:59.503-07:00</updated><title type='text'>Gerilya Menutup Dugaan Korupsi Bansos</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;AHMAD Dahlan berkali-kali mengucap istighfar. Wali Kota Batam itu tak sanggup menyembunyikan kecemasannya. ''Saya mohon maaf. Saya berjanji, komit untuk membenahi masalah-masalah yang terjadi. Itu komitmen saya,'' katanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari itu, Kamis (15/4), di ruang kerjanya di lantai lima Kantor Wali Kota Batam, Dahlan menggelar pertemuan dengan pengurus Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Menurut Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin, yang ikut dalam pertemuan itu, Dahlan meminta pengurus Aspan agar membatalkan rencana menggelar unjuk rasa menuntut kejelasan aliran dana bantuan sosial (bansos) untuk panti asuhan.&amp;nbsp; ''Wali Kota memohon-mohon supaya tidak ada unjuk rasa,'' ungkap Syamsuddin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kasus aliran dana bansos kini sedang diselidiki Kejaksaan Negeri Batam. Jaksa curiga ada korupsi dalam penggunaan anggaran tersebut. Pada tahun anggaran 2009, misalnya, dana bansos untuk panti asuhan besarnya Rp4,5 miliar, namun hanya Rp36 juta saja mengalir ke panti asuhan. Itu pun tidak semua kebagian. Sisanya tak bisa dijelaskan Pemko. ''Empat kali kami meminta Wali Kota untuk menjawab ke mana bantuan sosial itu disalurkan, tapi tidak ada jawaban,'' tutur Syamsuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam pertemuan dengan Aspan itu, Dahlan ditemani Sekretaris Kota Batam Agussahiman, yang sudah diperiksa Tim Kejaksaan Agung terkait aliran dana bansos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rekaman pertemuan yang diperoleh Batam Pos, terlihat betapa geramnya para pengurus panti. Seorang pengurus Aspan, dalam rekaman itu, menyebut penyalahgunaan dana untuk panti asuhan, yang kebanyakan diisi anak yatim piatu, adalah perbuatan zalim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pegawai saya lebih 5.000 orang, tidak semua bisa saya kontrol. Saya minta maaf," ujar Dahlan dengan suara tersendat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan coba "menjinakkan" Aspan dengan berjanji segera mencairkan Rp2,5 miliar dana bansos untuk panti asuhan tahun 2010.&amp;nbsp; "Mungkin nanti tempatnya bisa di Masjid Raya," katanya seperti yang terdengar dalam rekaman itu. Tapi, syaratnya, ya itu tadi, Aspan harus membatalkan rencana unjuk rasa menuntut kejelasan dana bansos tahun 2009 dan tahun-tahun sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbalo Iman Sakti, juru bicara Aspan menegaskan, persatuan panti asuhan tetap menuntut proses hukum dana bansos dituntaskan di Kejaksaan. "Kalau tidak, kami akan tetap demo. Jadi unjuk rasa tidak batal, tapi ditunda dulu. Kalau proses hukumnya mandek, kita akan demo. Yang pasti, kami tak mau kasus bansos 2009 ditutup, harus diusut tuntas," tegas Imbalo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung pertemuan, Bahrum Panjaitan, seorang pemilik panti asuhan mengingatkan Dahlan untuk tidak main-main dengan dana anak yatim. "Tolong kalau Bapak datang memberi bantuan, kalau dari pribadi Bapak, katakan itu dari pribadi Bapak. Tapi kalau dari Pemko Batam, katakan itu dari Pemko Batam. Dan yang paling penting, kasih tahu anggota Bapak, kalau kami dikasih bantuan, jangan pula disodorkan kuitansi kosong untuk kami tandatangani," ujar Bahrum berapi-api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikonfirmasi soal pertemuan itu, Wali Kota Ahmad Dahlan membantahnya. "Gak ada itu," katanya di Nongsa, Selasa (20/4). Dahlan juga selalu mengelak setiap kali ditanya soal kasus dana bansos tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, rekaman berdurasi 54 menit 21 detik yang diperoleh Batam Pos membuktikan bahwa pertemuan tersebut benar-benar ada. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;JIKA Ahmad Dahlan dan anak buahnya yang terkait dengan pencairan dana bansos kini sedang ketar-ketir, wajar belaka. Sebab data-data pencairan duit jatah anak yatim yang ditemukan Kejaksaan Negeri Batam sarat kejanggalan. Yang paling mencolok adalah besaran dana yang dicairkan tidak sesuai dengan yang tertera di laporan keuangan Pemko Batam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbalo Iman Sakti, juru bicara Aspan, mencontohkan dana bantuan manasik haji anak-anak se-Kota Batam tahun 2009. Kepada panitia, Pemko hanya mencairkan bantuan sebesar Rp2,5 juta, tapi dalam kuitansi laporan keuangan Pemko Batam tercatat yang keluar sebesar Rp8,5 juta. Begitu juga bantuan untuk lomba tiga bahasa di Sekolah Hangtuah. Dana cair sebesar Rp1,5 juta. Tapi dalam kuitansi laporan keuangan Pemko tertulis Rp7,5 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus lainnya, kata Imbalo, dilaporan telah dicairkan dana bantuan sosial ke daerah tertentu, seperti di pulau. Ternyata setelah dicek, dana tersebut tak pernah ada. "Kami menduga banyak yang fiktif. Beberapa sudah kami kros cek dengan penerima dan kami juga sudah kros cek data yang ada di kejaksaan," kata pendiri Panti Asuhan Hangtuah, ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus ini dibenarkan Kepala Kejaksaan Negeri Batam Tatang Sutarna. Ia mengambil contoh laporan pencairan dana bantuan sosial di Kecamatan Belakangpadang. ''Itu fiktif semua,'' ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin adalah salah satu korban laporan fiktif tersebut. Syamsuddin mengisahkan, yayasannya tidak pernah mengajukan proposal permohonan bantuan kepada Pemko Batam pada Januari 2009. Namun dalam laporan keuangan Pemko Batam, Yayasan Mama Syamsuri menerima bantuan dua kali. Pertama, 21 Januari 2009 sebesar Rp10 juta dan kedua 31 Januari 2009 sebesar Rp5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya baru tahu adanya bantuan itu setelah didatangi Kajari (Kepala Kejaksaan Negeri Batam Tatang Sutarna) awal April. Dia yang langsung datang ke sini (kantor yayasan),'' ungkap Syamsuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsuddin pun memenuhi panggilan Kejari Batam. Di sanalah ia melihat bukti-bukti yayasannya mendapat bantuan dari Pemko Batam. Buktinya berupa surat tanda terima uang yang dibubuhi tanda tangan miliknya yang dipalsukan dan stempel yayasan yang diyakini Syamsuddin juga dipalsukan. Bukti itu membuatnya tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Padahal kami tidak pernah mengajukan proposal. Kami hanya pernah menyerahkan laporan anggaran penerimaan dan belanja panti asuhan kepada Wali Kota dan Sekda,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajari Tatang Sutarna mengatakan, dari 100 masjid dan panti asuhan yang ia datangi atau ia panggil ketuanya, hampir semuanya menerima dana yang tak sesuai dengan catatan Pemko Batam. "Banyak pengelola panti asuhan dan ustad yang mengeluh ke saya. Orang-orang seperti ini harus kita bela," kata Tatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking banyaknya penerima fiktif itu, kata Tatang, sampai saat ini ia belum bisa mengambil kesimpulan, berapa kas daerah yang dikorupsi dalam kasus penyaluran dana bantuan sosial itu. "Saya menunggu dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatang punya pengalaman panjang mengungkap kasus korupsi di daerah. Yang paling rawan dikorupsi, katanya, dana-dana tak tersangka, dana bansos, dan pengadaan barang dan jasa. Itu sebabnya, penyaluran dana bansos yang tak pernah diutak-atik Kejaksaan Negeri Batam, kini dibidiknya. Apalagi, banyak laporan masuk soal keanehan penyaluran dana bansos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika melihat sepak terjang Tatang, siap-siaplah pejabat yang menilep dana bansos masuk penjara. Di Ciamis, misalnya, Tatang pernah memenjarakan mantan bupati, wakil bupati, sekretaris daerah, dan wakil ketua DPRD. ''Kepala Dinas PU juga saya penjarakan di sana,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatang tak gentar meski banyak intervensi. Dalam penyelidikan kasus bansos misalnya, Tatang mengaku hendak disogok Rp1 miliar. Namun ia menolak, karena tak ingin kasus yang menyangkut anak yatim ini terhenti. ''Kalau saya menghentikan kasus ini, berarti saya terlibat menzalimi anak yatim. Saya nggak mau kualat. Doa anak yatim kan makbul,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unjuk rasa dan surat kaleng yang memintanya pergi juga tak membuatnya gentar. Demonstrasi dan ancaman bukan hal baru bagi Tatang. Dulu, santet dan aneka ilmu hitam kerap mendatanginya. Istrinya pernah dua minggu tak bisa bergerak dari tempat tidur karena disantet orang yang perkaranya sedang disidik Tatang. Tak hanya itu, selama hampir setahun rumahnya tiap malam didatangi puluhan kalajengking. Pernah juga, tiba-tiba ada simbahan darah di lantai rumahnya, padahal saat itu tak ada anggota keluarganya yang terluka. Beragam ancaman ilmu hitam itu tak membuatnya gentar. Tatang makin bertekad membongkar korupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nanti saya pindah, dan kasus ini belum selesai, saya akan laporkan data penyelidikan bantuan sosial ini ke KPK," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BERAGAM cara ditempuh oleh mereka yang khawatir kasus dana bansos terbongkar. Gerilya dan bujuk rayu untuk "menjinakkan" kelompok-kelompok yang bersuara lantang menuntut penuntasan kasus ini, terus berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain coba menyuap Kajari Tatang Sutarna dan melayangkan surat kaleng ke Kejaksaan Agung mendesak Tatang dipindahkan dari Batam, mereka juga berupaya melemahkan gerakan yang digalang Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Aspan adalah pihak yang paling berkepentingan dengan kasus ini. Sebab, sebagian dana bansos yang diduga diselewengkan adalah jatah yatim piatu penghuni panti asuhan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Rabu (14/4) malam, Sekretaris Kota Batam Agussahiman, yang sudah diperiksa jaksa terkait kasus ini, menggelar pertemuan diam-diam dengan Nuraini Marthen Langi, salah satu pengurus teras Aspan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuraini, malam itu, Agussahiman mempertanyakan keinginan Aspan yang mengungkit kasus dana bansos panti asuhan. Agussahiman, kata Nuraini, juga menyampaikan bahwa Pemko Batam pada APBD 2010 siap menyalurkan dana bansos untuk panti asuhan sebesar Rp2,5 miliar dari Rp4 miliar yang telah dianggarkan, asalkan Aspan tidak memperpanjang kasus bansos untuk panti asuhan tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobi Agussahiman itu disampaikan Nuraini kepada pengurus Aspan lainnya dalam pertemuan di Hotel PIH, keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru bicara Aspan Imbalo Iman Sakti menceritakan, saat pertemuan di PIH itu, telepon Nuraini terus berdering. Si penelepon adalah penghubung Pemko Batam dengan Aspan yang selalu meminta informasi perkembangan hasil pertemuan Aspan tersebut. "Mungkin markus kali," seloroh Imbalo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mau mengungkapkan nama yang ia tengarai markus bansos itu. Imbalo hanya menyebutkan ciri-cirinya tinggi kurus. "Pokoknya dia jago buat proposal. Tapi sudahlah," ujar Imbalo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu jam rapat di PIH, Aspan sepakat menemui Kajari Tatang Sutarna. Mereka ingin menyampaikan bahwa Aspan Kota Batam tetap mendukung langkah yang dilakukan Kejari Batam mengusut dugaan mark up dan dugaan korupsi dana bansos itu. "Saat kami di Kejari, telepon Bu Nuraini Marthen Langi terus berdering. Entah dari siapa itu. Mereka menanyakan maksud kami ke Kejari Batam," ungkap Imbalo. &lt;b&gt;(nur/med/uma/vie/bal)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8752847648896404104?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8752847648896404104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8752847648896404104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8752847648896404104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8752847648896404104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/04/kelimpungan-setelah-nilep-jatah-yatim.html' title='Gerilya Menutup Dugaan Korupsi Bansos'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-9217244925540205713</id><published>2010-04-05T05:51:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T05:52:43.179-07:00</updated><title type='text'>Nasib Pahit Tionghoa Kebun Karet</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;PADA sebuah meja di beranda rumahnya yang bersebelahan dengan dapur, di Seipancur, Kecamatan Seibeduk, Batam, pasangan suami-istri Thang Ajek dan Tang Alian melahap makan siang mereka, Kamis (1/4). Gulai ikan kuah kuning adalah satu-satunya menu yang terhidang, ditemani sepiring kecil sambal goreng. Dua ekor anjing piaraan lalu lalang dari kolong meja ke sudut-sudut beranda, tak mengusik kenikmatan santap siang tuan rumah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Thang Ajek, sang suami, yang hanya mengenakan celana pendek warna abu-abu tua tanpa baju menutupi badannya yang kurus, melepaskan sendawa dan membakar sebatang rokok kretek merek Kencana, saat istrinya mengangkut piring dan sisa makanan ke dapur.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thang Ajek adalah generasi kedua komunitas Tionghoa di Pulau Batam. Ayahnya, Thang Seiu berasal dari China dan merantau ke Batam tak lama setelah Indonesia merdeka. ''Bapak pernah cerita, saat dia tiba di Batam dari Tiongkok umurnya baru 15 tahun,'' kata Tang Alian, mengenang mertuanya. Sejak pertama menginjakkan kaki di Pulau Batam, Thang Seiu menetap di kawasan sekitar Dam Duriangkang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan Tionghoa Batam meyakini, komunitas yang tinggal di sekitar Duriangkang ini adalah&amp;nbsp; generasi pertama komunitas Tionghoa di Pulau Batam. Di tempat tinggal barunya itulah, ayah Tang Ajek bertemu jodohnya, dan menikah. ''Ibu saya lahir di Mukakuning,'' kata Thang Ajek yang lahir tahun 1959 di Duriangkang.&amp;nbsp; Ketika ia kecil, kata dia, setidaknya ada sekitar 100 keluarga Tionghoa menghuni kawasan Duriangkang, Mukakuning dan sekitarnya. ''Umumnya mereka mengelola kebun karet dan bertanam singkong,'' katanya. Salah satunya, kata Thang Ajek, adalah keluarga Abi, pemilik Restoran Golden Prawn di Bengkong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Thang Ajek, ayahnya punya kebun karet yang luasnya mencapai 30 hektare. ''Sebagian Dam Duriangkang dan Kawasan Industri Batamindo itu dulu kebun karet bapak saya,'' katanya. Tang Alian, sang istri, yang juga lahir di Mukakuning, orang tuanya juga pemilik kebun karet di sekitar Duriangkang. ''Rumah tinggal kami, di lokasi Masjid Nurul Iman Batamindo yang sekarang itu,'' kata Tang Alian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, kehidupan warga Tionghoa boleh dibilang gemah ripah. Pohon karet tak berhenti meneteskan getah. ''Rata-rata satu hari bisa dapat enam kilo getah,'' kata Thang Ajek. Harga per kilo, ketika itu, menurut Thang Ajek, sebesar 40 sen. Hasil panen dijual Tanjungpinang. ''Bawanya pakai pancung. Di Duriangkang dulu ada pelabuhan yang bisa langsung ke Pinang,'' ujar Tang Alian menambahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski punya cukup duit dari hasil penjualan getah, warga Tionghoa yang bermukim di Duriangkang, Mukakuning dan sekitarnya, tetap tak bisa makan enak. Beras langka dan harganya menggila. ''Hampir tiap hari, kita makan nasi campur singkong,'' kata Thang Ajek. Mencampur nasi dengan singkong adalah cara terbaik untuk menghemat beras. ''Kalau mau beras, harus beli ke Tanjungpinang,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil Thang Ajek dan Tang Alian berlangsung saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Pulau Batam adalah basis penempatan tentara Indonesia yang siap menyerbu Malaysia. ''KKO (pasukan Marinir) menyebar di mana-mana di sekitar Mukakuning dan Duriangkang. Banyak sekali,'' tutur Thang Ajek. Keberadaan pasukan KKO, walau sebenarnya ditakuti oleh warga, membawa berkah tersendiri. ''Mereka bikin sekolah, dan mereka jadi gurunya,'' kata Thang Ajek. Tapi, begitu konfrontasi usai, dan pasukan ditarik dari Pulau Batam, sekolah pun bubar. Thang Ajek yang ikut belajar di sekolah KKO hanya sampai kelas satu pendidikan dasar. ''Itu pun tidak sampai selesai. Sekolah bubar duluan,'' katanya. Tang Alian malah tidak pernah sekolah sama sekali. ''Tapi, saya bisa baca tulis,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi warga Tionghoa di sekitar Duriangkang dan Mukakuning tidak mengganggu hubungan antar-etnis di sana, ketika itu. ''Selain Tionghoa, orang Padang dan Flores banyak juga,'' kata Thang Ajek. Jika sesama warga Tionghoa bertemu mereka berkomunikasi dengan Bahasa Tiow Chioe. Sedangkan pergaulan lintas etnis menggunakan Bahasa Indonesia. ''Makanya, banyak orang Tionghoa yang fasih Bahasa Indonesia,'' kata Tang Alian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thang Ajek dan Tang Alian sudah menikah selama 30 tahun. Mereka dikaruniai empat orang anak, yang semuanya lahir di Duriangkang. Kini keempat anak mereka sudah menikah dan tinggal bersama pasangan masing-masing. Ada yang di Jambi, di Jodoh, dan di Nagoya. ''Dua menantu saya bukan Tionghoa. Satu orang Bugis, satu lagi orang Jawa,'' kata Tang Alian. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;TAHUN 1991, pemerintah menerbitkan perintah pengosongan kebun dan lahan permukiman milik komunitas Tionghoa di Duriangkang dan Mukakuning. Area itu akan dijadikan dam atau waduk serta kawasan Industri. ''Semua harus pindah,'' kenang Thang Ajek. Selain menyediakan rumah pengganti di Seipancur, sekitar empat kilometer dari Duriangkang, pemerintah juga mengganti rugi kebun milik warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun milik Thang Seiu, ayah Thang Ajek yang luasnya 30 hektare diganti sebesar Rp40 juta. ''Tapi, ada sisa sembilan hektare lahan kami yang tidak diganti,'' kata Tang Alian. Malangnya, keluarga ini juga tak dapat rumah pengganti, seperti yang diberikan pemerintah kepada bekas penghuni lahan di Duriangkang. ''Kami tak tahu kenapa. Orang lain dapat, kok kami tidak,'' kata Tang Alian. Akhirnya, mereka membangun rumah liar (ruli) di atas lahan kosong di belakang perumahan pengganti yang disediakan Otorita Batam. Di rumah berdinding tripleks yang kerap kebanjiran jika hujan turun itulah, mereka tinggal sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah, setelah haknya tidak diberikan secara adil oleh pemerintah, Tang Alian berjuang menuntut sesuatu, yang seharusnya ia dapatkan. ''Saya selalu datang ke Otorita menanyakan kenapa kami tak dapat rumah pengganti, seperti yang lain. Tapi tak pernah ada jawaban,'' kata Tang Alian. Ia menyebut nama Akmal dan Sunaryo, dua pegawai Otorita Batam yang selalu menemuinya setiap kali datang menanyakan haknya. Karena tak pernah ada kepastian, Tang Alian, akhirnya menyerah. ''Sampai capek saya ke sana, tak ada hasil juga. Sejak tahun lalu, saya tak pernah datang lagi,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tak punya kebun lagi, keluarga Thang Ajek-Tang Alian mencoba peruntungannya di bidang lain. Mereka pernah membuka usaha cuci mobil dekat pintu II Kawasan Industri Batamindo, dengan modal awal sebesar Rp35 juta, yang diambil dari sisa uang ganti rugi kebun dan pinjaman sanak saudara. Usaha itu tak bertahan lama. ''Mesinnya dicuri anak buah,'' kata Tang Alian. Kini, pasangan suami istri ini berdagang ikan segar di Pasar Seipancur. ''Kami beli dari nelayan di Kampung Bagan. Tapi, hasilnya tak terlalu bagus,'' kata Thang Ajek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tak ikut anak dan menantu? Menurut Tang Alian, suaminya tidak terbiasa tinggal di kota. Thang Ajek tak betah dan kurang nyaman dengan suasana perkotaan. ''Saya lahir dan besar di kebun. Kalau sekarang pergi ke Nagoya saya malah tak ngerti sama sekali,'' kata Thang Ajek. Bagi Thang Ajek, Batam zaman dulu jauh lebih enak dibanding Batam saat ini. ''Dulu bisa kerja di kebun. Belanja masih murah. Kepala tak pusing,'' katanya. ''Sekarang duit boleh saja banyak, tapi kalau belanja dapatnya sedikit.'' ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-9217244925540205713?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/9217244925540205713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=9217244925540205713' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9217244925540205713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9217244925540205713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/04/nasib-pahit-tionghoa-kebun-karet.html' title='Nasib Pahit Tionghoa Kebun Karet'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8823859209763326877</id><published>2010-03-23T05:45:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T05:45:19.745-07:00</updated><title type='text'>Redupnya Kilau Pulau Sambu</title><content type='html'>MENGENANG masa lalu bagi Safitri adalah beban yang berat, walau sederet peristiwa indah terekam jelas dalam ingatannya. ‘’Sedih rasanya kalau ingat zaman dulu. Semuanya indah. Rasanya ingin kembali, tapi kan nggak mungkin,’’ katanya. ‘’Saking bahagianya tinggal di sini, dulu saya sampai nggak ingin keluar dari Sambu,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Safitri adalah salah satu warga yang pernah menikmati kejayaan Pulau Sambu, sebuah pulau kecil yang berjarak lima menit perjalanan dengan pancung (perahu mesin tempel) dari Pulau Belakangpadang, atau 15 menit dari Pelabuhan Sekupang, Batam. Pulau Sambu adalah lokasi depot BBM milik PT Pertamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan kelahiran Jakarta ini datang ke Sambu saat usianya masih delapan tahun, ikut ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Pertamina.‘’Kini umur saya 41 tahun,’’ ungkapnya, saat ditemui di Pulau Sambu, Rabu (17/3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan bahkan puluhan tahun silam, ketika Batam masih belum jadi kota besar seperti sekarang, Pulau Sambu bagi Safitri dan segenap penghuninya adalah surga kecil. Semua kebutuhan hidup, dengan kualitas sangat baik, tersedia secara cuma-cuma. ‘’Tak ada yang ingin pindah dari Sambu. Semua senang tinggal di sini,’’ kata Safitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Safitri dan ratusan warga Sambu lainnya tak bisa melawan kehendak zaman. Kilau keindahan pulau kecil itu redup pada pertengahan 1990-an, seiringnya surutnya sinar bisnis PT Pertamina. ‘’Sekarang saya mengirim anak-anak sekolah keluar, biar mereka tambah wawasan dan pengetahuan. Sambu sekarang dengan dulu memang beda,’’ katanya menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia datang 33 tahun lalu, cerita Safitri, Pulau Sambu punya semua fasilitas yang boleh dibilang cukup moderen pada masa itu. ‘’Dulu di sini ada bioskop. Yang di sebelah ini,’’ ujarnya sembari menunjuk gedung di samping tempatnya bekerja saat ini. Papan nama&amp;nbsp; ‘Nusa Indah’ yang terbuat dari besi masih menempel di bagian atas gedung itu. Tapi kondisi gedung tersebut tidak terawat. Beberapa bagian langit-langitnya rusak karena dimakan rayap. Lantai bagian depannya kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bioskop Nusa Indah rutin memutar film tiap hari. Film khusus anak-anak biasanya diputar pada sore hari. Malam harinya adalah giliran orang tua. ‘’Karyawan dan anak-anak Pertamina gratis nonton di sini,’’ tutur Dwi Prakarsa, yang bekerja di Pulau Sambu sejak 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bioskop Nusa Indah punya kapasitas sekitar 300 tempat duduk. ”Tempat duduknya berjenjang-jenjang, mirip bioskop zaman sekarang. Cukup nyamanlah saat itu,’’ kata Dwi. Selain bioskop, pemutaran film juga kerap dilakukan di lapangan terbuka atau “bioskop misbar”, gerimis bubar. Safitri ingat persis film terakhir yang diputar di Nusa Indah adalah Arie Hanggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan Pertamina yang tinggal di Sambu, pada masa itu, tak perlu merisaukan pendidikan bagi anak-anak mereka. Sebuah sekolah dengan standar tinggi disediakan perusahaan melalui Yayasan Kesejahteraan Pegawai Pertamina (YKPP) atau biasa disebut Yaktapena. Seperti halnya nonton bioskop, sekolah di sini pun gratis. Guru-guru terbaik didatangkan perusahaan untuk mengajar di sekolah yang bangunannya cukup luas dan megah itu. ‘’Sejak tahun 2000 sekolah Yaktapena bubar. Sekarang diganti jadi kelas jauh SD 001 Belakangpadang,’’ kata Safitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas kesehatan juga cukup baik. Perusahaan menyediakan klinik lengkap dengan para dokter yang siap membantu segala keluhan kesehatan karyawan dan keluarganya. Dwi Prakarsa yang dari dulu sampai sekarang bekerja di klinik tersebut mengisahkan, meski bersatus klinik, pusat layanan kesehatan itu sesungguhnya punya standar sama dengan rumah sakit. Bahkan melayani ra­wat inap segala.&lt;br /&gt;‘’Kalau se­ka­rang berobat jalan saja,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi karyawan dan keluarganya yang ingin liburan tak perlu cemas. Speedboat milik Pertamina siap mengantar penghuni Pulau Sambu ke Singapura tanpa dipungut biaya, tiap akhir pekan. ‘’Udah nggak bayar, masuk Singapura juga nggak perlu paspor, cukup ngasih KTP saja. Pokoknya, benar-benar asyik,’’ kata Safitri tersenyum mengenang masa-masa indah itu. Kini, tentu saja, fasilitas itu tak ada lagi. Sekarang, Pertamina hanya menyediakan pengantaran gratis ke Batam dua kali sebulan (minggu pertama dan ketiga), dan ke Belakangpadang dua kali juga sebulan (minggu kedua dan keempat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa keemasannya, segala kebutuhan pokok warga Pulau Sambu bisa didapat di pasar yang berada tak jauh dari dermaga pelabuhan. Deretan kios memang masih berdiri hingga kini, tapi pintunya tertutup rapat. Satu-satunya yang masih buka, setidaknya yang tampak pada Rabu (17/3) siang, hanyalah kios milik penjahit pakaian. Kini, sayur dan bahan makanan lainnya hanya tersedia di sebuah kedai kecil milik warga. ‘’Kalau mau beli yang lebih, harus ke Belakangpadang,’’ kata Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyamanan dan kemewahan hidup di surga kecil Pulau Sambu membuat para karyawan PT Pertamina dan keluarganya betah menetap di sana. Buktinya, kata Safitri, rumah dinas perusahaan selalu penuh oleh karyawan dan keluarganya. Air dan listrik tersedia sangat cukup. ‘’Sekarang rumah malah banyak yang kosong,’’ ujarnya. Diperkirakan kini hanya tersisa sekitar 100 keluarga di sana. Listrik memang masih bagus, jarang ada pemadaman. Tapi pemakaian air bersih kini mulai dibatasi, hanya mengalir ke rumah warga dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB. ‘’Kita ngerti (air dibatasi), karena Pertamina kan juga beli ke Batam,’’ ujar Safitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya fasilitas untuk karyawan yang disediakan Pertamina yang hilang satu per satu, berbagai unit kerja milik pemerintah pun ikut “pamit” dari Pulau Sambu. ‘’Dulu, waktu saya masih kecil di sini ada kantor kejaksaan. Saya bahkan sempat lihat sidang di situ, tapi nggak tahu sidang kasus apa. Sekarang kan kejaksaan nggak ada lagi,’’ kata Safitri. Kantor Pos pun tak beroperasi lagi. Gedungnya yang terletak di atas pasar, tampak kusam. Cat kuning gading yang menempel di dinding kini berubah kehitam-hitaman. Bank Mandiri, sepertinya, akan tercatat dalam sejarah Pulau Sambu sebagai satu-satunya bank yang pernah beroperasi di sana. ‘’Sudah tutup. Sudah agak lama juga, tapi saya lupa persisnya,’’ kata Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Safitri, Sambu mulai redup sejak tahun 1995. Ketika itu, banyak karyawan Pertamina mengajukan pensiun, dan berbondong-bondong keluar dari pulau itu. Sejak itulah, satu demi satu fasilitas hilang tanpa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri Pulau Sambu saat ini, sisa-sisa kejayaan itu masih terlihat. Jalan dari paving block dan beton ditaburi batu granit, kondisinya masih bagus dan bersih. Deretan rumah panggung berarsitektur megah milik pejabat Pertamina menghadap ke Selat Malaka, dan dari pekarangannya bisa menatap gedung-gedung tinggi Singapura, menandakan bahwa kemewahan memang pernah hadir di sini. Sejak lima belas tahun terakhir rumah-rumah besar yang mirip villa itu kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan rumah dan fasilitas umum yang mengikuti kontur tanah menunjukkan bahwa pembangunan Pulau Sambu memang didesain dengan sempurna. Pipa air bersih membentang di sepanjang sisi jalan, bahkan hingga ke Masjid Al Muhajirin yang berada di puncak bukit. Meski berada di ketinggian, air di tempat wudhu masjid ini mengalir cukup deras. Masjid Muhajirin yang dapat penghargaan sebagai masjid terbaik se-Batam tahun 2006 dilengkapi empat unit AC. Mungkin inilah satu-satunya masjid yang ada AC-nya di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada warga yang tahu pasti kapan Pulau Sambu dibangun sebagai sebuah surga kecil. Mencari secuil informasi resmi di pulau berstatus kawasan terbatas ini cukup sulit. ‘’Harus minta izin ke Pertamina Medan,’’ kata seorang petugas Satpam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyebut Sambu didirikan sebagai terminal BBM tanggal 16 Agustus 1897 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Safitri ingat, ia pernah kedatangan tamu seorang perempuan tua asal Belanda, belum lama ini. Perempuan itu kemudian minta ditemani ke lokasi rumah panggung di tepi pantai, bekas milik para pejabat. ‘’Ia lalu masuk ke salah satu rumah, dan bilang kalau dia lahir di rumah itu. Ia hapal seluruh titik Pulau Sambu dan bisa menjelaskan dengan baik,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap akhir pekan, Pulau Sambu kini rutin didatangi muda-mudi dan rombongan pekerja dari Batam yang ingin bertamasya. Pantainya yang bersih dan indah adalah daya tarik utama. Memandang birunya laut Selat Malaka dan gedung-gedung tinggi Singapura di siang hari, adalah kenikmatan tersendiri. Tapi, menurut Safitri, pemandangan yang paling menakjubkan di bibir pantai Pulau Sambu adalah saat matahari tenggelam. Langit merah kekuning-kuningan membentang sejauh mata memandang, sebelum gelap datang membekap. ‘’Sambu memang luar biasa,’’ ujarnya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8823859209763326877?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8823859209763326877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8823859209763326877' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8823859209763326877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8823859209763326877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/03/redupnya-kilau-pulau-sambu.html' title='Redupnya Kilau Pulau Sambu'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-3529982416751459668</id><published>2010-03-10T19:27:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:54:57.929-08:00</updated><title type='text'>Teladan Buya Syafii</title><content type='html'>''Banyak orang bilang Anda orang yang sederhana.''&lt;br /&gt;''Ah, ndak juga. Saya menikmati hidup juga.''&lt;br /&gt;''Menikmati kemewahan juga?''&lt;br /&gt;''Ya, istri saya kan pintar masak. Sesekali kami makan yang enak-enak juga.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Makan yang enak-enak hasil masakan istri adalah batas kemewahan tertinggi dalam hidup Ahmad Syafii Maarif. Setidaknya, itu tergambar dari dialog mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu dengan presenter Muhammad Farhan dalam acara Tatap Muka, di &lt;i&gt;TV One&lt;/i&gt;, belum lama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak kisah tentang kesederhanaan Buya Syafii yang disampaikan di media oleh orang-orang yang (pernah) mengenalnya dari dekat. Di rubrik Opini Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, beberapa tahun lalu, seorang aktivis muda Muhammadiyah menggambarkan betapa bersahajanya hidup seorang yang, jika dia mau, sebenarnya bisa menikmati hidup lebih dari yang dimilikinya saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia punya semua modal dasar -kecuali kekayaan- yang diimpikan oleh orang-orang yang rindu ingin disebut pemimpin: kecerdasan, karakter yang kuat, pengikut yang banyak (Muhammadiyah adalah ormas Islam terbesar kedua di Indonesia), ketokohan yang diakui lintas etnis, agama, dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya Syafii punya sebuah rumah pribadi yang cicilannya di bank baru lunas sekitar empat tahun silam. Itu dibenarkan Buya saat berbincang dengan Farhan. ''Uang mukanya adalah upah istri saya saat jadi baby sitter di Chicago,'' ungkapnya. Syafii, yang lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, meraih gelar doktor di Chicago University, Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak pernah memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya sebagai pemimpin organisasi besar untuk keuntungan pribadi, apalagi membarter kebenaran yang diyakininya dengan materi. Buya mengaku pernah ditawari jadi komisaris PT Garuda Indonesia. ''Tapi saya menolaknya,'' kata dia. Alasannya, karena dia, tidak punya keahlian di bidang itu.&amp;nbsp; ''Kalau saya terima, selain dapat gaji besar, saya bisa naik Garuda gratis kemana-mana,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya adalah orang yang langka. Jangankan jabatan komisaris di perusahaan sebesar Garuda, jabatan ecek-ecek di perusahaan ecek-ecek pun kini ramai orang rela menjilat dan menyembah-nyembah untuk mendapatkannya. Bahkan, ada yang berani menjanjikan setoran segala. Di instansi manapun kini, pemerintah atau partikelir, tiap berembus isu mutasi orang-orang cemas, grasa grusu mencari informasi soal perubahan posisi. Resah jika tak dapat kursi basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan ketokohan Anda, masak tidak ada yang ngasih bantuan?" kata Farhan. Buya mengungkapkan, banyak orang datang mengantarkan bantuan untuknya. ''Tapi, itu tidak saya pakai untuk pribadi saya,'' ujarnya. Uang bantuan dari pengusaha dan kader Muhammadiyah yang makmur, yang sebenarnya diberikan untuk ia pribadi, dikelola oleh seorang staf khusus. ''Kalau ada warga Muhammadiyah datang minta bantuan, uang itu yang diberikan. Jadi kas organisasi Muhammadiyah tidak terganggu,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat keluh kesah seorang teman di sebuah perusahaan swasta. Saat Lebaran lalu, ada klien perusahaannya menitipkan THR kepada atasannya untuk dibagi-bagi kepada seluruh karyawan. ''Tapi, si Bos nggak pernah bagi-bagi ke bawah. Semua dimakan sendiri. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Banyak hak kami yang diambilnya. Mudah-mudahan Tuhan menghukum dia. Hak kami itu kan dimakan anak istri dia juga,'' kata teman tadi mengeluarkan seluruh umpatan dan makian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Buya Syafii, faktor &lt;b&gt;penentu kepercayaan anak buah terhadap pemimpinnya adalah satunya kata dengan perbuatan&lt;/b&gt;. ''Masalahnya, banyak orang yang disebut sebagai pemimpin punya sifat munafik,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan tipe pemimpin yang di depan pengikutnya bicara kebaikan, tapi di belakang justru menelikung kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang dipimpinnya. ''Ahmad Syafii Maarif adalah tipikal pemimpin yang hanif (jujur), istikomah (konsisten), dan bisa menjaga jarak dengan politik secara konstan.'' &lt;i&gt;(Kompas&lt;/i&gt;, Rabu, 10/3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak pernah "main mata" dengan pejabat korup, itulah yang membuat Buya Syafii tidak punya beban mengkritik pejabat mana pun di Indonesia. Tentu saja, orang seperti dia, tidak pernah gamang dalam menentukan sikap, sebab pendapat dan pemikiran yang disampaikannya tidak terjepit di antara kepentingan pribadi dan amanah yang diembannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Buya Syafii bukan hanya seorang pemimpin, tapi juga teladan .... ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-3529982416751459668?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/3529982416751459668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=3529982416751459668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3529982416751459668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3529982416751459668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/03/teladan-buya-syafii.html' title='Teladan Buya Syafii'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8481362177844789286</id><published>2010-03-09T07:56:00.000-08:00</published><updated>2010-03-15T21:08:49.909-07:00</updated><title type='text'>Nasib Kasus Dana Bansos</title><content type='html'>HARAPAN terakhir membuka seterang-terangnya dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Kota Batam kini hanya tersisa di Kejaksaan Negeri Batam. Kepala Kejaksaan Batam Tatang Sutarna berjanji akan menuntaskan kasus tersebut, dan menyeret orang-orang yang terlibat ke proses hukum. Jangan sampai kasus Dana Bansos punya nasib yang sama dengan kasus bagi-bagi upah pungut di Dinas Pendapatan Daerah Kota Batam, yang mandek tak jelas muaranya. Jika ditelisik lebih jauh, kasus upah pungut dan kasus Dana Bansos melibatkan nama yang sama, orang kuat yang punya akses langsung ke sumber-sumber dana di Kota Batam, dan tentu saja bagian dari kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tanggal 18 Januari 2010, saya dan seorang fotografer bertemu Tatang di ruang kerjanya yang lapang untuk wawancara. Ia bersemangat mengisahkan kesuksesannya memenjarakan pejabat yang terlibat korupsi di beberapa daerah, dimana ia pernah bertugas sebagai jaksa. Ciamis, adalah daerah yang takkan pernah dilupakan Tatang. ''Sekda dan wakil ketua DPRD Ciamis saya penjarakan,'' ucapnya. Kebanggaan tersirat dari raut wajah dan tekanan kalimatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat itu, kata dia, mengorupsi dana bantuan untuk korban bencana alam. ''Itu dosanya dua kali lipat. Sudah korupsi, tambah lagi menzalimi orang-orang lemah korban bencana alam,'' kata Tatang. Secara pribadi, kata Tatang, ia mendesak musyawarah pimpinan daerah (Muspida) dibubarkan saja. ''Isinya lebih banyak membicarakan pengamanan proyek-proyek saja,”&amp;nbsp; ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, apakah pada saat pemeriksaan dia pernah mendapat tawaran untuk mereduksi kasus tersebut, sebab ia dan pejabat yang diperiksa sama-sama unsur Muspida. Dengan suara agak keras, Tatang menjawab, ''Saya tak mau ikut berdosa dua kali. Pertama, melindungi orang korupsi. Kedua, secara tak langsung saya ikut menzalimi orang lemah yang butuh bantuan dana yang dikorupsi itu, kalau saya menutupi kasus tersebut.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatang mengaku takut keluarganya kualat atau kena hukum karma karena menutupi kasus tersebut. ''Tahu sendirilah, doa orang-orang dizalimi kan manjur,'' ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan, dalam menangani Dana Bansos Kota Batam, Tatang ingat pada bisikan hatinya saat menangani dana bantuan korban bencana alam di Ciamis, yang diucapkannya lagi kepada saya dan teman saya, bahwa dia tak mau berdosa dua kali. Sebab Dana Bansos dan dana bantuan korban bencana punya hakikat yang sama: sama-sama untuk orang kecil dan duafa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, kisah Tatang terasa kian heroik di kuping saya ketika dia bercerita perjuangannya memberantas korupsi membuat istrinya lumpuh disantet tersangka korupsi yang tengah diperiksanya. ''Waktu saya pindah tugas dari Ciamis, semua ormas dan LSM antikorupsi datang melepas kepergian saya dan keluarga. Di Ciamis pula saya banyak dapat penghargaan,'' tutur Tatang yang mengaku menerima gaji Rp5 juta sebulan untuk masa kerja 19 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mudah-mudahan Tatang konsisten alias istikomah. Setidaknya dalam kasus Dana Bansos ini saja. Sebab ini menyangkut nasib ratusan anak yatim dan piatu yang tinggal di panti asuhan-panti asuhan kumuh dan tak terawat karena keterbatasan biaya yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;'&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Saya tak mau ikut berdosa dua kali. Pertama, melindungi orang korupsi. Kedua, secara tak langsung saya ikut menzalimi orang lemah yang butuh bantuan dana yang dikorupsi itu, kalau saya menutupi kasus tersebut.'' &lt;/b&gt;(Tatang Sutarna)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;KOORDINATOR Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko yang dihubungi lewat telepon mengatakan, Dana Bansos sejatinya adalah anggaran yang dialokasikan khusus untuk kaum miskin dan duafa. ''Namanya saja bantuan sosial,'' ujarnya. Dalam pos Dana Bansos Kota Batam tahun 2009, ada alokasi sebesar Rp4,5 miliar untuk panti asuhan. Meski dalam laporan keuangan dana tersebut habis disalurkan, nyatanya yang mengalir ke panti asuhan cuma Rp36 juta! Sisanya entah masuk ke kantong siapa. Inilah yang harus ditemukan oleh Tatang Sutarna, Kepala Kejaksaan Batam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danang menyebutkan, Dana Bansos adalah pos anggaran dalam APBD yang paling rawan dikorupsi. Sebab, proses untuk mendapatkannya sangat mudah. ''Tidak perlu tender. Cukup dengan proposal,'' katanya. ''Tanda terimanya pun hanya selembar kuitansi. Tak perlu keterangan lain-lain,'' kata Danang menambahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus yang diteliti ICW, pemberian dana bantuan sosial kepada masyarakat kecil hanya kamuflase belaka. Kenyataannya dana lebih banyak dialirkan kepada organisasi dan kelompok-kelompok pendukung kepala daerah saat pilkada. ''Karena itu, pos Dana Bansos sering dibengkakkan dalam APBD,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan ICW ini bisa ditarik dalam konteks Dana Bansos Batam tahun 2007 yang merupakan tahun pertama Wali Kota Batam Ahmad Dahlan ikut menyusun APBD setelah dilantik usai menang pilkada. Dahlan dilantik tanggal 1 Maret 2006. Artinya, saat dia dilantik APBD tahun 2006 sudah disahkan oleh wali kota sebelumnya. Di penghujung tahun 2006 lah dia baru terlibat membahas APBD untuk tahun 2007. Pada tahun 2007 itu, Dana Bansos di APBD Batam melonjak dua kali lipat dari tahun sebelumnya jadi Rp53 miliar. Apakah dana yang tiba-tiba membesar ini untuk bayar utang politik setelah pilkada? Tugas kejaksaanlah menelusuri dan memastikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam APBD 2008 Dana Bansos turun lagi jadi Rp25 miliar. Di akhir 2008, Komisi Pemberantasan Korupsi sempat menyelidiki aliran Dana Bansos Kota Batam tahun anggaran 2007. Sekda Kota Batam Agussahiman mencak-mencak tiap kali wartawan menanyakan kasus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, pada survei yang dilakukan ICW akhir 2009 di sembilan provinsi, korupsi yang paling sering muncul adalah korupsi Dana Bansos. Tercatat ada 66 kasus dengan 153 tersangka. Kerugian negara mencapai Rp215,57 miliar. Dari sekian banyak kasus yang muncul, ICW mencatat modus korupsi paling banyak adalah proposal fiktif. Maksudnya, sebuah organisasi atau yayasan (kemungkinan juga fiktif) mengajukan proposal permintaan bantuan untuk suatu kegiatan. Tapi, kegiatan itu tak pernah diselenggarakan, duitnya dimakan ramai-ramai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi untuk membayar jerih payah kelompok-kelompok pendukungnya saat memenangkan pilkada, seorang kepala daerah membuat proposal fiktif untuk mencairkan dana, atau mendorong kelompok-kelompok atau partai pendukungnya membuat proposal fiktif. Sebab, berdasarkan temuan ICW, pelaku terbanyak penilep Dana Bansos adalah anggota DPRD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, harapan terakhir disandarkan pada Kejaksaan Negeri Batam. Meminjam istilah inisiator Pansus Century DPR, jangan sampai kasus ini "masuk angin". ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8481362177844789286?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8481362177844789286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8481362177844789286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8481362177844789286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8481362177844789286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/03/nasib-kasus-dana-bansos.html' title='Nasib Kasus Dana Bansos'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-4671197742332065983</id><published>2010-03-04T20:09:00.000-08:00</published><updated>2010-03-15T21:08:23.095-07:00</updated><title type='text'>Wiji Thukul</title><content type='html'>&amp;nbsp;TIBA-tiba teringat Wiji Thukul, penyair dan aktivis buruh asal Solo yang hilang diculik karena sajak-sajaknya meresahkan penguasa. Sajak-sajak Wiji Thukul masih amat relevan dengan situasi saat ini: pemimpin yang mengaku bertanggung jawab, tapi buang badan ketika kerja anak buahnya ada yang mempermasalahkan; mengaku idealis, tapi kebenaran yang dipegangnya gampang goyah karena lobi dan bujuk rayu, pikirannya mudah disetir orang lain; pintar beretorika soal kepemimpinan yang baik, tapi buruk dalam memimpin; sok tegas, tapi sesungguhnya tak bisa menyembunyikan wajah ragu-ragu dan ambigu; menyebut diri ksatria, tapi takut mengambil risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sajak Suara&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam&lt;br /&gt;Mulut bisa dibungkam&lt;br /&gt;Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang&lt;br /&gt;Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan&lt;br /&gt;Di sana bersemayam kemerdekaan&lt;br /&gt;Apabila engkau memaksa diam&lt;br /&gt;Aku siapkan untukmu: pemberontakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya suara itu bukan perampok&lt;br /&gt;Yang ingin merayah hartamu&lt;br /&gt;Ia ingin bicara&lt;br /&gt;Mengapa kau kokang senjata&lt;br /&gt;Dan gemetar ketika suara-suara itu&lt;br /&gt;menuntut keadilan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata&lt;br /&gt;Ialah yang mengajari aku bertanya&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya tidak bisa tidak&lt;br /&gt;Engkau harus menjawabnya&lt;br /&gt;Apabila engkau tetap bertahan&lt;br /&gt;Aku akan memburumu seperti kutukan! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Peringatan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Jika rakyat pergi&lt;br /&gt;ketika penguasa pidato&lt;br /&gt;kita harus hati-hati&lt;br /&gt;barangkali mereka putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rakyat sembunyi&lt;br /&gt;dan berbisik-bisik&lt;br /&gt;ketika membicarakan masalahnya sendiri&lt;br /&gt;penguasa harus waspada dan belajar mendengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila rakyat tidak berani mengeluh&lt;br /&gt;itu artinya sudah gawat&lt;br /&gt;dan bila omongan penguasa&lt;br /&gt;tidak boleh dibantah&lt;br /&gt;kebenaran pasti terancam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila usul ditolak tanpa ditimbang&lt;br /&gt;suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan&lt;br /&gt;dituduh subversif dan mengganggu keamanan&lt;br /&gt;maka hanya ada satu kata: lawan! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tirani Harus Tumbang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Seumpama bunga&lt;br /&gt;Kami adalah bunga yang tak&lt;br /&gt;Kau hendaki tumbuh&lt;br /&gt;Engkau lebih suka membangun&lt;br /&gt;Rumah dan merampas tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumpama bunga&lt;br /&gt;Kami adalah bunga yang tak&lt;br /&gt;Kau kehendakiadanya&lt;br /&gt;Engkau lebih suka membangun&lt;br /&gt;Jalan raya dan pagar besi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumpama bunga&lt;br /&gt;Kami adalah bunga yang&lt;br /&gt;Dirontokkan di bumi kami sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami bunga&lt;br /&gt;Engkau adalah tembok itu&lt;br /&gt;Tapi di tubuh tembok itu&lt;br /&gt;Telah kami sebar biji-biji&lt;br /&gt;Suatu saat kami akan tumbuh bersama&lt;br /&gt;Dengan keyakinan: engkau harus hancur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keyakinan kami&lt;br /&gt;Di manapun – tirani harus tumbang! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Edan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sudah dengan cerita mursilah?&lt;br /&gt;edan!&lt;br /&gt;ia dituduh maling&lt;br /&gt;karena mengumpulkan serpihan kain&lt;br /&gt;dia sambung-sambung jadi mukena&lt;br /&gt;untuk sembahyang&lt;br /&gt;padahal mukena tak dibawa pulang&lt;br /&gt;padahal mukena dia taroh&lt;br /&gt;di tempat kerja&lt;br /&gt;dan!&lt;br /&gt;sudah diperas&lt;br /&gt;dituduh maling pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dengan cerita santi?&lt;br /&gt;edan!&lt;br /&gt;karena istirahat gaji dipotong&lt;br /&gt;edan!&lt;br /&gt;karena main kartu&lt;br /&gt;lima kawannya langsung dipecat majikan&lt;br /&gt;padahal tak pakai wang&lt;br /&gt;padahal pas waktu luang&lt;br /&gt;edan!&lt;br /&gt;kita mah bukan sekrup (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Catatan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Gerimis menderas tengah malam ini&lt;br /&gt;Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi&lt;br /&gt;Dalam sunyi hati menggigit lagi&lt;br /&gt;Ingat&lt;br /&gt;Saat pergi&lt;br /&gt;Cuma pelukan&lt;br /&gt;Dan pipi kiri kananmu&lt;br /&gt;Kucium&lt;br /&gt;Tak sempat mencium anak-anak&lt;br /&gt;Khawatir&lt;br /&gt;Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)&lt;br /&gt;Bertanya apa mereka saat terjaga&lt;br /&gt;Aku tak ada (seminggu sesudah itu&lt;br /&gt;Sebulan sesudah itu&lt;br /&gt;Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian&lt;br /&gt;harapkan!)&lt;br /&gt;Dada mengepal perasaan&lt;br /&gt;Waktu itu&lt;br /&gt;Cuma berbisik beberapa patah kata&lt;br /&gt;Di depan pintu&lt;br /&gt;Kau lepas aku&lt;br /&gt;Meski matamu tak terima&lt;br /&gt;Karena waktu sempit&lt;br /&gt;Aku harus gesit&lt;br /&gt;Genap ½ tahun aku pergi&lt;br /&gt;Aku masih bisa merasakan&lt;br /&gt;Bergegasnya pukulan jantung&lt;br /&gt;Dan langkahku&lt;br /&gt;Karena penguasa fasis&lt;br /&gt;Yang gelap mata&lt;br /&gt;Aku pasti pulang&lt;br /&gt;Mungkin tengah malam dini&lt;br /&gt;Mungkin subuh hari&lt;br /&gt;Pasti&lt;br /&gt;Dan mungkin&lt;br /&gt;Tapi jangan&lt;br /&gt;Kau tunggu&lt;br /&gt;Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi&lt;br /&gt;Karena hak&lt;br /&gt;Telah dikoyak-koyak&lt;br /&gt;Tidak di kampus&lt;br /&gt;Tidak di pabrik&lt;br /&gt;Tidak di pengadilan&lt;br /&gt;Bahkan rumah pun&lt;br /&gt;Mereka masuki&lt;br /&gt;Muka kita sudah diinjak!&lt;br /&gt;Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa&lt;br /&gt;Dan aku jarang pulang&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Ayahmu tak ingin jadi pahlawan&lt;br /&gt;Tapi dipaksa menjadi penjahat&lt;br /&gt;Oleh penguasa&lt;br /&gt;Yang sewenang-wenang&lt;br /&gt;Kalau mereka bertanya&lt;br /&gt;"Apa yang dicari?"&lt;br /&gt;jawab dan katakana&lt;br /&gt;dia pergi untuk merampok haknya&lt;br /&gt;yang dirampas dan dicuri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Ini adalah sajak terakhir yang ditulis Wiji Thukul, ungkapan cinta kepada istri dan anak-anaknya dan semangat perjuangannya, sebelum dia benar-benar hilang)&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-4671197742332065983?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/4671197742332065983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=4671197742332065983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4671197742332065983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4671197742332065983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/03/wiji-thukul.html' title='Wiji Thukul'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8417120757776935799</id><published>2010-02-22T22:48:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:03:48.696-08:00</updated><title type='text'>Jalan Panjang Mbak Uti</title><content type='html'>IA pamit setahun lalu, setelah empat bulan bekerja di rumah kami: memasak, bersih-bersih, dan menjaga anak kami. Empat bulan bukanlah waktu yang lama. Tapi, bagi kami, yang sudah berganti empat orang pembantu rumah tangga sejak 2006, dialah yang paling mengesankan. Kerjanya tangkas dan rapi. Masakannya bersih dan enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sebelum terdampar di rumah kami, Mbak Yati mengadu peruntungan di Ipoh, Malaysia. Majikannya, pasangan suami istri yang bekerja di perusahaan asuransi, berasal dari etnis Tionghoa. Anak majikannya ada empat. Di Malaysialah, Mbak Yati belajar bekerja rumah tangga dengan standar tinggi, dari sisi kebersihan, kerapian, dan ketepatan waktu. Karena itu, ketika ia bekerja di rumah kami hasilnya terasa amat berbeda dengan para pendahulunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Yati mengaku senang bekerja bersama kami. ''Tapi, kontrak saya pada ejen (agen) belum habis,'' ujarnya. Kontrak artinya dia harus melunasi biaya pengurusan dokumen dan pemberangkatan oleh agen, yang sudah pasti angkanya di-mark up berlipat-lipat, dengan sistem potong gaji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Yati, rupanya juga punya utang pada majikan lama, untuk biaya berobat orang tuanya. ''Saya harus ke sana, bekerja lagi dengan dia,'' katanya. Kami tak kuasa menolak keinginannya itu. Memang, saat pertama kali datang, dia sudah mengungkapkan, bahwa ia bekerja hanya untuk paling lama enam bulan saja. ''Saya akan kembali ke Malaysia. Kalau tidak nanti ejen marah-marah,'' ujarnya. Mbak Yati ke Batam hanya untuk perpanjang paspor saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Januari 2009, Mbak Yati, yang oleh anak kami dipanggil Mbak Uti, akhirnya benar-benar pamit. ''Kalau dihitung-hitung saya harus bekerja dua tahun lagi di sana potong gaji, baru utang saya lunas,'' ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau ke Batam mampirlah ke sini,'' kata kami. Selepas Magrib, Mbak Yati meninggalkan rumah kami dengan sebuah tas tenteng berisi pakaian ala kadarnya. Hanya itu yang dia punya. Selain tekad dan semangat, tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di periode kedua petualangannya di Malaysia, Mbak Yati tak menemui nasib yang lebih baik. Pertengahan tahun lalu, majikannya jatuh bangkrut. Sejak itu, ia tak lagi menerima gaji. Puncaknya, selepas Lebaran lalu, ia kabur dari rumah majikan. Dari Ipoh, Mbak Yati pindah ke Johor. Di semenanjung Malaysia itu ia bekerja di restoran milik warga Tionghoa, yang tiap hari menyajikan 70 menu makanan. ''Tapi, halal semua. Selain, masakan Eropa, juga ada masakan Melayu,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja di restoran, sebenarnya, kata Mbak Yati, hatinya cukup riang. Upah 1.000 ringgit sebulan cukuplah untuk menggulirkan roda hidup keluarga di kampung. Upah ini dua kali lipat dibanding upah jadi pembantu rumah tangga. Tapi, karena paspornya ditahan majikan lama, jantungnya deg-degan juga. ''Razia terus menerus oleh polisi Malaysia,'' ujarnya. Suatu ketika, ia tertangkap di restoran itu, ketika polisi anak buah Najib Razak menggelar operasi. ''Majikan saya (pemilik restoran) dipaksa bayar 300 ringgit,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gencarnya operasi pendatang haram, membuat Mbak Yati berpikir untuk pulang saja. Tapi jalan menuju Indonesia, kampungnya sendiri, bagi orang seperti Mbak Yati sempit dan berkelok-kelok. Ditahannya paspor oleh majikan lama adalah pangkal masalahnya. Ia lalu menghubungi seorang pria asal Batam yang sudah jadi warga negara Malaysia, menanyakan apakah bisa membantunya pulang walau tanpa paspor. ''Dia bilang bisa. Tapi dia minta biaya 1.200 ringgit (Rp3.240.000),'' ujarnya.&amp;nbsp; ''Saya tak punya duit sebanyak itu,'' kata Mbak Yati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat seseorang bernama Rasyid, lelaki asal Batam yang juga sudah lama menetap di Malaysia, Mbak Yati dapat tawaran lebih rendah. ''Dia minta 600 ringgit,'' ujarnya. Mbak Yati mengiyakan. Ia diminta bersiap-siap untuk berangkat pada hari Jumat (19/2). Ini jalan pulang ilegal, tentu saja. Hari itu, pagi-pagi ia disuruh menuju ke sebuah perkebunan sawit di pinggiran Johor. Saat tiba sekitar pukul 10.00 pagi di perkebunan, ratusan orang sudah berkumpul. Dari bayi hingga orang tua tumplek di sana. ''Ada yang sudah menunggu sejak tiga hari sebelumnya,'' kata dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, dia baru tahu bahwa biaya kepulangan sebenarnya hanya 250 ringgit. ''Tekong ambil banyak sekali,'' katanya. Walau begitu, seperti lazimnya orang Indonesia, Mbak Yati masih memanjatkan rasa syukurnya. ''Saya masih beruntung. Orang lain ada yang bayar 700 sampai 800 ringgit,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hutan Johor itu, tempat penampungan dikelola warga Indonesia asal Lombok. ''Ada tiga rumah besar di sana. Pak Haji itu semua yang punya,'' katanya. Di penampungan, sembari menunggu kapal, warga-warga Indonesia yang malang seperti Mbak Yati itu masih saja diperas habis. ''Saya menunggu dari pukul 10.00 pagi sampai sebelas malam harus bayar 100 ringgit. Mau makan bayar lagi, sekali makan 10 ringgit,'' tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.00 malam waktu Malaysia, sebuah pancung (perahu kayu yang ditempeli mesin) merapat di dermaga tak jauh dari penampungan. Mbak Yati dan puluhan orang lainnya yang sudah membayar diminta naik. ''Isinya sekitar 50 orang,'' katanya. Barang bawaan mereka dinaikkan di pancung lain yang berjalan beriringan dengan pancung penumpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam, pancung hanya dipakai sebagai alat transportasi jarak pendek antar pulau yang dekat-dekat. Malam itu, Mbak Yati dan puluhan orang lainnya --yang oleh pemerintah yang suka tebar pesona kerap disebut Pahlawan Devisa-- harus menyusuri ganasnya ombak Selat Malaka di atas sepotong pancung. ''Kapal itu tak ada lampu. Laut benar-benar gelap,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancung harus berhenti setiap kali tanker dan kapal-kapal besar lainnya melintas di jalur pelayaran tersibuk di dunia itu. ''Kita juga berhenti, kalau ada kapal nelayan yang menyalakan lampu hijau. Itu tanda ada patroli,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bayi usia sembilan bulan, yang ikut dalam pancung tersebut, kata Mbak Yati, tak berhenti menangis sejak pancung meninggalkan Johor. Saat pancung sudah memasuki perairan Batam, sebuah pancung lain mendekat. Seorang lelaki bercelana jins dan berkemeja naik ke pancung Mbak Yati. ''Kita semua dimintai duit Rp250 ribu seorang. Katanya buat pengamanan. Supir pancung bilang yang begitu sudah biasa,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang memang tak punya hati. Sebab itu, para pemeras TKI ringan saja mengutip biaya yang tak ada rumusannya kepada orang-orang seperti Mbak Yati, tanpa rasa kasihan dan rasa bersalah di dalam diri. Jangan tanya soal nasionalisme dan persaudaraan sebangsa. Itu sudah lama dilupakan. Buktinya, yang menjerumuskan ratusan ribu warga Indonesia sebagai pendatang haram di Malaysia, kebanyakan adalah orang-orang Indonesia sendiri. Saya pernah berkunjung ke Kantor Konsulat Indonesia di Johor dan Penjara Kluang di Johor. Hampir semua mereka yang ditahan mengaku dijebak dan ditipu oleh agen, yang adalah sesama warga negara Indonesia! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 45 menit berselancar di derasnya ombak Selat Malaka, Mbak Yati dan rombongan merapat di sebuah pelabuhan kecil tak jauh dari Batuampar, Batam. Tapi, pemerasan terhadap mereka belum berhenti. ''Begitu turun kapal langsung dimintai duit 2 ringgit,'' katanya. Ia tak tahu siapa yang mengutip. ''Mbuh. Tak tahu, Pak. Mereka bilang itu wajib,'' katanya. Sekitar 50 meter dari "loket" pertama, ia kembali dimintai duit 2 ringgit. ''Semua yang turun kapal harus bayar,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 07.00 pagi, hari Sabtu (20/2), Mbak Yati berdiri di depan pintu pagar rumah kami. ''Saya kembali, Bu,'' katanya pada istri saya. Selamat datang lagi, Mbak Uti! ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8417120757776935799?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8417120757776935799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8417120757776935799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8417120757776935799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8417120757776935799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/02/jalan-panjang-mbak-uti.html' title='Jalan Panjang Mbak Uti'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5198794051406886330</id><published>2010-01-23T19:16:00.000-08:00</published><updated>2010-08-01T08:56:43.061-07:00</updated><title type='text'>Duka dalam Sepotong Kaos Bola</title><content type='html'>&lt;i&gt;Menelusuri kematian tahanan bawah umur di Polsek Batam Kota, Josua Michael Sinaga. Banyak perbedaan antara keterangan polisi dengan keterangan keluarga dan saksi-saksi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU 23 Desember 2009 dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, Josua Michael Sinaga (17) berada di dalam bengkel milik Hartono Surbakti, di kawasan Simpang Franky, Batam Center. Entah apa yang dia lakukan di situ. Tapi, Aleksander Sembiring, anak buah Hartono tak nyaman dengan kehadiran anak muda yang tak dikenalnya itu. Perasaannya tak enak. Nalurinya mengatakan, Josua berniat mencuri. Bersama temannya, Jefri Tarigan, Aleksander menegur Josua dan memintanya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Dia bilang mau numpang tidur. Padahal mau nyurinya dia itu,” kata Aleksander, yang ditemui Batam Pos, Jumat (15/1), di bengkel milik Hartono itu.&lt;br /&gt;Saat dipergoki, Josua sedang jongkok di balik sekat ruang bengkel yang dipenuhi onderdil motor tersebut. Ia mengenakan kaos bola warna merah dan celana pendek warna oranye. Ransel miliknya juga kosong tak ada isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aleksander kemudian menghubungi Alkorta Ginting, rekan kerjanya di bengkel itu untuk datang. Dini hari itu, Hartono sang pemilik bengkel tengah berada di Medan. Aleksander melaporkan peristiwa itu kepada Hartono lewat telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartono memerintahkan Aleksander untuk menghubungi polisi. “Waktu itu saya bilang sama Aleksander, jangan kalian pukul orang itu. Kecuali kalau dia mukul duluan. Saya bilang, serahkan saja ke polisi,” ujar Hartono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aleksander, Jefri, dan Alkorta kemudian mengikat tangan Josua ke depan dengan tali jemuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga anggota Polsek Batam Kota tiba di bengkel sekitar 20 menit kemudian. Menurut Aleksander, tiga polisi itu datang menggunakan mobil patroli. “Dua pakai baju polisi, satunya baju biasa,” ungkapnya. Josua kemudian dibawa ke Polsek Batam Kota. Aleksander, Jefri, Alkorta dan dua warga lainnya diminta ikut untuk memberikan kesaksian. “Kami ngikuti mobil patroli itu pakai motor,” ujar Aleksander, yang diamini Alkorta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Aleksander, Jefri, dan Alkorta berbeda dengan keterangan Kapolsek Batam Kota AKP Hilman Wijaya. Kepada wartawan, pada hari kematian Josua, Sabtu (26/12), Hilman dengan tegas mengatakan, wargalah yang beramai-ramai mengantar Josua ke Polsek setelah ia ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tersangka ditangkap warga di Simpang Franky Batam Centre, Kamis (24/12) sekitar pukul 02.00 WIB. Kemudian diserahkan warga ke Polsek Batam Kota,’’ kata Hilman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilman menambahkan, polisi sempat menunda pemeriksaan terhadap Josua setelah ia sampai di Polsek Batam Kota. ‘’Saat itu, ia masih dalam kondisi mabuk. Saat ditanya apa yang kamu curi, dia jawab tidak tahu,’’ ungkap Hilman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam standar pemeriksaan kepolisian di seluruh dunia, untuk memastikan seseorang mabuk atau tidak, polisi memerintahkan orang yang dicurigai berdiri dengan satu kaki, pada saat yang sama kedua tangan berada di atas kepala. Apabila sempoyongan dan terjatuh, diduga kuat yang bersangkutan dalam kondisi mabuk. Sebaliknya, jika bisa berdiri normal, ia dipastikan tidak mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar itupun diterapkan Polsek Batam Kota. Aleksander Sembiring menuturkan, setelah tiba di Polsek, ia langsung dimintai keterangan oleh penyidik. Tak jauh dari tempat ia duduk, Josua diminta seorang polisi berdiri dengan satu kaki dan meletakkan dua tangannya di kepala. “Kakinya sempat turun sekali. Sudah gitu dia berdiri lagi dengan satu kaki. Sekitar lima menit,” kata Aleksander. Sambil berdiri Josua terlihat sesungukan menahan tangis. Saat menangkap Josua, Aleksander mengaku tidak mencium bau alkohol dari mulut Josua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;RABU (23/12) siang, sekitar pukul 13.00 WIB, telepon milik Jefri Manurung berdering. Di seberang, Simon Sinaga kerabat sekampungnya mengabarkan bahwa Josua Michael Sinaga sedang ditahan di Polsek Batam Kota karena dituduh melakukan pencurian. Jefri, Josua, dan Simon sudah saling kenal, karena berasal dari kampung yang sama di Simalungun, Sumatera Utara. Jefri Manurung dan Simon janjian bertemu di Polsek Batam Kota sekitar pukul 19.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Jefri datang diantar temannya seorang sopir taksi yang biasa mangkal di Pelabuhan Internasional Batam Center. Ia bertemu Simon di halaman depan Polsek. Kepada petugas piket, ia menyampaikan niatnya untuk bertemu Josua. Petugas menyarankan Jefri dan Simon untuk melapor kepada penyidik Bripka Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Batam Pos yang menemuinya di Batam Center, Senin (11/1), Jefri menuturkan, semula Bripka Ismail keberatan Jefri bertemu Josua dengan alasan jam besuk sudah habis. ‘’Tapi, saya bilang saya juga anggota. Akhirnya diizinkan masuk,’’ katanya. Jefri adalah seorang anggota TNI AD. Sehari-hari ia berdinas di Batalyon Infantri 134 Tuah Sakti, Tembesi. Di ruang tempat ia bertemu Bripka Ismail, Jefri ditunjukkan blok mesin sepeda motor bekas, yang dituduhkan telah dicuri Josua dari bengkel Hartono Surbakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josua ditempatkan di sel nomor tiga. Lokasinya berada di pojok. Ia sendirian dalam kamar tahanan itu. Kapolsek Hilman Wijaya mengatakan, Josua memang sengaja dipisahkan dengan tahanan lain. ‘’Korban kita tahan dalam sel kecil dan sendirian karena dia masih di bawah umur,’’ ujarnya. Undang-Undang 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak menyebutkan, manusia usia nol sampai 18 tahun tergolong di bawah umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sel itulah Jefri menemui Josua. Ketika sampai di depan jeruji sel, ia melihat Josua sedang tidur masih mengenakan kaos bola warna merah dan celana pendek warna oranye. ‘’Saya membangunkan dia,’’ katanya. Jefri mengisahkan percakapannya dengan Josua malam itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jefri: ‘’Sudah makan kau, Jo?’’ (Jefri melihat ada nasi bungkus tergantung di sel Josua).&lt;br /&gt;Josua: “Belum, Bang.’’&lt;br /&gt;Jefri: ‘’Gimana keadaanmu?’’&lt;br /&gt;Josua: “Aku disiksa, Bang. Leherku ditendang pakai sepatu. Sakit kali kurasa.’’&lt;br /&gt;Jefri: “Siapa yang nendang kau?’’&lt;br /&gt;Josua: “Polisi, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Batam Pos, Jefri mengaku melihat ada goresan merah di leher Josua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan yang ditemui di kantornya, Senin (11/1), membantah adanya kekerasan dan penganiayaan terhadap Josua. Menurut Leonidas, tidak ada tanda-tanda kekerasan seperti pemukulan dan lainnya di tubuh Joshua. “Jika ada lebam, itu lebam mayat biasa,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (24/12), Jefri Manurung kembali menemui Josua di Polsek. Kali ini ia menemani Johannes Sinaga, abang kandung Josua. Johannes, biasa disapa Johan, sehari-hari bekerja sebagai petugas keamanan di PT Megaron, Batuampar. Ia tinggal di Pelita VII, tempat di mana Josua menumpang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara dengan Batam Pos, Senin (11/1), di Batam Center, Johannes menceritakan, ia berjumpa Josua di ruang besuk tahanan. Di ruang itu pembesuk dan tahanan dipisahkan oleh kaca. Dalam pertemuan itu, kata Johannes, Josua terus menundukkan kepala. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan kepalanya diletakkan di atas kedua tangannya itu. ‘’Sepertinya lehernya berat dan sakit,’’ kata Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;SABTU (26/12) siang sekitar pukul 13.20 WIB, Johannes Sinaga sedang tidur di rumah kontrakannya di Pelita VII. Dering telepon membangunkannya. Seseorang yang mengaku anggota polisi dari Polsek Batam Kota memintanya segera datang ke Polsek. ‘’Tapi, tidak saya tanggapi. Hari itu saya berencana mencari uang untuk biaya perdamaian adik saya dengan Hartono, pemilik bengkel yang melaporkannya,’’ kata Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartono membenarkan, pada Kamis (24/12), ia telah melakukan perjanjian damai dengan Johannes Sinaga. Dalam perjanjian itu, Hartono diwakili oleh Aleksander Sembiring dan Alkorta Ginting, dua karyawannya yang melaporkan Josua ke polisi. Inti perjanjian adalah Hartono mencabut laporannya ke polisi dan keluarga Josua membayar kompensasi. “Abangnya yang tentara itu (Jefri Manurung) bilang cuma sanggup bayar Rp500 ribu. Saya bilang tak apa-apa kalau memang adanya segitu,” ungkap Hartono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perdamaian tak langsung terlaksana hari Kamis (24/12) itu. Pasalnya, keluarga Josua belum punya uang. Mereka berjanji akan kembali hari Sabtu, sehari setelah merayakan Natal. ‘’Hari itu, yang saya pikirkan bagaimana caranya dapat uang Rp500 ribu, agar adik saya bisa keluar. Makanya, telepon polisi itu tak saya tanggapi,’’ kata Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah telepon dari polisi itu, telepon Johannes kembali berdering. Di layar muncul nama Bohedi Sinaga, seorang anggota polisi yang sudah lama dikenalnya. Bohedi sehari-hari dinas di Unit Pelayanan, Pengaduan, Penindakan, dan Disiplin (P3D) Poltabes Barelang. Bohedi menyuruh Johannes segera datang ke Polsek. ‘’Ada penting sekali,’’ kata Bohedi, seperti ditirukan Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Polsek, Johannes diberitahu bahwa Josua sudah meninggal sekitar pukul 13.00 WIB. ‘’Bohedi langsung menceritakan kepada saya secara lengkap kisah kematian adik saya,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bohedi, seperti dikutip Johannes, Josua tewas gantung diri dengan kaos bola yang dikenakannya selama berada dalam penjara. Sebelum itu, Josua melakukan upaya bunuh diri dengan cara memotong urat nadi di kedua pergelangan tangannya menggunakan keramik lantai yang dipecahkan dengan tinjunya. ‘’Tapi, kata Bohedi, karena memotong nadi tidak berhasil, dia akhirnya gantung diri,’’ tutur Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan foto dokumentasi keluarga yang dilihat Batam Pos, yang diambil ketika dilakukan misa kematian almarhum Josua, bagian luar telapak tangan Josua, termasuk kulit yang menutupi tulang pangkal jari tampak bersih. Tidak ada bekas luka dan terkelupas. ‘’Kalau memang dia meninju keramik untuk potong nadinya, harusnya kulit tempat tinjunya itu luka dan terkelupas,’’ ujar Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, keterangan awal Bohedi yang sudah runut itu “diluruskan” Kapoltabes Leonidas Braksan.  ‘’Dalam pemeriksaan lanjutan oleh P3D Poltabes Barelang, luka tersebut (goresan di kedua pergelangan tangan Josua) berasal dari paku tripleks yang ada di dalam sel,’’ kata Leonidas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak keluarga sempat memfoto kaos bola merah dan celana pendek yang digunakan Josua di hari terakhir di dalam sel. Kaos dan celana itu difoto di Unit P3D Poltabes Barelang, setelah dijadikan barang bukti oleh polisi. Pihak keluarga menunjukkan foto tersebut kepada Batam Pos. Di foto itu, kaos merah Josua terlihat bersih. Tidak ada noda ceceran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Logikanya, kalau dia menyayat dua pergelangan tangannya, pasti ada darahnya. Kita yakin darah itu akan mengenai pakaiannya. Apalagi -kalau memang korban gantung diri dengan kaos- ketika kaos dililitkan ke teralis, kita yakin kaos itu akan tersentuh oleh kedua pergelangan tangan korban. Dan, itu akan meninggalkan noda darah,’’  kata Birgal Sinaga, dari Paguyuban Marga Sinaga Batam Sektor Batam Center, yang diberi kuasa oleh keluarga korban untuk advokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada celana pendek oranye milik korban, berdasarkan foto yang dilihat Batam Pos, juga tidak ada noda bekas darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birgal yang berprofesi sebagai presenter sebuah televisi swasta di Batam mengungkapkan, pada Selasa (29/12), ia menemui dr Apul Nainggolan dari RSOB yang menangani Josua, saat pertama kali tiba di rumah sakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, kata dia, dr Apul menjelaskan, Josua tiba di RSOB pukul 14.40 WIB pada 26 Desember 2009.  Saat diterima, Josua mengenakan celana pendek warna oranye dan tidak memakai baju. Saat diterima pihak rumah sakit, Josua sudah meninggal dengan tanda-tanda tidak ada denyut jantung, tidak ada tanda napas, tubuh sudah kaku, dan suhu badan sudah dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johannes Sinaga, abang korban, yang tiba di rumah sakit sekitar pukul 15.00 WIB menuturkan, ia sempat mengusap wajah dan memegang kepala adiknya di kamar mayat. ‘’Tapi lehernya sudah kaku. Keras, tak bisa digerakkan lagi,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri lain mayat Josua yang disampaikan dr Apul kepada Birgal Sinaga adalah mata sudah tertutup, lidah tidak menjulur, tidak ada sperma, hanya ada bercak kuning di dubur dan celana. Tanda kuning bekas kotoran manusia itu, juga tampak pada foto celana Josua yang dilihat Batam Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat (15/1), Batam Pos menghubungi dr Apul Nainggolan untuk mengonfirmasi keterangan tersebut. Ia menolak berkomentar. “Terkait itu, silakan tanya langsung pada polisi atau keluarga korban saja,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama juga diungkapkan Humas RSOB Wawan Setyawan yang dikonfirmasi lebih awal untuk bertemu dengan dr Apul Nainggolan. ‘’Dokter Apul belum bersedia bertemu. Katanya, kalau mau konfirmasi soal bunuh diri itu, langsung ke polisi atau keluarga korban karena datanya sudah diserahkan semua kepada keluarga korban,’’ ujar Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Iwan Pramubakti dari Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam yang dimintai pendapatnya tentang ciri-ciri orang mati gantung diri menyebutkan, selalu ditandai dengan lidah terjulur dan keluarnya sperma dari kemaluan. ‘’Kalau benar-benar gantung diri, dua ciri itu pasti ada,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter spesialis rehabilitasi medik RS Awal Bros Batam Fisher Iwan berpendapat serupa. Keluarnya sperma dan air seni, kata dia, disebabkan organ tubuh orang gantung diri berelaksasi. ‘’Karena tidak ada lagi perintah dari otak ke organ tubuh yang lain, sehingga organ tubuh lainnya mengalami relaksasi dan akan keluar begitu saja tanpa terasa,” ujar Fisher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birgal Sinaga mengatakan, dari keterangan dr Apul juga ditemukan ada bengkak di kaki kiri Josua, ada luka seperti tersayat di pergelangan tangan kanan ukuran 5x0,3 cm, juga di pergelangan tangan kiri ukuran 5x0,3 cm. Namun tidak ada bekas darah di kedua pergelangan tangannya itu. Tidak ada noda darah di celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada tanda biru di ujung kuku tangan dan kaki pertanda lemas kehabisan napas. Ada luka jerat di leher depan melingkar separuh. Dokter Apul, menurut Birgal, menyebutkan kematian Josua akibat lemas karena ada jeratan di lehernya. Tapi, kata dia, dr Apul tidak tahu luka jerat di leher Josua itu karena tali, kaos baju atau benda lainnya. Sebab, polisi tidak membawa benda atau alat bukti yang menjerat leher korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan berdasarkan ciri-ciri yang ada pada mayat, kata Birgal, dr Apul memperkirakan Josua sudah meninggal antara  6-12 jam sebelum tiba di rumah sakit. Birgal mengatakan, sejak Senin (11/1), pihak keluarga sudah mengajukan permohonan kepada Unit P3D Poltabes untuk mendapatkan salinan visum Josua. ‘’Tapi, polisi bilang tidak boleh di-copy. Hanya bisa dilihat saja,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Unit P3D Poltabes Barelang AKP Reonald TS Simanjuntak mengakui penolakan pemberian visum itu. Ia beralasan kasus dugaan kelalaian polisi Batam Kota yang berujung kematian Josua masih dalam penyelidikan Unit P3D. ‘’Hasil visum itu kan alat bukti, jadi harus dipegang penyidik untuk sementara. Kalau mau lihat nanti bisa, kita bisa perlihatkan. Kita transparan kok,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reonald membenarkan dalam dokumen visum yang diberikan dokter kepada polisi tidak terdapat ciri-ciri khas orang mati gantung diri, yaitu keluarnya sperma dan lidah yang terjulur. Menurut dia, ciri-ciri itu bisa saja hilang saat polisi memberikan pertolongan kepada Josua yang diduga masih hidup saat ditemukan. Ia menyebutnya sebagai kelalaian polisi di tempat kejadian perkara (TKP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolsek Hilman Wijaya, di hari kematian Josua, mengatakan, polisi yang piket siang itu mengaku menemukan Josua tergantung di teralis dengan leher terjerat kaos, saat hendak memberi makan tahanan sekitar pukul 13.00 WIB. Saat ditemukan, kata Hilman, Josua masih bernapas dan nadinya masih berdenyut. Namun kondisinya sudah lemas. Karena itu, polisi berusaha memberi bantuan pernapasan dan memompa jantung korban dengan cara menekan dadanya. Lalu memasukkannya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang membingungkan keluarga, kenapa Josua dilarikan ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) di Sekupang, yang jaraknya sekitar 35 menit perjalanan dengan mobil. ‘’Kalau untuk pertolongan awal, harusnya ke yang paling dekat. Banyak kok rumah sakit di sekitar Batam Center. Paling nggak ke (RS) Awal Bros,’’ kata Birgal Sinaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Christian Tory mengatakan, “Sebenarnya anggota hendak membawa korban ke rumah sakit terdekat, namun ia mengembuskan napas terakhir tak lama setelah diangkut ke dalam mobil. Makanya, dibawa ke RSOB.”  Tapi, tidak ada penjelasan rinci dari keterangan polisi itu, persisnya berapa menit setelah perjalanan Josua terakhir kali mengembuskan napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tanya di benak anggota keluarga besar Josua kian menggunung, sebab polisi tak punya dokumentasi foto yang menunjukkan Josua sedang tergantung di teralis selnya. Seharusnya, kata Birgal Sinaga, berdasarkan standar kerja kepolisian tahanan tewas bunuh diri harus difoto dan TKP tidak boleh diacak-acak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKP Reonald Simanjuntak mengakui polisi tak punya foto korban sedang tergantung dengen leher terjerat kaos. ‘’Itu tak ada,” katanya.  Reonald membenarkan, sesuai prosedur di kepolisian, orang bunuh diri seharusnya didokumentasikan. ‘’Jika melihat ada upaya bunuh diri, ditekan bagian lehernya apakah masih ada tanda-tanda pernapasan atau tidak. Kalau sudah mati, biarkan tim identifikasi yang bekerja. Anggota piket tidak boleh menyentuh korban,’’ paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia beralasan, petugas panik saat melihat Josua tergantung. ‘’Karena panik dan melihat tubuhnya hangat, mereka langsung berusaha menurunkan. Dua orang memegang tubuhnya, satu orang melepas kaosnya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu sel tempat Josua ditahan tingginya 180 cm. Di pintu itulah, menurut polisi, Josua gantung diri dengan kaos bolanya. Namun, Birgal Sinaga meragukan cerita polisi. Sebab, ia punya hitung-hitungan sendiri. ‘’Tinggi badan Josua 168 cm. Kalau dia jinjit (diperkirakan memasang kaos di pintu dan menyangkutkan leher di kaos dilakukan dengan berjinjit, red), maka tinggi dia bertambah 8 sampai 10 cm lagi. Dengan sisa 2 sampai 3 cm ke lantai apa mungkin bisa bunuh diri?’’ kata Birgal. ‘’Lagian kaos bolanya itu kecil, dilingkarkan di besi pintu saja sudah habis, apalagi mau dimasukkan leher pula,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reonald Simanjuntak mengatakan, Unit P3D Poltabes melakukan rekonstruksi di tahanan yang dihuni Josua. Kaos diikatkan di sela-sela sel, kemudian anggota P3D yang tinggi tubuhnya 170-an cm (lebih tinggi dari Josua) menggantungkan lehernya di situ dengan cara naik membelakangi sel. “Ternyata bisa. Kalau menghadap sel tak mungkin terjadi, namun karena membelakangi sel, lehernya bisa terjerat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;JAUH sebelum penahanan yang berujung kematian ini, Josua Michael Sinaga, yang lahir di Pematang Siantar 4 Desember 1992, juga pernah mendekam dalam tahanan Polsek Batam Kota. ‘’Kasusnya sama pencurian juga,’’ kata Johannes Sinaga. Johannes tidak ingat kapan tepatnya Josua ditahan. ‘’Sekitar bulan November 2009. Tapi, tanggalnya saya lupa,’’ katanya. ‘’Tidak ada surat penangkapan dan penahanan sama sekali,’’ ia menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, kata dia, Josua mendekam di tahanan Polsek Batam Kota selama satu pekan. ‘’Dia bisa keluar setelah kami urus sama-sama,’’ kata Jefri Manurung, kerabat satu kampung Josua. Yang paling diingat Johannes dari penahanan Josua pertama kali itu, adalah luka gores di pergelangan tangannya. ‘’Sempat kami obati ke dokter. Katanya itu dari polisi,’’ ujar Johannes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Kepala Unit P3D Poltabes Barelang AKP Reonald Simanjuntak, ketika itu, anak buahnya Bohedi Sinaga yang jadi penengah sehingga kasus Josua bisa diselesaikan secara kekeluargaan.  “Jadi keterlibatan Bohedi pada kasus yang sekarang bukan karena polisi ingin mengelabui keluarga korban. Tapi karena Bohedi memiliki kedekatan dengan mereka. Bohedi pernah menolong mereka,” kata Reonald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan masa lalu Josua inilah yang membuat keluarga besarnya tak yakin ia melakukan bunuh diri. ‘’Saya nggak percaya dia mau bunuh diri. Dia itu bandel bukan main,’’ kata Johannes. ‘’Seminggu saja di tahanan dia bisa tahan kok. Yang terakhir ini kan baru dua hari di dalam, masa dia mau bunuh diri. Saya nggak yakin,’’ ucap Jefri Manurung, sembari menggelengkan kepala dan mengepalkan tinjunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jefri, Josua adalah tipikal anak jalanan sejati. Ia bisa hidup dan tidur di mana saja. ‘’Sebentar-sebentar dia ada di Batam. Sebentar sudah tiba di Medan. Kadang sudah ada di Jakarta. Masa anak bandel macam gitu bunuh diri,’’ ujar Jefri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putu Elvina Gani, psikolog sekaligus ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Provinsi Kepri mengatakan, kecil kemungkinan anak-anak yang terbiasa berada dalam lingkungan yang keras dan liar melakukan bunuh diri. ‘’Secara empiris jarang ditemui anak yang hidup liar seperti ini bunuh diri. Mereka sudah terbiasa menghadapi kekerasan,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josua lahir dalam sebuah keluarga besar. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Pendidikan terakhirnya sekolah dasar. ‘’Saya nggak percaya dia itu bunuh diri. Nggak mungkin dia melakukan itu,’’ kata Meirin Sibur Sinaga, kakak Josua. Sekitar tiga pekan sebelum Josua ditangkap polisi, kata Meirin, adiknya itu sempat berkirim SMS. ‘’Ia cuma bilang, tolong jaga Mamak (ibu) baik-baik,’’ ujar Meirin sambil terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;SUATU siang pada pekan ketiga Januari 2010, rumah keluarga Dameria di Jalan Asahan, Pematang Siantar, Sumatera Utara kedatangan tamu. Empat polisi berdiri di depan pintu.  ‘’Mereka mengenalkan diri polisi dari Batam,’’ kata Meirin Sibur Sinaga, anak keempat Dameria. Dameria adalah ibu kandung Josua Michael Sinaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tiga orang polisi berasal dari Batam komandannya bermarga Simanjuntak. Katanya, pangkatnya kapten. Satu lagi polisi Simalungun, marganya Sinaga, dia yang temani polisi Batam,’’ kata Meirin. Ia mengaku tak hapal nama lengkap polisi-polisi itu. ‘’Mereka tak kasih kartu nama,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dameria ikut mendampingi Meirin menyambut para tamu. Setelah saling mengenalkan diri, kata Meirin, polisi yang bermarga Simanjuntak menyampaikan maksud kedatangannya jauh-jauh dari Batam. ‘’Dia bertanya, apakah setuju mendiang adik kami diotopsi,’’ ujarnya. ‘’Mamak (ibu) menjawab: saya ingin anak saya diotopsi kembali,’’ kata Meirin. Polisi kemudian meminta biodata Dameria sembari menyodorkan sebuah kertas untuk ditandatangani. ‘’Mamak menolak tanda tangan. Beliau menangis dan berlari ke belakang. Polisi itu akhirnya pulang,’’ tutur Meirin, mahasiswa Universitas Nomensen Pematang Siantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Unit P3D Poltabes Barelang AKP Reonald Simanjuntak mengatakan, dialah yang datang ke rumah Dameria tersebut. Tapi, ia membantah kedatangannya untuk membujuk keluarga agar tidak melakukan otopsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otopsi adalah satu-satunya cara untuk membuktikan secara objektif, apakah benar almarhum Josua tewas gantung diri atau karena sebab lain. Keluarga besar Josua dan tim advokasinya curiga polisi menghalang-halangi jalan menuju otopsi. ‘’Seperti ada yang ditutup-tutupi,’’ kata Birgal Sinaga, dari tim advokasi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapoltabes Barelang Leonidas Braksan menyangkal kecurigaan tersebut. “Kalau mau, Poltabes yang akan menanggung biayanya. Tapi kan keluarganya tak mau diotopsi, sudah merelakan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi memang punya kartu truf. Mereka memegang surat pernyataan berisi permintaan tidak akan melakukan otopsi dan tidak akan menuntut polisi yang ditandatangani Johannes Sinaga, abang kandung Josua. Johannes membubuhkan parafnya di atas surat itu pada Sabtu (26/12) malam, atau sekitar tujuh jam setelah Josua dinyatakan tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Surat itu saya paraf di Polsek Batam Kota. Bohedi Sinaga yang suruh saya tanda tangan,’’ tutur Johannes. Saat menggoreskan pena, Johannes mengaku tak membaca isi surat itu terlebih dahulu. ‘’Saya kalut memikirkan kematian adik saya. Bohedi bilang ini demi kebaikan bersama. Ya, saya tanda tangan saja,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah surat tersebut ditandatangani Johannes, malam itu juga polisi langsung menerbitkan surat rekomendasi pemulangan jenazah ke Simalungun dengan nomor 404/XII/2009 ditandatangani Kepala SPK III Poltabes Barelang Ipda Syarifuddin. Poin pertimbangan dalam surat itu berbunyi: “Berdasarkan surat permohonan dari Johannes Sinaga tentang perlunya diberikan rekomendasi oleh Polri terhadap kegiatan pengangkutan jenazah Josua Michael Sinaga.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saya tidak membuat permohonan, saya cuma tanda tangan,’’ ucap Johannes. ‘’Kenapa semua serba tergesa-gesa. Johannes tidak diberi kesempatan berkoordinasi dengan keluarganya untuk memastikan otopsi atau tidak,’’ kata BIrgal Sinaga mempertanyakan proses terbitnya surat pengangkutan jenazah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, Minggu (27/12), jenazah Josua diterbangkan ke Medan dan diteruskan ke Simalungun untuk dimakamkan. ‘’Kapolsek kasih uang duka Rp1,5 juta,’’ kata Johannes. Menjelang pemakaman yang berlangsung petang hari, kata Johannes, Bohedi menghubunginya sebanyak empat kali. ‘’Dia selalu menanyakan, apakah adik saya sudah dimakamkan. Ya, kayak mengawasi gitulah,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohedi tidak berada di kantornya saat hendak dikonfirmasi Batam Pos, Kamis (14/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, atasannya AKP Reonald Simanjuntak mengatakan, sebelum menyuruh Johannes tanda tangan surat pernyataan, Bohedi sudah mengingatkan untuk memeriksa jenazah Josua. “Lihat betul-betul jenazah adik kita itu. Kalau ada luka tak wajar atau kejanggalan laporkan. Kita akan proses jika ada kesalahan dari pihak polisi,” kata Bohedi, seperti ditirukan Reonald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPP Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Bidang Hak Asasi Manusia Djonggi M Simorangkir, yang menjadi kuasa hukum keluarga korban, mengatakan, pihaknya telah melaporkan perkara ini ke Polda Kepri untuk membuka tabir kebenaran dengan seadil-adilnya atas kematian Josua. Ia menegaskan, keluarga almarhum Josua siap untuk dilakukan otopsi mayat dan rekonstruksi penyebab kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kami tak percaya adik kami disebut gantung diri. Kami terpukul. Keluarga sepakat dilakukan otopsi. Ini demi nama baik keluarga kami di kampung halaman,’’ kata Johannes Sinaga. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(uma/med/ros/nur/bal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5198794051406886330?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5198794051406886330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5198794051406886330' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5198794051406886330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5198794051406886330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/01/duka-dalam-sepotong-kaos-bola.html' title='Duka dalam Sepotong Kaos Bola'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-608195253520338311</id><published>2010-01-21T05:43:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:04:29.229-08:00</updated><title type='text'>Sate Pelanduk Gelora</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/S1hb-yAD1gI/AAAAAAAAAGE/_A-i1axKjW8/s1600-h/IMG_7334.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429190484927174146" src="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/S1hb-yAD1gI/AAAAAAAAAGE/_A-i1axKjW8/s400/IMG_7334.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;WARUNG Sate Pelanduk Gelora terletak di Satuan Permukiman, warga Ranai biasa menyebutnya SP3. Ini adalah daerah para transmigran. Masuk dalam Kelurahan Batubi, Kecamatan Bunguran Timur. Dari pusat Kota Ranai, kira-kira butuh 20 menit perjalanan dengan mobil untuk sampai ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Warung ini buka tiap hari, dari siang hingga menjelang malam. Menunya cuma: sate pelanduk. Begitu menjejakkan kaki di depan warung yang arsitekturnya mirip warung kopi di desa-desa lain di Indonesia itu, Abdul Kadir, sang pemilik ramah menyambut. ”Mau pesan berapa?” Itulah pertanyaan pertama dan selalu diucapkan Kadir kepada tetamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memastikan pesanan pembeli, Kadir bergegas ke dapur yang ada di bagian dalam warung. Dari sana ia membawa puluhan tusuk daging pelanduk yang sebelumnya sudah dibersihkan. ”Begitu orang pesan, kita tinggal bakar saja,” katanya, ketika Batam Pos singgah di sana, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran dilakukan di depan warung. Asap mengepul-ngepul. Menurut Kadir, pembakaran sengaja dilakukan di depan agar pengunjung bisa melihat dengan jelas struktur daging pelanduk segar. Saat dibakar, daging pelanduk tak terlalu menebar aroma khas. ”Mirip-mirip daging kambing,” kata Kadir. Bedanya, kata Kadir menambahkan, daging pelanduk lebih amis dibanding kambing. Karena itu, kata dia, membersihkan dan mengolahnya harus teliti. ”Kami punya resep khusus, agar saat dimakan sate tak lagi terasa amis,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa resepnya? Sambil terkekeh Kadir menjawab, ”Itu rahasia keluarga. Turun temurun.” Memang, sebelum Kadir mengambilalih kendali Warung Gelora, orangtuanya adalah nakhoda yang memimpin peluncuran perdana Warung Gelora lebih dari sepuluh tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh menit berada di pangganggan, sate pelanduk siap disajikan. Satu porsi terdiri dari sepuluh tusuk, ditaruh di atas sebuah piring kecil lalu disiram dengan bumbu kacang dan kecap. Hmmm, bau daging panggang dan bumbung kacang di depan hidung pengunjung mulai membangkitkan selera makan. Tersedia dua pilihan, Anda mau menyantapnya dengan lontong atau nasi. Tapi, kebanyakan pengunjung memilih lontong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lidah, daging pelanduk yang seporsi dihargai Rp15 ribu itu, lebih halus daripada daging kambing. Pembakaran yang pas membuatnya juga terasa empuk dan tidak alot. Karena itu, tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan satu porsi sate pelanduk. ”Banyak yang minta tambah,” ungkap Kadir. Bumbu kacang dan kecap yang tersisa di piring juga enak disantap dengan kerupuk yang banyak digantung dekat meja pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa khasiat daging pelanduk? ”Untuk menambah tenaga. Cocok untuk laki-laki,” ujarnya. Setengah berbisik, Kadir menambahkan, ”Kalau belum menikah jangan sering-sering makan pelanduk, nanti tersiksa hehe.” Khasiat daging pelanduk itu pula yang melatarbelakangi pemberian nama warungnya. ”Biar yang makan tambah bergelora,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari Kadir biasa menghabiskan tiga ekor pelanduk atau sekitar 45 kilogram daging. Pelanduk adalah binatang kecil yang mirip kancil tapi ukuran badannya lebih menyerupai kambing. Meski berada jauh dari pusat Kota Ranai, warung sate pelanduk Kadir selalu ramai dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu-tamu Pemerintah Daerah Natuna kerap singgah di sana. ”Ada juga rombongan dari Malaysia dan Singapura yang pernah ke sini,” tuturnya. ”Belum ke Ranai kalai belum makan sate pelanduk di sini,” kata Eddy, seorang pengunjung. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-608195253520338311?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/608195253520338311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=608195253520338311' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/608195253520338311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/608195253520338311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/01/sate-pelanduk-gelora.html' title='Sate Pelanduk Gelora'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/S1hb-yAD1gI/AAAAAAAAAGE/_A-i1axKjW8/s72-c/IMG_7334.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1606946053470505994</id><published>2010-01-01T05:28:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:04:52.634-08:00</updated><title type='text'>"Duit Jin Dimakan Setan"</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Sz36brMGZqI/AAAAAAAAAF0/uMtMGyOAStE/s1600-h/Natuna+kantor+bupati++f+Cipi+Ckandina+%287%29.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421764879780832930" src="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Sz36brMGZqI/AAAAAAAAAF0/uMtMGyOAStE/s400/Natuna+kantor+bupati++f+Cipi+Ckandina+%287%29.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 267px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;JALAN Sukarno Hatta adalah jalan utama di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Lebarnya lima meter. Di sisi kiri jalan dari arah bandar udara, rumah tinggal dan rumah toko -paling tinggi tiga lantai, berjejer diselingi kios-kios kecil, yang sebagian terbuat dari kayu. Ada bangunan dan kios yang menjorok hingga ke tepi jalan. Ada pula yang tersuruk jauh ke dalam. Tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di kanan jalan, Laut China Selatan terhampar luas. Sampah berserakan di bibir pantai. Baliho besar bergambar Bupati Natuna Daeng Rusnadi membelakangi laut menghadap ke jalan, tampak pudar warnanya. Tak jauh dari pantai, di sebuah perempatan jalan, asap sisa kebakaran masih mengepul pada Sabtu (12/12) siang. ''Itu satu-satunya pasar di Ranai. Terbakar tadi malam,'' kata Nasrul, karyawan sebuah hotel di Ranai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempatan dekat pasar itu, adalah satu-satunya persimpangan jalan di Ranai yang dipasangi lampu lalu lintas (traffic light). Lampu warna hijau dan merahnya tak pernah menyala. Hanya lampu kuning yang berkedip-kedip sepanjang siang dan malam. Meski begitu, warga setempat tetap menyebut traffic light itu "lampu merah". ''Lampu merah itu baru dipasang awal Desember ini,'' kata Nasrul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari lampu penerangan jalan umum di sepanjang Sukarno Hatta tak seluruhnya menyala, akibat pemadaman bergilir dari PT PLN (Persero) Ranting Natuna. Tiap hari ada pemadaman bergilir empat sampai lima jam, sejak setahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang ingin mencari hiburan di malam hari, kedai kopi adalah tempatnya. Tak ada bioskop. Tak ada kafe apalagi mall. Minimarket adalah tempat belanja paling moderen. Harga makanan jauh melebihi Batam. Seporsi nasi Padang dengan segelas es teh manis di Batam seharga Rp12 ribu, di Ranai pembeli membayar rata-rata Rp20 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisatawan atau pendatang yang ingin keliling Ranai, harus rela mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa mobil. Tak ada taksi dan angkutan kota. Immanuel, karyawan swasta yang tahun 2008 lalu pindah tugas dari Batam ke Ranai mengisahkan, saat pertama kali datang, ia mendarat di Bandara Ranai sekitar pukul 14.00 WIB. Sampai azan Magrib berkumandang ia masih duduk di teras ruang tunggu bandara. ''Seorang petugas menegur dan bertanya kenapa saya masih di sini. Saya bilang, menunggu angkutan umum,'' tuturnya. Si petugas tergelak terbahak-bahak. ''Sampai bulan depan pun Bapak di sini, takkan ketemu angkot. Di Ranai mana ada angkot, Pak,'' kata petugas bandara seperti ditirukan Immanuel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kondisi Ranai hari ini lebih buruk daripada Manokwari 16 tahun lalu,'' kata Arief Muliawan, Kepala Kejaksaan Negeri Natuna, Rabu (16/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief adalah orang baru di Natuna. Ia dilantik sebagai Kepala Kejaksaan Natuna tanggal 7 November 2009. Lelaki berdarah Madura-Bugis ini pernah bertugas di Manokwari, Papua antara tahun 1993 sampai 1996. Pada pekan pertama tiba di Ranai, ia berkeliling melihat-lihat situasi. ''Mengenaskan,'' katanya ketika ditanya 'hasil pantauan'-nya. ''Natuna ini kaya, tapi rakyatnya miskin,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perut bumi Natuna tersimpan minyak dan gas (migas) yang sudah dieksploitasi. Menurut data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, kandungan minyak Natuna mencapai 14.386.470 barel. Sedangkan kandungan gas bumi 112.356.680 barel. Belum termasuk kandungan gas di Blok D-Alpha yang kini sedang diperebutkan delapan perusahaan migas raksasa dunia. Royal Dutch Shell, Total SA, Statoil SA, Beyond Petroleum, Petronas, Esso, China National Petroleum Company, dan ExxonMobil kini bersaing untuk bisa mengusai Blok D-Alpha yang disebut-sebut sebagai sumur gas terbesar di Indonesia, karena potensinya mencapai 46 triliun kaki kubik mengalahkan potensi ladang gas Tangguh, Papua yang 'hanya' 14 triliun kaki kubik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa hingga sekarang potensi kekayaan yang sudah dieksploitasi itu belum berdampak pada kesejahteraan rakyat, itulah yang membuat orang luar yang berkunjung ke Natuna, seperti Arief Muliawan, geleng-geleng kepala. ''Rakyat Natuna seperti ayam mati di lumbung padi,'' ucap Arief, nelangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemana APBD Mengalir?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Natuna bukannya tak kecipratan hasil eksploitasi kekayaan alam daerahnya. Tiap tahun dana bagi hasil (DBH) migas mengalir ke kas daerah. Sebagai satu-satunya daerah penghasil migas, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Natuna selalu lebih tinggi dibanding lima kabupaten dan kota lain di Provinsi Kepulauan Riau. Jika dirata-rata, dalam empat tahun terakhir, APBD Natuna tiap tahun sebesar Rp1,4 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak mudah bagi orang-orang di luar pemerintahan untuk tahu secara pasti kemana saja uang rakyat yang dikelola pemerintah daerah dialirkan. Berapa persen untuk pembangunan dan berapa persen untuk belanja rutin pejabat dan pegawai. Sebabnya, di Natuna, Peraturan Daerah tentang APBD yang telah disahkan lewat rapat paripurna DPRD adalah "rahasia negara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kita risau kalau buku lintang (Perda APBD-red) dibuka-buka oleh wartawan dan LSM. Mereka tak punya kompetensi untuk membacanya. Mereka membuat penafsiran sesukanya. Hanya bikin resah,'' kata Fadhillah Malarangan, Kepala Dinas Kesehatan Natuna, di Kantor Bupati Natuna, Rabu (16/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir Fadhillah, calon wakil bupati Pangkep, Sulawesi Selatan, mewakili jalan pikiran kebanyakan birokrat dan anggota DPRD di Natuna. Saking takutnya buku itu bertebaran kemana-mana, tak satu pun anggota DPRD memegangnya. Jangankan buku APBD tahun-tahun sebelumnya, buku APBD tahun berjalan pun mereka tak punya. Para anggota Dewan memilih menghindar ketika permintaan melihat buku APBD diajukan. ''Itu rahasia negara,'' kata seorang anggota DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah publik berhak tahu?'' tanya Batam Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Tapi di sini kita belum terbiasa itu dibuka-buka,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua keputusan pemerintah memang jadi "rahasia negara" di Natuna. Karena itu, rapat dengar pendapat (hearing) antara komisi-komisi di DPRD dengan dinas atau instansi di lingkungan pemerintah daerah, yang jadi mitra mereka, tak pernah terbuka untuk publik. Pintu ruang rapat paripurna juga selalu terkunci bagi yang bukan anggota Dewan dan pejabat pemerintah, setiap kali keputusan diambil di dalamnya. Presentasi calon investor, yang berniat membuka usaha, di hadapan DPRD dan pemerintah daerah, juga tabu untuk diliput wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya Makmur Nasution, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Kepri mengatakan, anggapan bahwa buku APBD sebagai "rahasia negara" adalah jalan pikiran keliru. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009, kata dia, menegaskan pembahasan APBD harus melibatkan masyarakat. ''Itu artinya, masyarakat berhak tahu apa saja program dan berapa dana yang dianggarkan dalam APBD,'' kata mantan wartawan Kompas itu. ''APBD itu kan uang rakyat, masa rakyat tak boleh tahu?'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Muliawan menguatkan pendapat Surya Makmur. ''Setiap keputusan yang sudah disahkan melalui paripurna DPRD adalah milik publik. Buku APBD bukan rahasia negara,'' kata dosen ilmu hukum di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta ini. ''Tapi, untuk dapat itu ya nggak perlu ngejar-ngejar kepala dinas. Carilah dengan jalan yang halus,'' katanya sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anggota Dewan akhirnya bersedia mencarikan buku APBD. Tapi, dengan syarat. ''Jangan bilang-bilang dari saya. Nanti kalau ada ribut-ribut di koran saya yang diserang.'' Butuh tiga hari untuk mendapatkan buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 adalah puncak tertinggi APBD Natuna. Peraturan Daerah Nomor 2 tentang APBD menyebutkan, besar APBD 2007 mencapai Rp1,9 triliun. Dana bagi hasil memberi kontribusi terbesar yaitu Rp1,039 triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya Rp38,2 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natuna berpesta. Pemerintah daerah langsung mencanangkan pembangunan sebuah masjid megah senilai Rp400 miliar. Anggaran pembangunan masjid setara dengan APBD Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari mega proyek yang diberi nama Gerbang Utara Ku, yang meliputi perumahan DPRD, rumah dinas bupati dan wakil bupati, kampus dan asrama perguruan tinggi. Total anggaran yang akan dihabiskan seluruhnya (termasuk dana pembangunan masjid) sebesar Rp781 miliar lebih. Selain dari APBD 2007, anggaran 2008 dan 2009 juga bakal tersedot, karena pendanaannya bersifat multiyears. Hingga penghujung 2009 ini, baru masjid yang selesai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang Utara Ku merupakan Singkatan dari slogan: Gerakan Membangun untuk Sejahtera ke Anak Cucu. Kata Gerbang Utara juga merujuk pada posisi Natuna secara geografis yang merupakan wilayah paling utara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peletakan batu pertama masjid dilakukan 4 Mei 2007. Bupati Natuna Daeng Rusnadi mengatakan, membangun masjid megah itu adalah impian lamanya. ''Proses pembangunan masjid ini dirancang setelah empat bulan kami menjabat sebagai Bupati,'' ungkapnya (Batam Pos, Sabtu 5 April 2009). Daeng dilantik sebagai orang nomor satu di Natuna tanggal 13 Agustus 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat peresmian pada hari Jumat, 4 April 2009, Daeng Rusnadi mengatakan, ''Masjid ini akan menjadi maskot kebanggaan masyarakat Natuna.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Ranai menyebut Masjid Gerbang Utara Ku sebagai Masjid Agung Natuna. Arsitektur kubahnya mirip Taj Mahal di India. Inilah masjid terbesar dan termegah di Kepulauan Riau. Beberapa warga berpendapat, kemegahan Masjid Agung Natuna mengalahkan Masjid Kubah Emas di Depok, Jawa Barat. Satu baris shaf bisa memuat 180 jamaah. ''Ribuan jamaah bisa tertampung di masjid ini,'' kata Hussaini, Kepala Bagian Umum Pemkab Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, jamaah yang salat di Masjid Agung tak sebanyak yang dibayangkan. ''Kalau hari biasa satu shaf pun kadang tak penuh,'' kata Noviandri, pelajar SMP yang tengah mengaji usai salat Magrib di masjid itu, Sabtu (12/12). ''Setahu saya, kalau salat Jumat paling banyak hanya terisi tiga shaf saja,'' kata Abdul Rasyid, pegawai Kantor Samsat Natuna menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang kompleks masjid, terhampar perkampungan penduduk dengan rumah-rumah kayu dan semi permanen, berdampingan dengan perumahan pegawai Pemda. Sebuah masjid juga berdiri di sana. Rumah Tuhan bernama Al Muhajirin itu sudah ada jauh sebelum Masjid Agung Natuna dibangun. ''Warga Puak (nama perkampungan di belakang Masjid Agung) salatnya di sana saja. Jarang yang ke sini,'' kata Noviandri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan warga Batu Kapal, perkampungan penduduk yang berjarak 300 meter ke arah kiri jalan masuk kompleks Masjid Agung. Mereka lebih memilih menunaikan salat di Masjid Ath-Thariq yang dibangun warga secara swadaya sepuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubazir. Itulah yang dirasakan oleh sejumlah warga bila mengingat besarnya uang yang dihabiskan untuk membangun Masjid Agung. ''Dimana-mana di Natuna ini sudah banyak masjid dan musala. Malah anak-anak banyak yang belum sekolah,'' kata Saufie (46), warga Desa Air Raya, Kecamatan Bunguran Timur. Dua dari tiga anaknya putus sekolah. Usianya 14 dan 11 tahun. Mereka kini membantu Saufie jadi pemecah batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran pembangunan langsung gedung sekolah yang diusulkan Dinas Pendidikan Natuna tahun 2007 memang kalah jauh dibanding dana untuk Masjid Agung. Pembangunan gedung sekolah hanya Rp31 miliar (Rp2,2 miliar untuk gedung sekolah pendidikan usia dini, Rp22,4 miliar untuk gedung sekolah dasar, dan Rp6,3 miliar untuk gedung pendidikan tinggi). Padahal, berdasarkan data pemerintah dalam buku Natuna dalam Angka, dari 91,263 penduduk Natuna, jumlah warga yang tidak tamat sekolah dasar mencapai 9.854 orang dan yang tidak pernah sekolah sebanyak 2.221 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Bupati Natuna Raja Amirullah, yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/12), menolak jika dikatakan penggunaan anggaran banyak yang tidak tepat sasaran. ''Untuk mengatakan seperti itu, indikatornya harus jelas. Tidak bisa sembarangan memberi penilaian,'' katanya. ''Pemerintah membangun berdasarkan usulan dari bawah dan perencanaan yang mengacu pada kebutuhan masyarakat ke depan,'' ujar Amirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007 itu, Pemerintah Kabupaten Natuna mengalokasikan dana bantuan sosial sebesar Rp69 miliar. Empat kali lipat di atas alokasi pinjaman dana bergulir untuk koperasi dan usaha kecil menengah (UKM), yang hanya Rp15 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos anggaran bantuan sosial inilah yang diduga selama ini dibagi-bagikan Bupati Daeng Rusnadi kepada warga yang setiap hari mendatangi kantornya. Hari-hari Daeng sebagai Bupati lebih banyak dihabiskan menerima kunjungan masyarakat. Ratusan tamu dari berbagai kalangan, mulai masyarakat biasa, LSM, OKP, wartawan hingga pejabat dan muspida antre di depan pintu masuk ruang kerja Bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di tempat praktik dokter, setiap orang yang ingin menghadap wajib mengisi nomor urut di buku tamu yang dikawal anggota Satpol PP. Mereka dipanggil sesuai nomor urut. Kepala dinas yang ingin melaporkan tugas-tugas pemerintahan juga harus mengisi nomor urut, antre bersama warga. ''Saya pernah ingin ketemu, berkoordinasi soal keamanan jelang Lebaran, tapi harus antre menunggu warga yang ingin silaturahmi. Saya tinggalkan, saya pulang ke kantor,'' tutur seorang perwira di Polres Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam alasan diutarakan masyarakat meminta bantuan langsung Bupati Daeng. Dari kebutuhan rumah tangga, keluarga sakit, kemalangan, hingga pesta perkawinan. Jenis keperluan menentukan besarnya sumbangan. "Saya pernah mengeluh anak sakit. Setelah antre dua jam, Pak Bupati kasih Rp1 juta,'' kata Ali Usman, warga Ranai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kursi kekuasaannya Daeng Rusnadi seperti lampu dirubungi laron. ''Kalau bertemu dan salaman sama dia, insya Allah ada duitnya,'' ujar Abu Bakar, nelayan Sungai Ulu. Abu Bakar menuturkan, ketika mengendarai sepeda motor, ia pernah berpapasan dengan Daeng yang melaju dengan mobil dinasnya tak jauh dari Kantor Bupati di Bukit Arai. Daeng melambaikan tangan meminta Abu Bakar berhenti. ''Dia cuma tanya kabar, terus kasih duit Rp200 ribu. Kebetulan di situ ada dua anggota polisi, mereka juga dapat duit. Setelah itu Pak Daeng langsung pergi,'' katanya. Tapi, Abu Bakar mengaku tak pernah ikut antre bantuan di kantor Daeng. ''Saya malu untuk minta-minta begitu,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Daeng yang mirip Sinterklas makin memicu antusiasme warga untuk selalu bertemu dia. Bukan hanya warga Natuna, warga Batam dan Tanjungpinang pun sering terlihat di tengah antrean. Saking banyaknya orang yang ingin bersilaturahmi, lobi lantai dasar hingga lantai dua Kantor Bupati tak berbeda dengan loket pembayaran rekening PLN pada tanggal muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah yang berkembang di masyarakat Natuna, jika pergi melaut semalam suntuk atau bertani seharian, paling-paling hanya dapat uang sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu saja. ''Bandingkan jika antre di Kantor Bupati yang paling lama cuma tiga jam, kite bisa bawa pulang duit paling sikit Rp200 ribu,'' kata Ali Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko mengatakan, dalam beberapa kasus yang diteliti ICW, pemberian dana bantuan sosial kepada masyarakat kecil hanya kamuflase belaka. Kenyataannya dana lebih banyak dialirkan kepada organisasi dan kelompok-kelompok pendukung kepala daerah saat pilkada. ''Karena dana bansos ini yang paling mudah diberikan. Tidak perlu tender, tanda buktinya cuma kuitansi. Karena itu, pos dana bansos sering dibengkakkan dalam APBD,'' kata Danang kepada Batam Pos, Sabtu (26/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dokumen audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas penggunaan APBD 2007 yang diperoleh Batam Pos, diketahui dana bantuan sosial juga mengalir ke sejumlah organisasi kepemudaan. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Natuna memperoleh dana sebesar Rp2,4 miliar, yang dicairkan dalam enam tahap. Dari enam kali pencairan itu, hanya satu proposal KNPI yang bersifat kegiatan, yaitu penyelenggaraan pawai ta'aruf. Sisanya adalah untuk biaya operasional dan bantuan keuangan organisasi. Dalam laporan itu juga disebutkan, tahun sebelumnya, KNPI Natuna telah mendapat bantuan sebesar Rp1,2 miliar dari pos anggaran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua KNPI Natuna Harmidi yang ditemui di rumahnya, di Jalan Sukarno Hatta, Ranai, Minggu (27/12), enggan berkomentar soal dana bantuan tersebut. ''Itu tanggung jawab pengurus periode sebelumnya. Saya baru dilantik Januari 2009,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apakah tidak ada laporan kegiatan dari pengurus sebelumnya?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tanya sama yang lama saja,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wan Indra Gunawan, Ketua KNPI Natuna sebelum Harmidi, yang dihubungi hingga Minggu (27/12) malam, tidak bisa dikonfirmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Wakil Bupati Raja Amirullah, Sekretaris Daerah Ilyas Sabli dan sejumlah kepala dinas, dalam acara sosialisasi antikorupsi, Kepala Kejaksaan Natuna Arief Muliawan mengingatkan, pemberian dana bantuan sosial di Natuna sudah melampaui batas. ''Ini sudah tak mendidik lagi. Kebiasaan itu membuat masyarakat jadi malas,'' katanya. Seharusnya, kata dia, yang diperbesar adalah bantuan modal bagi nelayan dan usaha kecil, agar mereka mandiri dan tak jadi peminta-minta. ''Masyarakat harus dikasih pancing, biar dia usaha sendiri. Jangan dikasih ikan terus,'' katanya memberi analogi. Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah mangut-mangut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arief, pemberian bantuan terus menerus kepada warga membuat pejabat terperangkap dalam korupsi. ''Kalau pos dana bantuan sosial sudah habis, sementara warga terus berdatangan, otomatis pos anggaran lain yang diubah peruntukannya. Tak mungkin sumbangan itu diambilkan dari duit pribadi si pejabat. Memangnya gaji mereka berapa,'' kata Arief. Dalam Perda APBD Natuna tahun 2007, anggaran belanja bupati dan wakil bupati ditetapkan sebesar Rp464 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengubah peruntukan pos anggaran, Arief menegaskan, adalah tindakan korupsi. ''Akibatnya duit jin dimakan setan. Uang hasil korupsi pejabat digunakan untuk foya-foya oleh sebagian rakyat, tapi rakyat tak tahu itu sumbernya darimana,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan ICW, selain dana bantuan sosial, pos anggaran dalam APBD yang rawan praktik korupsi adalah, pos bidang pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan umum. Pembangunan proyek infrastruktur dan pengadaan barang dan jasa pada tiga dinas basah ini, menurut Danang Widoyoko, harus diawasi ketat. ''Kongkalingkong antara pejabat pimpinan proyek dengan pengusaha sering terjadi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, mereka mengatur persyaratan tender untuk memenangkan pengusaha yang punya kedekatan dengan pejabat. Spesifikasi proyek sudah disepakati jauh sebelum tender dilakukan. ''Sebelum tender dibuka pengusaha sudah tahu dapat keuntungan berapa,'' kata Danang. ''Makanya pemenang tender sudah berani kasih amplop untuk pejabat sebelum proyek dimulai,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan proyek beraroma hangky pangky terendus pada pengadaan alat laboratorium bahasa untuk sembilan SMP dan empat SMA oleh Dinas Pendidikan Natuna tahun 2007. Proyek ini ditengarai merugikan keuangan daerah sebesar Rp628 juta. Ini terjadi karena selisih harga antara alat laboratorium SMP dan SMA sangat tinggi. Padahal, jenis dan merek alat yang diadakan untuk kedua level pendidikan tersebut sama persis. Tahun pengadaannya pun sama, yaitu tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, master console untuk guru merek Dr Wicom untuk SMP harga per unitnya Rp150 juta, sedangkan untuk SMA harganya Rp123.300.000. Video distributor untuk SMP harga per unitnya Rp15 juta, untuk SMA harganya Rp11.900.000. Televisi Toshiba Bomba 29 inchi untuk SMP harganya Rp6 juta, untuk lab SMA harganya Rp4.875.000. Dari sebelas jenis alat perlengkapan laboratorium yang diadakan, menurut BPK, terdapat perbedaan harga sebesar Rp69.795.000 untuk satu SMP. Dikalikan sembilan SMP total selisihnya sebesar RpRp628.155.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdi, Kepala Dinas Pendidikan (saat itu), mengakui pengadaan alat laboratorium bahasa SMP dan SMA mempunyai spesifikasi yang sama. Jenis dan bentuk alatnya juga sama. Jika terdapat perbedaan harga, kata dia, dikarenakan penawaran oleh masing-masing perusahaan berbeda. ''Dengan demikian bukan merugikan keuangan daerah,'' kata Hamdi menyanggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, BPK menilai Dinas Pendidikan telah melanggar pasal 5 huruf f Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang dan Jasa, yang berbunyi ''Pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa, dan para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika, di antaranya menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara''.  Karena itu, BPK memerintahkan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Dinas Pendidikan mempertanggungjawabkan kerugian daerah sebesar Rp628.155.000 dan menyetorkannya ke kas daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Pelatihan Guru Bidang Studi Ujian Nasional SMP dan SMA juga berbau korupsi. Anggaran untuk kegiatan itu sebesar Rp112.800.000. Dalam laporan pertanggungjawabannya, Panitia Kegiatan menyebutkan, pelatihan dilakukan lima hari di Hotel Mariana, Ranai. Semua akomodasi dan transportasi peserta ditanggung panitia. Tak lupa panitia menyertakan kuitansi tanda terima yang sudah ditandatangi peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya kegiatan hanya berlangsung tiga hari, dan tanda tangan pada kuitansi bukanlah tanda tangan asli peserta melainkan hasil manipulasi panitia. Ini diketahui setelah auditor BPK melakukan pengecekan ulang kepada para peserta pelatihan, saat melakukan audit tahun 2008. Besar biaya transportasi dan akomodasi yang diterima peserta lebih kecil dibanding angka yang tertera pada kuitansi yang dibuat panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia beralasan ada kesalahan dalam penganggaran, sehingga biaya instruktur dan biaya akomodasi peserta tidak termasuk dalam anggaran kegiatan. Tapi, ''Pemeriksaan lebih lanjut atas laporan realisasi fisik dan keuangan, diketahui hanya biaya instruktur yang tidak dianggarkan,'' tulis BPK dalam laporan audit tersebut. Akibat manipulasi ini, menurut BPK, keuangan daerah dirugikan paling sedikit Rp66.075.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bendahara di Dinas Pendidikan berinisial Abd juga pernah kedapatan mentransfer dana milik Dinas di Bank Riau ke rekening pribadinya sebesar Rp2,2 miliar, pada Desember 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Bupati Raja Amirullah mengakui banyaknya temuan penyimpangan anggaran oleh anak buahnya saat BPK melakukan audit. Tapi, kata dia, ''Tidak semua hasil audit BPK itu benar. Dan masih bisa disanggah.''  Yang jelas, ia menambahkan, dari sisi program tidak ada yang salah dari pemerintah daerah. ''Tapi, kalau dalam pelaksanaannya ada penyimpangan, itu urusan lain,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Muliawan mengungkapkan, Kejaksaan Natuna sejak November 2009 telah menyelidiki sejumlah kasus dugaan korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Natuna, termasuk kasus korupsi tahun anggaran sebelum-sebelumnya. ''Januari tahun depan (2010) akan ada beberapa pejabat yang ditetapkan sebagai tersangka,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, korupsi di Natuna sudah masuk kategori akut dan masif. ''Jika saya sikat semua, bisa-bisa pemerintah daerah tak punya kepala dinas lagi. Natuna bisa chaos,'' ucapnya. Karena itu, kata dia, penanganan kasus dugaan korupsi dilakukan berdasarkan skala prioritas. ''Penanganan korupsi memang tebang pilih. Dipilih mana yang besar-besar, itulah yang ditebang,'' kata Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kata Arief, ia bisa saja menangkapi semua pejabat yang terindikasi korupsi di Natuna, lalu pulang ke Kejaksaan Agung dengan bangga. ''Saya ditugaskan di sini cuma empat bulan, diperintah khusus untuk membenahi Natuna. Kalau saya penjarakan semua, setelah itu balik ke Jakarta, orang-orang akan menilai saya hebat. Tapi, menurut saya, itu justru kegagalan. Saya akan berhasil kalau korupsi tidak ada lagi di Natuna,'' paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasil Korupsi Disimpan di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;''Assalamualaikum. Di hari yang berbahagia ini, saya mengucapkan selamat Idul Adha. Saya sekarang sedang disidang di Pengadilan Tipikor dan dititipkan di Polda Metro Jaya. Selanjutnya apakah saya akan ditahan atau mungkin mati.''  Kalimat itu diucapkan Bupati Natuna Daeng Rusnadi kepada jamaah salat Idul Adha di Masjid Agung Natuna, Jumat (27/11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari besar itu, Daeng tak bisa hadir di masjid impian dan kebanggaannya untuk bersilaturahmi secara langsung dengan masyarakat, seperti kebiasaannya selama ini. Salam dan pesan kepada jamaah disampaikan Daeng melalui sambungan telepon yang didekatkan ke pengeras suara Masjid Agung. Sejak Rabu (4/10), Daeng ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas tuduhan korupsi dana bagi hasil migas tahun 2004 sebesar Rp72,25 miliar. Ketika itu, Daeng masih menjabat sebagai Ketua DPRD Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya kasus ini menunjukkan kekacauan pengelolaan keuangan di Pemerintah Kabupaten Natuna sesungguhnya memiliki jejak yang panjang, jauh sebelum tahun 2007. Sejumlah warga Ranai yang ditemui Batam Pos tampak hati-hati membicarakan soal penahanan Daeng ini. ''Kita tak ngerti, Pak. Takut salah kata,'' kata Nursiah, warga Kelurahan Bandarsyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penahanan Daeng, membuat suasana di Kantor Bupati berbeda. Tidak ada lagi antrean panjang warga, LSM, dan OKP yang ingin berjabat tangan dengannya. Ruang kerja Daeng tampak terkunci, Senin (14/12). Sebuah meja dengan dua buku tamu masih berada di depan pintu yang tertutup rapat. Tiga petugas Satpol PP melingkar di meja itu. Tugas polisi pemerintah daerah itu, kini melayani tamu-tamu yang ingin bertemu Sekretaris Daerah Ilyas Sabli, yang ruang kerjanya berhadap-hadapan dengan kantor Daeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng dan Bupati (saat itu) Hamid Rizal diduga menggunakan uang dari kas daerah untuk kepentingan pribadi. Kisah bermula pada Mei 2003, ketika keduanya sepakat membentuk tim untuk meningkatkan pendapatan daerah dari sektor minyak dan gas (migas). Atas dasar kesepakatan tersebut, dibuatlah pos anggaran subsidi kepada PNS dan instansi vertikal lainnya dengan dana Rp42,2 miliar di APBD Natuna tahun 2004. Pada Juni 2004, DPRD dan Pemkab Natuna membengkakkan alokasi dana untuk pos subsidi kepada PNS dan instansi vertikal lainnya jadi Rp74,678 miliar, melalui mekanisme revisi APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan Januari 2004, Daeng selaku ketua DPRD berkali-kali meminta uang dari kas daerah melalui Muhammad Subandi, Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Natuna. Alasan Daeng, untuk memperjuangkan peningkatan pendapatan daerah dari sektor migas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ketika itu, APBD belum disahkan. Rapat paripurna pengesahan APBD baru digelar 18 Februari 2004. Nyatanya, APBD sudah bocor duluan. Sebelum 18 Februari itu, Daeng menarik duit dari kas daerah sebesar Rp39 miliar dalam empat tahap. Uang tersebut mengalir ke sejumlah nama, di antaranya Subandi yang mendapat Rp2,7 miliar, almarhum Suwito selaku ketua Tim Migas (Rp10 miliar), dan Suparni, staf di Bagian Keuangan Pemkab Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suparni yang bertugas mencatat pembukuan bercerita, ia pernah dimintai nomor rekening bank oleh Suryanto, dari Bagian Keuangan Pemkab Natuna. Rekening itu akan digunakan untuk pengiriman uang, yang selanjutnya akan diserahkan kepada Daeng Rusnadi. "Suryanto telepon saya, Pak Daeng minta nomor rekening. Suryanto mau kirim uang Rp2 miliar untuk Pak Daeng," tutur Suparni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah uang masuk, lanjut Suparni, ia segera mencairkan dan menyerahkannya kepada Daeng.  "Kedermawanan" Daeng sudah terlihat sejak di sini. Menurut pengakuan Suparni, ia diberi Rp320 juta oleh Daeng setelah mengantar uang kiriman dari Suryanto itu. "Saya dikasih Rp320 juta untuk dibagi-bagi. Ada 32 pegawai di Bagian Keuangan, jadi  masing-masing Rp10 juta," ujar Suparni. ''Tapi, duit itu sudah saya kembalikan ke KPK,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kebiasaannya yang suka bagi-bagi uang, di Natuna, Daeng juga dikenal sebagai pemilik empat unit villa yang tersebar di Gunung Sebayar dekat Bukit Arai, Bukit Senumbing, Pulau Kambing, dan Gunung Air. Lokasi masing-masing villa berada di empat titik mata angin (barat, timur, utara, selatan) yang mengitari Natuna. Warga yang melintasi jalan di depan Kantor Bupati Natuna, bisa memandang dengan jelas salah satu villa milik Daeng yang berada di ketinggian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah APBD disahkan, 18 Februari 2004, penarikan dana dari kas daerah dengan alasan memperjuangkan peningkatan pendapatan daerah dari sektor migas masih berlanjut. Ironisnya, duit tidak hanya diambil dari pos subsidi kepada PNS dan instansi vertikal lainnya, duit yang ada di pos operasional Kantor DPRD Natuna pun ikut ditarik Daeng sebesar Rp10,94 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid Rizal yang waktu itu menjabat Bupati Natuna, mendapat Rp1,5 miliar. Hamid meminta agar uang itu digunakan untuk membeli dua unit mobil, masing-masing Mitsubishi Subaru Impressa tahun 2004 seharga Rp630 juta dan Mercedes Benz E 240 automatic tahun 2004 seharga Rp849,3 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid mengakui pembelian mobil itu. ''Untuk keperluan jika saya ada kunjungan kerja di Jakarta. Jadi bukan untuk kepentingan pribadi,” kilahnya. Kedua mobil itu disimpan di Jakarta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa KPK mengungkapkan, sekitar Maret 2008, untuk kepentingan melengkapi administrasi pertanggungjawaban pengeluaran dan penggunaan uang kas daerah, Daeng yang sudah menjadi Bupati Natuna dan Hamid yang sudah menjadi Kepala Dinas Pertambangan Provinsi Kepri, membuat pertanggungjawaban yang dibebankan pada APBD tahun 2004. ''Pertanggungjawaban tersebut dibuat seolah-olah untuk kegiatan Tim Intensifikasi dan Ekstensifikasi Dana Bagi Hasil Migas. Padahal  itu tidak sesuai kenyataan dan dibuat hanya untuk memenuhi formalitas. Seolah-olah penggunaan uang sudah sesuai peruntukannya,” ujar anggota JPU KPK Edy Hartoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dinasti Politik Daeng &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Natuna satu dekade terakhir tak bisa dipisahkan dari sepak terjang Daeng Rusnadi. Nama pria kelahiran Ranai 23 Maret 1960 ini mulai dikenal publik Natuna ketika terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Riau periode 1992-1997 mewakili daerah pemilihan Natuna. Ketika itu, Natuna masih jadi bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau, dan berinduk ke Provinsi Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum jadi anggota DPRD, Daeng adalah seorang guru. Ia mengajar di SDN 003 Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur. Ia hanya guru biasa, bukan kepala sekolah. Boleh dibilang, saat terpilih pertama kali sebagai anggota DPRD, Daeng dipayungi keberuntungan. Sebab, kata Ali Yanto (48), teman sekolah Daeng semasa SD dan PGA, Daeng belum banyak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Kantor DPRD Kabupaten Kepulauan Riau berada di Tanjungpinang, Daeng pun hijrah ke Bumi Segantang Lada. ''Kalau ada warga Ranai yang pergi ke Pinang dan tak ada tempat menginap, mereka akan ditampung di rumah Daeng,'' tutur Ali Yanto. ''Tapi, yang saya tahu dia tak pernah kasih duit, cuma sediakan tempat tinggal dan makan saja,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Yanto mengisahkan, saat sama-sama menuntut ilmu di SDN 1 Ranai dan PGA Negeri Ranai, Daeng adalah anak yang biasa-biasa saja. Ia bukan tipikal murid yang suka mentraktir teman-teman sekolahnya. ''Tidak ada. Normal-normal saja,'' ujarnya. Daeng juga tidak pernah terpilih sebagai ketua kelas dan ketua organisasi di sekolah. ''Tak ada prestasi yang menonjol,'' kata Ali Yanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra pegawai sipil AURI dan pemilik kebun cengkeh itu, pun tidak pernah terlibat percekcokan dengan kawan sepermainan. ''Bubar sekolah, biasanya dia langsung pulang. Kami jalan kaki sama-sama. Kebetulan rumah kami satu arah,'' kata Ali Yanto. Selama di SD, kata Ali Yanto, Daeng selalu satu kelas dengan abangnya Daeng Rumedi. Tamat PGA, Daeng meneruskan sekolah ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. ''Keluarganya semua kuliah di Yogya,'' ujar Ali Yanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi dan gelora otonomi daerah di penghujung 1990-an membawa berkah tersendiri bagi Natuna dan Daeng Rusnadi. Pusat menetapkan Natuna sebagai daerah otonom melalui Undang-Unang Nomor 53 Tahun 1999, dan berhak memiliki pemerintah daerah dan DPRD sendiri. Daeng terpilih sebagai ketua DPRD pertama Natuna periode 2000-2004. Sejak itulah, kiprah politik Daeng kian berkibar di Natuna dan Kepulauan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mencalonkan diri kembali sebagai anggota DPRD pada Pemilu 2004, nama Daeng sudah tersohor di seantero Natuna. ''Tak ada yang tak kenal Pak Daeng,'' kata Saufie, warga Desa Air Raya, Kecamatan Bunguran Timur. Saufie adalah anggota tim sukses Daeng ketika Daeng maju sebagai calon anggota DPRD Natuna pada Pemilu 2004 dan saat Daeng mencalonkan diri sebagai bupati dalam Pilkada 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah panggung tanpa kamar milik Saufie, jam dinding berlogo Partai Golkar dengan foto Daeng Rusnadi masih terpajang, jarumnya pun masih bergerak. ''Itu hadiah waktu dia jadi caleg tahun 2004,'' katanya. ''Dia bilang, kalau ada apa-apa datang saja ke DPRD,'' ujar Saufie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Daeng terpilih kedua kalinya sebagai ketua DPRD lewat Pemilu 2004, warga mulai ramai bersilaturahmi ke kantornya. Cerita dari mulut ke mulut tentang kedermawanan Daeng terus menyebar di kalangan warga Natuna. ''Saya pernah sekali ke sana. Mak, ramainya,'' kata Saufie. Menjelang petang, amplop putih bertebaran di halaman Kantor DPRD, nyaris setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi politik Daeng tak sia-sia. Saat bertarung dalam pemilihan bupati Natuna tahun 2005, Daeng yang berpasangan dengan Raja Amirullah mematahkan impian Hamid Rizal, incumbent yang ingin meneruskan kekuasaannya, dan tiga pasang calon bupati lainnya. Meski Daeng sempat terserang stroke menjelang pilkada, hasrat warga tak surut untuk memilih pasangan Daeng-Amirullah. Pasangan yang didukung Partai Golkar ini meraup 17.663 suara pemilih (34,74 persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Hamid Rizal-Soetomo yang diusung lima partai politik (PPP, PPDK, Pelopor, PKB, dan PKB) kalah tipis dengan perolehan suara 16.331 (31.44 persen). Usai pemilihan, Hamid-Soetomo sempat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Riau. Satu dari lima poin gugatannya adalah Daeng pernah terserang stroke sehingga dinilai tidak memenuhi syarat sebagai bupati. Tapi, gugatan Hamid dimentahkan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saufie menuturkan, saat kampanye pemilihan bupati, Daeng datang ke Desa Air Raya sebanyak dua kali. Dialog pertama dengan warga berlangsung di lapangan voli desa. Pertemuan kedua digelar di Masjid Abdi Nur Irsyad, tak jauh dari lapangan voli. ''Dia cuma kasih sarung. Tak pernah kasih duit,'' ujarnya. Tapi, dalam dua pertemuan itu, Daeng berjanji akan memberikan bantuan Rp1 juta tiap bulan kepada warga. ''Dia juga bilang mau beli tanah warga,'' kata istri Saufie menyahut dari dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Amirullah, pasangan Daeng dalam pilkada 2005 membantah informasi itu. ''Nggak ada itu janji-janji seperti itu. Janji kita ya yang ada dalam visi dan misi,'' kata Amirullah, alumnus Universitas Padjajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak kekuasaan Daeng Rusnadi kian kokoh di Natuna, setelah sejumlah kerabat dekatnya menyusul kiprahnya di bidang politik. Adik kandungnya Daeng Amhar, kini duduk sebagai wakil ketua DPRD Natuna. Daeng Amhar juga menjabat ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Natuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepupu Daeng, Hadi Candra adalah ketua DPRD Natuna periode 2009-2014. Ia duduk di kursi yang dulu pernah dikuasai Daeng. Pekan ketiga Desember 2009, Hadi punya jabatan tambahan, ia terpilih sebagai ketua DPD Golkar Natuna. Hadi dikabarkan bakal maju sebagai calon wakil Bupati Natuna pada pilkada 2011, berpasangan dengan Raja Amirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngesti Yuni Suprapti, istri Daeng Rusnadi sejak September lalu juga menyandang status sebagai anggota DPRD Natuna dari Partai Golkar. Sebelumnya, perempuan kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini hanya mendampingi Daeng menjalankan tugas sebagai bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Daeng Amhar, banyaknya anggota keluarga besar Daeng Rusnadi yang masuk ke DPRD atau yang menduduki sejumlah jabatan di Pemerintah Kabupaten Natuna, tidak didasari unsur nepotisme. ''Tidak ada KKN. Semua sesuai mekanisme saja,'' kata Daeng Amhar di kantornya, Rabu (16/12). ''Kita yang di DPRD ini yang milih kan rakyat. Kalau ada (keluarga) yang diangkat sebagai pejabat di Kantor Bupati, itu karena dia dianggap mampu,'' kata lelaki berkaca mata dan berkulit bersih ini. ''Lagipula, di partai politik kan banyak orang di situ, nggak semuanya bisa kita kendalikan,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng Amhar mengatakan, keluarga besarnya menyerahkan nasib Daeng Rusnadi sepenuhnya pada proses hukum. ''Keluarga menghargai semua proses hukum yang berjalan. Kita tunggu sajalah,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya keluarga, seluruh masyarakat Natuna menunggu kisah Daeng selanjutnya, dan tak tahu dimana akan berujung, seperti yang dikatakan sendiri oleh Daeng kepada jamaah Idul Adha di masjid kebanggaannya, Jumat (27/11), ''Saya sekarang sedang disidang di Pengadilan Tipikor dan dititipkan di Polda Metro Jaya. Selanjutnya apakah saya akan ditahan atau mungkin mati.''  ***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1606946053470505994?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1606946053470505994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1606946053470505994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1606946053470505994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1606946053470505994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2010/01/duit-jin-dimakan-setan.html' title='&quot;Duit Jin Dimakan Setan&quot;'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Sz36brMGZqI/AAAAAAAAAF0/uMtMGyOAStE/s72-c/Natuna+kantor+bupati++f+Cipi+Ckandina+%287%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-9077512159327761247</id><published>2009-09-11T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:05:09.969-08:00</updated><title type='text'>Juru Masak Pencetak Juara Tinju</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SqskINfdtpI/AAAAAAAAAFI/orTCKkhORAs/s1600-h/boxing.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380433903303374482" src="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SqskINfdtpI/AAAAAAAAAFI/orTCKkhORAs/s400/boxing.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 206px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BERADA di tengah permukiman padat, tak mudah menemukan sasana tinju Wira Boxing Camp. Minimnya petunjuk membuat orang yang pertama kali datang ke sana harus celingukan sepanjang jalan utama Tiban Kampung, Kelurahan Tiban Lama, Kota Batam. Tak ada papan nama di depan sasana. Rimbunnya bunga dan tanaman hias dekat pintu masuk, menutupi ring seluas 4x4 meter persegi yang, sebenarnya, berada tak jauh dari pagar pembatas antara sasana dengan jalan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saat saya bertandang, Kamis (3/9) petang, Erzon, sang pemilik sasana, tengah duduk di sebuah bangku plastik dekat ring. Ia mencoret-coret kertas di atas meja yang ada di depannya. Sesekali matanya menoleh ke keluar, ke arah jalan utama perkampungan. ‘’Anak-anak masih lari. Pemanasan,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wira Boxing Camp merupakan sasana tinju satu-satunya di Batam. Berdiri tahun 1990. Karena itu, Erzon, menyebutnya sebagai ‘anak tunggal’. ‘’Tapi nasibnya lebih pahit dari anak tiri,’’ katanya. Mendulang banyak prestasi, mengharumkan nama Batam dan Provinsi Kepulauan Riau di level nasional dan internasional, bahkan mewakili negara, tapi tak pernah ada perhatian memadai dari pemerintah daerah. Potret klasik dunia olahraga Indonesia, yang membuat orang jadi sinis dan sarkastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak satu per satu medali dan piala memenuhi lemari kayu warna cokelat muda di ruang tamu rumahnya, mulai tahun 1999, melalui Antoni Butar-Butar (perak), Kurniawan dan Hendra (perunggu), pada Kejuaraan Nasional Junior di Makasar, tak satu pun pejabat pemerintah, entah gubernur atau wali kota, pernah datang ke sana. ‘’Yang pernah ke sini itu hanya pengurus Pertina dan KONI,’’ kata Erzon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capaian tertinggi Wira Boxing Camp adalah melahirkan Rionando Butar-Butar, adik Antoni, sebagai petinju nasional. Di Sea Games Vietnam tahun 2003, anak muda yang lahir dan besar di Tiban Kampung itu, meraih medali perak. Dua tahun berikutnya, di ajang yang sama di Filipina, medali perunggu menggantung di leher Rionando. Pada tahun itu juga, Rionando menyabet medali perak pada kejuaraan internasional di Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000, Wira Boxing Camp mengirim tujuh petinjunya, mewakili Batam, ke Kejuaraan Nasional Junior di Kendari. ‘’Di sana kami juara umum dengan tiga emas, dua perak, dan tiga perunggu,’’ Erzon menuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonelyn Ebusca Erzon, anak bungsu Erzon, menambah panjang daftar kegemilangan Wira Boxing Camp, setelah tampil sebagai juara nasional tinju wanita, dan belum terkalahkan dalam 12 pertandingan terakhir. Sebelumnya, Wulan Safitri menyabet medali perak pada Kejurnas Tinju Wanita di Medan. Sepanjang tahun 2009 ini saja, kata Erzon, Wira Boxing Camp mengoleksi delapan medali (tiga emas, tiga perak, dua perunggu) dari tiga kejuaraan internasional di Penang dan Johor. ‘’Totalnya, kami berhasil meraih 128 medali dan 48 piala,’’ kata Erzon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau mengoleksi banyak gelar, tak otomatis membuat atlet dan pelatih jadi kaya. ‘’Juara di level internasional itu jarang hadiahnya uang. Hanya medali dan piala,’’ kata Erzon. Sebab itu, deretan prestasi yang sudah dicatatkan penghuninya, tak banyak mengubah wajah Wira Boxing Camp, yang berada di pekarangan samping rumah tinggal Erzon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terasa berbeda hanyalah empat sansak besar yang berjejer di belakang ring telah menemukan tempat gantungan memadai, meski masih harus berdesakan dengan jemuran. Sebelumnya, sarana latihan utama olahraga tinju itu terpaksa digantung di pohon nangka. Setelah Erzon mengecor plafon bagian samping rumahnya, sansak dipasang di sana. ‘’Saya mau bikin asrama, tapi belum kesampaian juga,’’ ungkapnya, menunjuk plafon yang masih berlapis semen kasar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ring untuk latihan juga masih yang lama. Usianya sudah 19 tahun. ‘’Hanya papan untuk lantai dan karpet saja yang pernah diganti,’’ kata Erzon. Kaki ring yang terbuat dari besi, semuanya sudah karatan. Mur dan baut penghubung antara kaki ring dengan penyangga papan lantai mulai longgar, karena lubang tempat pemasangannya sudah keropos. ‘’Ring ini, kalau digeser sedikit saja, berantakan semua. Roboh,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erzon pernah mengajukan permintaan bantuan kepada pemerintah daerah melalui KONI dan Pertina untuk mengganti ring. Kecuali janji, tak ada hal lain yang ia peroleh. ‘’Bosan saya berharap,’’ katanya. Rahangnya mengeras. Matanya menerawang tajam ke arah ring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;ERZON lahir di Padangpanjang, Sumatera Barat, 6 Juni 1954. ‘’Mirip dengan tanggal lahir Bung Karno,’’ katanya. Bedanya, kata dia, Soekarno lahir menjelang subuh, karena itu disebut Putra Sang Fajar. Sedangkan ia keluar dari rahim ibunya pada tengah malam. ‘’Makanya agak nakal sedikit,’’ ujarnya. Seperti kebanyakan orang Minang lainnya, Erzon menghabiskan hidupnya di perantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus sekolah rakyat di Medan, ia berlayar ke Amerika Serikat tahun 1970. Sebagai pendatang haram, lelaki berkulit gelap itu tak pernah punya pekerjaan tetap di negeri Paman Sam. ‘’Kadang cuci piring, kadang tukang masak di restoran,’’ katanya. Sebelum pindah ke Seattle di negara bagian Washington, dan meninggalkan AS tahun 1973, Erzon tinggal di Brooklyn, sebuah kawasan kumuh dan padat di Kota New York, yang banyak melahirkan petinju-petinju handal. Mike Tyson, salah satunya. ‘’Di sana, banyak sekali sasana tinju,’’ katanya. Tiap hari melihat orang berlatih tinju, Erzon jatuh cinta pada olahraga baku pukul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari AS, ia melanglang buana ke banyak negara. Jerman salah satu negara yang cukup lama ditinggalinya. ‘’14 tahun tahun saya di luar negeri,’’ tuturnya. Filipina adalah perantauan terakhir Erzon. Di sanalah ia bertemu dan menikah dengan Josefine, yang memberinya tiga orang anak. Pulang ke Indonesia, Erzon mendarat di Batam tahun 1984. ‘’Sejak itu saya berteman dengan pengurus Pertina,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1990 ia terlibat sebagai panitia dalam Kejuaraan Tinju Nasional di Gedung Beringin, Sekupang. Promotornya pengusaha nasional Herman Saren Sudiro. ‘’Setelah Kejurnas itu saya mendirikan sasana ini. Saya sendiri yang melatih,’’ katanya. Ia sudah tujuh kali lulus kursus pelatih tinju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa awal berdiri, Erzon mengisahkan, tak banyak anak muda yang berminat bergabung di sasana itu. Wira Boxing Camp hanya punya lima petinju. ‘’Cari petinju, saat itu, susahnya bukan main,’’ katanya. Kendala utama, kata dia, adalah kecemasan orang tua atas keselamatan anak mereka. ‘’Orang tua tak mengizinkan. Takut anak mereka jadi gila,’’ katanya. Walau begitu, Erzon tak pernah punya keinginan mencari bibit petinju dari luar Batam. ‘’Karena saya ingin melahirkan petinju asli Batam,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ada 13 anak muda usia 13-18 tahun yang bergabung di sasana itu. Mereka masuk tanpa dipungut biaya. Tiga orang di antaranya, tinggal dan hidup bersama keluarga Erzon. Mereka juga disekolahkan. Segala kebutuhan latihan dan pertandingan bersumber dari uang pribadi Erzon. Sehari-hari ia bekerja membersihkan tanki kapal (tank cleaning) tanker asing yang sandar di berbagai pelabuhan di Batam. ‘’Kalau tak karena cinta pada tinju, sudah bubar sasana ini,’’ ucapnya, melukiskan beratnya mencari dana operasional. Dukungan penuh keluarga menambah kekuatan untuk bertahan. ‘’Kalau nggak didukung, bisa-bisa rumah tangga ribut terus. Gimana enggak, kalau pagi anak belum tahu mau sarapan apa, sementara atlet harus disediakan bubur kacang, telur atau susu,’’ paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;RIONANDO Butar-Butar melepaskan tinju kanan dan kirinya ke arah depan bergantian. Langkahnya maju-mundur. Sesekali kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengindari pukulan lawan. Kaos warna biru yang dikenakannya basah oleh keringat. ‘’Indonesia kalah sama Algeria, Bos,’’ katanya kepada Erzon, yang duduk mengamatinya. Ia bercerita tentang kejuaraan tinju dunia di Milan, Italia, yang ia pantau melalui situs www.aiba.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Bos’’ adalah panggilan sehari-hari Rionando kepada Erzon. ‘’Dia yang mengubah hidup saya,’’ kata Rionando. Di tangan Erzon-lah bakat yang dimiliki Rionando terasah dengan baik. Seperti Cus D’ Amato menemukan Mike Tyson di lorong gelap Brooklyn, lalu menyuntikkan motivasi dan kemampuan teknis hingga merajai dunia tinju, Erzon mematangkan karakter Rionando yang memang dikaruniai nyali besar dan kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rionando bergabung tahun 1995. Dua tahun kemudian, ia tampil sebagai juara pada Kejurnas Junior di Manado. ‘’Usia saya waktu itu baru 13 tahun,’’ katanya mengenang. Ia ingin mengakhiri karirnya pada Sea Games 2011 di Jakarta dan PON 2012 di Pekanbaru. Apakah setelah itu ingin jadi pelatih? ‘’Itu terserah pada Bos. Saya nggak bisa jauh dari tinju. Separo hidup saya habis di tinju,’’ kata Rionando. Paling tidak, kata dia, ia sudah punya calon penerus. Supriyadi, namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menekuni tinju, Rionando kini bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Lurah Tiban Lama, tak jauh dari sasana Wira Boxing Camp. Pengangkatannya sebagai PNS tahun 2006 merupakan penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Ia juga mendapat dana pembinaan sebesar Rp1,2 juta sebulan dari KONI Kepri dan dua unit rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Erzon, sang pelatih yang telah melahirkan generasi emas dalam dunia tinju di Batam dan Kepulauan Riau, tak pernah menerima penghargaan yang memadai dari pemerintah. ‘’Kalau atlet menang, disambut meriah oleh pemerintah dan diberi amplop. Pelatih tak pernah diperlakukan seperti itu. Tapi kalau kalah, pelatih dicari-cari, ditanya ini itu, kenapa kalah dan macam-macam,’’ kata Erzon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erzon mengaku pernah dijanjikan rumah oleh pemerintah. ‘’Tapi, sampai hari ini, septic tank-nya saja saya belum dapat,’’ katanya. Bagaimana dengan lahan tempat rumah dan sasananya berdiri saat ini, yang masih berstatus permukiman liar, apakah ‘’diputihkan’’ sebagai bentuk penghargaan? ‘’Dulu katanya mau diputihkan, tapi sudah empat kali pemilu nggak ada kejelasan. Saya nggak peduli, mau putih, hitam, atau abu-abu, yang penting saya jangan diganggu,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Kantor Pemuda dan Olahraga Kota Batam Jefriden mengaku tak tahu soal berbagai hal yang pernah dijanjikan kepada Erzon. ‘’Jangan-jangan (janji) itu bukan dari Pemerintah Kota Batam,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kata dia, Erzon belum pernah datang langsung membicarakan hal itu kepadanya. ‘’Kalaupun ada penghargaan dari Pemko Batam, tentu akan dipenuhi secara bertahap. Kemampuan kita masih terbatas,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jefriden, pembinaan dan penghargaan terhadap atlet dan pelatih merupakan tanggung jawab KONI. ‘’Dana KONI itu kan dari APBD juga,’’ ujarnya. Fokus pemerintah, kata dia, membangun sarana olahraga, seperti stadion dan gelanggang olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erzon sendiri mengaku tak lagi memikirkan janji-janji yang pernah diucapkan kepadanya. Semua itu, kata dia, telah dibenamkan jauh di dalam hati. Tapi, ‘’Saya tak akan berhenti (melatih tinju), karena saya mencintai olahraga ini,’’ ucapnya. ***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-9077512159327761247?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/9077512159327761247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=9077512159327761247' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9077512159327761247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9077512159327761247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/09/bergelimang-medali-bertabur-janji.html' title='Juru Masak Pencetak Juara Tinju'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SqskINfdtpI/AAAAAAAAAFI/orTCKkhORAs/s72-c/boxing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5115614506425956757</id><published>2009-07-24T19:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:05:26.815-08:00</updated><title type='text'>Save Our Seipulai</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Smpv78079xI/AAAAAAAAAFA/99n5So4zFFI/s1600-h/seipulai1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="300" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362221382069122834" src="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Smpv78079xI/AAAAAAAAAFA/99n5So4zFFI/s400/seipulai1.jpg" style="float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanjungpinang mengalami krisis air bersih terparah sepanjang sejarah kota itu. Hutan lindung sebagai daerah resapan air rusak parah, perkebunan resmi malah diizinkan di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH dermaga kecil menjorok sepanjang enam meter ke arah tengah waduk. Pada tiang-tiang betonnya menempel lima buah pipa ukuran besar warna biru. Dua di antara lima pipa besar itu ujungnya tenggelam di bawah permukaan air. Sisanya, terlihat menggantung sekitar setengah meter di atas riak air, ujungnya dipenuhi lumut dan lumpur kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;''Seharusnya semua ujung pipa berada di dalam air, paling sedikit empat meter,'' kata Berto, lelaki yang sehari-hari bertugas mengawasi ketinggian air pada ujung pipa-pipa itu. Tapi kemarau yang menerpa sejak lima bulan terakhir, membuat permukaan air waduk susut hingga lima meter. ''Akibatnya pipa-pipa itu menyembul keluar,'' ia menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kondisi terakhir Waduk Seipulai, sumber air baku satu-satunya milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri, yang melayani wilayah Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepri. PDAM Tirta Kepri dan Dinas Kehutanan Provinsi Kepri menyatakan, penyebab utama susutnya air waduk adalah kemarau panjang sejak Januari 2009 dan rusaknya hutan lindung yang menjadi daerah tangkapan air (catchment area).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya, produksi air bersih Tirta Kepri turun hingga 60 persen dari kondisi normal. ''Biasanya kita produksi 300 liter per detik, sejak awal Juni maksimal hanya 130 liter per detik,'' kata Kepala Humas Tirta Kepri M Syahrial, Selasa (7/7), di kantornya, di Batu Tiga, Tanjungpinang. Jika dalam kondisi normal, kata Syahrial, air bisa mengalir ke pelanggan tiap dua hari sekali. ''Sekarang tiap lima atau enam hari sekali,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan pontang panting mencari sumber air pengganti. Suhermin, 57 tahun, ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Taman Harapan Indah, misalnya, tak bisa tidur nyenyak sejak air makin langka. ''Saya sering terbangun malam. Kadang jam 10, lihat air ngalir atau tidak di kran kamar mandi. Nanti jam 11 bangun lagi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika air mengalir, ia bisa menghidupkan pompa untuk mengisi dua tangki cadangan di atas loteng rumah. Biasanya, kata dia, jam 03.00 subuh air baru ada. ''Itu pun seminggu sekali,'' katanya. Sekitar pukul 07.00 WIB air sudah mati lagi, dan tangki baru terisi setengah. ''Makanya ibu jadi nggak bisa tidur. Badan rasanya meriang,'' keluh Suhermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua tangki berkapasitas 500 liter itu, Suhermin bisa menggunakan selama satu minggu. Ia mengaku bisa irit karena tinggal sendiri. Jika cucunya datang berkunjung, air dua tangki itu hanya bertahan empat hari. Itupun sudah sangat berhemat. ''Air bilasan baju cucu, saya pakai lagi untuk merendam baju saya. Membilas cukup satu kali saja,'' paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika stok habis dan air belum juga mengalir, Suhermin yang sehari-hari berjualan di kantin Rumah Sakit Angkatan Laut ini, biasanya membeli ke truk air yang sering keliling perumahan. Satu tangki ukuran 500 liter, harganya Rp40 ribu. ''Itupun dapatnya harus antri. Kalau pesan pagi, sore sekitar jam 19.00 WIB baru diantar,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Tirta Kepri berupaya menyiasati situasi yang kian memburuk. Pipa penyedot (intake) di dermaga yang menggantung di atas permukaan air sebelumnya ada empat. Dua, di antaranya coba disambung dengan paralon yang ujungnya dimasukkan ke dalam waduk. Tapi hanya satu yang berhasil. Pemasangannya pun terlihat seadanya, jika tak bisa disebut asal jadi. ''Untuk sementara bisa dipakai, tapi cuma sebentar. Garis permukaan air sudah di ujung paralon,'' kata Berto, sambil menunjuk paralon darurat itu, Senin (6/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tambahan pipa yang tersambung paralon itu, total ada tiga pipa penyedot yang bisa difungsikan Tirta Kepri untuk berproduksi. Dua pipa ada di dermaga. Sebenarnya, kata Berto, perusahaan tempatnya mengabdi sejak empat tahun silam itu, punya sembilan pipa penyedot. Selain lima unit yang berada di dermaga itu, ada empat unit lagi yang lokasinya terletak sekitar 25 meter sebelah kiri dermaga. ''Tapi dari yang empat itu, hanya satu yang bisa dipakai,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusutan air Waduk Seipulai mulai terasa sejak Maret 2009. ''Waktu itu susut segini,'' kata Berto, sembari memegang siku dan meninggikan kepalan tangannya. Ketika itu, manajemen mengira hanya penyusutan biasa. ''Dari dulu kalau kemarau air memang susut, bahkan sampai semeter, tapi biasanya balik lagi. Kita tak mengira bakal begini,'' kata Ibrahim, pegawai Tirta Kepri yang sudah bekerja sejak 1984. Menurut Ibrahim, butuh hujan deras selama tujuh hari tanpa jeda untuk mengembalikan permukaan air ke titik normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia Khusus DPRD Kepri untuk masalah air Rudy Chua mengatakan, Pemerintah Provinsi Kepri bersedia mengeluarkan dana darurat sebesar Rp1,5 miliar untuk menanggulangi krisis air bersih ini. Dana itu akan dipakai untuk memperpanjang dermaga pipa penyedot hingga 30 meter ke arah tengah waduk. Tapi uang tak serta merta menyelesaikan masalah. Jalan mengakhiri krisis masih panjang. ''Sebab membangun dermaga harus melalui proses tender, itu butuh waktu 21 hari kerja,'' kata Rudy. Setelah pemenang tender diumumkan, barulah proses pembangunan bisa dimulai, yang diperkirakan memakan waktu 60 hari kerja. ''Jika tak ada keajaiban, penderitaan pelanggan Tirta Kepri masih akan berlangsung sampai akhir September 2009,'' ujar Rudy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejabat Pemerintah Provinsi Kepri menuturkan, Gubernur Ismeth Abdullah pernah mengundang secara khusus kepala Kejaksaan Tinggi Kepri dan perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan, untuk meminta pertimbangan agar proyek perpanjangan dermaga itu bisa digelar tanpa tender, atau menggunakan sistem penunjukan langsung. ''Karena situasi sudah sangat darurat, Pak Gubernur minta kelonggaran,'' kata pejabat itu. Tapi, Kejaksaan dan BPK menolak memberi lampu hijau, dengan alasan mengandung risiko hukum yang besar. ''Ya, terpaksa lewat tender dan bertele-tele,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismeth Abdullah yang dikonfirmasi perihal pertemuan itu, menjawab, ''Kita mencari solusi yang cepat dan tepat. Insya Allah bisa teratasi.''  Dalam situasi yang amat darurat seperti ini, kata Rudy Chua, kendala birokrasi sebenarnya bisa dikesampingkan. ''Memang, harus ada orang yang berani mengambil risiko. Lebih cepat, tentu lebih baik,'' katanya, yang ditemui sehari menjelang pemilihan presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;WADUK  Seipulai dulunya adalah sebuah lembah yang diapit dua buah bukit kecil, yang berada di sisi barat dan timur. Di bukit sebelah timur terhampar perkebunan karet milik perusahaan Siang Lie Sie Biam Kongsi. Di bagian dasar lembah, mengalir tujuh anak sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi selatan terbentang jalan raya yang menghubungkan Kota Tanjungpinang dengan Kota Kijang yang jadi pusat pertambangan bauksit dan tembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaswi, seorang warga Seipulai menuturkan, waduk mulai dibangun tahun 1962. ''Kontraktornya perusahaan milik Tauke Kim Long,'' katanya. ''Mandor proyek namanya Pak Medan,'' kata Jaswi belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaswi ketika itu berusia 18 tahun. Baru beberapa minggu menginjakkan kaki di Tanjungpinang. ''Saat itu konfrontasi dengan Malaysia sedang gencar-gencarnya,'' kata lelaki asal Bawean, Jawa Timur ini. Di Tanjungpinang, Jaswi tinggal bersama pamannya yang bekerja di Bandar Udara Kijang, yang bersebelahan dengan Hutan Lindung Seipulai. ''Tiap hari saya lewat di depan proyek itu sambil lihat-lihat,'' katanya. ''Karena sering nengokin orang kerja, saya jadi kenal Pak Medan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaswi mengenang, pada tahap awal pembangunan waduk, para pekerja meninggikan sisi jalan raya sebagai tanggul. Baru setelah itu mereka menggali dasar lembah untuk memperdalam dasar waduk. Pekerjaan paling berat adalah menggusur bukit untuk perluasan waduk. Karena tak ada alat berat sama sekali, pekerja harus keluar tenaga lebih besar. ''Mula-mula mereka menyemprot bukit dengan hydrant pemadam kebakaran. Setelah tanahnya lembek baru dicangkul,'' Jaswi menuturkan. Karena diapit dua bukit, bentuk asli waduk mirip bola yang dibelah dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1963, waduk selesai dikerjakan. Perlahan air mulai menggenang, terutama dari sungai di dasar lembah yang dibendung. Pabrik karet Siang Lie berikut mess karyawan ikut tenggelam ketika air waduk sudah mencapai posisi normal. Sebuah jembatan dan lapangan bola yang sebelumnya tempat warga berolahraga tiap petang, tinggal kenangan. ''Waduknya luas sekali. Sejauh mata memandang hanya hamparan air yang kita lihat,'' kata Jaswi. Menurut data PDAM Tirta Kepri, luas asli permukaan Waduk Seipulai adalah 45 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejabat dari Jakarta datang meresmikan. Tapi berbeda dengan upacara peluncuran proyek masa kini yang ditandai dengan pengguntingan pita dan selalu diadakan pada siang hari, waduk Seipulai justru diresmikan pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tidak pakai gunting pita, tapi mengarak kepala lembu,'' kata Jaswi. Setelah itu, dilanjutkan panggung musik dan joget sampai pagi. ''Panggungnya dekat instalasi pengolahan air sekarang ini,'' katanya. Instalasi itu diresmikan Presiden Soeharto tanggal 12 Mei 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 1980-an, kata Jaswi, Tanjungpinang pernah dilanda kemarau panjang yang lebih parah dari tahun 2009 ini. ''Tapi air waduk tak susut seperti sekarang,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Jaswi dibenarkan Kasmin, ketua RT05/RW01 Kelurahan Gunung Lengkuas, Bintan Timur, yang tinggal tak jauh dari Waduk Seipulai sejak tahun 1975. ''Ini penyusutan paling parah selama saya tinggal di sini,'' kata pria asal Banyumas, Jawa Tengah itu. ''Mungkin waktu itu masih ada kebun karet, tidak sawit seperti sekarang,'' kata Kasmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi bagian timur waduk kini memang ditumbuhi pohon sawit milik PT Tirta Madu. Perkebunan ini berada di dalam areal Hutan Lindung Seipulai, yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 426, tanggal 28 Desember 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perkebunan bisa berada dalam hutan lindung? Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepri Said Jafar menjelaskan, kebun milik Tirta Madu sudah lebih dulu ada jauh sebelum waduk dibangun, dan sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai hutan lindung. ''Perkebunan mereka sudah ada sejak tahun 1936 dan punya sertifikat,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jaswi, pada masa itu, nama perusahaan perkebunan itu adalah Siang Lie Sie Biam Kongsi. ''Yang punya perusahaan, namanya Tauke Juk Su, orang Singapura,'' katanya. Sehari-hari perusahaan itu dinakhodai Ang We, warga Tionghoa kelahiran Bintan. Menjelang tahun 1970, kebun itu dibeli Tirta Madu, perusahaan milik pengusaha asal Pekanbaru. ''Saya kerja di situ sejak 1974,'' kata Jaswi. Tirta Madu mengelola kebun karet lengkap dengan pabrik pengolahan getah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah waduk ada, pemerintah menetapkan hutan di sekelilingnya sebagai daerah tangkapan air, termasuk di dalamnya area perkebunan Tirta Madu seluas 145 hektare. ''Seharusnya pemilik kebun dapat ganti rugi karena kebunnya ditetapkan jadi hutan lindung, tapi ini mereka kasih gratis,'' kata Said Jafar. Hanya saja, Tirta Madu tetap diperbolehkan melanjutkan usaha perkebunannya. Karena itu pula, pada tahun 2000, mereka bebas saja mengganti pohon karet jadi pohon sawit. ''Saya tak tahu alasan perusahaan mengganti tanaman itu,'' kata Jaswi yang pensiun dari Tirta Madu tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan menduga, keberadaan tanaman sawit telah menyebabkan keringnya air tanah di area sekitar waduk. ''Tiap satu pelepah sawit butuh dua liter air sehari. Karena itu tiap kali hujan, air di dalam kebun cepat kering,'' kata Suroso, salah seorang pekerja PT Tirta Madu. Satu pohon sawit bisa terdiri dari tujuh pelepah atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said Jafar membenarkan keterangan Suroso. Terlebih lagi, kata dia, sawit PT Tirta Madu saat ini sedang berada pada usia emas. ''Produksinya sedang tinggi, kebutuhan airnya mungkin lebih banyak,'' ucapnya. Jarak antara batas kebun dengan bibir waduk juga sangat dekat. ''Seharusnya paling sedikit 100 meter, tapi ini ada yang 20 meter,'' kata Said. Berkurangnya air di wilayah resapan, membuat luas permukaan waduk kini menyusut jadi sekitar 30 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Pemerintah Provinsi Kepri memutuskan menebang seluruh sawit di dalam area kebun Tirta Madu, secara bertahap. ''Sudah dilakukan sejak seminggu ini,'' kata Said yang ditemui, Selasa (7/7). Sehari sebelumnya, saya datang ke perkebunan itu. Di areal dekat bibir waduk, sejumlah pohon sawit bertumbangan. Daunnya masih terlihat hijau segar. Tapi tak ada seorang manusiapun di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kita istirahat dulu, chain saw (alat pemotong kayu) yang biasa dipakai sedang rusak. Tak kuat dia,'' kata Said. Berapa chain saw dikerahkan? ''Cuma satu hehehe,'' katanya. Namun, Said yakin hingga akhir 2009 penebangan sawit dan penanaman pohon pengganti, seperti akasia, trembesi, angsana, dan mahoni, akan selesai. ''Yang tanam pengganti perusahaan itu (Tirta Madu),'' ujar Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya keberadaan sawit yang menyebabkan daerah tangkapan jadi kering. Penjarahan hutan di luar area perkebunan oleh warga juga memberi andil besar. Itu terlihat di hulu waduk: sisa tunggul pohon bekas tebangan berdiri di atas tanah kering yang permukaannya tampak retak. Menghampar seluas tiga kali lapangan bola. Rumah-rumah ilegal milik penduduk bertebaran di dalam hutan lindung. Kasi Kehutanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Tanjungpinang Zul Hidayat memperkirakan jumlah rumah liar di Hutan Lindung Seipulai mencapai 100 unit. ''Semuanya akan ditertibkan,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan Lindung Seipulai luas keseluruhannya mencapai 751,8 hektare. Sebanyak 441 hektare masuk dalam wilayah Kabupaten Bintan, termasuk kebun sawit Tirta Madu. Sisanya berada di Kota Tanjungpinang. Said belum bisa memastikan berapa total luas kerusakan yang terjadi. Yang jelas, kata dia, ''Hutan Seipulai harus diselamatkan.'' Area-area yang tandus karena penjarahan, akan ditanami ulang, terutama yang berada dekat daerah aliran sungai. ''Seluruh kegiatan penghijauan oleh organisasi apa saja akan diarahkan ke sana,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman ulang Hutan Lindung Seipulai, tentu tak otomatis mengembalikan kapasitas air waduk ke angka normalnya. Seipulai tak bisa lagi jadi sandaran satu-satunya. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan Tanjungpinang sejak Pemerintah Provinsi Kepri berkantor di sana, membuat kebutuhan akan air bersih makin besar. Kepala Humas Tirta Kepri M Syahrial mengatakan, pihaknya bersama pemerintah sudah memantau beberapa lokasi yang potensial jadi sumber air bersih PDAM. ''Setidaknya ada empat lokasi, di antaranya Galang Batang, KM 18 dan KM 12,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya kapan realisasinya, Syahrial mengangkat bahu. ''Tergantung dana dari pemerintah,'' ujarnya. Artinya, air Seipulai masih akan dihisap beramai-ramai.  ***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5115614506425956757?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5115614506425956757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5115614506425956757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5115614506425956757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5115614506425956757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/07/save-our-seipulai.html' title='Save Our Seipulai'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/Smpv78079xI/AAAAAAAAAFA/99n5So4zFFI/s72-c/seipulai1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-6486469770463766885</id><published>2009-07-07T16:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:05:44.490-08:00</updated><title type='text'>Pejabat Kita</title><content type='html'>SUATU siang, awal Juli, di ruang kerja seorang kepala dinas Pemerintah Provinsi Kepri, di Tanjungpinang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riiing ... riiing. Blackberry Pak Kepala Dinas berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sebentar, ya,'' katanya kepada saya yang duduk di depan meja kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Silakan, Pak. Santai saja. Saya nggak buru-buru, kok,'' jawab saya, diikuti anggukan kepala teman sekantor yang juga ada dalam ruangan ber-AC itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;''Halo, gimana?'' kata Pak Kepala Dinas sambil mendekatkan Blackberry ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara perempuan sayup-sayup dari speaker Blackberry tapi tak jelas apa yang diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jadi, apa? Swift atau Jazz?'' Pak Kepala Dinas bertanya. Raut wajahnya santai sembari merebahkan bagian belakang kepala ke sandaran kursi kerja yang empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara perempuan terdengar lagi dari Blackberry itu. Tapi, lagi-lagi, kalimatnya kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Selisihnya berapa?'' tanya Pak Kepala Dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk-angguk sambil mendengar jawaban dari speaker Blackberrynya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke-lah. Kalau begitu ambil Jazz aja,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tapi, itu matic, kan?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke, oke. Nanti Papa kirim.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kepala Dinas melepas senyum sambil meletakkan Blackberry di atas meja kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Itu tadi anak saya. Dia kuliah di Jakarta. Minta dibelikan mobil. Susah kalau tak dituruti,'' katanya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman saya saling berpandangan. Lalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SUATU pagi, awal Maret, di sebuah kedai kopi di Tiban Center, Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Gimana, masih banyak pilihan kan untuk saya,'' kata seorang anggota DPRD Batam sambil menyeruput teh botol dengan sedotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Masih. Mau yang fisik atau pengadaan?'' seorang kepala dinas di Pemerintah Kota Batam, yang duduk di depan Pak Dewan, menjawab seraya membentangkan dua lembar kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Pengadaan aja lah. Fisik rumit. Material harganya naik turun,'' Pak Dewan memotong cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke-lah. Pilih aja. Yang belum ditandain itu masih bisa,'' kata Pak Kepala Dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Yang ini gimana, mantap nih,'' kata Pak Dewan sambil menunjuk daftar pengadaan alat tulis kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oh, jangan. Itu sudah sama si X. Dari kepala dinas sebelumnya dia terus yang pegang proyek ini,'' kata Pak Kepala Dinas. Ia menyebut nama seorang pimpinan organisasi yang bergerak di bidang belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau ini, gimana?'' Pak Dewan menunjuk daftar lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Itu kan sudah ditandain. Itu untuk si Z. Tak enak saya. Dulu dia yang bantu untuk bisa duduk di sini.'' Kali ini Pak Kepala Dinas menyebut nama pengurus ormas kepemudaan bernuansa primordial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ya, udah. Kalau gitu saya ambil ini, ini. Saya minta empat, deh,'' kata Pak Dewan dengan nada sedikit mengintimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke-lah. Tapi kalau rapat jangan kencang-kencanglah. Malu saya sama anak buah, kalau sampai dimarah-marahi begitu,'' kata Pak Kepala Dinas dengan nada memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehe ... Itu kan sandiwara aja, Bos,'' jawab Pak Dewan berusaha menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Si H masih suka minta duit, tak?'' tanya Pak Dewan. H adalah anggota Dewan lain dari fraksi berbeda, tapi satu komisi dengan Pak Dewan kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kemarin telepon, tapi nggak saya angkat,'' kata Pak Kepala Dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Nggak usah dilayani. Nanti di rapat kalau dia menyerang, biar saya bentengi. Rapat kan saya yang pimpin,'' kata Pak Dewan meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Oke-lah. Saya permisi dulu,'' Pak Kepala Dinas beranjak dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehe .... Yang gini sih biasa,'' kata Pak Dewan kepada saya yang sedang sarapan di meja sebelahnya. Tak lama ia pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;DI atas mobil dinas seorang pejabat Pemerintah Kota Batam, menjelang waktu makan siang, pertengahan Februari lalu. Mobil terjebak macet di perempatan jalan dekat sebuah warung ikan bakar yang juga menyajikan menu sate kuda, di kawasan Seipanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Makan di sana aja, Pak? Ada sate kudanya,'' kata sopir Pak Pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jangan sate kudalah. Repot ntar,'' jawab Pak Pejabat, yang duduk di sebelah saya di bangku belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kenapa, Pak?'' Seorang staf perempuan Pak Pejabat yang duduk di sebelah sopir bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau voltase saya meninggi mau dicolokin kemana, ibu sedang pulang kampung,'' kata Pak Pejabat. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehe ... Bapak bisa aja. Emang kuda obat kuat juga ya, Pak?'' Staf perempuan bertanya dengan nada yang menunjukkan rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lah, emang iya. Dahsyat itu. Saya pernah nyobain waktu dinas ke Jakarta,'' jawab Pak Pejabat. Lagi-lagi ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di Jakarta colokinnya kemana, Pak? Emang Ibu ikut waktu itu?'' Staf perempuan itu bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehe ... Mau tau aja,'' kata Pak Pejabat. Ia susah menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ngomong-ngomong di Jakarta 'kuda'-nya memang bagus-bagus hehe.'' Pak Pejabat menyambung kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau 'joki'-nya nggak mahir sih nggak asik juga, Pak hehe.'' Staf perempuan terkikik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Gimana pun juga, ya, tergantung 'joki',''  Staf perempuan masih terus tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau umur segini nggak mahir ya keterlaluan. Kalau kamu mau latihan 'kuda-kudaan' sama saya juga bisa hehehe,'' kata Pak Pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehe ... Bapak bisa aja,'' kata Staf perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kamu, kok diam aja. Kayak nggak ngerti aja,'' kata Pak Pejabat pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hehehehe.'' Saya tertawa. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-6486469770463766885?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/6486469770463766885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=6486469770463766885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6486469770463766885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6486469770463766885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/07/pejabat-kita.html' title='Pejabat Kita'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1531362523335232286</id><published>2009-06-15T12:28:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:06:02.677-08:00</updated><title type='text'>Sebutir Apel dari Pak Ton</title><content type='html'>JUMAT (12/6) siang, dari sebuah situs berita, saya baca kabar wafatnya psikolog senior, pakar  pendidikan dan sumber daya manusia Sartono Mukadis. Pak Ton, sapaan akrabnya, adalah ''padi  yang matang''. Ia orang dengan penguasaan ilmu dan pengetahuan yang tinggi namun  tetap menjaga  kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ia bukan tipikal "pengamat" atau "pakar" yang kini banyak jadi selebritis media, yang berkelakuan  seperti pendekar baru belajar ilmu silat; tiap dapat jurus baru pamer kepada banyak orang sambil  teriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ton mengamalkan ilmunya dengan hati dan empati. Ia tak membeda-bedakan siapa lawan  bicaranya. Ia selalu menghargai orang di sekitarnya, apapun latar belakangnya. Saya merasakan  semua kemuliaan hati Pak Ton saat pertama kali bertatap muka dan berbincang dengannya, sekitar  bulan April 2002, ketika saya baru bekerja sebagai wartawan dalam status magang tiga bulan  pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, saya ditugaskan membuat tulisan tentang pendidikan dengan narasumber dari luar  pemerintahan. Saya berjalan kaki dari Kantor Dinas Tenaga Kerja di kawasan Seiharapan ke kantor  Pak Ton yang berada dekat Guest House Otorita Batam. Jaraknya sekitar lima kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ton mempersilakan saya masuk ke ruang kerjanya yang kecil dan biasa-biasa saja. ''Sudah  makan belum? Sepertinya Anda sedang lapar,'' katanya, sembari melihat bagian belakang kemeja  saya yang basah oleh keringat. Saya jawab sekenanya, bahwa saya sudah makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya tak punya  stok makanan di sini. Ambil ini saja, cukuplah buat mengganjal perut,'' katanya, sambil mengulurkan  sebutir apel besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Makan dulu itu. Kalau perut lapar Anda nanti nggak konsentrasi,'' ucapnya. Saya  pun manut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari saya mengunyah apel pemberiannya, Pak Ton bertanya hal-hal yang ringan kepada saya,  misalnya dulu kuliah dimana, sudah berapa lama bekerja dan sebagainya. ''Gimana betah di Batam?''  ia bertanya setelah saya beritahu bahwa saya baru sebulan bekerja di sini. Saya bilang, saya terus  berusaha menyesuaikan diri. ''Semua permulaan itu berat,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengaku baru beberapa bulan terakhir tinggal di Batam. Ia diangkat sebagai konsultan  pendidikan dan SDM oleh Persatuan Istri Karyawan Otorita Batam. Menurut Pak Ton, Batam adalah  kota tanpa jiwa. Orang-orangnya terlalu sibuk memikirkan uang. Interaksi sosial, ikatan emosianal, dan  solidaritas sangat tipis. ''Kebanyakan orang datang ke Batam bukan untuk membangun kehidupan,  tapi semata-mata hanya mencari uang,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, ia memuji arsitektur Masjid Raya  Batam. ''Karena ada jalan khusus untuk penyandang cacat berkursi roda,'' ujarnya. Pak Ton memang  menggunakan kursi roda. Sebab kaki kirinya diamputasi karena diabates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang pendidikan, yang jawabannya akan saya kutip jadi  berita. Ia bercerita panjang bagaimana dunia pendidikan Malaysia bangkit dari ketertinggalan,  sedangkan Indonesia yang dulu banyak mengekspor guru ke negeri jiran itu, pendidikannya justru  makin mundur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai wawancara, saya tanyakan, apakah dia bisa menerima keadaan hidup di kursi roda. Pak Ton  bilang, ia harus bisa. Sebab, kepada setiap orang yang datang berkonsultasi dengannya ia selalu  memotivasi bahwa semua masalah hidup bisa diatasi. ''Kalau saya bisa memotivasi orang, saya harus  bisa memotivasi diri sendiri,'' katanya. Dukungan keluarga, kata dia, sangat meringankan bebannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menekankan pentingnya kesamaan antara isi hati, ucapan dan tindakan dalam menjalani hidup  sehari-hari. Sesuatu yang terasa makin langka hari-hari terakhir ini di sekitar kita. ''Nilai utama  manusia adalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan,'' katanya. Ia kasih contoh, betapa banyak  orang bicara A tapi kelakuannya B. ''Ada yang nasihati orang jangan mencuri, tapi justru dia sendiri  yang mencuri. Orang seperti ini tak punya nilai apa-apa,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hendak pamit saya minta nomor teleponnya. Saya tanyakan, apakah saya bisa menghubungi bila  suatu saat saya memerlukan pendapatnya. ''Silakan. Selagi tidak sedang beristirahat akan saya  respon,'' kata Pak Ton. Saat bangkit dari kursi yang saya duduki, Pak Ton memasukkan sebutir lagi  buah apel ke dalam ransel saya. ''Untuk bekal di jalan,'' katanya. Terima kasih, Pan Ton. Selamat  jalan. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1531362523335232286?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1531362523335232286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1531362523335232286' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1531362523335232286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1531362523335232286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/06/sebutir-apel-dari-pak-ton.html' title='Sebutir Apel dari Pak Ton'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-6427187519727441450</id><published>2009-04-29T09:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:06:21.265-08:00</updated><title type='text'>Antara Harry dan Dhany</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SfiGPymGsjI/AAAAAAAAAE4/ye2PtJlXgq0/s1600-h/Dhany+Ismeth.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330157764830736946" src="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SfiGPymGsjI/AAAAAAAAAE4/ye2PtJlXgq0/s200/Dhany+Ismeth.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 100px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SfiGA4z00bI/AAAAAAAAAEw/Aykh9qzElKk/s1600-h/Harry+Azhar.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330157508800860594" src="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SfiGA4z00bI/AAAAAAAAAEw/Aykh9qzElKk/s200/Harry+Azhar.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 180px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM  politik, komunikasi adalah unsur utama untuk memenangkan persaingan. Selama Pemilu Legislatif 2009 di Kepulauan Riau, persaingan politik yang paling sengit tentu saja memperebutkan jatah sebagai wakil Kepri di DPR RI. Sebab hanya tersedia tiga kursi, dan hampir seluruh partai peserta pemilu yang buka cabang di Kepri menempatkan kader terbaik mereka untuk ikut berkompetisi agar meraih, setidaknya, satu dari tiga kursi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Namun di atas itu semua, persaingan yang paling menarik ada di Partai Golkar, antara caleg nomor urut satu Harry Azhar Azis dan caleg nomor urut tiga Ramatsyah Ramadhany. Berdasarkan hasil pleno KPU Kepri, Harry unggul atas Dhany. Harry dan Dhany sama-sama lulusan dari Oklahoma State University, tapi beda jurusan dan angkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Harry bisa mengalahkan Dhany, yang jauh-jauh hari diprediksi banyak orang bakal melenggang ke Senayan? Menurut saya, kemenangan Harry adalah karena keberhasilannya mengkomunikasikan isu-isu aktual kepada calon pemilih melalui media dan keberhasilannya melakukan pendekatan kepada media (baca: wartawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry muncul nyaris setiap hari di media cetak dan elektronik. Jabatannya yang strategis di DPR RI, sebagai wakil ketua panitia anggaran, memudahkan ia memainkan begitu banyak informasi tentang dana yang bakal meluncur ke Kepri selama tahun anggaran 2009. Ia, dengan jabatannya itu, tentu saja mengetahui dengan detil dana apa saja, dan berapa jumlah yang bakal diterima Kepri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, dana bantuan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Ia pernah melansir informasi ini dan diliput semua media. Kita tahu pendididkan dan kesehatan adalah isu vital. Apalagi bila pada judul berita ada kata "gratis" atau "bisa lebih murah", tingkat keterbacaannya diyakini lebih tinggi. Itu artinya, makin banyak orang yang melafalkan nama si narasumber dalam berita tersebut. Jika berita itu terdiri dari tujuh alinea, dan namanya ditulis dalam tiap alinea, berita tersebut telah menanamkan nama Harry dalam ingatan pembaca. Tujuh kali mengulang nama seseorang dalam satu kesempatan, cukup bagi yang melafalkan untuk mengingat dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisinya itu, seharusnya setiap kali memberi informasi soal kucuran dana jatah Kepri di pusat, Harry tak perlu mengeluarkan kalimat klise dan membosankan: "saya sudah memperjuangkannya di pusat". Dengan menilik jabatannya saja persepsi pembaca akan langsung terbentuk bahwa kucuran-kucuran dana itu adalah bagian dari perjuangannya. Ini adalah kemenangan pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali mewawancarai dan berdiskusi dengannya, menurut saya, bahasa yang digunakan Harry untuk menyampaikan informasi-informasi yang dikantonginya, sebenarnya, masih teramat tinggi untuk masyarakat awam. Harry masih sering memakai istilah-istilah akademik. Penyampaiannya kurang bertutur (ingat masyarakat jenuh dengan petuah-petuah, orang hanya betah mendengarkan atau membaca pesan yang panjang jika itu disampaikan dengan cara berkisah). Ini mungkin karena latar belakangnya sebagai dosen. Tapi Harry beruntung, para wartawan yang kerap mengutip informasi darinya bisa menerjemahkan setiap pesan dalam "bahasa Harry" menjadi "bahasa awam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Harry bisa muncul nyaris setiap hari di media? Ini adalah soal aksesibilitas media terhadapnya. Para caleg, siapapun dia, harus sadar bahwa ia membutuhkan media. Sebab media mempermudah mereka menjangkau pemilih. Harry sepertinya sangat menyadari itu. Wartawan yang ingin mendapat informasi darinya cukup mengirim pertanyaan lewat SMS atau miss called saja. Biasanya ia merespons balik dengan menelepon si wartawan dan menjawab semua pertanyaan. Sebenarnya ini sederhana, remeh saja, tapi ini adalah cara efektif untuk memenangkan akses menembus media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya bila para wartawan sedang seret berita, mereka akan menghubungi narasumber yang paling mudah diakses, kompeten dengan topik yang akan ditanyakan, dan bisa bicara detil dan panjang. Harry, entah sengaja atau tidak, berhasil menangkap momen itu. Ini bisa dilihat dari berita-berita yang bersumber dari dia yang terbit di media. Ia bicara tentang kawasan perdagangan bebas, ia bicara soal pasokan gas yang macet ke Batam sehingga harga listrik melonjak (dalam hal ini ia menggunakan posisi sebagai anggota Fraksi Partai Golkar), ia bicara soal ketertinggalan SDM dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Dhany? Putra Gubernur Kepri ini memang tak punya jabatan se-strategis Harry. Menurut saya, inilah faktor pertama yang menghambat proses komunikasi politik Dhany dengan masyarakat. Bila ingin memberi pernyataan soal kesehatan atau pendidikan, ia akan berbicara dalam kapasitas apa? Dhany, selain seorang pengusaha, selama ini ia "hanya" dikenal sebagai ketua AMPI. Dengan jabatan ini, isu yang bisa digarap tak bisa lebih jauh dari soal kebutuhan-kebutuhan generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, menurut saya, Dhany sebenarnya punya satu kartu truf, yang entah kenapa tak pernah dimaksimalkan oleh dia dan tim suksesnya. Dhany adalah Ketua Umum Program PNPM Mandiri Provinsi Kepri. Padahal, PNPM adalah salah satu program andalan kampanye Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat. Iklannya muncul hampir setiap hari di televisi. Ia bisa bikin satu hajatan peluncuran program tersebut di Kepri dengan mengundang pejabat pusat untuk memperbesar dering beritanya di media. Setelah itu, ia bisa menindaklanjuti peluncuran itu dengan turun ke pasar-pasar, ke tempat-tempat mangkal nelayan, bicara tentang mudahnya mendapat pinjaman lewat PNPM Mandiri dan manfaatnya bagi pengembangan usaha kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Dhany "menggunakan" jabatan Ketua Program PNPM Mandiri pada Desember 2008, ketika semua orang sedang bicara soal krisis ekonomi global dan solusinya, serta upaya penanganan pengangguran, Dhany bisa merebut perhatian publik, tentu saja dibantu dengan kemasan berita dalam media. Maka orang akan beranggapan dia sosok yang punya antisipasi, anak muda yang punya banyak gagasan, punya cara untuk membantu usaha kecil keluar dari krisis. Dengan tidak menggarap PNPM, Dhany, menurut saya, telah membuang sebuah peluang untuk dikenal. Kata Wilbur Schramm, salah satu faktor komunikasi efektif, adalah timing yang tepat untuk sebuah pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala lain Dhany adalah ia sulit diakses media, setidaknya bila dibandingkan dengan kompetitornya.  Ia tak mudah dihubungi wartawan. Kadang ia menyerahkan tim suksesnya untuk menjelaskan kepada media. Ini adalah blunder. Kesan yang ditangkap, Dhany memposisikan dirinya sebagai orang yang penting. Definisi orang penting di sini adalah, media butuh dia sebagai narasumber yang pernyataan-pernyataannya ditunggu pembaca. Padahal, dalam situasi ini justru Dhany amat butuh dukungan media. Maka tak ada cara lain, selain membuka akses semudah-mudahnya kepada media. Menyerahkan penyampaian informasi kepada tim sukses justru tak menguntungkan, sebab bagi wartawan dan media mendapatkan informasi dari tangan pertama, orang yang jadi fokus berita, nilai beritanya empat kali di atas press release.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang, menurut saya, jadi faktor gagalnya Dhany mengalahkan pesaingnya adalah image tentang dinasti politik keluarga Ismeth Abdullah. Dinasti politik bukan sesuatu yang haram. Di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat, dinasti politik bertumbuhan. Orang menganggapnya biasa saja. Tapi di masyarakat kita, dinasti politik konotasinya negatif: kolusi dan nepotisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asumsi itu, menurut saya, Dhany sejak awal kemunculannya sebagai caleg, seharusnya membangun image baru, sebagai anak muda yang punya karakter sendiri. Intinya, image bukan "anak babe". Repotnya Dhany justru memperteguh image sebagai anak babe. Ia mengkampanyekan secara sadar nama Dhany Ismeth. Kalau bisa dimana-mana orang menyebutnya Dhany Ismeth, bukan Ramatsyah Ramadhany. Saya pernah menanyakan ini kepada Dhany, kenapa tagline-nya harus Dhany Ismeth, kenapa tak mencari yang lain, yang mengesankan ia sebagai anak muda yang bisa berjuang sendiri, tanpa bawa-bawa nama orang tua. Dhany bilang, karena itu mudah diingat. ''Kenyataannya saya memang anak Pak Ismeth dan tak bisa dipisahkan dengan Pak Ismeth,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal konotasi negatif dinasti politik, kata Dhany, ia akan menjelaskan kepada setiap orang yang mempertanyakannya. Bukankah itu akhirnya menyita waktu. Masa kampanye adalah saat untuk menjual program dan langkah-langkah untuk memperjuangkan hak konstituen di parlemen, bukan untuk menjelaskan latar belakang, mengklarifikasi isu-isu miring dan hal-hal yang tak perlu. Pada akhirnya, saya tak bisa mengelak dari kesimpulan, bahwa Dhany memang sangat bergantung pada popularitas orang tuanya. Dan, ia gagal dengan jalan itu.  ***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-6427187519727441450?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/6427187519727441450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=6427187519727441450' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6427187519727441450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6427187519727441450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/04/antara-harry-dan-dhany.html' title='Antara Harry dan Dhany'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SfiGPymGsjI/AAAAAAAAAE4/ye2PtJlXgq0/s72-c/Dhany+Ismeth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-9053458566979487680</id><published>2009-04-05T08:04:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:06:37.068-08:00</updated><title type='text'>Orang-orang di Balik Layar</title><content type='html'>Mengantar pesanan dan kiriman orang dengan cepat sesuai alamat tujuan bukan sesuatu yang baru bagi M Irfan. Pengalaman bekerja sebagai pegawai Kantor Pos telah mengajarkannya bagaimana menyiasati semua rintangan di jalan, agar surat dan paket yang jadi tanggung jawabnya bisa sampai tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pengalaman itulah yang mempertebal keyakinannya saat mengajukan lamaran bekerja sebagai pengantar gulungan film milik jaringan bioskop Kelompok 21 yang menaungi Studio 21 di Nagoya Hill dan XXI di Mega Mall Batam Center. ‘’Sejak Mei 2008 saya ganti profesi dari pengantar surat jadi pengantar gulungan film,’’ katanya, saat ditemui di XXI, pekan lalu. Petugas pengantar film biasa disebut endit. Namun Irfan tak tahu darimana asal kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati memiliki banyak kesamaan, tapi pekerjaan lama dan pekerjaan barunya, kata Irfan, memiliki tekanan yang berbeda. Mengantar surat dan paket, meski alamat tujuan sangat banyak, tenggat waktu yang dimiliki cukup longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kalau antar surat yang penting hari itu harus sampai, tak masalah siang atau sore. Yang penting sampai ke alamat,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bertugas sebagai endit, walau hanya bolak-balik Nagoya-Batam Center, Irfan harus jeli menghitung setiap menit yang berputar. ‘’Kita tak boleh terlambat, karena itu akan mengganggu kenyamanan penonton,’’ katanya. ‘’Ternyata jadi endit lebih berat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang endit memang dituntut cekatan. Lancar atau tersendatnya pemutaran sebuah film, sangat tergantung pada mereka. ‘’Di sini, kita punya enam orang endit,’’ kata Dewo, manajer operasional Studio XXI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berada di bawah bendera usaha yang sama, semua judul-judul film yang diputar di Studio XXI di Batam Center dengan Studio 21 di Nagoya pun sama. Dan, selisih jam tayang untuk satu judul film antara kedua bioskop itu hanya satu jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, film Laskar Pelangi jadwal tayangnya di XXI pukul 14.00, maka di Studio 21 akan diputar pukul 15.00. Karena itu pula, untuk satu judul film mereka dijatah satu paket gulungan saja yang harus dipakai bergiliran. Di sinilah tekanan terberat para endit, menjaga ketepatan waktu tayang sebuah film di masing-masing bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan menjelaskan, sebuah judul film, yang durasi tayangnya rata-rata 90 menit, terdiri dari lima sampai tujuh gulungan film. Satu gulungan panjang durasinya antara 15 sampai 20 menit. Gulungan itulah yang disusun sambung menyambung oleh operator hingga jadi tayangan film yang utuh dan enak ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar jadwal pemutaran film tidak terlambat, para endit telah memiliki metode kerja baku. Setiap satu gulungan yang selesai ditayangkan di satu bioskop akan langsung diantar ke bioskop lain. Misalnya, film Sumpah Pocong yang terdiri dari tujuh gulungan film sedang diputar di Studo 21. Maka begitu gulungan pertama selesai diputar langsung dibawa oleh seorang endit untuk diputar lagi di XXI. Gulungan kedua dan seterusnya akan dibawa oleh endit yang berbeda. ‘’Bawanya pakai motor,’’ kata Yulhendri, salah seorang endit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengantaran yang terpisah-pisah seperti itu, maka ketika film Sumpah Pocong masih memasuki bagian tengah cerita di Studio 21, di XXI Batam Center bagian awal film itu sudah mulai tayang. ‘’Penonton nggak tahu, kalau ekor film ini masih ada di Nagoya,’’ kata Yulhendri. Saat penonton berdebar menyaksikan jalannya cerita di layar, para endit dan operator justru berdebar memikirkan kontinuitas film dan kenyamanan penonton. ‘’Yang selalu bikin cemas, kalau gulungan berikutnya tak tepat waktu, film terpaksa putus beberapa menit,’’ kata Sugiono, operator XXI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian tak mengenakkan itu, bukan tak pernah mereka alami. Hambatan justru kerap datang dari hal-hal yang tak mereka duga. ‘’Pernah kawan yang sedang ngantar gulungan keempat sebuah film dari Nagoya kena razia di depan ruko Edukids. Padahal, gulungan pertama dan kedua sedang tayang di Batam Center. Yah, akhirnya film sempat putus beberapa menit,’’ ungkap Irfan. Kalau sudah begitu, giliran operator turun tangan. ‘’Biasanya kita kasih permohonan maaf ke penonton lewat slide,’’ kata Sugiono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma razia, cuaca dan kempes ban di jalan juga kerap membuat para endit terlambat. ‘’Padahal, kita sudah mematok jarak tempuh Nagoya-Batam Center itu maksimal 20 menit saja,’’ kata Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam penyambutan Tahun Baru 2009 lalu, hampir semua jadwal tayang film di XXI molor. Kemacetan parah di seputar Batam Center menuju Engku Putri, yang berlokasi di samping XXI, membuat laju motor para endit tersendat-sendat. “Bahkan, kita sampai berlari dari Simpang Masjid Raya ke sini sambil membopong gulungan film,’’ kenang Yulhendri. Untungnya, malam itu, penonton tak penuh. ‘’Orang lebih banyak berada di luar tahun baruan,’’ kata Dewo, manajer operasional XXI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling tak mengenakkan jadi endit? Yulhendri menjawab, “Kalau nonton film nggak pernah tuntas. Selesai nonton satu gulungan langsung pergi, kadang lagi seru-serunya he..he..he..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan endit, seorang operator seperti Sugiono justru bisa menikmati tayangan film secara utuh, bahkan hingga berkali-kali. Film-film laris seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi bisa tayang hingga dua bulan. ‘’Tapi, biasanya yang serius natap layar itu hanya pas pemutaran pertama saja. Setelah itu biasa saja,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keseringan menonton film yang sama, tak jarang pula Sugiono tertidur saat film sedang tayang. ‘’Biasanya kita tidur-tidur ayam gitu,’’ ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi operator, kata Sugiono, tak perlu pendidikan khusus. ‘’Yang mutar gulungan film itu mesin. Kita cuma ngawasin saja gimana layar dan suaranya bersih,’’ katanya. Sugiono sebelumnya bekerja sebagai operator perusahaan elektronik di Mukakuning. ‘’Waktu baru masuk, saya dikasih kursus satu bulan di Nagoya Hill, setelah itu langsung bisa,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari keterlambatan akibat faktor non teknis yang dialami para endit dan operator, kata Dewo, secara keseluruhan penayangan film di XXI dan Studio 21 cukup memuaskan penonton yang datang. ‘’Kenyamanan penonton tetap terjaga,’’ katanya. Itu bisa dibuktikan dari rata-rata jumlah penonton yang yang datang saban hari. ‘’Rata-rata di XXI 200 penonton per hari tiap studio,’’ katanya. ***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-9053458566979487680?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/9053458566979487680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=9053458566979487680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9053458566979487680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/9053458566979487680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/04/orang-orang-di-balik-layar.html' title='Orang-orang di Balik Layar'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7614340475263248517</id><published>2009-02-02T18:28:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:06:54.301-08:00</updated><title type='text'>Brokenhearts Community</title><content type='html'>PERKENALKAN namaku Electric. Anda tak perlu bertanya kenapa harus itu jadi namaku. Toh, aku sendiri juga tak tahu kenapa nama itu bisa kupakai dan kukenalkan kepada banyak orang, terutama di komunitas kecil, di mana orang-orangnya hanya kukenal lewat nama, tapi tak pernah kulihat wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Walau begitu, di komunitas kecil ini, yang “hidup” di sebuah ruang yang aku tak bisa gambarkan seperti apa bentuknya, karena memang tak punya wujud, kami berteman akrab, saling menyapa, berbagi keluh kesah, bahkan saling jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, yang tak pernah melihat wajah-wajah temanku itu, coba mengidentifikasi mereka lewat kata-kata yang “diucapkan” atau tepatnya dituliskan di ruang hampa tempat kami rutin bertemu tiap hari. Sebagian dari identifikasi semiotika terhadap teman-temanku itu, benar adanya. Setidaknya mendekati kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, keisengan ini, telah ikut membantu membuktikan kebenaran pendapat ahli komunikasi Dr Deddy Mulyana MA, dosen yang aku kagumi kesederhanaan dan kepiawaiannya. Dr Deddy, yang punya buku “Menjadi Muslim di Amerika”, pernah bilang: pilihan kata dalam berkomunikasi adalah cerminan watak dan karakter seseorang. Maksudnya, seseorang boleh saja bilang ia demokratis dan tidak otoriter, tapi kalimat-kalimat tertentu yang diucapkan dan dituliskannya secara konsisten saat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya bisa dijadikan identifikasi watak yang sesungguhnya, demokratiskah atau otoriterkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah tahu sejarah pasti siapa penemu ruang hampa tempat kami rutin berkomunikasi hingga lahirlah komunitas kecil ini. Ruang hampa ini dan komunitas seperti yang kami miliki ini bukan satu-satunya di dunia. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Ia sangat mudah diciptakan. Dengan memiliki komunitas hampa ini, sesungguhnya aku punya dua dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pertama adalah dunia nyata: tempat aku bertemu teman-teman yang senyum dan kemarahannya bisa kutangkap dengan mata telanjang; dimana pilihan kata mereka bisa kudengar dengan telinga; tempatku mendengarkan kuliah-kuliah dosen dari yang memukau hingga yang benar-benar menjemukan; tempatku bisa berutang kepada teman-teman di kampus dan di tempat kos jika duit kiriman orang tua sudah habis sebelum waktu yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satunya lagi, ya dunia maya: dunia di mana aku hanya bisa meraba kejujuran seseorang lewat kata-kata yang ditulisnya. Dunia tanpa intonasi, tanpa mimik, tapi tetap punya emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;SEMUA bermula di sebuah warnet kecil di Jalan Titimplik Bandung, awal tahun 2000. Ketika itu, jagad internet, yang baru memasyarakat di Indonesia, disibukkan dengan rumor bakal  runtuhnya sarana komunikasi terbaru tersebut karena perubahan abad, dari abad 20 ke 21 atau dikenal dengan istilah Millenium Bug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu yang beredar mengatakan, perangkat keras dan lunak yang terpasang di komputer, pada saat itu, tidak bisa membaca perubahan tarikh dari digit 199... menjadi 200.... Ternyata rumor itu hanya bohong belaka. Penggunaan internet justru makin meluas. Pasar warnet, di Bandung misalnya, pada awal milenium itu tumbuh subur. Di seputaran Haur Mekar dekat Kampus Universitas Padjajaran saja, ada puluhan warnet baru berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemeriahan dan kegilaan terhadap internet itulah, kesibukan bergeliat di rumah kontrakan mungil di Jalan Titimplik, Bandung.  Ruang-ruang yang kusam dicat ulang. Dinding diberi warna krem, biar terlihat luas dan cerah. Kusen-kusen dari kayu yang mulai lapuk dimakan rayap dilapis warna hijau. Komputer baru berdatangan, semua ada sembilan unit, sepuluh dengan server. Untuk menjaga privasi pelanggan, masing-masing komputer disekat dengan tiang besi yang ditutup kain motif kotak-kotak kuning dan hijau. Mirip kemeja flanel yang banyak dijual di Toko Alpina,  toko penjual perlengkapan naik gunung paling populer di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Januari 2000, warnet ini beroperasi, bersaing dengan para pendahulu. Ia diberi nama JumperNet, dengan logo sebuah panah warna merah melingkari bola dunia warna biru muda. “Kelak warnet ini akan melompat meninggalkan pesaingnya,'' kata Riki, sepupuku yang mengilhami kelahiran warnet ini. ''Makanya, namanya Jumper.''  Satu jam tarifnya Rp6.000 plus teh botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beroperasinya JumperNet juga menandai hadirnya dunia lain dalam kehidupanku. Hari-hari, dari pagi ke pagi, dari malam ke malam, aku ada di sini. Bertahan di depan layar komputer sambil mendengar lagu-lagu dari Radio K-Lite, radio milik PT Telkom yang menyajikan lagu-lagu easy listening sepanjang hari.  Aku menemukan begitu banyak keasyikan dalam internet. Chatting terutama. MiRC adalah wahana ngobrol di internet paling ramai sejagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skripsi, sebuah kewajiban dari dunia nyataku, yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya, tak kusentuh lagi. Catatan-catatan koreksi dosen pembimbing hilang entah kemana. Komputer Acer Aspire di kamar kos yang menyimpan semua file-file hasil penelitian tak pernah kuhidupkan lagi. ''Nggak ada internetnya. Nggak seru,'' kataku setiap kali memandang komputer yang dibelikan ayahku tahun 1996 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia baru ini, aku makin jauh tersesat. Hingga suatu hari terdampar di situs www.lovemail.com. Situs ini segmennya adalah para remaja. Warna ungu mendominasi desain halamannya. Selain menyediakan fasilitas email, juga ada ruang ngobrol  (chat room). Untuk bisa masuk ke chat room, pengunjung harus daftar untuk dapat email dulu. Chat roomnya dibagi lagi dalam beberapa kelompok. Ada chat room Indonesia, Malaysia, Filipina dan beberapa lainnya. Brokenhearts adalah chat room yang paling sepi pengunjungnya. Malah kadang tak ada orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali aku bertemu pengunjung dengan nickname Starlight. Ia mengaku dari Thailand. Tapi Starlight tak mau kasih tahu jenis kelaminnya, apakah perempuan atau laki-laki. Ia selalu bilang kalau ia hermaprodhite, atau makhluk dengan dua jenis kelamin. Setelah seminggu rutin ngobrol di situ, Starlight mau juga buka kartu. ''Karena aku mulai percaya sama kamu'' kata dia memberi alasan. Menurut Starlight, ia sudah menyinggahi banyak tempat chatting di dunia maya. ''Kebanyakan isinya para penipu. Mereka cuma ingin cybersex,'' katanya.  Starlight adalah seorang perempuan, tinggal di Chiangmai, bekerja sebagai staf administrasi di Unversitas Negeri Chiangmai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Starlight mengirimkan fotonya lewat email, wajahnya mirip campuran Jepang dan Asia Tenggara, mengenakan kacamata berbingkai tebal. Starlight ngotot minta agar aku juga kirim foto diriku. Bertukar foto lewat email, setelah berkenalan di chat room, adalah hal lazim bahkan wajib pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sumpah demi Tuhan, aku tak punya koleksi foto. Dokumentasi hidupku terbilang kacau. Hanya ada foto 3x4 yang dicetak saat mendaftar masuk perguruan tinggi tahun 1995. Tapi tak mungkin aku mengirim itu. Akhirnya aku mengirim foto BJ Habibie, presiden Indonesia yang digulingkan lewat sidang umum MPR 1999. Foto itu aku download dari sebuah situs berita. Starlight tak percaya dengan foto yang kukirim itu. ia marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You are too old to be here,'' katanya mengomentari foto Habibie itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But i'm too smart to chat with you. I was a president'' kataku hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari pertama kenalan hanya aku dan Starlight yang rutin berkunjung ke Brokenhearts. Tapi, gara-gara foto Starlight puasa bicara. ''Aku ditipu oleh orang yang aku kira bisa dipercaya,'' katanya. Starlight orangnya sangat reaktif dan moody. Ia bisa begitu gembira dan amat ramah, namun bisa berbalik seketika jadi sosok yang sangat sensitif dan pemarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seminggu berdiam diri, ia akhirnya mulai ngobrol lagi.   ''Kamu saya maafkan,'' ujarnya. Di Brokenhearts kami ngobrol dari pagi hingga malam. Setiap hari. Perlahan pengunjung mulai ramai, ada Cheris dan Trish, dua perempuan Filipina yang selalu ceria. Mereka adalah mahasiswa kedokteran di Manila. Menyusul kemudian Blade dari Malaysia. ''I'm Malay, but Christian,'' begitu Blade selalu mengidentifikasi diri. Lalu ada Skate dari Jakarta, penggemar skateboard kuliah di Akademi Transportasi Trisaksi.  Ada juga Ryanne, lelaki keturunan India yang tinggal di Singapura dan suka merajuk. Ia naksir berat sama Starlight. Inilah generasi pertama Komunitas Brokenhearts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sama-sama terdampar di sebuah ruang bernama Brokenhearts, tapi tak satupun di antara anggota komunitas yang mengaku masuk ke sana karena alasan sedang patah hati. Starlight, misalnya, mengaku masuk karena nama ruangnya yang unik. Iseng dan coba-coba adalah jawaban yang diberikan Cheris dan Trish. ''Patah hati? Gua lagi hot-hotnya sama pacar gua,'' kata Skater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bisa ngobrol 24 jam sehari, tapi primetime-nya chatting di Brokenharts adalah antara pukul 4 sore hingga 8 malam.  Bisa dikatakan seluruh “anggota tetap” rutin hadir pada jam-jam tersebut. Ngobrol biasanya juga diramaikan oleh sejumlah pendatang baru. Topik obrolan bisa apa saja: pengalaman di kampus atau di lingkungan sekitar, hiburan, dan curhat. Politik dan agama adalah topik yang sangat jarang dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya para “pendatang baru” membuat ruang ngobrol tambah dinamis. Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitze, bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang makanan, alumnus Politeknik UI. Pertama membaca namanya aku mengira dia penggemar Friedrich Nietzsche , filsuf Jerman yang terkenal dengan kalimat: “Tuhan telah mati”. Waktu aku mengonfirmasinya, Ia malah balik bertanya,  “Siapa itu? Hehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sparky, manajer hotel bintang lima di Jalan Merdeka Bandung, alumnus ITB. Rumah orang tunya berjarak enam rumah saja dari warnetku. Karena itu, ia sering mampir dan “on air” dari sini.  Oleh anggota komunitas lain (dari Indonesia) ia biasa disapa “Teteh” karena dia paling tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setanbaek, anak buah Sparky di bagian front office. Drop out dari FH Unisba, juga sering mampir ke Titimplik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherry alias Wild Honey, pencinta kebebasan, alumnus sastra Jerman UI. ''Gua orangnya emang moody,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satriavi, freelance di berbagai bidang, mahasiswa Unpar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo, pekerja bidang industri perangkat komputer di Islambad, Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sexybites, perempuan wiraswasta di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob, pekerja bidang pemasaran alat-alat kesehatan di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stormlord, kontraktor di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vallkyrie, pawang gajah, tinggal di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada Zoso, anak diplomat. Pernah tinggal di London dan USA. Kuliah di desain komunikasi visual Trisakti. Bahasa Inggrisnya bagus. Zozo-lah yang bantu menuliskan surat lamaranku dalam bahasa Inggris untuk Kompas dan Majalah Tempo, setelah pada akhirnya aku bisa menamatkan kuliah Maret 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candle, pelajar SMA di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanny, pelajar SMA di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KK, pengusaha biro perjalanan umrah dan haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;CINTA datang karena terbiasa, kata lagu Dewa. Idiom itu juga berlaku di Komunitas Brokenhearts. Beberapa anggota (akhirnya) saling jatuh cinta. Maklum saja, hampir sebagian besar waktu mereka habis untuk ngobrol di ruang ini. Anggota komunitas yang sudah bekerja, seperti Sparky dan Nitze, selalu online dari kantor sembari menjalankan perintah atasan. Itu berarti, setidaknya mereka aktif di chat room dari pagi hingga petang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ngobrol ramai-ramai di public chat room, masing-masing anggota komunitas juga bisa mengadakan private chat, atau ngobrol berdua saja dengan teman yang dia sukai. Private chat biasanya dilakukan bersamaan dengan ngobrol di public chat room. Namanya juga private chat, sesama anggota nggak pernah tahu siapa bicara dengan siapa. Di private chat yang biasa disingkat PC inilah, si X yang naksir si Y berupaya menjalin komunikasi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Starlight dan Setanbaek resmi mengikat ikrar. Sebulan setelah jadian di dunia maya, Setanbaek terbang ke Chiangmai. ''Gua mau nunjukkin, kalau gua serius. Nggak semua hubungan di internet ini palsu,'' kata lelaki berbadan tambun ini saat menemuiku di warnet, sebelum berangkat ke Chiangmai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di Chiangmai dan bertemu Starlight, Setanbaek meneleponku. Inilah kali pertama aku mendengar suara Starlight. ''I still can't believe it. Is it a dream?'' kata Starlight. Suaranya ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sexybites jadian dengan Stormlord. Waktu datang ke Bandung, Sexybites ngaku ia sering kopi darat dengan Stormlord di Tebet, tempat tinggalnya. Nitze saling jatuh cinta dengan Satriavi. Wild Honey menemukan Vallkyrie sebagai pasangannya. Padahal, Bob adalah fans berat Wild Honey, dan memburunya sejak pertama kali kenal. Marlboro Man pacaran dengan Mandy. Serene dari Filipina juga mengumumkan jadian dengan Falcon dari Kuching, Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sparky merajut kasih dengan Leo dari pakistan. Kepada Leo, Sparky bilang kalau dia adalah tetangga dekatku. Mungkin karena itu, Leo selalu berbaik-baik dengan ku di chat room. Ia bahkan mengirimkan aku dua buah buku karya Muhammad Iqbal, sastrawan Islam asal Pakistan. Masing-masing berjudul My Leader dan The Messages from the East. Meski belum pernah bertemu fisik dengan Leo, kepada aku, Sparky bilang ia cinta benar pada Leo. Setiap kali hubungan mereka memanas, Leo selalu bertanya padaku lewat jalur private chat. Aku selalu jawab: “Sabar Leo. Mungkin dia sedang datang bulan, tensinya agak tinggi.'' Padahal aku nggak ngerti masalah mereka. Aku bilang begitu, semata agar Leo tak menyesal telah mengirim buku dan percaya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya “pertemuan-pertemuan darat” yang tak direncana antara aku dengan Setanbaek dan Sparky, memacu keinginan anggota lain untuk menggelar pertemuan darat yang lebih meriah dan well organized.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar bulan Oktober 2000, suatu malam sehabis hujan, Komunitas Brokenharts menggelar kopi darat terbesar pertama. Kebanyakan yang datang adalah anggota yang tinggal di Bandung, antara lain Pluffy, Marlboro Man, Satriavi, Setanbaek, dan Sparky. Hanya Skate yang datang dari Jakarta. Kami ketemu di Titimplik, lalu makan di warung tenda tak jauh dari warnet. Sparky yang traktir. ''Biar dia yang bayar. Dia paling banyak duitnya,'' kata Setanbaek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kedua, berlangsung bulan Desember 2000. Wild Honey, Baby dan Nitze juga ikut gabung. Mereka dari Jakarta. Seluruh pertemuan komunitas digelar di Titimplik. Tidak ada kikuk dan canggung saat pertama kali bertemu, Semua seperti sudah saling mengenal sejak lama. Heboh sudah pasti. ''Tampang lu persis seperti yang gua bayangin di layar komputer,” kata Wild Honey saat menjabat tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pertemuan-pertemuan di atas, beberapa anggota komunitas dari Jakarta juga kerap datang sendiri ke Bandung dan selalu mampir di Titimplik. Baby adalah yang paling sering.  Sexybites pernah datang sekali akhir tahun 2000. Setelah itu, ia selalu bilang ke orang-orang: ''Gua ke tempat Electric cuma ngantar handphone aja.'' Sexybites kehilangan handphone saat duduk-duduk di warnet. Dia aku tinggal untuk salat Jumat. Sorry Sexybites!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Komunitas Brokenhearts, bukan sekedar hubungan di dunia maya, ia juga adalah kehidupan di dunia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;JULI 2001, sebuah bus meninggalkan terminal Leuwipanjang Bandung, ketika Matahari baru saja muncul. Menjelang siang, bus merapat di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Aku turun bersama puluhan penumpang lainnya. Hari itu, aku janjian ketemu dengan KK, di rumahnya di Pondok Gede. Aku menghubungi teleponnya, ia ngasih tahu aku harus naik angkutan apa biar sampai ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KK bukan cuma pengusaha biro perjalanan haji dan umrah, ia juga mengelola sejumlah unit usaha lainnya, seperti pesantren, universitas, radio, minimarket dan wartel. Semua berada dalam satu kompleks di Pondok Gede. Orangtuanya Tutty Alawiyah pernah jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan zaman BJ Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, aku duduk-duduk di studio radio milik KK, nungguin dia siaran. Selepas maghrib, kami janjian ketemu Wild Honey dan Nitze di Blok M Plaza. Makan malam dengan menu nasi goreng. ''Biar gua yang bayar. Ntar kalau lu udah kerja lu yang bayarin gua'' kata Nitze. Aku dan Wild Honey memang masih nganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Blok M kami meluncur ke rumah KK. Ngobrol-ngobrol di sana, gosipin anggota komunitas yang lain dan hubungan spesial mereka, hingga tengah malam.  Saat mau pulang ke apartemennya, Wild Honey tanya aku. ''Benar lu mau berangkat besok?'' katanya. Aku menganggukkan kepala. ''Wah, pisah dong. Kalau ke Bandung gua mau mampir ke mana lagi?'' katanya. Besok paginya dari rumah KK aku berangkat ke Batam. Memulai hidup baru. Cari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berada di Batam dan masih menganggur, aku jarang mengunjungi Brokenhearts. Paling sebulan hanya satu kali, just to keep in touch. Sisanya bertukar kabar lewat SMS. Aku nggak bisa menikmati internet gratis lagi seperti di Bandung. Situasinya sudah beda. Di Batam, tiap pemakaian satu jam di warnet diganjar Rp7.000, membuat aku berpikir untuk ke warnet. Dan, kendati sudah bekerja, ternyata aku juga tak bisa serutin dulu ngobrol di sana. Karena aku kerja lapangan dari pagi hingga sore. Lagi pula, komputer yang aku gunakan sehari-hari di kantor tidak ada internetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan yang intensitasnya makin berkurang itu, aku dengar kabar Starlight dan Setanbaek menikah di Thailand, Sexybites juga menikah dengan Stormlord, Bob married dengan anggota baru Komunitas Brokenhearts asal Jakarta, yang aku tak kenal orangnya. Brokenhearts tidak hanya mempertemukan, tapi juga menyatukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;AKU melongokkan kepala di pintu sebuah warnet tak jauh dari Simpang Kuda Seipanas, Batam. Seorang perempuan berambut pendek berkacamata bingkai tebal melambaikan tangan dari dalam. ''Electric, is that you?'' katanya. Hari itu, sekitar bulan Februari 2003, aku bertemu Starlight untuk pertamakali di dunia nyata. Starlight mengungkapkan, sejak pertama kenal di chat room, ia yakin pasti akan bertemu dengan ku di real life. Kendati begitu, ia berkali-kali bilang pertemuan ini adalah “miracle” dan “amazing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Starlight ada di Batam secara tak sengaja. Sabtu sore itu aku iseng masuk ke chat room dari komputer milik redaktur di kantor. Starlight kebetulan sedang online. Ia bilang dia sekarang tinggal di kota yang sama dengan ku. Setanbaek, suaminya memang orang Batam. Orangtua dan keluarganya tinggal di sini. Tapi, mulanya, aku tak percaya. Starlight lalu kasih tahu alamat warnet tempat dia sedang online. Itulah yang membuat aku yakin dia benar-benar di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Starlight cerita panjang soal kehidupan barunya bersama Setanbaek. Ia mencoba bicara dalam Bahasa Indonesia. Tapi masih kacau. Bahkan sulit dimengerti. Kalimantan ia lafalkan dengan “Golomonton”. Setengah mati mengartikan kalimat-kalimatnya. Ia ngaku baru dua bulanan ada di Batam. Aku melihat ia berusaha keras untuk cepat menyesuaikan diri. Dari dompetnya, ia keluarkan foto pernikahan mereka di Thailand. Starlight bilang ia sedang hamil dan tinggal di ruko di Nagoya. Sedangkan orangtua Setanbaek tinggal di perumahan Marchelia. Setanbaek kerja di sebuah resort di Marina City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu aku beberapa kali ketemu Starlight dan Setanbaek. Aku pernah datangin ketika mereka pindah ke rumah orangtua Setanbaek di Marchelia, setelah anak mereka lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan atau tidak. Setelah semua yang ada di dunia maya jadi nyata, awal 2004 situs lovemail.com tiba-tiba tak bisa diakses lagi (hingga kini). Tak ada anggota komunitas yang tahu pasti alasannya, dan tak ada pula yang menyesalinya. Ini adalah sebuah episode hidup yang memang harus ada garis finishnya. Tapi, seperti kata Setanbaek, saat terakhir ketemu dengan ku di lobby Hotel Mercure Batam, ''Situs itu cuma ingin mempertemukan kita, jadi keluarga jadi saudara.'' ***&lt;br /&gt;_________________________&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untuk semua anggota Komunitas Brokenhearts yang kini menapaki kehidupan baru: Starlight (Jay) dan Setanbaek (Hendra) kini bermukim di Thailand; Sparky (Noeke) wakil GM Ritz Charlton di Dhaka Bangladesh; Nitze (Aniss) akuntan USAID di Jakarta; Wild Honey (Marina) setelah pulang dari Australia kini jadi editor di Penerbit Erlangga; KK (Bastian) tetap dengan bisnis asalnya; Sexybites (Camelia) dan Stormlord (Wawan) punya usaha cafe di Jakarta; Candle (Peggy) setelah menamatkan S1 di Beijing kini bekerja di Konsulat RRC di Surabaya; Satriavy (Zulphiandi) masih dengan dunianya yang dulu; Marlboro Man (Steven) manajer EDP perusahaan garment di Bandung; Mandy (Sisca) pengajar di Jakarta International School; Jassica (Ika) ibu rumah tangga di Surabaya; Cheris (Lawrence) bekerja di RS Manila; Trish (Maria) dokter di Manila; Vallkyrie (Yogi), Skater (Narendra), Pfluffy (Mya); Hanny; Tasya; Mars (Martinus); Bob (Syaiful); Zoso (Nuni) dan semua yang pernah singgah di Brokenhearts Room. (*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7614340475263248517?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7614340475263248517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7614340475263248517' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7614340475263248517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7614340475263248517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2009/02/brokenhearts-community.html' title='Brokenhearts Community'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-3183544033182827150</id><published>2008-12-25T20:45:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:07:10.788-08:00</updated><title type='text'>Ke Solo Kami kan Kembali</title><content type='html'>HARI ini, tiga tahun sudah saya bersama istri mengarungi hidup dalam sebuah  keluarga. Sejak November dua tahun lalu, kami tak cuma sepasang suami istri, tapi juga ayah dan ibu bagi anak lelaki yang kami beri nama Radithya Wisanggeni. Bocah kecil yang hanya berhenti bergerak dan bicara ketika tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;26 Desember adalah hari ulang tahun pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu terkenang Solo, kampung istri, tempat kami melangsungkan resepsi, tiap kali teringat hari pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu berangan-angan, Solo adalah tempat saya bersama istri dan anak melanjutkan episode hidup berikutnya. Kami selalu bercita-cita, lima atau enam tahun lagi akan memulai kisah baru kehidupan kami di sana. ''Enak juga dari Batam kita transit dulu di Jakarta tiga tahun, setelah itu baru ke solo. Pulangnya naik kereta lewat Bandung,'' kata istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ingin hidup kami punya banyak halte. Singgah di berbagai tempat. Mencicipi makanan-makanan baru yang jadi ciri khas tempat tertentu (makan adalah hobi yang hanya bisa berhenti ketika kas keluarga sedang kosong). Mengenali budaya, bahasa, atmosfer, dan orang-orang baru. Status quo, kemapanan, dan rutinitas adalah sebuah kebosanan. Tapi Solo adalah pelabuhan terakhir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di solo hidup tak terlalu ribet seperti halnya Batam atau Jakarta. Cuacanya sedang. Ada banyak tempat-tempat bagus yang nggak membosankan untuk dikunjungi berulangkali, seperti Kampung Batik Laweyan yang tak jauh dari rumah mertua. Pertunjukan seni dan budaya tak pernah berhenti. Masyarakatnya cukup kreatif. Contohnya, untuk mindahin pedagang kaki lima dari pasar tradisional yang dibongkar karena sudah tak layak, pemerintah kota menggelar pawai budaya, tak ada pengerahan Satpol PP dan perang batu antara pedagang dengan aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang pasti banyak tempat makan enak tersedia di sana. Bebek Goreng Pak Slamet kesukaan kami, Soto Gading plus sate brutunya yang sekali duduk bisa habis sepuluh tusuk, Timlo Sastro yang dikenal seluruh pencinta makan-makan di Indonesia, Serabi Notosuman langganan keluarga Cendana, tengkleng di Pasar Klewer. Jika rindu masakan padang kami bisa datang ke rumah makan tenda di pertigaan dekat Masjid Besar Laweyan (depan Hotel Puspita).  Di Solo semua yang enak-enak tersedia. Harganya murah meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedang jenuh di Solo, kita bisa jalan-jalan ke Yogya naik kereta api Prambanan Ekspres.  Cuma satu jam. Yogya jauh lebih menarik daripada Singapura. Ia eksotisme alami pemberian Tuhan. Singapura adalah keunikan yang direkayasa, karena itu kalau kita ke sana kadang kita seperti robot yang dikontrol untuk bergerak secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Solo kami kan kembali. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-3183544033182827150?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/3183544033182827150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=3183544033182827150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3183544033182827150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3183544033182827150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/12/ke-solo-kami-kan-kembali.html' title='Ke Solo Kami kan Kembali'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1356891410376700568</id><published>2008-12-22T18:30:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:07:29.357-08:00</updated><title type='text'>Anda Pahlawan kalau Nabrak Aturan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SVBQLgj1P1I/AAAAAAAAAEQ/lJpDAjyMsfc/s1600-h/illegals.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282810521554599762" src="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SVBQLgj1P1I/AAAAAAAAAEQ/lJpDAjyMsfc/s320/illegals.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 316px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH berita kecil di pojok kiri bawah sebuah media, Jumat pekan lalu, menyebutkan, seorang pelajar harus dilarikan ke rumah sakit karena kakinya patah dan kepala mengeluarkan darah setelah motor yang dikendarainya bertabrakan dengan angkutan umum. Menurut berita tersebut, tabrakan terjadi karena si pelajar menerobos &lt;span style="font-style: italic;"&gt;traffic light&lt;/span&gt; warna merah. Ini bukan berita pertama dalam kasus serupa. Tapi kita tak pernah juga belajar dari kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tentu saja banyak alasan yang bisa digunakan si pelajar yang terkapar tadi, jika kita tanya kenapa ia begitu nekat menerobos lampu merah di jalanan yang sibuk. Ia bisa saja bilang takut telat ke sekolah, dipanggil orang tua karena ada urusan penting keluarga dan beragam dalih formal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar alasan-alasan itu, ada kebiasaan yang tak juga hilang dalam keseharian kita: merasa bangga jika melanggar aturan. Kita kerap merasa diri kita hebat, bahkan sebagai pahlawan ketika berhasil mengelabui aturan dan aparat yang mengawalnya. Ketika seseorang bisa dengan sukses menerobos lampu merah yang tak jauh dari pos polisi, saya hakul yakin, ia akan bersorak girang, setidaknya dalam hati. ''Mampus lu, gua kerjain,'' sembari menoleh ke arah polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan buruk ini bersemi di zaman Orde Baru, dimana hampir semua aspek hidup warga negara diatur oleh pemerintah. Kita diarahkan untuk terbiasa hidup dalam keseragaman, termasuk pola pikir. Banyak orang yang menolak, tapi tak banyak yang berani menyuarakan dan mengekspresikan. Sebab itu, pada masa itu, ketika ada orang yang berani berbeda dengan keadaan yang serba seragam itu, entah yang diperjuangkan itu benar atau tidak, label "pahlawan" otomatis melekat. Ia jadi fokus perhatian dan perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perlawanan yang diberikan berkaitan dengan rasa keadilan dan kepentingan khalayak, tentu tak ada persoalan. Ia harus didukung habis. Tapi, celakanya kita sering menentang hal-hal yang semestinya tidak perlu ditentang. Kita sering melabrak aturan yang dibuat memang untuk kebaikan bersama. Kasarnya, kita kerap asal beda. Barangkali, itu dilakukan cuma untuk menjadi pusat perhatian semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat duduk di bangku SD, misalnya, selain wajib bercelana merah dan kemeja lengan pendek putih yang bagian bawahnya dimasukkan ke dalam celana, anak sekolah juga harus bersepatu hitam. Maka, kalau ada yang tidak mematuhi ketentuan di atas, misalnya lengan baju digulung dan bagian bawahnya dikeluarkan, serta memakai sepatu putih pula, cap sebagai jagoan di sekolah bakal disandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Label dan predikat pahlawan dan jagoan salah kaprah begini justru mendapat penguatan melalui ungkapan atau idiom yang kita ciptakan sendiri. Misalnya: ''Dia itu hebat lho, nge-ganja tiap hari, tapi masih bisa juara kelas", "Meski sering teler begitu, shalatnya rajin juga tuh anak'', "Gak jantan lu, masa bolos aja takut", ''Selingkuh dikit gak apa-apa, yang penting kebutuhan istri sama anak terpenuhi. Santai saja''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, kita menganggap menabrak hukum adalah prestasi dan kebanggaan. Dan itu terpelihara hingga kini, ketika keseragaman tidak seketat dulu lagi, di saat sudah seharusnya kita membanggakan kedisiplinan dan prestasi. Di suatu siang bulan Ramadan dua tahun lalu, saya bertemu seorang teman kantor yang dengan ekspresi penuh kebanggaan mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Barangkali dia bangga karena telah berani melawan perintah Tuhannya secara sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara kongkow wartawan beberapa waktu lalu ada yang bangga-banggaan soal siapa yang paling banyak dapat amplop dari narasumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin pejabat A kasih Rp1 juta. Lumayanlah zaman susah begini, masih ada yang mau kasih segitu," kata salah satu peserta kongkow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ah, itu belum seberapa. Aku kemarin sama pengusaha B dikasih Rp2,5 juta. Istriku mau pulang kampung melahirkan juga dibeliin tiket sama dia,'' peserta lain menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku dulu juga pernah dikasih voucher Hotel Le Meridien Singapur. Nginap seminggu di sana,'' wartawan yang ngomong pertama tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita tidak sedang sakit jiwa karena menganggap pelanggaran terhadap aturan, yang sebenarnya adalah aib, sebagai simbol kehebatan dan keberanian. Atau jangan-jangan kita melakukan ini semua hanya karena kita merasa tak punya sesuatu yang bernilai positif dalam diri kita, yang bisa kita banggakan? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1356891410376700568?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1356891410376700568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1356891410376700568' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1356891410376700568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1356891410376700568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/12/anda-pahlawan-kalau-melanggar-aturan.html' title='Anda Pahlawan kalau Nabrak Aturan'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SVBQLgj1P1I/AAAAAAAAAEQ/lJpDAjyMsfc/s72-c/illegals.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7676490840179829858</id><published>2008-12-12T18:44:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:07:48.358-08:00</updated><title type='text'>Habis Karet Gagallah Nenas</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SUMiNsLjhNI/AAAAAAAAAEA/-Uc5xrjb8i4/s1600-h/Menoreh+Karet-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279100806801622226" src="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SUMiNsLjhNI/AAAAAAAAAEA/-Uc5xrjb8i4/s320/Menoreh+Karet-1.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MARYONO Ibrahim hanya bisa mengenang empuknya jok sepeda motor baru merek Kanzen. Cuma tiga bulan kuda besi buatan China itu sempat ia tunggangi, sebelum ditarik balik oleh dealer tempat ia membeli pertama kali. Sebabnya, Maryono tak sanggup membayar cicilan sebesar Rp380 ribu per bulan yang ia sepakati dalam perjanjian jual beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Kanzen lepas dari genggaman, Maryono harus kembali ke selera asal. Kemana-mana, kini ia menaiki Vespa tua warna merah peninggalan orang tua. ‘’Sebelum ada Kanzen dulu pakai Vespa ini. Waktu punya Kanzen, Vespa istirahat dulu. Sekarang balik ke Vespa lagi,’’ tuturnya. Ia tersenyum, tapi getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ditemui di rumahnya di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, pertengahan November lalu,  Maryono menceritakan, saat meneken akad kredit dengan dealer pada Agustus 2008, ia hakul yakin semua bakal berjalan mulus layaknya laju kendaraan baru. Maklumlah, kala itu, kantong Maryono sedang gembung. Getah karet yang menjadi sandaran hidup keluarga, harganya tengah menjulang. ‘’Sekilo Rp12 ribu. Itu puncak paling tinggi,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harga getah di tingkat penampung Rp12 ribu sekilo, Maryono bisa mengantongi pendapatan rata-rata Rp500 ribu per empat hari. ‘’Rata-rata tiap empat hari hasil panen sekitar 40 sampai 50 kilo,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Maryono yang berpesta di bulan kemerdekaan itu, para tetangga se-desa yang juga menggantungkan hidup dari karet ikut merasakan nikmatnya hasil keringat menoreh getah. ’’Itu sudah biasa di sini. Kalau harga sedang tinggi, petani beli barang-barang konsumtif, seperti motor dan elektronik. Agustus lalu, stok di dealer motor sampai kosong,’’ kata Raja Abdul Aziz, pimpinan PT Bintan Jaya, perusahaan penampung getah karet terbesar di Pulau Kundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal bulan puasa, jalan raya Desa Tanjungsari yang penuh lubang dan batu, disesaki puluhan sepeda motor baru berbagai merek. Barang-barang elektronik yang masih mengkilat seperti televisi, VCD player, dan lemari es terpajang di ruang tamu rumah warga. Lebaran dilewati penuh keriangan. ‘’Anak-anak dan menantu semua pakai baju baru,’’ kenang Maryono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bagi petani karet Pulau Kundur seperti berselancar di atas gelombang. Kadang terbang tinggi melayang, di lain waktu terempas hingga ke dasar. Selepas Idul Fitri, harga karet di tingkat penampung tiba-tiba rontok. ‘’Turun sampai Rp2.000 sekilo,’’ ujar Maryono. ‘’Pahit,’’ ucapnya sambil menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryono dan ratusan petani karet Pulau Kundur kaget dan terpukul. ‘’Kita tak siap menerima harga turun secepat itu,’’ katanya. Di kalangan petani karet Pulau Kundur istilah rugi digunakan bila harga satu kilo karet di penampung tidak cukup untuk membeli satu kilo beras. ‘’Kalau sekilo karet sama dengan sekilo beras, itu namanya balik modal,’’ kata Maryono. Bila satu kilo karet sama dengan sekilo beras plus sebungkus ikan asin, maka istilah yang dipakai adalah untung sedikit. Tapi jika sekilo karet bisa membeli berkilo-kilo beras, itu adalah untung besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Raja Abdul Aziz, bos perusahaan penampung getah petani, dari dulu harga karet memang naik turun. ‘’Jangankan hitungan bulan, dalam sehari saja harga bisa berubah sampai tiga kali,’’ katanya. Perusahaannya rutin menerima informasi perubahan harga dari kantor pusat di Tanjungpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi yang berubah cepat membuat petani pontang panting mencari duit melunasi kredit motor. Ada yang coba jadi pengojek, sebagian beralih jadi buruh bangunan. Yang lain berubah wujud jadi pedagang kagetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryono sendiri ikut jadi buruh di perusahaan pertambangan granit. ‘’Hasilnya hanya cukup untuk makan,’’ katanya. Ia hanya bisa memandang ketika petugas dealer akhirnya menggiring motor Kanzen miliknya menjauh dari halaman rumah. ‘’Itu dealer tiba-tiba penuh lagi. Habis motor yang dulu dibeli petani ditarik lagi semua,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalutan Maryono kian berlipat. Setelah kehilangan motor, ia juga dikejar-kejar guru tempat anak bungsunya bersekolah. Iuran rutin bulanan dan bayaran buku paket belum sanggup dilunasinya. ‘’Cam mana lagi, uang sudah tak ada,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah panggung peninggalan kakek dan orang tua yang kini dihuninya, Maryono hidup bersama istri, tiga anak, menantu dan mertua. ‘’Total kami ada sembilan orang,’’ katanya. ‘’Semua harus makan. Kalau ada duit kita dulukan kebutuhan pokok dulu, sisanya baru buat bayar sekolah,’’ paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;KARET adalah hasil pertanian utama di Pulau Kundur. Menurut sejumlah petani, kebun karet di pulau terluas dalam wilayah Kabupaten Karimun itu sudah ada sejak zaman Jepang. ‘’Waktu kakek saya masih hidup dia sudah petani karet,’’ kata Ismail Hisam, petani karet di Kundur Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas lahan perkebunan dikelola secara tradisional oleh warga, mengikuti cara-cara yang digunakan kakek dan orang tua mereka sebelumnya. Masing-masing petani memiliki luas lahan sekitar dua hektare sampai empat hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun, total luas lahan perkebunan karet di Pulau Kundur 18.394 hektare dari 19.210 hektare luas kebun karet secara keseluruhan di kabupaten itu. Lahan perkebunan itu terserak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kundur 2.260 hektare, Kecamatan Kundur Utara 14.106 hektare, dan Kecamatan Kundur Barat 2.028 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2002 silam, saat Karimun dipimpin Bupati HM Sani (kini Wakil Gubernur Kepulauan Riau), ratusan hektare lahan kebun karet warga dialihkan jadi perkebunan nenas. Sejumlah petani memperkirakan luasnya mencapai 400 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryono mengenang, ketika itu, para pemilik kebun karet di desanya diiming-imingi janji, bahwa pendapatan dari nenas lebih besar daripada karet. Para pejabat kabupaten yang mendadak rajin turun ke Kundur selalu membangga-banggakan prospek perkebunan nenas. ‘’Banyak yang menerima, tapi saya menolak,’’ katanya. ‘’Itu, itu semua bekas kebun nenas,’’ katanya menunjuk dua petak lahan di sisi kanan rumahnya yang kini ditumbuhi rumput dan ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya harapan yang digantung pada kebun nenas terlihat dari meriahnya pesta panen perdana yang digelar Pemerintah Kabupaten Karimun, pada hari Selasa, 24 Agustus 2004 di Desa Tanjungsari. ‘’Bahkan Pak Menteri juga datang,’’ kata Maryono. ‘’Ada acara makan-makan dan foto-foto,’’ katanya. Yang hadir saat itu adalah Menteri Koperasi dan UKM Ali Marwan Hanan didampingi Pjs Gubernur Kepri Ismeth Abdullah (kini Gubernur Kepulauan Riau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kegembiraan yang terpancar pada perayaan panen perdana tak berlanjut pada hari-hari berikutnya. Pasalnya, petani tak tahu kemana harus menjual hasil panenan mereka yang melimpah-limpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kata Tumardi, Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Lahan Perkebunan Kabupaten Karimun, waktu itu ada investor lokal PT Inmas Sun Shine yang berencana membangun pabrik pengolahan nenas, yang hasilnya akan diekspor ke Malaysia. Janji investor itulah yang turut dijual Pemerintah Karimun kepada petani hingga bersedia mengkonversi kebun karet jadi kebun nenas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hingga kiini, pabrik itu tak kunjung berdiri. Nenas yang sudah terlanjur ditanam warga membusuk di batangnya. ‘’Dipanen juga mau diapakan, dijual mentah siapa yang mau beli,’’ kata Maryono terkekeh. Saat panen perdana harga nenas masih berkisar Rp450-Rp500 per kilogram, karena distribusi tidak berjalan harga anjlok hingga Rp250 per kilogram. Petani menanggung kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa proyek impian itu gagal? Tumardi tak bersedia menjelaskan. Ketika ditemui di Kantor Bupati Karimun, ia tampak hati-hati menjawab pertanyaan seputar alih fungsi kebun karet ke kebun nenas, yang berbuah kegagalan itu. ‘’Jangan tanya itu ke kami, tanya ke Dinas Koperasi. Itu urusan mereka,’’ katanya. ‘’Kami hanya ngurus teknis penanamannya saja, soal investor dan penjualan itu tugas Dinas Koperasi,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang-batang nenas yang membusuk itu kini terhampar di sisi kiri kanan jalan Desa Tanjungsari.  Sebagian sudah dialihkan warga jadi kebun sawit. Sebagian lagi sudah ditanami karet kembali. Hanya saja, warga mesti bersabar menunggu hingga enam tahun setelah bibit ditanam. Sebab pohon karet baru bisa ditoreh getahnya setelah berumur enam tahun ke atas. Pemerintah lepas tangan? ‘’Kita bicara karet saja,’’ kata Tumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;TAK beranjaknya nasib petani karet dari sekapan kemiskinan, menurut Ismail Hisam, disebabkan tidak adanya keseriusan pemerintah melakukan pembinaan. ‘’Hidup kita seperti harga karet saja. Naik turun,’’ ucap petani Kundur Utara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, kata dia, pemerintah mendorong petani yang jumlahnya 3.273 orang (jumlah petani karet di Pulau Kundur) untuk membentuk koperasi yang kuat. ‘’Kalau harga sedang turun, kita bisa pinjam koperasi untuk nutup kebutuhan sampai harga naik lagi,’’ katanya. Pemerintah, kata dia, juga tak pernah mengajar petani mengelola uang hasil penjualan yang diperoleh ketika harga sedang tinggi. Karena itu, pola hidup petani, yang cenderung berfoya-foya ketika sedang punya banyak uang, tak berubah sejak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola hidup yang dilakoni petani tersebut ikut menghambat laju produktivitas kebun karet. Peremajaan tidak berjalan. Petani lebih mengutamakan barang-barang konsumsi ketimbang membeli bibit baru dengan kualitas nomor satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kebun karet milik Maryono, misalnya, dari 15 jalur yang ada, hanya enam jalur saja yang masih bisa berproduksi (satu jalur terdiri dari 180 pohon karet). ‘’Sisanya sudah tua,’’ katanya. Batas usia produktif pohon karet adalah 30 tahun. Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Karimun menunjukkan, total area kebun karet di Pulau Kundur yang dihuni tanaman tua rusak alias tidak berproduksi lagi mencapai 9.440 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tumardi, makin banyaknya area kebun tanaman tua rusak, makin menurunkan angka produksi rata-rata petani. Catatan pemerintah, kata Tumardi, di Kecamatan Kundur angka produksi berkisar 661,22 kilo per hektare kebun. Di Kundur Utara 698,36, dan di Kundur Barat 716,61.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos PT Bintan Jaya Raja Abdul Aziz mengatakan, produktivitas petani juga naik turun mengikuti harga. ‘’Kalau musim hujan, otomatis produksi turun, petani tak bisa menoreh batang,’’ katanya. Dan, walau cuaca bagus, tapi harga sedang rontok, produksi petani juga tidak akan naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat penampungan miliknya, kata Abdul Aziz, rata-rata menerima karet 20 ton sehari. Di Karimun, karet yang yang baru ditoreh dari batang disebut ojol. Ojol yang terkumpul kemudian dikirim ke Tanjungpinang untuk diolah, lalu diekspor ke Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendongkrak produktivitas petani, kata Tumardi, Pemerintah Karimun sudah menjalankan program peremajaan yang disebut Gerakan Satu Juta Pohon Karet. ‘’Dari 2007 sudah jalan sampai 2010,’’ ujarnya. Satu juta bibit karet itu dibagikan cuma-cuma kepada petani. ‘’Ini bibit unggul dari Palembang dan Medan, harganya Rp6.000 per batang,’’ katanya. ‘’Kalau ada yang bilang pemerintah tak peduli, itu yang vokal-vokal saja. Mungkin bibit belum sampai ke rumah mereka,’’ katanya. ***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7676490840179829858?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7676490840179829858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7676490840179829858' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7676490840179829858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7676490840179829858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/12/habis-karet-gagallah-nenas.html' title='Habis Karet Gagallah Nenas'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SUMiNsLjhNI/AAAAAAAAAEA/-Uc5xrjb8i4/s72-c/Menoreh+Karet-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8880749510725304085</id><published>2008-12-08T18:23:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:08:07.383-08:00</updated><title type='text'>Ketika Musim Menjadi Manusia Sempurna Telah Tiba</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3X9CbmmaI/AAAAAAAAAD4/Wvea3kcONLc/s1600-h/iklan-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277611781972728226" src="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3X9CbmmaI/AAAAAAAAAD4/Wvea3kcONLc/s400/iklan-1.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 400px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 149px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika aku masih muda aku bebas berkhayal; aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka cita-cita itupun agak kupersempit. Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usiaku sudah semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi celakanya merekapun tidak mau diubah. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari: andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin akan bisa mengubah keluargku. Lalu berkat inspirasi dan dukungan mereka bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu akupun bisa mengubah dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-style: italic; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Hasrat untuk Berubah&lt;br /&gt;(konon ini puisi di sebuah batu nisan tak bernama di Kota Westfallen, Inggris, tahun 1100 Masehi)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;HARI-hari terakhir ini kita “dikepung” oleh manusia-manusia yang merasa dirinya paling sempurna. Mereka  “menyapa” kita di mana-mana. Mereka tersenyum dari tiang listrik yang berdiri tak jauh dari pintu pagar rumah kita. Ada yang melambaikan tangan dari baliho besar di pertigaan jalan tempat kita mencegat angkutan umum. Turun dari taksi, mereka juga masih setia menghampiri. Cobalah menoleh sedikit ke kiri. Nah, mereka ada di kaca belakang taksi yang barusan Anda tumpangi.&lt;br /&gt;“Berkarya Bagi Bangsa”, “Berbuat Untuk Rakyat”, “Jujur, Bersih, Amanah”, ''Berjuang Untuk Kesejahteraan Bersama”. Gombal? Terserah Anda memberi penilaian terhadap kata-kata yang dipasang di bawah foto wajah-wajah yang rajin memberi Anda senyum belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi tak percaya pada mereka. Karena itu meski pemilihan umum masih jauh, saya sudah memutuskan tidak akan menggunakan hak memilih yang diberikan negara kepada saya. Sulit hati saya menumbuhkan benih kepercayaan -meski hanya sedikit- terhadap ratusan sosok yang menawarkan diri jadi wakil saya di parlemen nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir sederhana saja. Sebagian dari mereka adalah wajah-wajah lama, yang sudah diberi kesempatan, bahkan hingga dua periode jabatan, untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang mereka wakili. Tapi kerja mereka tak bisa mengubah situasi jadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari ini hidup kita berubah itu bukan karena mereka, tapi karena memang kita ingin berubah. Satu-satunya perubahan yang bisa kita saksikan adalah, perubahan gaya hidup dan pendapatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada wakil rakyat yang sebelum terpilih tinggal di rumah kontrakan tipe 27 seharga Rp350 ribu sebulan, yang ruang tamunya kosong tanpa kursi dan meja, kini mengungsi ke perumahan mewah yang dibeli dengan cicilan Rp6,5 juta per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang semasa masih berprofesi sebagai parlemen jalanan tinggal di rumah liar yang tak dilewati pipa ATB dan kabel PLN, kini sudah bisa berteduh di rumah mewah berlantai tiga. Jika hawa panas tak perlu kipas-kipas, sebab AC bisa menyala kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bekas tukang service AC, tapi berkat kepiawaian “menghimpun dana” kanan kiri selama duduk di legislatif, bisa dijadikan modal untuk merebut kursi ketua partai. Dan karena sudah punya jabatan mentereng, banyak jabatan sosial di lingkungan sekitar berdatangan, mulai ketua yayasan masjid hingga paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada partai yang ngaku sangat islami, bersih dan peduli. Tapi menggunakan uang pelicin untuk meraih simpati. Membelanjakan uang suap yang mereka terima untuk beli sembako yang lalu dibagi-bagikan kepada warga, kata mereka, adalah “mengembalikan uang rakyat kepada rakyat”. Padahal, uang suap seharusnya dikembalikan kepada lembaga negara yang menangani korupsi. Bagi-bagi sembako dari uang pelicin bukankah sama saja dengan menggunakan suap untuk kegiatan kepartaian? Islamikah cara seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pilih wajah-wajah baru? Toh sebenarnya mereka juga stok lama, yang gagal dalam kontes politik periode sebelumnya, dan kini mencoba lagi. Ada yang bekas anggota LSM dan aktivis mahasiswa, yang kita tahu rekam jejak mereka: hantam dulu lalu sorongkan proposal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pendatang baru ini pun tak lebih baik dari mereka yang duduk di kursi dewan sekarang ini. Coba saja Anda baca koran-koran yang terbit di Kepulauan Riau ini. Ada caleg yang nggak ngerti apa sebenarnya tugas anggota dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanjungpinang, misalnya, ada caleg yang berjanji jika terpilih akan mengembalikan piala adipura yang gagal dipertahankan pemerintah kota. Merebut dan mempertahankan adipura adalah tugas pemerintah kota, bukan tugas anggota dewan. Jika ia berkampanye sebagai calon wali kota Tanjungpinang itu benar adanya. Tapi jika itu dijual dalam kampanye anggota DPRD, maka itu adalah kebodohan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam, ada caleg yang bilang kalau dia terpilih ia akan menurunkan harga sembako yang kini sedang melangit. Ini sama gobloknya dengan yang di Tanjungpinang tadi. Menjaga kebersihan dan menurunkan harga kebutuhan adalah kerja teknis, yang merupakan tugas wali kota/bupati melalui kepala dinas. Bagaimana mungkin seorang anggota DPRD memerintah kepala Dinas Kebersihan untuk senantiasa menjaga kebersihan kota, jika ia tak punya kekuasaan mengangkat dan memberhentikan si kepala dinas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin rajin kita membaca koran, makin banyak kebodohan calon wakil rakyat yang kita temui. ''Saya berjanji akan meningkatkan kualitas pendidikan.'', “Kita akan memperbanyak lapangan kerja.'' Sekali lagi, itu bukan kerja Anda jika Anda terpilih jadi wakil rakyat. Jika Anda bodoh, cukuplah itu buat diri Anda sendiri, jangan tulari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sederhana, saya menghargai niat seorang imam masjid yang maju sebagai caleg dan berjanji memperjuangkan honor bagi para imam masjid. Budgetting atau perencanaan anggaran adalah satu dari tiga tugas dewan. Jika terpilih Pak Imam bisa memperjuangkannya saat rapat panitia anggaran. Tak perlu muluk-muluk, tapi tahu apa yang mesti dikerjakan. Sampaikanlah kepada kami hal yang kecil-kecil, tapi konkret dan detil daripada hal yang besar-besar tapi gombal!. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8880749510725304085?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8880749510725304085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8880749510725304085' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8880749510725304085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8880749510725304085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/12/ketika-musim-menjadi-manusia-sempurna.html' title='Ketika Musim Menjadi Manusia Sempurna Telah Tiba'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3X9CbmmaI/AAAAAAAAAD4/Wvea3kcONLc/s72-c/iklan-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8425007659786996426</id><published>2008-12-08T17:53:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:09:50.534-08:00</updated><title type='text'>Tanjungbatu: Ayam Kampung dan Lokalisasi yang Mati Suri</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3RxsecCSI/AAAAAAAAADo/ViZVf9UZyr0/s1600-h/ft+skm.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277604990030711074" src="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3RxsecCSI/AAAAAAAAADo/ViZVf9UZyr0/s320/ft+skm.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PULUHAN calon penumpang duduk gelisah di ruang tunggu Pelabuhan Domestik Sekupang, Batam, Kamis, pertengahan November lalu. MV Marina Srigemini yang dijadwalkan membawa mereka ke Tanjungbatu pukul 09.00, belum juga berlabuh di dermaga keberangkatan, meski waktu sudah menunjuk pukul 10.10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bau pesing toilet pelabuhan yang berembus hingga ke ruang tunggu, membuat para penumpang kian tak tahan duduk berlama-lama di situ. Abdul Manaf, pensiunan guru di Durai berulangkali mengingatkan istrinya untuk bersabar. ''Duduklah dulu. Kapalnya sedang isi minyak,'' katanya. Sang istri hanya menganggukkan kepala sambil terus menempelkan ujung kerudung warna merah jambu di hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak kuasa membendung bau pesing yang menyengat, sebagian calon penumpang akhirnya pindah ke dermaga. ''Lebih baik di sini. Di dalam saya batuk-batuk, Bau sekali,'' kata Atjin yang menenteng dua kardus mi instant. ''Ini mainan anak-anak, buat dijual,'' katanya. Omelan dan sumpah serapah akan buruknya kebersihan pelabuhan mengalir dari bibir calon penumpang. Retribusi pelabuhan yang besarnya Rp5.000 ikut diungkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10.30 kapal akhirnya tiba. Antrean masuk ke dalam badan kapal cukup tertib. MV Marina Srigemini terbilang bersih. ''Ini kapal baru,'' kata seorang perempuan yang bertugas memeriksa tiket penumpang. Teriakan penjual donat, nasi goreng kotak, dan air mineral bersahut-sahutan. Mereka  hilir mudik dari depan ke belakang dan sebaliknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil tempat duduk di kursi paling depan. Di sebelah saya, sudah lebih dulu ada Muhammad Rasyid, teknisi freelance yang berangkat untuk memindahkan tower sebuah perusahaan telepon seluler. Ia fasih bicara soal Tanjungbatu. ''Istri saya asli sana,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang kami kami duduk seorang perempuan muda. Ia membeli nasi goreng kotak. Tak lama berselang menyusul seorang pria berseragam polisi duduk di sampingnya. ''Pasti Mbak ini bukan asli Tanjungbatu,'' kata Pak Polisi sambil mengempaskan pantat di kursi. Sebuah kalimat pembuka untuk berkenalan. Mereka akhirnya berbincang sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari teman bicara adalah cara terbaik untuk membunuh waktu. Perjalanan Batam-Tanjungbatu menghabiskan waktu sekitar 90 menit. Terlalu lama untuk sekedar melamun dan memandang hamparan lautan. ''Ini untung kapalnya cepat. Kalau pakai feri yang besar bisa dua jam lebih,'' kara Rasyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan pelabuhan lain di Kepulauan Riau, Pelabuhan Tanjungbatu tak kalah sederhananya. Para pengojek bahkan bisa masuk menawarkan jasa hingga ke ujung dermaga saat penumpang turun dari kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lapar yang sudah terasa sejak di perjalanan kian mendera begitu kapal merapat di pelabuhan. Panggilan penawaran dan tarikan tangan para pengojek tak saya hiraukan. Begitu Imam Soekarno, teman yang berjanji menjemput tiba, mencari tempat makan adalah hal pertama yang saya utarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima menit dari pelabuhan, motor bebek hitam itu merapat di depan sebuah warung nasi warna putih kusam. Di atas pintu masuk ada papan nama dengan&lt;br /&gt;background biru di atasnya tercetak kata Suka Maju dengan huruf kapital warna merah. ''Ini yang paling top di Tanjungbatu,'' kata Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan calon pembeli, yang sebagian besar adalah warga Tionghoa, berdesakan di pintu masuk. Mereka memesan makanan untuk dibawa pulang. Tiga pelayan bergantian mengulurkan bungkusan nasi dan lauk kepada pengantre yang dibatasi tembok setinggi dada orang dewasa. ''Ciri khas di sini adalah ayam kampung,'' kata Imam. Ada tiga jenis menu makanan berbahan dasar ayam kampung di warung Suka Maju ini, yaitu ayam kampung goreng balado, gulai ayam kampung, dan sop ayam kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu sop ayam kampung yang sudah tersedia sejak pukul 08.00 pagi biasanya sudah habis menjelang tengah hari. Pembeli yang ingin menikmati pada jam makan siang kerap tak mendapatinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran potongan ayam cukup besar. Satu porsi harganya Rp18.000. Sebuah harga yang tergolong mahal untuk kota kecil seperti Tanjungbatu. Tapi pembeli tak pernah sepi. Meski kebanyakan pelanggan di situ adalah warga Tionghoa, Suka Maju bukanlah rumah makan khas masakan China. Ini adalah warung nasi Padang, yang didirikan Hj Somia, seorang perantau asal Sumatera Barat sejak tahun 1951. Kini warung makan yang terletak di Jalan RA Kartini itu dikelola generasi ketiga keluarga Hj Somia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika Anda dari luar Tanjungbatu dan berniat mencicipi yahudnya sop atau goreng balado ayam kampung Suka Maju, jangan coba-coba datang pada hari Jumat. Sebab itu adalah hari besar dan hari libur bagi pengelola dan karyawannya. Tradisi libur di hari Jumat ini sudah berlaku sejak mula warung ini berdiri. ''Pejabat-pejabat pemerintah yang berkunjung ke Tanjungbatu, pasti makan di sini,'' kata Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyajikan menu dari bahan dasar ayam kampung, warung makan Suka Maju juga menyediakan beragam menu lain. Karena Tanjungbatu dikepung lautan, sudah pasti aneka seafood tersedia di warung ini. Misalnya, udang goreng balado, ikan goreng, ikan bakar, sotong atau cumi-cumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;TANJUNGBATU adalah ibu kota Kecamatan Kundur. Ia berada di Pulau Kundur Kabupaten Karimun. Dulunya pulau ini hanya terdiri dari satu kecamatan saja. Kini sudah dipecah jadi tiga kecamatan, yaitu Kecamtan Kundur, Kecamatan Kundur Utara, dan Kecamatan Kundur Barat. Tanjungbatu adalah pusat kegiatan masyarakat paling ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan daerah di Provinsi Kepulauan Riau, pelaku usaha didominasi warga etnis Tionghoa. Geliat ekonomi paling terasa di Jalan Sudirman yang letaknya tak jauh dari pelabuhan. Tak jauh dari situ ada Pasar Tanjungbatu. Dari pagi hingga siang hari, pasar ini menjual beragam kebutuhan, mulai sayur hingga pakaian. Pada petang sampai tengah malam, pasar berubah wujud jadi pujasera yang menawarkan aneka makanan. Jika malam merambat, di pujasera inilah satu-satunya kehidupan yang masih berdenyut di Tanjungbatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pusat perbelanjaan besar di sini. Kegiatan perdagangan digelar di rumah-rumah toko, yang desainnya sudah terlihat agak kuno. ''Tahun 1982 saya ke sini, ruko ini sudah ada,'' kata Samosir, seorang pengojek yang mangkal di depan Balai Pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samosir mengisahkan, setidaknya hingga tahun 2004, para pengojek menikmati limpahan rezeki dari derasnya arus kunjungan wisatawan asal Singapura tiap penghujung pekan. ''Tak jarang ongkos dibayar pakai dolar,'' tuturnya. ''Kini jangankan pegang dolar, pegang rupiah saja susah. Orang Singapura tak ada masuk lagi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa itu, kata dia, tersedia feri yang melayari rute Tanjungbatu-Singapura. ''Dulu di pelabuhan itu ada pos imigrasi, sekarang kan sudah tak ada lagi,'' ujarnya menguatkan bukti telah berhentinya hubungan langsung Tanjungbatu-Singapura itu. ''Kini satu pun tak ada lagi pegawai imigrasi bekerja di Tanjungbatu,'' Samosir menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samosir tak mengarang cerita. Seorang resepsionis Hotel Prima, sebuah hotel yang terletak dekat Pasar Tanjungbatu, mengatakan, tamu yang menginap dari hari ke hari kian sepi. ''Bahkan pernah dalam dua hari tak ada satupun tamu,'' katanya. Ia membenarkan cerita Samosir. ''Itu karena orang Singapura tak ada masuk lagi,'' katanya. Pada malam saat saya menginap di sana, menurut si resepsionis, hanya ada dua tamu saja (sudah termasuk saya). Padahal hotel ini punya 29 kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel Taman Gembira, hotel terbesar di Tanjungbatu yang memiliki 300 kamar, kini hanya mengaktifkan 80 kamar saja. Alasannya pun sama: tamu makin sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kondisi ini terjadi? Beberapa penduduk Tanjungbatu yang saya ajukan pertanyaan ini menjawab seragam. ''Karena lokalisasi Batu 7 sudah mati suri.'' Menurut mereka, kebanyakan turis Singapura, yang mayoritas laki-laki, tiap berkunjung ke Tanjungbatu selalu menghabiskan waktu mereka di lokalisasi Batu 7. ''Lokalisasinya belum tutup, tapi perempuannya tinggal sedikit dan sudah tua-tua,'' kata Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memang cuma lokalikasi yang dituju pelancong Singapura tiap berkunjung ke Tanjungbatu? ''Apalagi yang mau dilihat. Tanjungbatu memang tak punya tempat wisata yang bisa dijual,'' jawab warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Tanjungbatu bukan tak punya objek wisata. Di sini ada Pantai Timun, yang letaknya sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Tapi, astaga, hati sungguh miris saat melihat kondisi pantai yang ditumbuhi banyak pohon kelapa itu. Air laut yang seharusnya jadi pemandangan dan tempat bermain mengasyikkan justru berwarna hitam kelam. Aktivitas kapal-kapal pengeruk timah bisa dilihat dengan mata telanjang dari bibir pantai. Inilah sumber pencemaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timah adalah sumber pendapatan utama Pulau Kundur. Sudah tentu pula, bahan galian tambang ini memberi kontribusi besar dan mempertebal pundi-pundi Kabupaten Karimun. Agaknya, menyatukan proses pengerukan timah ramah lingkungan dan mengelola pantai yang bersih dan indah adalah pekerjaan yang paling sulit dilakukan Pemerintah Kabupaten Karimun bertahun-tahun belakangan. Kondisi terkini Pantai Timun, bisa menggambarkan bahwa Pemerintah Karimun gagal mengelola dua hal itu seiring sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jika Pantai Timun bersih, terawat, dan nyaman dikunjungi sudah tentu tidak hanya lokalisasi Batu 7 yang selalu terngiang-ngiang di benak turis Singapura. Mengubah kondisi Pantai Timun yang sudah terlanjur berantakan, juga bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam semalam. Tapi perubahan itu sudah harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pantai Timun, orang yang masuk dari Batam bisa meneruskan perjalanan ke kota Tanjungbalai, ibu kota Kabupaten Karimun melalui Pelabuhan Selat Belia. Dari pelabuhan ini hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke Tanjungbalai menggunakan feri yang berangkat tiap setengah jam. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8425007659786996426?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8425007659786996426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8425007659786996426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8425007659786996426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8425007659786996426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/12/ayam-kampung-dan-lokalisasi-yang-mati.html' title='Tanjungbatu: Ayam Kampung dan Lokalisasi yang Mati Suri'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/ST3RxsecCSI/AAAAAAAAADo/ViZVf9UZyr0/s72-c/ft+skm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-2859106742079297166</id><published>2008-11-25T02:58:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T08:10:06.726-08:00</updated><title type='text'>Keluargamu Semangatmu</title><content type='html'>JIKA kamu merasa ada beban berat yang menekan hidupmu, ingatlah semua kelucuan yang dimiliki anakmu; ketulusan cinta dari istrimu yang dihadirkan melalui dukungan tanpa pamrih: keikhlasan ibu dan ayahmu menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan akan keselamatanmu. Bayangkan wajah mereka tersenyum menatapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jika itu kamu lakukan, niscaya kamu akan merasa karunia Tuhan yang kamu miliki jauh lebih besar daripada tekanan hidup dan pekerjaan yang sedang kamu hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya jalan hidup memang tak pernah mulus, tapi jangan biarkan sebuah masalah menenggelamkan dirimu dalam kecemasan dan ketakutan. Sebab, ''Sesungguhnya sesudah tiap-tiap kesulitan selalu ada kemudahan.'' Itu janji Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap amanah selalu menuntut pertanggungjawaban. Jika kamu gagal jangan seret orang lain untuk ikut memikulnya dengan berkata, ''Kalau ada apa-apa ini kita tanggung bersama, ya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakui kegagalan jauh lebih mulia ketimbang mencari kambing hitam. Toh, hidup yang bernilai dan punya arti bukanlah kita "pernah jadi apa" melainkan kita "pernah berbuat apa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, jangan pernah biarkan kecemasan dan ketakutan akan kegagalan menghentikanmu untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya sangat kamu impikan. ''Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn't do than by the ones you did do. So throw all the bourlines. Sail away from the safe harbour. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Capture'' pesan Mark Twain. ***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-2859106742079297166?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/2859106742079297166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=2859106742079297166' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2859106742079297166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2859106742079297166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/11/keluargamu-semangatmu.html' title='Keluargamu Semangatmu'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7927666093926007925</id><published>2008-10-11T06:12:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:10:24.064-08:00</updated><title type='text'>Di Rumah Mewah Pun Tidur Beralas Tikar</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SPCopNUUsxI/AAAAAAAAADE/egv1hh3pEaQ/s1600-h/Pura+5+f.Iman+Wachyudi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255886191044375314" src="http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SPCopNUUsxI/AAAAAAAAADE/egv1hh3pEaQ/s400/Pura+5+f.Iman+Wachyudi.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;FAJAR belum terang betul, suatu pagi pertengahan Agustus lalu. Ujung daun mawar ungu di taman gerbang Perumahan San Dona masih basah dihinggapi bulir-bulir embun. Tetesannya jatuh menyiram tanah. Perlahan, Nitayanatam Siwachariar menyeret langkah dari sebuah rumah berlantai dua di hunian elit itu. Setibanya di gerbang, dekat taman mawar warna ungu, ia berbelok ke kanan, menyisir sisi Jalan Gadjah Mada, Sekupang yang masih lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setelah sekitar 100 meter berjalan, Nitayanatam menikung ke kanan. Ia menginjakkan kaki di area Pura Agung Amerta Buana. Inilah satu-satunya kompleks peribadatan umat Hindu di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di area ini terdapat dua pura, yaitu Pura Padmasana dan Pura Srilalitha. Menurut I Wayan Catra Yasa, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kepulauan Riau, pura pertama adalah pura Hindu bertradisi Indonesia dengan ornamen Bali, yang biasa digunakan oleh umat Hindu Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Pura Srilalitha adalah tempat ibadah umat Hindu dengan tradisi India. Nitayanatam adalah pemimpin ibadah di Pura Srilalitha. Karena itu, ia diberi gelar Siwachariar. ‘’Kalau di Katolik semacam pastor, atau pendeta di Protestan, atau kiyai dalam agama Islam,’’ ujar Wayan menjelaskan arti Siwachariar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Srilalitha luasnya sekitar 50 meter persegi. Bangunannya sangat sederhana. Jika tak ada aroma dupa, barangkali, warga non-Hindu yang melintas tak mengira itu adalah tempat ibadah. Dinding bagian depan terbuat dari tripleks. Tempat sesembahannya menghadap ke Barat. Di sisi kiri tempat sesembahan itulah Nitayanatam menggelar doa dalam bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam balutan wesytti, pakaian khas India berupa selembar kain panjang aneka warna yang dililitkan hanya pada setengah badan, Nitayanatam kusyu merapal doa. Wesytti membuat postur Nitayanatam yang tinggi, kian terlihat menjulang. Dari bahu kiri hingga ke bagian kanan pinggulnya melintang seutas benang. Benang itu biasa disebut punul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punul sebenarnya terbuat dari tiga jenis benang yang dijalin jadi satu. Dalam kepercayaan Hindu India, tiga benang yang dijalin jadi punul itu disebut trinul, atau simbol tiga dewa, yaitu Brahma, Wishnu, dan Shiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Hello,’’ kata Nitanayatam, ketika saya melongokkan kepala dari pintu masuk pura. Ia bergegas ke sebuah mangkuk yang terletak di atas meja sebelah kiri pura, lalu mencelupkan telunjuknya di situ, dan menempelkannya di kening saya. Sambil tersenyum ia bicara dalam bahasa India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat saya kebingungan, ia tertawa. Nitayanatam, 31 tahun, hanya tersenyum dan memberi isyarat dengan melambaikan telapak tangan, ketika saya tanya apakah ia bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, Nitayanatam sedang menggelar sembahyang pertama. Setiap hari, ia wajib menyelenggarakan lima kali sembahyang di dalam pura. ‘’Ada atau tidak ada umat yang datang ke pura, dia wajib menggelar sembahyang lima kali sehari di pura,’’ kata T Rajan, sesepuh Hindu India di Batam. T Rajan menambahkan, umat Hindu India lebih senang mengunakan istilah kuil daripada pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan Hindu India, menjadi Siwachariar seperti Nitayanatam tidaklah mudah. Persyaratannya amat ketat. Kata T Rajan, dari empat kasta yang ada di India (Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra) hanya orang yang terlahir dari Kasta Brahmana saja yang punya hak jadi Siwachariar. Kasta Brahmana adalah kasta tertinggi. ‘’Orang dari kasta lain meskipun punya sertifikat pendidikan agama, tidak akan pernah jadi Siwachariar,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Brahmin, sebutan bagi kalangan dari Kasta Brahmana, menurut T Rajan, memiliki ciri khas yang tak dimiliki kasta lain. Mereka adalah orang-orang yang sejak kecil sudah menjalani dan mendalami kehidupan agama. ‘’Ciri lain, sejak lahir mereka hanya makan sayur,’’ ujar T Rajan. Karena itulah, para Siwachariar tumbuh jadi vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi kaum Brahmin inilah yang banyak mewarnai Hindu India atau Hindu Srilalitha. Sesajen yang mereka gunakan untuk sembahyang, misalnya, semuanya dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. ‘’Tidak ada yang dari makhluk bernyawa, bahkan telur pun tidak,’’ kata T Rajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penganut Srilalitha yang bukan berasal dari Kasta Brahmana pun ikut arus tradisi ini. Mereka jadi vegetarian. Jika makan daging, ada perasaan bersalah dalam diri. ‘’Biasanya, setelah makan daging lalu pergi ke kuil, kita nggak berani masuk, karena rasa bersalah,’’ T Rajan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetarian, menurut T Rajan, bermakna kasih sayang bagi semua makhluk bernyawa. Itu tercermin pula dari kebiasaan tidur mereka. Jika tidur, kata dia, mereka tak pernah mepet ke dinding kamar. Selalu memilih tempat di tengah ruangan. ‘’Tujuannya kalau ada binatang masuk mereka bisa lewat. Karena binatang, seperti ular atau kalajengking biasanya memilih bagian pinggir ruangan,’’paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diangkat menjadi Siwachariar, seorang anggota kaum Brahmana harus menempuh pendidikan agama hingga sepuluh tahun lamanya. ‘’Setelah itu, mereka dinobatkan melalui upacara dhiksa,’’ kata Wayan Catra Yasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih hidup sebagai Siwachariar sama artinya meninggalkan keduniawian. Sebab hampir seluruh waktu yang mereka miliki dihabiskan untuk beribadah. T Rajan menjelaskan, seorang Siwachariar sudah harus bangun sebelum pukul 02.30 dini hari. Hingga pukul 05.00 pagi, ia wajib menggelar ibadah yang disebut Siwapuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Siwachariar harus berangkat ke kuil. Sebab mulai pukul 06.00 hingga 08.30 ia sudah harus menyelenggarakan ibadah di sana. Ibadah kemudian digelar lagi pada pukul 11.00 sampai 12.00. Antara pukul 16.30 sampai 18.00 ritual kembali berlangsung. Doa-doa dipanjatkan lagi pada pukul 18.30 hingga 19.30. Ibadah penutup berlangsung pada pukul 20.00 hingga 20.30. ‘’Tiap hari seperti itu,’’ kata T Rajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan Catra Yasa menambahkan, selain ritual rutin tersebut, masih ada sejumlah ibadah lain yang harus dipimpin oleh Siwachariar pada waktu-waktu tertentu. ‘’Misalnya, ibadah khusus tiap Jumat sore yang diikuti ibu-ibu, yang isinya mendoakan keselamatan suami,’’katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;MALAM merambat di Kompleks Pura Agung Amerta Buana. Pukul 20.30, usai sudah ibadah terakhir hari itu yang digelar Nitayanatam Siwachariar. Saatnya pulang ke rumah. Beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selembar tikar yang biasa digunakan sebagai alas tidur, sudah menanti untuk melepas penat setelah seharian menunaikan ibadah. Ya, hanya selembar tikar itulah yang dimiliki Nitayanatam walau ia menetap di sebuah rumah mewah, yang dikontrakkan umat untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sebagai Siwachariar, seorang yang punya kedudukan terhormat dan dimuliakan, jangan bayangkan ia tidur di kasur empuk, layaknya para pejabat atau tokoh-tokoh politik yang berebut ingin terlihat mulia di mata rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwachariar, kata Wayan Catra Yasa, selain melambangkan kemuliaan, juga teladan kesederhanaan hidup. ‘’Itu simbol ia meninggalkan keduniawian yang identik dengan kemewahan,’’ kata Wayan. Karena itu, setiap orang yang diangkat sebagai Siwachariar, pastilah tidur di atas tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan menggarisbawahi, pemilihan Perumahan San Dona yang tergolong mewah sebagai tempat tinggal Siwachariar, semata-mata karena alasan kedekatan dengan pura. ‘’Siwachariar bisa tinggal di mana saja, tapi ini yang paling dekat dengan pura,’’ katanya. San Dona memang satu-satunya perumahan yang berdampingan dengan kompleks Pura Agung Amerta Buana. Perumahan lain jaraknya cukup jauh dan harus ditempuh dengan berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, seorang Siwachariar tidak diperkenankan mengendarai sepeda motor atau menyetir mobil. ‘’Ia tak boleh mengemudikan mobil atau mengendarai motor. Meskipun sebelum jadi Siwachariar ia mahir menyetir mobil,’’ kata Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah makan pun ada tradisinya. Seorang Siwachariar setiap makan, makanannya selalu dialas pakai daun pisang. Mengenai hal ini, T Rajan mengatakan, bahwa makan beralas daun pisang adalah tradisi India. ‘’Ke mana pun mereka pergi, makan selalu dialas pakai daun pisang. Kalau di daerah yang mereka kunjungi tidak ada daun pisang, maka harus dicari daun pengganti yang diniatkan sebagai daun pisang. Misalnya, daun jati atau daun jarak,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut T Rajan, masyarakat India meyakini daun pisang mengandung disinfektan yang bisa menyembuhkan rupa-rupa penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pendapat yang menyebutkan, bahwa seseorang yang telah diangkat sebagai Siwachariar tidak boleh menikah. Akan tetapi, T Rajan menyangkalnya. ‘’Kalau tidak menikah bagaimana ia punya keturunan, sementara agama ini harus ada yang melanjutkan,’’ katanya. Seorang Siwachariar hanya diperkenankan menikah dengan sesama kuam Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup semata-mata untuk ibadah dengan berbagai ketentuan yang mesti dijalaninya, segala keperluan Siwachariar disediakan oleh umat. Dana operasional, seperti pembelian buah dan sayuran untuk sesajen dan makan, dihimpun melalui dana punia. ‘’Dana ini berasal dari umat yang dilayani, yang dikumpulkan melalui kotak-kotak amal yang disediakan di dalam pura,’’ ujar Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;KOMPLEKS Pura Agung Amerta Buana berdiri di atas lahan seluas dua hektare. Selain berbatasan dengan Perumahan San Dona dan Jalan Gadjah Mada, di sebelah utara bersebelahan dengan lapangan golf Southlinks. Tempat peribadatan, baik Pura India maupun Bali, berada di bagian atas area kompleks yang berupa dataran tinggi. Dari sini memandang ke bagian belakang pura mata kita disuguhi laut dan padang golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun sekitar 40 anak tangga ke bawah, terdapat Restoran Kak Dadut. ‘’Pura juga berfungsi sebagai kegiatan ekonomi. Restoran Kak Dadut inilah wujudnya,’’ kata I Wayan Catra Yasa. Selain fungsi ritual dan ekonomi, pura, kata dia, juga sebagai wahana budaya dan pendidikan. ‘’Karena itu, di sini juga dibangun sekolah minggu,’’ Wayan menambahkan. Tiga fungsi itu, disebut tiga mandala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks peribadatan ini selesai dibangun 16 Juni 2004. Hanya saja, ketika itu, Pura Srilalitha belum ada. Umat Hindu India di Batam masih menggunakan sebuah ruang di Blok W, Dormitori, Kawasan Industri Batamindo, sebagai sarana ibadah. ‘’Mayoritas umatnya di Batam adalah ekspatriat yang bekerja di Batamindo dan perusahaan galangan kapal,’’ kata Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan yang kini mengelola usaha sendiri bersama keluarganya, sebelumnya juga bekerja di Kawasan Industri Batamindo. Ia menjemput rezeki di PT Seagate Indonesia, perusahaan asing yang memproduksi hard disk komputer. Di perusahaan yang kini sudah relokasi ke Malaysia itu, Wayan berkenalan dengan Devarajan Prakash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Prakash, Wayan menawarkan untuk membangun sarana ibadah permanen di dalam kompleks Pura Agung Amerta Buana. ‘’Saya berpikir, dengan adanya Pura India di sini, maka umat Hindu India yang cukup banyak di Singapura dan Malaysia akan datang ke sini, berwisata religius. Mereka menginap di hotel, menumpang taksi, makan di restoran, ini pemasukan bagi Batam,’’ kata Wayan menuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut. Prakash yang beristrikan perempuan asal Sumatera Utara, menerima tawaran tersebut. Pada April 2005, Pura Srilalitha mulai dibangun. Sundar Babu, salah seorang petinggi PT Bulpakindo, perusahaan alat berat di Sekupang, adalah donatur terbesar kala itu. ‘’Pura diresmikan pada tanggal 11 Desember 2005,’’ kata Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita Wayan untuk menarik kunjungan pengikut Hindu India ke Batam, akhirnya kesampaian. Saban Sabtu dan Minggu puluhan orang menyeberang dari Singapura hanya untuk bersembahyang di Pura Srilalitha. Jumlah kunjungan bisa melinjak tiga kali lipat, bila di sana sedang digelar upacara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prakash, di Batam saja saat ini jumlah pengikut Hindu India sekitar 800 orang. ‘’Mayoritas adalah ekspatriat,’’ kata pria yang sudah bekerja di Batam sejak tahun 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakash mengakui potensi kunjungan penganut Hindu India dari Singapura dan Malaysia ke Batam sangat tinggi. Populasi mereka di kedua negara tetangga itu cukup besar. Wikipedia mencatat, dari 4,5 juta penduduk Singapura, 7,3 persen berasal dari etnis India, dan pemeluk Hindu di negara kota itu sebanyak 3,3 persen. ’Karena itu kami bekerja sama dengan Dinas Pariwisata. Kami akan menggelar even-even untuk menarik mereka lebih banyak lagi ke sini, salah satunya mengadakan Festival Deepavali dalam waktu dekat ini. Hubungan kita dengan pemerintah sangat baik,’’ katanya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7927666093926007925?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7927666093926007925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7927666093926007925' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7927666093926007925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7927666093926007925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/10/di-rumah-mewah-pun-tidur-beralas-tikar.html' title='Di Rumah Mewah Pun Tidur Beralas Tikar'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SPCopNUUsxI/AAAAAAAAADE/egv1hh3pEaQ/s72-c/Pura+5+f.Iman+Wachyudi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-4059006493671508561</id><published>2008-09-13T01:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:10:38.967-08:00</updated><title type='text'>Kumpul Kebo dan Telanjang Bulat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SMt9A4gZ2iI/AAAAAAAAAC0/lGbRfUWeHY4/s1600-h/Moraliti-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245423645124844066" src="http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SMt9A4gZ2iI/AAAAAAAAAC0/lGbRfUWeHY4/s400/Moraliti-1.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;SEJAUH mana aparat negara diperbolehkan memasuki ruang pribadi seseorang? Belakangan di benak ku pertanyaan itu terus mengentak. Setidaknya dalam dua pekan pertama Ramadan 2008 ini, sejak polisi gencar merazia sejumlah rumah kos di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Alasan polisi, seperti sudah sering kita baca di koran -dan makin terdengar klise, memberantas pelanggaran susila di tengah masyarakat. Dan, bulan Ramadan selalu dijadikan momentum penegakan hukum susila, -emangnya di luar bulan Ramadan peraturan kesusilaan tidak harus ditegakkan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pertanyaan pertama, apakah dibenarkan aparat pemerintah masuk ke rumah-rumah penduduk, lalu memeriksa surat nikah, dan jika ditemukan dua manusia beda kelamin tidak punya surat nikah, digiring ke kantor polisi dengan tuduhan kumpul kebo. Padahal, saat polisi datang mereka tidak sedang berhubungan seks dan tidak ada laporan warga sekitar kalau mereka kumpul kebo. Bagaimana membuktikan bahwa mereka benar-benar kumpul kebo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak percaya ada peraturan hukum segila itu di negara ini: menggeledah rumah penduduk dan kamar pribadi orang hanya sekedar mencari pelanggaran susila, tanpa didukung bukti awal. Tapi, okelah, jika memang ada peraturan yang membenarkan polisi bertindak seperti itu, lalu kenapa yang dirazia hanya tempat kos murahan yang ada di ruko-ruko dan gang sempit. Kenapa nggak sekalian periksa kamar-kamar di asrama polisi, siapa tahu di sana juga ada yang kumpul kebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakai logika awam saja (atau barangkali polisi kita pura-pura bego), potensi kumpul kebo tidak hanya ada di kos-kosan kelas comberan itu saja. Ia ada di mana saja. Di perumahan-perumahan mewah yang dihuni para ekspatriat dan konglomerat. Juga di hotel-hotel berbintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tahu, di kamar-kamar hotel (di Batam) hampir tiap hari ada saja tamu yang bawa PSK. Bahkan ada yang sengaja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in &lt;/span&gt;hanya sekedar untuk tidur dengan PSK. Apa itu tidak kumpul kebo? Lalu, kenapa juga polisi tidak menyisir satu per satu kamar hotel berbintang atau rumah-rumah mewah itu? Buruan, Ramadan sudah hampir habis lho, nanti Anda kehilangan momentum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mendukung tumbuh kembangnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kumpul kebo &lt;/span&gt;(sebenarnya istilah ini siapa yang ciptakan?). Aku setuju peraturan kesusilaan (di tempat umum) harus ditegakkan dan pornografi diberantas. Tapi, jika negara terlalu jauh mngorek-ngorek kehidupan pribadi warganya, apakah itu tidak keterlaluan. Masalah susila adalah masalah moral dan norma. Ia sesuatu yang berbeda dengan masalah pidana dan perdata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh kasus &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;telanjang bulat &lt;/span&gt;saja. Jika seorang manusia waras bertelanjang bulat di tempat umum, di mall atau di pasar misalnya, jelas itu sebuah pelanggaran kesusilaan. Oke, kita dukung aparat untuk menindaknya! Tapi, jika si manusia waras tadi bertelanjang bulat di kamar mandi di rumahnya, atau di kamar tidurnya setelah ia mandi, apakah ini juga pelanggaran susila? Toh, sama-sama telanjang dan sama-sama warasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan mencuri. Mencuri di tempat umum atau di tempat yang sunyi sepi tanpa satu orang pun yang melihatnya, tetap adalah pelanggaran hukum pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika sesuatu yang dianggap melanggar susila itu terjadi di area pribadi, di tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh mata publik, di tempat yang amat rapat dan tertutup (mungkin hanya Tuhan dan malaikat yang tahu), tidak perlulah diurus oleh aparat negara. Toh tidak meresahkan orang banyak. Tidak mengganggu ketertiban umum. Itu adalah urusan pribadi orang-orang yang melakukannya. Hukumannya adalah dosa. Dan yang menanggungnya adalah mereka yang berbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, masih banyak masalah yang lebih penting yang mesti ditangani polisi. Cobalah polisi bantu bongkar-bongkar kasus suap-menyuap di lembaga legislatif; menangkap pengusaha yang membeli BBM bersubsidi untuk kepentingan industri mereka sehingga membuat BBM langka dan harganya menggila; menangkap para petugas yang melakukan pungli di loket-loket pengurusan izin usaha, SIM dan pajak; dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku sedih juga, bulan Ramadan selalu dijadikan alasan untuk melakukan ini dan itu, yang menurut orang yang melakukannya tujuannya adalah demi kebaikan orang banyak. Oh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;come on, Man! &lt;/span&gt;Berbuat baik tidak mesti di bulan Ramadan. Tidap detik sepanjang napas masih bisa dihela, apakah itu bulan Ramadan atau tidak, berbuat baik dan menegakkan kebenaran adalah kewajiban. Jangan bulan Ramadan ''digadaikan'' hanya sekedar untuk mendapatkan predikat sebagai aparat yang religius di mata umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, berbuat baik serta menegakkan kebenaran itu haruslah adil. Jangan hukum hanya ditegakkan pada mereka yang tak berdaya untuk memberikan perlawanan. Jangan aparat hanya berani tegas kepada mereka yang nggak ngerti apa-apa tentang hukum. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-4059006493671508561?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/4059006493671508561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=4059006493671508561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4059006493671508561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4059006493671508561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/09/kumpul-kebo-dan-telanjang-bulat.html' title='Kumpul Kebo dan Telanjang Bulat'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SMt9A4gZ2iI/AAAAAAAAAC0/lGbRfUWeHY4/s72-c/Moraliti-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7151109721282604400</id><published>2008-09-02T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:10:56.197-08:00</updated><title type='text'>Dua Minggu Bersama Kelly</title><content type='html'>PERTENGAHAN Juli lalu, selama dua minggu, aku menemani perjalanan jurnalistik Kelly McEvers keliling Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Kelly adalah wartawan radio independen yang berbasis di New York. Ia juga seorang penulis freelance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ini merupakan kunjungan perdana Kelly ke Batam, walau begitu Indonesia bukan tempat yang asing bagi perempuan yang kini berusia 37 tahun itu. Sebelumnya, Kelly kerap datang ke Jakarta. Selain melakukan kerja jurnalistik, ia juga memberi pelatihan dan pendidikan jurnalistik yang diadakan Pantau dan Indonesian Association for Media Development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelly pernah membuat tulisan feature sepanjang 10.000 kata tentang kehidupan istri Ali Ghufron alias Mukhlas, salah satu tersangka Bom Bali I. ''Butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkan bahan tulisan itu,'' katanya. Ia 'memburu' Faridah, perempuan yang memberi Ali Ghufron dua orang anak itu dari Jombang, Solo, Surabaya, hingga ke Malaysia. ''Perburuan yang menegangkan dan mengasyikan,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh hasil liputan bernilai tinggi, Kelly diberi dukungan dana tak terbatas oleh kantornya. Hanya saja, laporan pengeluarannya selama melakukan peliputan harus transparan dan bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, apa pun kegiatan yang mengeluarkan biaya, Kelly selalu meminta bukti pembayaran. Pelayan sebuah kedai kopi di pelantar Belakangpadang sempat kalang kabut ketika ia meminta bon, setelah kami singgah di situ untuk minum dua gelas teh obeng (es teh manis), satu gelas teh susu dan sepotong prata. ''Belum pernah ada orang minum teh obeng minta bon,'' kata pelayan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karcis pancung (perahu mesin tempel) yang kami naiki bolak balik ke Belakapngpadang pun ia simpan rapi. Kepada tiap sopir taksi yang kami tumpangi ia selalu minta tanda tangan bukti pembayaran yang sudah ia siapkan. ''Saya bikin bukti pembayaran sendiri, sebab taksi di sini tak pernah punya kuitansi,'' ujarnya. Selama di Batam ia nginap di hotel bintang empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dukungan dana, kantornya pun memberi sarana kerja kelas satu. Sebagai wartawan radio, ia dibekali alat perekam canggih keluaran terbaru. Alat itu bisa menyaring suara bising yang ditimbulkan oleh kendaraan atau hiruk pikiuk manusia yang menggangu pembicaraan narasumber. Aku tanya harganya, Kelly tertawa. ''Coba tebak berapa menurut kamu?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kerusakan alat kerja selalu direspon dengan cepat oleh kantornya. ''Ini adalah nyawa wartawan,'' katanya sambil mengacungkan mikropon alat perekam miliknya. ''Tanpa ini, kamu nggak bisa kerja. Semua bukti kalau kamu bekerja ada di sini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari di Batam mikropon alat prekam itu sempat ngadat. Ia lalu brkirim email ke kantornya di US minta ganti yang baru. Malam itu juga kantornya membalas email tersebut, mempersilakan Kelly mencari mikropon baru. Biayanya akan diganti etelah ia pulang. Ia juga diberi kamera poket dengan kekuatan 8 mega piksel. Dan tentu saja gaji bulanan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pancung dalam perjalanan pulang dari Belakangpadang menuju Batam, aku melamun membayangkan bagaimana suasana redaksi tempat Kelly bekerja dan orang-orang di sekitarnya. Pastilah sangat jauh berbeda dengan atmosfer kerja media di Tanah Air kita. Di sana, pasti tidak ada lagi keluhan soal kesejahteraan. Atau atasan yang menanggapi keluh kesah wartawan soal kesejahteraan, dengan jawaban yang aneh: ''Ah, pandai-pandailah kalian di lapangan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat juga terlintas di pikiranku, di sana pastilah tidak ada wartawan yang risau dan gelisah memikirkan berita-berita buruk tentang narasumber yang sudah berubah jadi donatur hidup mereka. Barangkali juga, di sana, tidak ada wartawan yang resah menunggu koran datang di pagi hari hanya sekedar mengetahui apakah berita berbau "wangi" yang diketik kemarin petang terbit atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku makin jauh. Aku mereka-reka, di sana, pastilah para redakturnya orang-orang yang piawai menyusun perencanaan dan pengembangan isu. Pasti di sana tidak ada -meminjam istilah bos Jawa Pos Dahlan Iskan- ''redaktur tukang pungut'' alias '"redaktur pemulung''. Yaitu, redaktur yang menjadikan kerja jurnalistik sebagai kerja rutin, bukan kerja kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Dahlan, redaktur seperti ini hanya datang pada sore hari. Lalu duduk di depan komputer dan bertanya pada reporternya, ''Apa beritamu hari ini?'' Padahal, pertanyaan itu seharusnya ia tanyakan di pagi hari sembari memberi gagasan tambahan. ''Pada pagi hari, redaktur sudah bisa membayangkan halamannya akan diisi berita dan foto apa,'' kata Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan biar terlihat bekerja di mata atasan dan terkesan hebat di mata reporter, ''redaktur pemulung'' suka memarah-marahi reporter atas sebuah kesalahan yang tidak esensial sekalipun. ''Kamu nggak ngerti ya bikin berita yang benar,'' begitu biasanya si redaktur memarahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Seolah-olah ia sudah ngerti benar bikin berita yang benar. Padahal, ia sendiri nggak pernah kasih contoh reporternya bikin berita yang benar. Lha dia sendiri nggak pernah nulis,'' kata Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BRAK! Suara ujung pancung bertabrakan dengan dermaga Pelabuhan Sekupang membuyarkan lamunan saya. ''Saya masih harus memburu banyak sumber lagi. Yang tadi belum cukup. Besok kita jalan lagi,'' kata Kelly, begitu menginjakkan kaki di Pulau Batam. Padahal, sebelumnya kami sudah bertemu satu narasumber utama dan satu narasumber pendamping sebagai tempat verifikasi data yang disampaikan narasumber utama. Saya pikir itu sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menilik standar kerja media di negeri kita, bahan yang dikantongi Kelly adalah bahan yang sudah layak tulis untuk publikasi. Tapi, kata Kelly, ''Itu baru lima persen saja dari yang saya inginkan. Hasil kerja saya harus 110 persen.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kelly, dukungan dan perhatian perusahaan yang luar biasa harus dibayar dengan kesungguhan. Ia punya standar tinggi untuk menentukan sebuah liputan bisa dikatakan layak tayang atau tidak. Untuk meyakini kebenaran fakta yang disampaikan narasumber, ia harus melakukan verifikasi berlapis. Bahkan sampai empat kali. Ia belum berani pulang ke negaranya jika menurut dia hasil liputannya belum memuaskan. ''Saya malu,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunjukkan dirinya sebagai wartawan dengan jam terbang tinggi, yang telah meliput di 29 negara di lima benua. ''Walau sudah sampai ke Afrika dan ujung Asia, tapi saya belum pernah ke Kanada. Padahal Kanada sebelahan dengan Amerika,'' katanya tertawa. Kelly punya pengalaman ditahan saat meliput di Rusia dan Kamboja. Pengalaman itu memperkuat mentalnya di lapangan. Gertak sambal dan ancaman orang-orang yang baru dijumpainya, sedikitpun tak membuat nyalinya ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berkunjung ke sebuah pulau tua tak jauh dari Belakangpadang, seorang pria yang menasbihkan dirinya sebagai ketua pemuda, mencegat langkah kami sesaat setelah turun dari pancung. ''Kalau mau foto dan wawancara orang-orang di sini lapor dulu pada saya,'' ujar si ketua pemuda tadi dengan wajah seram. Tapi Kelly bergeming. ''Dia tak punya hak melarang kita melakukan kerja jurnalistik. Negara Anda punya hukum bukan?'' katanya pada saya. Lalu, ia menghampiri seorang warga dan bertanya apa saja. Dari kejauhan si ketua pemuda hanya memandang dengan wajah gemas. ''Kamu harus yakin, jika kamu melakukan sesuatu secara benar, hukum akan melindungimu,'' ujarnya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping jam terbang tinggi, Kelly hidup dalam keluarga wartawan. Suaminya adalah wartawan majalah Rolling Stone. Kekayaan pengalamannya bekerja sebagai wartawan terlihat dari cara ia menggali cerita narasumber. Ia selalu memberikan kesempatan narasumbernya bercerita lebih lama. Ia jarang memotong, meski kadang cerita si narasumber agak ngelantur. ''Biarkan saja. Siapa tahu ada yang menarik dari cerita dia (yang ngelantur) itu,'' katanya ketika saya memberi tanda kepadanya untuk menghentikan cerita si narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia baru mengajukan pertanyaan setelah narasumber berhenti bicara. Dan memang tak jarang, ia mendapat informasi baru untuk pengembangan topik liputannya justru dari pembicaraan narasumber yang ngelantur itu. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, yang semula dianggap penting, yang diajukan justru hanya jadi data pelengkap saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, ia tak pula sungkan mencecar dan menekan narasumbernya untuk memberikan keterangan yang detil dan konkret. ''Saya tidak menginginkan jawaban itu dari Anda. Yang saya tanyakan adalah ......''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali setelah mendapat jawaban dari seorang narasumber yang menceritakan soal keterlibatan Mr X dalam sebuah kasus, Kelly terus mengajukan pertanyaan apakah si narasumber bisa mempertemukannya dengan Mr X itu. ''Di mana dia sekarang, Bisakah Anda pertemukan dia dengan saya,'' kata Kelly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati si narasumber menjawab sulit, Kelly terus mengajukan pertanyaan itu. Berulang-ulang. Kadang ia menyelingi dengan satu atau dua pertanyaan lain, setelah itu permintaan itu ia tanyakan lagi. Jika Anda ada di sana pada saat itu, barangkali Anda gusar dan bosan mendengarnya. Saya yang menemaninya wawancara kadang merasa sungkan dan tak enak hati kepada narasumber yang ditemuinya. Tapi Kelly ngotot saja. Tak ada pilihan lain, saya mencoba berbaik sangka saja. Barangkali ini soal perbedaan budaya semata. ''Saya tahu dia bisa, tapi dia berusaha menyembunyikannya,'' katanya. Dari mana ia bisa tahu? ''ekspresi dan bahasa tubuhnya,'' katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematangan juga ditunjukkan Kelly lewat sikap skeptis dan kecurigaannya terhadap setiap keping fakta yang diperoleh. ''Saya nggak percaya pada cerita dia. Feeling saya mengatakan dia berbohong,'' katanya usai berbincang dengan seseorang tentang sebuah topik di Nagoya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mencari teman-teman dan orang-orang yang kenal dengan narasumber tersebut dan tahu dengan masalah yang diceritakan narasumber itu. Hasilnya: tiga orang yang ditemui mengatakan, mayoritas cerita yang diungkap si narasumber tadi, adalah bohong belaka. ''See, what i said,'' katanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia berpesan, ''Jangan pernah percaya pada apa yang diceritakan orang, sebelum kamu benar-benar membuktikannya, sebelum kamu memverifikasinya. Tanggung jawab wartawan adalah menyampaikan kebenaran.'' ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7151109721282604400?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7151109721282604400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7151109721282604400' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7151109721282604400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7151109721282604400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/09/dua-minggu-bersama-kelly.html' title='Dua Minggu Bersama Kelly'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-8349774577001086418</id><published>2008-08-29T21:36:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:11:13.654-08:00</updated><title type='text'>Para Pencari Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLjR90Gr4PI/AAAAAAAAACs/4V-hdR-YOiE/s1600-h/prayer.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240169026334482674" src="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLjR90Gr4PI/AAAAAAAAACs/4V-hdR-YOiE/s320/prayer.jpg" style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SYAFRIL Ahmad mendekatkan ujung telunjuk tangan kanannya ke mulut. Bibirnya dijulurkan ke luar. Sobekan cabe dan remah-remah nasi yang ada di telunjuk itu dan empat jari lainnya bersih seketika. ''Alhamdulillah,'' katanya, disusul sebuah sendawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tiga temannya masih menyuap nasi. Mereka duduk melingkar di depan sebuah wadah bulat warna merah pudar. Wadah dari bahan plastik itu disekat-sekat dalam empat bagian. Di tengahnya ada lingkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada empat sekat itulah nasi masing-masing orang diletakkan. Sedangkan di lingkaran bagian tengah, aneka lauk ditumpuk di situ. Sepotong telor dadar, sejumput teri dan kacang goreng, menu andalan Syafril dan rekan-rekan siang itu. Hawa sejuk teras belakang Masjid Baiturrahman Sekupang dan tiupan angin sisa hujan, selepas salat Dzuhur Selasa lalu, membuat suasana makan terasa nikmat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafril beranjak dari tempat duduknya. Menuruni lima anak tangga dari keramik warna cokelat, menuju kran tempat berwudhu. Ia mencuci tangannya di situ. Mulutnya komat kamit melafal dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah rak warna hitam, tak jauh dari tempatnya mencuci tangan, ia mengambil ransel ukuran besar. ''Bekal di perjalanan,'' katanya, sembari memeriksa isi kantong yang biasa digunakan para pendaki gunung itu. Tiga temannya telah pula menyelesaikan makan. Salah seorang di antaranya, langsung mencuci wadah makanan. ''Kita turun ke bawah,'' kata satu teman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Masjid Baiturrahman yang berada di puncak bukit, mereka turun ke Kantor Bank Mandiri Sekupang. Di ruang tunggu loket pembayaran rekening PLN, di samping ATM Mandiri, Syafril dan teman-teman menyapa satu per satu warga yang duduk di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Berapa tagihannya bulan ini, Pak?'' tanya dia pada salah seorang warga yang duduk di pojok ruang tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Rp180 ribu,'' kata bapak itu sekenanya. Sepertinya ia enggan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Alhamdulillah, Bapak masih diberi rizki oleh Allah untuk dapat penerangan bulan ini,'' kata Syaril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari mengutip sejumlah ayat dan hadis, Syafril menjelaskan manfaat rizki yang halal bagi manusia. ''Tidak ada orang yang ditutup pintu rizkinya oleh Allah. Bahkan orang-orang yang berkhianat pun masih diberi rizki. Allah Maha Pengasih Maha Pemberi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafril dan rombongannya adalah anak-anak muda yang saban hari melangkahkan kaki ke setiap jengkal tanah yang diciptakan Tuhan, untuk mensyiarkan agama. Mereka mengukuhkan agama Tuhan dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain. Kepada setiap manusia yang mereka jumpai di mana saja di kolong langit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka masam dan makian dari beberapa orang yang menolak kehadiran mereka, adalah sisi lain dari safari mereka. ''Itu biasa. Rasul saja, pernah diludahi orang karena menegakkan agama Allah, bahkan ditodong pedang,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah dan dakwah. Hanya itu yang dikerjakan Syafril dan teman-temannya. Mereka tak hirau dengan hiruk pikuk agenda politik di Tanah Air saat ini. Bagi mereka, urusan duniawi ada tempatnya sendiri. Siapa saja boleh terpilih memimpin negeri ini, sepanjang berpihak pada hukum Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka larut dalam nikmatnya dakwah, hingga "lupa" bergibah: menggunjingkan dan membincangkan keburukan orang lain yang kini meruyak di tengah kehidupan sehari-hari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak ingin mencampuri otoritas Tuhan soal baik buruknya isi hati seseorang, sebab hanya Tuhan yang tahu persis isi hati dan niat yang ada di kepala umatnya.  ''Hati seseorang itu bersih atau kotor, hanya Allah yang tahu. Kami hanya menyampaikan pesan Allah,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pula mereka risau dengan materi. Sebab mereka yakin rizki Allah tak bertepi, sehingga tak perlu menyikut teman, mencelakakan saudara, memfitnah orang lain, dan menggadaikan harga diri demi selembar atau segepok uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menyebut sosok seperti Syafril ini sebagai Jamaah Tabligh. Ciri khas mereka adalah mengenakan baju gamis, songkok kepala, dan celana yang kakinya digulung hingga di atas mata kaki. Kemana-mana mereka memikul ransel besar. Di dalammya, semua bekal perjalanan tersimpan. Kata Syafril, selain peralatan makan, ada juga yang bawa kompor dalam ransel. ''Kita bisa berhenti di mana saja. Rumah Allah itu sangat luas,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafril tak tahu sampai kapan ia punya energi menjalankan dakwah seperti ini. Yang jelas, kata lelaki asal Agam Sumatera Barat ini, ''Sudah sepuluh tahun saya ikut berdakwah.'' Di usianya yang ke-35 tahun, sudah banyak tempat yang disinggahi Syafril. Ia pernah ke Ambon, Pontianak, Palu, Malaysia hingga Thailand Selatan. ''Ke mana saja sepanjang Allah meridhoi,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi dakwah, beberapa di antara mereka ikhlas berpisah dengan anak, istri dan orang-orang yang mereka cintai. Syafril, misalnya, saat berada di Ambon tahun 1999, hampir dua tahun tak bertemu anak istri yang menetap di Jakarta. ''Mereka ikhlas. Semua demi agama Allah,'' katanya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-8349774577001086418?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/8349774577001086418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=8349774577001086418' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8349774577001086418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/8349774577001086418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/08/para-pencari-tuhan.html' title='Para Pencari Tuhan'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLjR90Gr4PI/AAAAAAAAACs/4V-hdR-YOiE/s72-c/prayer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-2028128677750639283</id><published>2008-08-28T07:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:11:29.503-08:00</updated><title type='text'>Calon Pemimpin</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLa6DdVPBVI/AAAAAAAAACk/zDAwNJoe_oU/s1600-h/leader.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239579785068217682" src="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLa6DdVPBVI/AAAAAAAAACk/zDAwNJoe_oU/s320/leader.gif" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TAHUN 2002 Presiden Megawati Soekarnoputri menandatangani kontrak jual beli gas alam cair (LNG) yang diproduksi di  Lapangan Tangguh, Papua dengan Pemerintah China.  Mega, yang mengaku sangat nasionalis itu, sepakat memberikan harga jual kepada China sebesar 3,3 dolar AS per MMBTU. Masa kontrak berlaku selama 20 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seperti dilaporkan banyak media, dalam perjanjian itu, Mega yang kini mencalonkan diri lagi jadi presiden, tidak  mencantumkan klausul  umum yang berlaku dalam kontrak jual beli gas dunia, yaitu,  harga gas akan mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Artinya, harga 3,3 dolar AS per MMBTU itu adalah harga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, harga gas di pasar dunia, seiring melonjaknya harga minyak mentah, mencapai 20 dolar AS per MMBTU.  Dengan klausul kontrak yang seperti itu, jelas bangsa ini rugi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warga negara, yang pernah dipimpin oleh Megawati, aku kadang tanya-tanya dalam hati (karena nggak bisa tanya langsung sama Megawati), apa yang ada di benaknya saat proses negosiasi harga berlangsung? Kesannya, kok segampang itu pemimpin kita dikadali oleh China. Ini sejarah yang benar-benar memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Wikipedia disebutkan, perdagangan LNG sebagian besar dilakukan berdasarkan kontrak jangka panjang 20 tahun atau lebih. Meskipun demikian, saat ini juga telah terdapat kontrak jangka menengah 3 sampai 10 tahun. Kenapa Megawati nggak milih kontrak jangka menengah, apabila klausulnya mati seperti itu. Emangnya nggak mikir apa ya kalau harga minyak dunia itu sangat fluktuatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megawati, siapa juru bisik Anda saat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku hanya bisa bilang, kalau pun menggunakan hak pilih pada pemilihan presiden 2009 nanti, nggak bakalan aku milih Megawati.  Aku juga sarankan Anda untuk tidak memilih (calon) pemimpin seperti ini. Kita perlu pemimpin yang integritasnya punya wujud, bukan sebatas kata-kata. Pemimpin yang ketika kekeliruannya terungkap tak hanya sibuk membela diri dan menyeret-nyeret orang lain, melainkan tampil mengakui kekhilafan dan memberi penjelasan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-2028128677750639283?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/2028128677750639283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=2028128677750639283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2028128677750639283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2028128677750639283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/08/calon-pemimpin.html' title='Calon Pemimpin'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SLa6DdVPBVI/AAAAAAAAACk/zDAwNJoe_oU/s72-c/leader.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7654644857201618977</id><published>2008-08-06T21:00:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:11:47.304-08:00</updated><title type='text'>Di Atas Langit Ada Langit</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SJpz-UkKLuI/AAAAAAAAACc/VWcP-osjkAk/s1600-h/journalist.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231621431653707490" src="http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SJpz-UkKLuI/AAAAAAAAACc/VWcP-osjkAk/s320/journalist.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;SALAH satu pesan penting Bill Kovach kepada wartawan dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sembilan Elemen Jurnalisme &lt;/span&gt;yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah ''bersikaplah rendah hati''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di atas langit masih ada langit. Tak ada wartawan yang sempurna. Semua orang pernah berbuat keliru. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, sosok yang diidolakan banyak orang juga pernah keliru. Dalam Catatan Pinggir, rubrik tetapnya di Majalah Tempo, Goenawan pernah menulis Abu Thalib sebagai ayah Nabi Muhammad. Padahal, ayah Nabi Muhammad adalah Abdullah bin Abdul-Muththalib. Koreksi atas kekeliruan ini disampaikan seorang pembaca Tempo di rubrik surat pembaca majalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, Goenawan juga keliru menulis fakta, masih dalam Catatan Pinggir, bahwa Abu Bakar Ba'asyir dipenjara karena tuduhan terorisme. Padahal, Ba'asyir dihukum dalam kasus pelanggaran aturan keimigrasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya sekedar contoh. Tulisan ini tidak bermaksud mencari-cari kesalahan Goenawan, penulis dan wartawan yang paling aku kagumi di Indonesia. Tapi, seperti kata Goenawan sendiri, tak ada gading yang tak retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, kembali kepada pesan Bill Kovach tadi, menjadi rendah hati adalah penting bagi wartawan. Belakangan jika kita amati beberapa gaya penulisan di media massa, ada hal-hal yang sesungguhnya tak penting diketahui pembaca, tapi dipaksakan ada dalam tulisan dengan maksud, yang aku duga, untuk menonjolkan kehebatan si wartawan di hadapan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya: ''Untuk mewawancarai Ibu Karti, seorang bidan desa yang sudah mengabdi 20 tahun di daerah terpencil, tidak mudah. Wartawan koran ini harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan selama lima jam. Kendaraan roda dua yang ditumpangi wartawan koran ini sempat terperosok di jalan lumpur. Bahkan, kami harus menahan lapar karena tak ada warung di sepanjang perjalanan. Namun itu tak menyurutkan semangat untuk meliput.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembaca aku gondok setengah mati baca tulisan kayak gini. Aku ingin tahu kisah Ibu Karti dan pengabdiannya di desa terpencil, sebagaimana dijanjikan si wartawan kepada pembaca melalui judul tulisannya. Tapi, kenapa yang ditonjolkan (bahkan di paragraf pembuka pula) justru heroisme wartawannya? Ini onaninya sudah melampaui batas. Peran wartawan adalah sebagai story teller, bukan sebagai subjek berita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adakah cara lain untuk menggambarkan beratnya medan menuju desa tempat tinggal Ibu Karti, tanpa harus membesar-besarkan jerih payah wartawan? Misalnya: ''Jalan tanah sepanjang 10 kilometer membentang dari jalan raya Cianjur menuju Desa Cipatah. Sisa hujan semalam, menimbulkan kubangan lumpur di hampir seluruh badan jalan. Para pelintas yang mengendarai sepeda motor harus harti-hati jika tak ingin terperosok. Dengan kondisi jalan seperti ini perlu waktu lima jam mencapai Desa Cipatah.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling celaka adalah kalimat berikut, yang aku kutip dari sebuah koran di Batam: ''Saat berita ini dikonfirmasi ke Sekdaprov Kepri melalui telepon, yang bersangkutan tidak menjawab. SMS yang dikirim juga tak dibalas. Tanpa putus asa, wartawan koran ini terus berusaha mendapatkan konfirmasi dengan menghubungi Sekdaprov berkali-kali.''  Hanya mengonfirmasi lewat telepon saja, si wartawan berlagak sudah bekerja sangat keras sekali, sehingga ia harus menulis kata TANPA PUTUS ASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjerih payah untuk mendapatkan informasi bukannya sudah hakikat kerja wartawan? Seperti halnya nelayan yang berjerih payah tiap malam menyusuri riak dan gelombang untuk mendapatkan ikan. Dengan membesar-besarkan jerih payah proses mendapatkan informasi, wartawan sepertinya nggak ikhlas memberikan informasi kepada pembaca. Ingat lagi pesan Bill Kovach: rendah hatilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di kalangan wartawan sendiri, memang ada pengakuan bahwa sebagian besar di antara kita selalu merasa lebih hebat dan lebih tahu dari pembaca. Aku ingat pesan Leak Kustiya, Pemimpin Redaksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Radar Surabaya &lt;/span&gt;di halaman depan korannya: ''Pembaca sekarang makin cerdas. Bahkan lebih cerdas dari media itu sendiri,'' Aku suka pesan ini. Ini pesan yang rendah hati. Pesan yang mengingatkan kita para wartawan bahwa kita harus selalu mengoreksi dan memperbaiki diri, karena pembaca kita adalah orang-orang pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga wartawan yang suka membangga-banggakan diri kalau ia kenal dengan pejabat penting atau pengusaha kakap. Bukannya kenal pejabat, pengusaha, preman, tukang parkir, atlet, dosen, pelacur dan seterusnya adalah bagian sehari-hari tugas wartawan. Jadi, kalau wartawan kenal banyak orang itu bukan hal istimewa dan tak perlu dibangga-banggakan. Yang istimewa adalah kalau ada wartawan tak kenal siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula kalau Anda baru kenal wali kota atau bupati, wartawan lain sudah kenal akrab dengan presiden. Anda baru kenal pengusaha lokal, wartawan lain sudah kerap bertemu orang sekaliber Bill Gates. Apa yang mau dibanggakan? Di atas langit selalu ada langit. Rendah hatilah, kata Bill Kovach. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7654644857201618977?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7654644857201618977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7654644857201618977' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7654644857201618977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7654644857201618977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/08/di-atas-langit-ada-langit.html' title='Di Atas Langit Ada Langit'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/SJpz-UkKLuI/AAAAAAAAACc/VWcP-osjkAk/s72-c/journalist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1446012527177116789</id><published>2008-08-01T22:21:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:12:06.132-08:00</updated><title type='text'>Annabel Lee</title><content type='html'>APA arti puisi bagi Anda? Di mata William, rekan sebangku di sebuah SMA Katolik di Bandung tahun 1993, puisi tak punya makna apa-apa.''Puisi itu hanya untuk orang-orang cengeng,'' katanya saat mengomentari rencana seorang sahabat yang berniat mengirim kartu ucapan ulang tahun berisi puisi buat perempuan yang dikaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tapi, bukankah Chairil Anwar yang pernah menulis sebaris  kalimat menghiba ''... di pintu-Mu aku mengetuk'' adalah seorang petualang sejati, yang hidup di dunia yang keras? Chairil Anwar pasti bukan orang yang cengeng. Sebab, ia juga pernah menorehkan kata-kata yang membakar api perjuangan dalam puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antara Karawang dan Bekasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, puisi justru jadi motor perubahan. Setiap kata, menurut Goenawan Mohamad, bila ditulis dengan jujur bisa jadi penggerak dan peledak. Vaclav Havel sastrawan Cekoslovakia menggulingkan komunisme yang sudah berkarat selama 40 tahun di negara itu juga lewat puisi dan prosa-prosa yang ditulisnya. Lewat surat-suratnya yang memukau dari pengasingan di Paris, Ali Khomeini meruntuhkan diktator sekuler Reza Fahlevi di Iran. Che Guevara dan Fidel Castro, tokoh yang menggulirkan revolusi di bagian selatan benua Amerika juga menulis dan suka membaca puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri, dari kecil dulu -meski telah berupaya sekuat tenaga- tak pernah bisa menulis puisi, walau cuma sebait. Tapi jahitan kata demi kata oleh para sastrawan, yang kemudian dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia diperkenalkan sebagai puisi itu, kerap mengubah suasana hati.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, aku cuma penikmat puisi saja. Karena itu, tak semua puisi bisa aku mengerti maknanya. Terlebih yang bahasanya kelewat tinggi dan banyak metafora. Kasarnya, aku pusing baca puisi di awang-awang. Aku suka puisi yang berkisah. Tapi setiap orang, kecuali William dan beberapa lainnya, punya puisi favoritnya sendiri-sendiri. Dan puisi dari dulu hingga kini telah jadi media pengungkapan rasa (cinta, kebencian, perjuangan, dll) yang mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini puisi favoritku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Annabel Lee&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Edgar Allan Poe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was many and many a year ago,&lt;br /&gt;In a kingdom by the sea,&lt;br /&gt;That a maiden there lived whom you may know&lt;br /&gt;By the name of ANNABEL LEE;&lt;br /&gt;And this maiden she lived with no other thought&lt;br /&gt;Than to love and be loved by me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was a child and she was a child,&lt;br /&gt;In this kingdom by the sea;&lt;br /&gt;But we loved with a love that was more than love-&lt;br /&gt;I and my Annabel Lee;&lt;br /&gt;With a love that the winged seraphs of heaven&lt;br /&gt;Coveted her and me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And this was the reason that, long ago,&lt;br /&gt;In this kingdom by the sea,&lt;br /&gt;A wind blew out of a cloud, chilling&lt;br /&gt;My beautiful Annabel Lee;&lt;br /&gt;So that her highborn kinsman came&lt;br /&gt;And bore her away from me,&lt;br /&gt;To shut her up in a sepulchre&lt;br /&gt;In this kingdom by the sea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The angels, not half so happy in heaven,&lt;br /&gt;Went envying her and me-&lt;br /&gt;Yes!- that was the reason (as all men know,&lt;br /&gt;In this kingdom by the sea)&lt;br /&gt;That the wind came out of the cloud by night,&lt;br /&gt;Chilling and killing my Annabel Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But our love it was stronger by far than the love&lt;br /&gt;Of those who were older than we-&lt;br /&gt;Of many far wiser than we-&lt;br /&gt;And neither the angels in heaven above,&lt;br /&gt;Nor the demons down under the sea,&lt;br /&gt;Can ever dissever my soul from the soul&lt;br /&gt;Of the beautiful Annabel Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the moon never beams without bringing me dreams&lt;br /&gt;Of the beautiful Annabel Lee;&lt;br /&gt;And the stars never rise but I feel the bright eyes&lt;br /&gt;Of the beautiful Annabel Lee;&lt;br /&gt;And so, all the night-tide, I lie down by the side&lt;br /&gt;Of my darling- my darling- my life and my bride,&lt;br /&gt;In the sepulchre there by the sea,&lt;br /&gt;In her tomb by the sounding sea. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1446012527177116789?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1446012527177116789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1446012527177116789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1446012527177116789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1446012527177116789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/08/annabel-lee.html' title='Annabel Lee'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-3608847814557082286</id><published>2008-07-11T22:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:12:23.715-08:00</updated><title type='text'>Hidup Tak Pernah Cukup</title><content type='html'>PULANG ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor adalah saat-saat menyenangkan. Aku paling suka dengar deru napas anakku saat lelap tertidur. Posisi tidurnya sering miring ke kiri. Pipinya yang bulat jatuh ke kasur. Berada di sisinya sambil menciumi bau khas bayi, penat di badan dan hati hilang tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bagiku anak, istri, dan keluarga adalah karunia Tuhan yang paling berharga, walau kadang kita berpikir apa yang kita cari dalam hidup ini belum sepenuhnya dimiliki. Hidup memang tak pernah cukup. ''If you don't have what you like, you should like what you have,'' kata pepatah Hungaria yang saya baca di Encarta Encyclopedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan yang bekerja di perusahaan asing dan punya pendapatan lebih dari cukup mengeluh karena tekanan di tempatnya bekerja, luar biasa berat. ''Sepertinya enak jadi orang biasa daripada apa yang saya lakukan sekarang,'' katanya. ''Kalau begitu, berhenti saja,'' kataku. ''Wah, jangan deh. Jangan sekarang. Mau makan apa'' katanya. Ia rupanya belum siap jadi orang biasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat cuci motor langganan dekat rumah, Efan, salah satu tukang cuci motor di sana bertanya padaku, "Nggak kerja hari ini, Bang?" Aku jawab sedang libur. "Wah, enak ya, bisa libur. Saya kalau libur nggak bisa makan, Bang,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat teman di perusahaan asing tadi. Orang yang punya posisi hebat di perusahaan hebat mengeluh. Orang yang kerja biasa-biasa saja juga mengeluh. Tak ada orang yang tak mengeluh dalam hidup ini. Gubernur Bank Indonesia, yang gajinya mencapai Rp245 juta sebulan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan kini hidup di penjara. Saya yakin dia pasti mengeluh soal kehidupan yang sekarang dijalaninya, walau boleh jadi cadangan uang pribadi yang dimilikinya jauh berlipat-lipat dibanding utang pribadi yang aku miliki, sekedar untuk beli tiket pesawat pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kadang juga suka mengeluh dalam hati setiap kali melihat anakku tak mau turun dari mobil kakakku ketika kami bertandang ke rumahnya. Ia meronta setiap kali ditarik ke pintu. Padahal yang ia naiki adalah mobil sedang berhenti.  Aku tahu anakku sangat senang dan tergila-gila naik mobil, tapi aku belum sanggup beli mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar basah Tiban Center, aku bertemu anak perempuan yang lebih tua dari anakku menangis sambil menarik-narik baju ibunya. Telunjuk si anak mengarah ke gumpalan daging sapi segar yang digantung di sebuah kios. ''Iya, iya kita bikin sop,'' kata ibunya. Kepada pemilik kios si ibu minta tetelan seharga Rp3.500. Dengan wajah merengut pemilik kios memberikan pesanan. ''Ini,'' katanya tanpa menoleh ke ibu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ibu lalu sibuk merogoh-rogoh kantong sebelah kanan dasternya. Rupunya ia cuma punya duit Rp2.500. ''Kurangin lagi, Bang. Rp2.500 saja,'' katanya. Wajah pemilik kios tambah masam saja. ''Urgghh,'' ia menggerutu. ''Bisa-bisa dapat seupil. Harga kantongnya saja sudah lima ratus,'' pemilik kios terus mengomel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti, keadaanlah yang memaksa ibu berdaster biru itu memesan tetelan dengan harga seminim itu. Kalau punya uang lebih, ia pasti akan membeli lebih. Ia tak ingin mengecewakan anaknya. Ia coba memberi apa yang sanggup ia beri. Karena itu ia tak mempedulikan omelan pemilik kios daging. Dan pemilik kios seharusnya melayani dengan baik, walau nilai transaksi kecil sekali. Bukankah pembeli, mau punya duit segepok ataupun selembar,  adalah raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang ke kampung, akhir Juni lalu, aku dapat sebuah kabar buruk. Yuliandi, seorang kerabat yang pernah tinggal di rumah orang tuaku selama empat tahun, meninggal dunia. Ia pergi dalam usia 41 tahun. Dalam hidup yang sangat muda. Yuliandi meninggal karena serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuliandi sudah menderita sakit jantung sejak lima tahun terakhir. Ia seorang perokok berat. Jarang berolahraga. Suka makan daging dan jeroan. Aku ingat kata-katanya dulu: ''Nanti kalau sudah kerja dan punya gaji besar, aku ingin makan enak tiap hari: gulai kambing, gulai otak, dan ikan bakar.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bekerja dan punya istri yang bekerja pula, Yuliandi menuntaskan cita-citanya dulu. Aku dengar dari beberapa kerabat, ia kerap menyambangi tempat makan yang enak-enak. Tapi, lalu penyakit menghampiri. ''Sebelum jantung, ia kena asam urat,'' kata Heriyanto, pamanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit orang seperti Yuliandi. Dulu ketika hidup masih sulit, untuk beli sebungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng saja, susahnya bukan main. Tapi, ketika sudah berduit dan sanggup beli berpuluh bungkus nasi dalam sehari, giliran penyakit menghalangi.  Kita tak bisa menikmati apa-apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup berubah dan bergulir. Bersyukur terhadap apa-apa yang kita miliki detik ini, termasuk hal-hal yang paling kecil sekalipun, adalah cara terbaik menikmati hidup.  ***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-3608847814557082286?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/3608847814557082286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=3608847814557082286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3608847814557082286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3608847814557082286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/07/hidup-tak-pernah-cukup.html' title='Hidup Tak Pernah Cukup'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-4261250908725935920</id><published>2008-07-01T20:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-09T08:12:40.424-08:00</updated><title type='text'>Setelah 13 Tahun</title><content type='html'>SETELAH 13 tahun, Kamis (26/6) lalu, adalah kali pertama aku menginjakkan kaki kembali di kampung halamanku, di sebuah desa di kaki Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau lebih dari satu dekade waktu berlalu, tak banyak yang berubah di sini. Di sekitar rumah orang tuaku, hanya ada dua rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bangunan sekolah Taman Kanak-kanak Muhammadiyah, tempat aku pertama kali mencicip pendidikan formal, tampak makin tua. Kusen-kusennya masih bolong tak dipasangi kaca. Hanya cat warna-warni yang melekat di dinding yang tampak masih baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentangan sawah di sisi kiri kanan jalan lintas tengah Sumatera yang membelah desa, masih menghijau seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, udara desa tak lagi sedingin dulu. Aku masih ingat, ketika dulu berangkat sekolah pukul tujuh pagi, asap keluar dari mulut setiap kali berbicara dengan teman-teman di perjalanan. Kini, itu tak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tak banyak lagi warga yang pagi hari terlihat masih menggunakan sarung untuk menghangatkan tubuh dari hawa dingin daerah pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, perubahan memang tak bisa diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur semata. Perubahan pemikiran dan perilaku hidup manusia, barangkali, lompatannya jauh lebih dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa yang tak seberapa ramai ini, aku kaget, masyarakatnya menenteng telepon genggam, yang bahkan untuk ukuran orang di kota pun sudah terbilang bagus dan mewah. Ada yang punya PDA keluaran terbaru, ada yang bawa communicator yang juga produk baru. Harganya rata-rata di atas Rp4 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya, untuk apa handphone secanggih ini? Mereka bilang, "Ya, kan keren pakai HP bagus." Padahal, di tangan mereka fungsi telepon genggam itu tak lebih dari sekedar mengirim pesan singkat (SMS) dan bercakap-cakap. Paling banter menyimpan file lagu sebanyak-banyaknya. Tidak ada yang memanfaatkan untuk mengakses informasi di internet. Ini hanya sebatas simbol "identitas" di depan khalayak dan gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bukankah memang seperti itu hakikat hidup: tak ada yang abadi, semua mesti berubah. Semakin panjang perjalanan waktu dilalui, semakin banyak yang tertinggal di belakang jadi sejarah. Desa tidak lagi identik dengan pola hidup sederhana dan apa adanya, seperti layaknya dulu kerap kita temukan di buku-buku bacaan masa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang desa juga butuh pengakuan akan eksistensi mereka, terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang datang dari wilayah yang lebih maju dari sisi informasi dan infrastruktur. Salah satu cara mendapatkan pengakuan itu adalah dengan menguasai barang-barang yang dianggap jadi tren masyarakat perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memiliki barang-barang yang sama, mereka merasa tak ada perbedaan lagi antara "orang desa" dengan "orang kota", meski secara fungsional barang-barang tersebut berbeda tujuan pemanfaatannya. Yang jelas, kata Abraham Maslow, pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari semua itu, aku senang akhirnya bisa sampai di sini lagi, meski hanya tiga hari. Aku senang ayah dan ibuku bisa bertemu anakku dan mencium pipinya. Senang juga, keinginan istriku untuk bisa berkunjung ke kampung asalku bisa terwujud. Senang sekali keluarga kami bisa berkumpul utuh, setelah sekian tahun terpisah-pisah mengais rezeki di daerah lain. Aku juga gembira bisa bertemu beberapa teman lama masa kecil, ada di antara mereka bahkan sudah punya anak empat. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-4261250908725935920?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/4261250908725935920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=4261250908725935920' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4261250908725935920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/4261250908725935920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/07/setelah-13-tahun.html' title='Setelah 13 Tahun'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-2588798910161119491</id><published>2008-06-21T08:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-11T05:42:34.591-08:00</updated><title type='text'>MU Tanpa Ronaldo</title><content type='html'>DALAM dua pekan terakhir, rencana kepindahan Cristiano Ronaldo telah menguras energi orang-orang penting di Old Trafford, markas Manchester United, juara Liga Inggris dan Liga Champions Eropa. Ronaldo adalah ikon penting MU, setidaknya dalam dua musim terakhir. Sumbangsihnya pada klub terkaya dunia ini tak bisa dipandang sebelah mata. 42 gol yang dilesakkan dalam satu musim kompetisi, sudah cukup jadi bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sebab itu, berbagai upaya dilakukan manajemen MU untuk menjaga agar Ronaldo, yang diincar Real Madrid, tak jadi pergi. Manajer MU Sir Alex "Fergie" Ferguson seperti dikutip Harian The Sun memaki-maki Presiden Real Madrid Ramon Calderon sebagai orang yang tak mengenal etika. "Calderon menggunakan Marca (Harian olahraga paling berpengaruh di Spanyol) untuk memprovokasi Ronaldo agar menyeberang ke Madrid,'' kata Fergie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrid, kata Calderon, bersedia memberi MU duit sebesar 75 juta pounds atau setara dengan Rp1,35 triliun, asal rela melepas Ronaldo. Jika transaksi ini jadi kenyataan, ini adalah transfer pemain bola termahal di kolong langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian penggemar MU dan beberapa pengamat sepak bola di Inggris berpendapat, kepergian Ronaldo akan melemahkan skuad MU pada musim kompetisi 2008/2009. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode 1992-1997, pencinta MU punya idola, yang pada saat itu, rasanya tak akan tercarikan penggantinya sepanjang masa. Eric Cantona, pemain Prancis yang ditransfer dari Leeds United sebesar 7 juta pounds (rekor transfer di Inggris tahun itu). Ia dijuluki The King. Pada periode itu, Cantona adalah segala-galanya; skill luar biasa, karakternya kuat, kapten yang bisa menerjemahkan keinginan pelatih di setiap pertandingan, emosinya menyala-nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking berharapnya MU pada Cantona, saat ia menyatakan pensiun setelah berulah dengan menendang fans Crystal Palace dalam sebuah pertandingan, Fergie datang membujuknya untuk merumput lagi bersama MU. Dan ia kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau didewa-dewakan, Cantona juga manusia biasa. Ia harus pensiun. Ia punya masa keemasaan yang pada saatnya harus redup. Goyahkah MU setelah Cantona pergi? Nyatanya tidak. Deretan gelar Liga Inggris dan Piala FA tetap mengalir ke Old Trafford.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah Cantona pergi, Paul Ince, salah satu pemain penting era 1990-an, yang dijuluki The Governor juga meninggalkan Old Trafford menuju Inter Milan. Toh, MU tetap jadi raja di Liga Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menggemparkan setelah itu adalah, kepergian David Beckham ke Real Madrid usai Piala Dunia 2002. Seperti halnya saat Cantona pensiun, kepindahan Beckham juga diramal banyak orang akan menggoyahkan MU. Tapi itu juga tak terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saat Roy Keane, kapten yang tak punya saraf takut di kepalanya dan dijuluki The Legend and The True Leader oleh penggemar, pindah ke Glasgow Celtics tahun 2005, MU masih perkasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantona, Beckham, dan Ronaldo sama-sama menggunakan nomor punggung 7. Semua pecinta MU meyakini kostum nomor 7 adalah kostum keramat, dan hanya boleh diberikan kepada pemain-pemain dengan teknik dan karakter istimewa. Dengan duit 75 juta pound di tangan, Fergie bisa membeli tiga pemain berbakat terbaik lainnya, yang kelak, barangkali akan lebih hebat ketimbang Cristiano Ronaldo. Yang kelak akan bergantian menggunakan kostum merah nomor 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa MU tak pernah goyah karena kepergian bintang-bintangnya? Karena fondasi klub ini adalah sistem dan kebersamaan, bukan kekuatan individu.  "Pemain boleh merasa dirinya hebat, tapi tidak ada yang lebih besar selain klub,'' kata Fergie.  ''Kalau ada pemain yang merasa dirinya lebih besar ketimbang klub, itu adalah masalah,'' Fergie menandaskan. Didepaknya Ruud van Nistelrooy tahun 2006, karena menolak dijadikan pemain cadangan adalah bukti ucapan Fergie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fans boleh saja mengkultuskan para bintang di Old Trafford karena kehebatan skill individu, tapi MU adalah tim, sebuah organisasi yang solid. Sebuah kekuatan yang dirangkai dari satu pemain ke pemain lain, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada satu pemain pun yang boleh merasa punya jasa paling besar. ''Semua pemain berjasa atas setiap capaian terbaik klub ini. Dan setiap kekalahan juga adalah andil semua pemain,'' kata Fergie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika Ronaldo ingin pergi dari Old Trafford, ''Lepaskan saja. Biarkan ia pergi,'' kata Steven Howard, kolumnis sepakbola Inggris di Harian The Sun. Hari ini, Sabtu (21/6), dalam berita terbaru di The Sun, Ronaldo sudah menyatakan keinginannya untuk pindah ke Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah seperti itu, buat apa manajemen MU mempertahankan pemain yang hatinya sudah tidak di Old Trafford lagi. Ronaldo, selama ini, besar dan hebat karena dukungan pemain lain di MU. Rekor-rekor yang ia catat selama bersama Setan Merah, bukan karena dirinya sendiri, sebab sepakbola bukanlah permainan individu. Belum tentu ia bisa menorehkan prestasi yang sama di Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ada sejarahnya, klub yang mengumpulkan seluruh pemain terbaik dunia bisa jadi juara. Madrid sendiri punya bukti cerita pahit ini. Mereka pernah menyatukan Zidane, Ronaldo (Brazil), Raul, Beckham, dan Roberto Carlos dalam satu tim, hasilnya nihil. Sejarah yang sama juga pernah dicatat AC Milan dan Inter Milan di penghujung 1990-an dan 2000. Para pemain justru berebut mempertontonkan skill masing-masing di hadapan penonton dan pemilik klub. Tidak ada kebersamaan. Organisasi permainan kacau balau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MU tidak akan mati hanya karena Ronaldo pergi. MU adalah tim dan sistem.&lt;br /&gt;Pemain hebat boleh datang dan pergi slih berganti di Old Trafford pada tiap musim kompetisi, tapi MU akan terus menapaki prestasi di musim-musim ke depan. Sebab klub ini kokoh dan besar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;We Love Manchester United!&lt;/span&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-2588798910161119491?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/2588798910161119491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=2588798910161119491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2588798910161119491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2588798910161119491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/06/mu-tanpa-ronaldo.html' title='MU Tanpa Ronaldo'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-7628974317497789794</id><published>2008-06-14T02:19:00.001-07:00</published><updated>2010-03-11T05:42:14.280-08:00</updated><title type='text'>Suatu Hari di Markas Ahmadiyah</title><content type='html'>CAHAYA  matahari menyusup ke dalam sebuah ruko warna biru di kawasan Nagoya, Jumat (13/6) menjelang siang. Tapi kesan gelap masih saja terasa di ruang seluas lapangan bulu tangkis itu. Dari celah pintu yang dibuka tak sampai setengah, tiga bocah melongokkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;''Cari siapa ya?'' tanya mereka. ''Pak Muslim Barus. Ada?'' jawab saya. ''Ada di atas. Naik saja,'' kata seorang bocah perempuan yang terlihat lebih tua dari dua lainnya. Di pojok depan sebelah kanan pintu masuk ruko, tempat para bocah itu bermain, sepatu dan sandal berserakan, meski rak tiga tingkat warna putih yang ada di sana terlihat kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjakkan kaki di lantai dua, langkah dihadang sebuah ruang tamu sederhana. Satu set sofa sudut warna merah tua mengapit televisi layar datar 21 inchi. Kipas angin mini yang ditaruh di atas tv berputar mendinginkan suhu ruangan yang terasa agak gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah markas organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Cabang Batam. "Yah, beginilah. Seperti inilah tempat kami,'' kata Muslim Barus, pembina JAI Batam. Barus lalu duduk di sofa merah tua. Di atas kepalanya terpajang potret Mirza Gulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah. Di bawah gambar Mirza, ikut pula dipasang lima potret tokoh lainnya. "Mereka ini para kalifahnya,'' kata Barus sembari menunjuk satu per satu foto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat turun dari kamar tinggalnya di lantai tiga, Barus membawa sebuah handycam, yang lalu ditaruh di meja depan sofa. Seorang anggotanya bernama Sultan, yang lebih dulu menemui saya, kemudian menyalakan alat perekam itu di atas tripod warna hitam. Lensanya mengarah ke wajah saya. "Maaf ya, semua pembicaraan ini harus saya rekam. Untuk dokumentasi kami,'' ujar Sultan. Barus meminta alamat lengkap markas JAI Batam tidak dikorankan. ''Demi keamanan,'' ujarnya. Inilah kali pertama aktivitas mereka diliput media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruko tiga lantai ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal Barus dan keluarga, kantor organisasi, juga sebagai tempat ibadah. Musala yang diberi nama Baitul Dzikir terletak berdampingan dengan ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Barus, kecuali warga sekitar dan polisi, tak banyak yang tahu bahwa di sanalah anggota JAI melaksakan ibadah berjamaah, minimal saban Jumat. Padahal, menurut Harlin, salah satu anggota Ahmadiyah terlama di Batam, aktivitas Ahmadiyah di ruko itu sudah berjalan sejak 1995. ''Ruko ini dipinjamkan salah satu anggota kita,'' kata Harlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barus sendiri baru sepuluh bulan jadi pembina sekaligus mubaligh Ahmadiyah di Batam. Meski usianya baru 35 tahun, Barus sudah punya jam terbang tinggi. Pria asal Tanah Karo, Sumatera Utara itu sebelumnya bertugas di Tanjungpinang. ''Sebelum di Pinang, saya ditugaskan di daerah eks transmigrasi di Indragiri Hilir,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga sudah mengunjungi beberapa daerah lain di Indonesia yang ada pengikut Ahmadiyah-nya. Ayah dua anak ini mengaku bergabung dengan Ahmadiyah tahun 1994.  Ia kemudian menempuh pendidikan khusus Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat. ''Itu lho, tempat yang dulu dihancurkan massa,'' katanya. Saat penyerangan terjadi 15 Juli 2005, Barus sudah tak di sana. ''Saya sudah tamat,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.09 WIB adzan berkumandang dari musala. Berbeda dengan musala-musala lainnya, suara Muchtar, sang muadzin, hanya terdengar di ruang itu saja. Tidak ada pengeras suara di luar ruko. Satu per satu jamaah masuk ke dalam musala. Beberapa di antaranya menyempatkan diri mandi terlebih dahulu  "Maklumlah mereka rata-rata dari jauh,'' kata Barus. Ruang musala disekat jadi dua bagian dengan menggunakan tripleks yang diberi cat warna cokelat. ''Bagian yang satunya untuk jamaah wanita,'' kata Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berselang, Barus naik ke mimbar mengucapkan salam. Adzan kedua berkumandang. Barus tampil sebagai khatib dengan tema kotbah: "Persaudaraan dalam Islam". Hanya sekitar 15 menit saja ia di atas mimbar. Salat berjamaah kemudian digelar. Kali ini Barus maju sebagai imam. Setelah lantunan al fatihah rakaat pertama ia membaca surat al baqarah, dan di rakaat kedua Barus melafalkan surat al isra. Hanya 20 orang jamaah saja, termasuk empat anak-anak, yang dipimpin Barus dalam salat Jumat itu.  "Tidak semua anggota datang,'' ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baitul Dzikir merupakan satu-satunya sarana ibadah Ahmadiyah di Batam. Karena itulah, para pengikut dari seluruh pelosok, seperti Batuaji dan Tanjunguncang harus menempuh perjalanan berpuluh kilometer untuk bisa menunaikan salat Jumat berjamaah. Sebagian tak bisa datang karena terbentur sempitnya waktu.  Selain salat Jumat, berkumpul sesama pengikut Ahmadiyah biasa dilakukan saat pengajian bulanan yang waktunya jatuh pada Sabtu malam, pekan pertama awal bulan. ''Tapi sejak SKB terbit kita vacum dulu,'' ungkap Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;KAPAN Ahmadiyah pertama kali ada di Batam? Ketua Pengurus Ahmadiyah Batam Ahmad Agung Nugroho, tidak punya jawaban pasti. "Kalau itu agak sulit menjawabnya. Sebelum ada kepengurusan beberapa anggota sudah ada yang tinggal di sini,'' kata Agung yang memimpin Ahmadiyah untuk periode 2007-2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harlin, pengikut Ahmadiyah yang lama tinggal di Batam, sejak awal 1990-an beberapa anggota Ahmadiyah sudah mukim di pulau ini. ''Tapi masih tersiar (tersebar, red). Belum ada struktur,'' katanya. ''Keberadaan kita waktu itu masih di bawah pantauan pengurus Sumatera Bagian Utara,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur resmi terbentuk pada tahun 1995. Agus Yusuf terpilih sebagai ketua pertama. ''Itu dia orangnya,'' kata Harlin menunjuk seorang pria 50-an tahun berkaca mata dengan postur agak kurus. Agus tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia duduk dekat tiang di dalam musala. ''Waktu itu hanya ada tiga keluarga saja,'' kata Agus mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, roda organisasi bergulir sebagaimana organisasi lainnya. Pemilihan pengurus dilakukan secara periodik tiga tahun sekali. Kini jumlah pengikut di Batam, kata Barus, sekitar 70 orang. ''Tidak lebih dari itu. Dari yang baru lahir sampai yang sudah uzur,''  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barus mengatakan, jumlah anggota sangat fluktuatif. Tidak menentu. Sebab tidak seluruh anggota menetap selamanya di Batam. "Ada yang bekerja di instansi pemerintah kadang tugas di Batam hanya setahun saja,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di organisasi Ahmadiyah, ada semacam hukum tak tertulis yang dijalankan para pengikut. Setiap kali ada anggota yang akan mengunjungi atau pindah ke daerah lain, ia akan mengontak kantor pusat untuk menanyakan, apakah daerah yang dituju ada pengikut dan kantor cabang Ahmadiyah. Jika ada, maka kantor pusat akan memberikan alamatnya. ''Dari situlah kita biasanya tahu ada anggota yang baru datang atau pergi,'' kata Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota yang datang silih berganti inilah yang menghidupi organisasi. Barus menjelaskan, dalam anggaran dasar Ahmadiyah, setiap anggota wajib menginfakkan seper enambelas pendapatan mereka tiap bulan. Infak dalam organisasi Ahmadiyah disebut "candah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candah adalah bahasa Urdu, bahasa ibu Mirza Gulam Ahmad. Candah yang terkumpul dari para anggota itu kemudian dikirimkan ke Pengurus Pusat Ahmadiyah. ''Dana itu pusat yang kelola. Nanti pusat kirim lagi ke kita untuk operasional,'' kata Barus yang mengaku digaji Ahmadiyah sebagai mubaligh sebesar Rp160 ribu sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya situasi dulu, saat pengurus baru terbentuk dengan sekarang? "Sama saja. Datar-datar saja. Ibarat air, tak ada riaknya,'' kata Agus Yusuf. Sejauh ini, para pengurus dan pengikut mengaku tidak ada masalah dengan lingkungan tempat tinggal dan kerja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi Darsono, pengikut yang tinggal di Tiban misalnya, mengaku seluruh tetangga dekatnya tahu kalau ia anggota Ahmadiyah. ''Biasa-biasa saja. Hubungan kami seperti hubungan dengan warga lainnya,'' katanya. Begitu juga dengan Sultan. ''Kalau ada kegiatan di lingkungan, gotong royong misalnya, kita biasa ikut,'' kata pria asal Bandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan yang sama juga disampaikan Ardi. Bahkan, kata dia, dulu mereka juga sering mengelar aksi sosial seperti donor darah dan bagi sembako. ''Tapi tidak atas nama Ahmadiyah, dan tidak ada atribut Ahmadiyah. Para penerima malah nggak tahu kalau itu dari Ahmadiyah,'' kata Ardi, yang kerap didapuk sebagai ketua panitia kegiatan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut Ahmadiyah, kata Ardi, juga sudah membuat semacam janji akan mendonorkan kornea mata mereka ke Bank Mata, kelak bila mereka wafat. ''Anggota di Batam sudah sepuluh orang yang bersedia. Semuanya wanita,'' kata Ardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barus mengungkapkan, meski semua bejalan biasa saja, sejumlah petugas polisi rutin memantau dan melakukan kontak dengan mereka. Komunikasi makin intensif sejak kontroversi soal keberadaan organisasi Ahmadiyah menguat di masyarakat. ''Kadang polisi tanya, bagaimana keadaan kami,'' ujarnya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-7628974317497789794?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/7628974317497789794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=7628974317497789794' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7628974317497789794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/7628974317497789794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/06/suatu-hari-di-markas-ahmadiyah.html' title='Suatu Hari di Markas Ahmadiyah'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-3735415061640023605</id><published>2008-04-29T19:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-11T05:42:59.655-08:00</updated><title type='text'>Instant Idol</title><content type='html'>Tiga pelayan sebuah warung nasi Padang di Batam Center, menatap lurus ke layar televisi yang terpasang di atas pintu masuk. Wajah mereka tegang. Beberapa detik berselang, tatkala suara presenter melengking panjang, para pelayan bersorak sambil melonjak. Ketegangan pecah jadi kegembiraan. Saya yang sedang menyuap nasi, Minggu petang itu, kaget dan tersedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;‘’Tontonan apa gerangan yang melahirkan histeria begitu rupa?’’. Saat membayar makanan di meja kasir selepas makan, saya mencoba memupus penasaran. ‘’Acara apa ini?’’ tanya saya. ‘’Idola Cilik, Pak. Itu ada anak Batam, dia lolos,’’ kata kasir menjelaskan. Saya ngeloyor pergi. Tak punya hasrat untuk bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak diluncurkan pertama kali beberapa tahun lalu, dengan menjiplak habis produk yang sama di televisi Amerika, saya tak tertarik sama sekali menyaksikan acara idol-idolan di televisi itu; sebuah kontes instan untuk menggapai sukses dan popularitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendukung kelompok yang tidak setuju dengan kontes-kontesan macam ini. Bukan saja disebabkan oleh alasan seperti yang dimuat dalam rubrik Surat Pembaca Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas, &lt;/span&gt;Sabtu (26/4) lalu. Lina, penulis surat pembaca itu mengatakan, kontes Idola Cilik tidak memberikan pendidikan moral kepada pesertanya, yang notabene adalah anak-anak. Karena lagu yang mereka nyanyikan dalam lomba itu adalah lagu-lagu orang dewasa dengan tema-tema pacaran. Lagu-lagu tersebut belum pantas untuk anak-anak seusia para peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, kontes seperti ini (tidak hanya Idola Cilik) sungguh tak mendidik orang untuk menghargai proses dalam hidup ini. Orang tak diajarkan menapaki sukses dari tangga paling bawah, melewati jalan berliku. Berjerih payah. Hanya dengan tampil beberapa kali di televisi, kemudian diundi dengan SMS, orang lantas bisa tampil sebagai juara. Dari sana mereka bermimpi jadi idola, dikontrak jadi bintang iklan, ditawari bikin album, main film dan ujungnya jadi orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ciputra, pengusaha top bidang properti, tak ada jalan pintas untuk sukses dan kaya. Dan jangan pernah berpikir untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa jadi juara dalam hidup dan kehidupan ini, kata Goenawan Mohamad, tak ada jalan lain, selain kerja keras. ‘’Saya ingat sejumlah teman segenerasi yang datang dari udik yang tidak keruan. Ada yang jadi mandor di pelabuhan, dan dari sana memulai bisnis lalu akhirnya kini jadi eksportir besar. Ada yang membuka hidupnya dengan menyabit rumput, atau pembantu tukang sate, atau pembantu toko kembang, dan dari sana naik jadi kisah-kisah sukses yang mengesankan,’’ kata Goenawan dalam rubrik Catatan Pinggir-nya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anak Pejabat&lt;/span&gt;. ‘’Saya selalu merasa, merekalah juara hidup yang sebenarnya,’’ ujar Goenawan dalam tulisan yang terbit di Majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TEMPO &lt;/span&gt;edisi 14 Maret 1987 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lucu sekaligus memuakkan dari kontes-kontesan ini adalah, ada calon idola yang tampil dengan modal suara pas-pasan, ketika dinyatakan gagal oleh hakim juri, menangis terisak-isak. Seakan dunia ini sudah tutup untuk masa depannya. Keluarga yang datang mendukung tak kalah sedih dan putus asa. Ini sudah gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa para calon idola itu tak berkaca pada pengalaman seniman-seniman senior yang merengkuh sukses berbasuh keringat dan pengorbanan. ''Bukan dengan lomba idola-idolaan. Program seperti itu tidak mendidik. Orang jadi berpikir menjadi bintang itu mudah, instan. Padahal band seperti kami dulu harus jatuh bangun, ’berkeringat darah’ sebelum terkenal,'' kata Benny Panjaitan, pentolan grup musik Panbers di rubrik Nama dan Peristiwa Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, awal April lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panbers tak asal bicara. Mereka punya bukti. Lagu-lagu mereka, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gereja Tua &lt;/span&gt;hingga saat ini masih sering di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;request &lt;/span&gt;mulai dari kafe hotel berbintang hingga pengamen jalanan. Inilah yang disebut sukses yang melegenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tak ada salahnya kita belajar dari sejarah orang-orang yang sudah lebih dulu sukses jadi idola dengan menapaki rute yang benar. Tak mudah bagi Beatles dan Rolling Stones menaklukkan rintangan dan kesulitan hingga bisa jadi legenda; Jon Bon Jovi dan kawan-kawan berkali-kali ditolak produser rekaman, berjuang memperbaiki mutu lagu dan musik dari hari ke hari, tampil memenuhi undangan di even-even kecil di New Jersey sebelum akhirnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You Give Love A Bad Name &lt;/span&gt;mengguncang dunia dan laku 10 juta kopi; Iwan Fals bahkan harus berurusan dengan intelijen dan tentara sebelum dinobatkan Majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TIME &lt;/span&gt;sebagai pahlawan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, di mata sebagian (besar) orang, terutama pemuja budaya instan, pikiran seperti ini sudah usang dan basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada niat mematahkan semangat mereka yang sedang bermimpi jadi idola, serta semangat para pendukungnya. TapI, kita lihat bukti saja. Dari sekian banyak kontes idola instan macam begini yang digelar sejak beberapa tahun silam, adakah muncul seseorang yang benar-benar layak disebut sebagai idola, yang lagu dan suaranya akan dikenang abadi, seperti Panbers, Iwan Fals, Dewa 19? Setidaknya, sejauh ini, adakah di antara mereka yang punya potensi akan menyamai para legenda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, mereka yang dulu jadi juara kini hanya samar-samar muncul jagad hiburan Tanah Air kita. Sebagian bekas peserta lainnya, terutama yang gagal total, bahkan tenggelam dalam gunungan utang karena kelewat banyak membeli pulsa telepon untuk berkirim SMS agar jadi juara. Tobatlah para calon idola! *** &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-3735415061640023605?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/3735415061640023605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=3735415061640023605' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3735415061640023605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/3735415061640023605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/04/instant-idol.html' title='Instant Idol'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-6526078003836104056</id><published>2008-03-05T03:07:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:43:22.255-08:00</updated><title type='text'>Selingkuh</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;RIEKA Roeslan, seorang penulis lirik lagu penyanyi papan atas Indonesia mengaku sangat berhati-hati dalam menulis lagu. Bagi dia, lirik tak ubah seperti sebuah doa. Untuk itulah setiap membuat lagu, perempuan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, itu selalu memperhatikan dengan seksama latar belakang budaya, moral, dan hati nurani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;‘’Pesan ayah saya, lirik adalah doa. Nggak apa-apa idealis dan nggak terlalu laris,’’ katanya, seperti dikutip media massa, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rieka menyatakan prihatin dengan banyaknya lirik lagu yang tidak mendidik saat ini, terutama yang terkait dengan tema-tema tentang perselingkuhan. ‘’Dulu tema seperti itu seolah tabu dinyanyikan, sekarang malah menjadi hit di mana-mana,’’ katanya. Rieka tak akan membuat lagu-lagu begitu. Jangankan mencipta, menyanyikannya saja dia mengaku ogah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saya pernah diminta nyanyi lagu yang di dalam liriknya ada kalimat  ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jadikan Aku yang Kedua’&lt;/span&gt;. Saya nggak mau. Beberapa kali saya juga diminta membawakan lagu-lagu macam itu. Meski banyak yang request, itu tidak akan saya nyanyikan,’’ tegas mantan vokalis The Groove tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rieka menyadari, dengan memegang teguh idealisme, ada risiko yang dihadapi. Karirnya saat ini tak semengilap jika dia mau mengikuti arus mainstream industri musik. Toh Rieka bergeming. ‘’Dari kecil saya sudah dididik untuk tanggung jawab. Termasuk dalam membuat lagu,’’ tutur perempuan yang masih betah melajang di usia 38 tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, kata Rieka, dengan lirik lagu yang berlandaskan hati nurani, dia juga tak pernah kekurangan uang. ‘’Banyak lagu saya yang liriknya indah dan bisa menjadi hit. Dari lagu-lagu itu, saya bisa mendapat royalti yang gede. Sampai bisa beli rumah dan mobil,’’ tutur pencipta lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cobalah Untuk Setia &lt;/span&gt;(Krisdayanti) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Izinkan Aku Menyayangimu&lt;/span&gt; (Iwan Fals) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;APAKAH maraknya lagu-lagu bertema perselingkuhan, seperti yang dirisaukan Rieka Roeslan, menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trigger&lt;/span&gt; bagi para pendengar untuk menjalani hidup seperti bait demi bait lagu yang dilantunkan penyanyi atau grup band idola mereka? Saya tak berani menyimpulkan. Tentu perlu riset yang dalam secara kuantitatif dan kualitatif.  Barangkali pula, sinetron dengan tema perselingkuhan yang tak kalah gemuruhnya bisa jadi pemicu yang lebih dahsyat. Karena masyarakat diserang secara audio dan visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika kita membaca ulang cerita tentang Beatles, Rolling Stones, Ramones, dan kelompok musik lain yang berjaya di era 60-an dan 70-an, mayoritas fans berat menempuh hidup seperti syair-syair yang dilagukan sang idola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba memantaunya secara sederhana saja. Saya menghitung kasus perselingkuhan yang diterbitkan media massa di Batam. Di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;, misalnya, dari bulan ke bulan di penghujung 2007 ada kecenderungan peningkatan pemberitaan kasus perselingkuhan.  Bulan Oktober ada 19 berita. November naik jadi 23. Lalu Desember naik lagi jadi 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal 2008 ini, saya belum menghitung arsipnya. Tapi, kemungkinan angkanya tidak jauh beda.  Mayoritas berita diambil dari laporan polisi (LP). Ada kemungkinan, LP soal kasus selingkuh yang tidak sempat dilihat wartawan. Artinya, bisa jadi, jumlah kasus yang sebenarnya lebih besar dari yang diterbitkan media.  Belum lagi, jika dihitung kasus yang tidak dilaporkan ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak berita ada beberapa yang menurut saya tergolong luar biasa.  Seperti kasus yang dialami Rostina.  Begitu mencurigai suaminya punya perempuan lain, ia melaporkannya ke polisi. Tapi, polisi meminta Rostina membawa bukti.  Rostina tak menyerah. Bak seorang detektif, ia menguntit ke mana pun suaminya pergi.  ''Saya menyewa ojek selama dua hari untuk membuntutinya, sampai uang saya habis Rp500 ribu,'' katanya.  Hingga akhirnya ia bisa meyakinkan polisi untuk datang menggerebek suaminya di rumah kekasih gelapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kisah yang dialami Is. Perempuan ini dipukuli dan diinjak-injak suaminya, karena menjawab telepon pacar sang suami secara tak sengaja. Momen itu pula yang menyingkap rahasia yang dipendam suaminya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh tak hanya monopoli kaum lelaki. Setidaknya, bukti itu dimiliki Ica, ibu rumah tangga yang tinggal di permukiman liar Tanjunguncang. Ia berselingkuh karena, Pono, sang suami tak lagi perkasa. Ica akhirnya berpaling pada Obet, tetangga sebelah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika digerebek polisi dan warga, Obet dan Ica mengaku apa yang mereka lakukan didasarkan perasaan suka sama suka. Ica mengaku memilih selingkuh karena tidak puas dengan suaminya. ''Bagaimana mau puas, Pak. Baru saja mulai, ia sudah selesai duluan,'' kata Ica, di kantor polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang sama juga ditempuh Yanti. Ia rela meninggalkan Andri, suaminya serta buah hati mereka yang baru berumur dua bulan, demi mengejar cinta baru yang ditawarkan Hendro, sopir pribadi mereka. ‘’Kenapa ada ibu yang tega meninggalkan anaknya seperti itu ya,’’ kata Andri ketika melaporkan naas yang menimpanya ke Kantor Polisi Tanjunguncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;DALAM Kamus Umum Bahasa Indonesia  selingkuh berarti curang, tidak jujur, tidak berterus terang, korup.  Dalam KBBI selingkuh berarti suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, curang, serong’; atau ’suka menggelapkan uang, korup’; atau ’suka menyeleweng. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa orang berselingkuh? Mengutip penjelasan psikiatris Dr. Raj Persuad dari Australia, ternyata tidak ada kaitan antara kualitas seks dalam perkawinan dengan setia tidaknya seorang pria/pasangan. Alasan sesungguhnya mengapa orang menyeleweng adalah kurangnya keintiman emosi dan merasa kurang dicintai atau kurang memiliki rasa gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan pula, menurut riset, ada empat permasalahan yang biasanya selalu ada dalam pada benak lelaki, yang justru ini sangat mungkin disalahartikan oleh kaum wanita sehingga, tanpa disadari, akan menempatkan perkawinan mereka dalam risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ulasan Dr. Raj Persuad pada artikel di Good Medicine, empat permasalahan yang selalu ada dalam benak pria adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Stres Berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berselingkuh bukanlah karena oversex, tetapi overstress. Begitu kata Dr. Persuad. Maksudnya. bila wanita bertemu teman wanitanya saat dalam keadaan stres, teman wanitanya akan merasakannya dan berusaha menghiburnya, mencoba membantu menghilangkan kecemasannya, tanpa diminta. Dan upaya-upaya itu akan sangat berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pria, mengungkap stres yang dimiliki berarti mempertontonkan kerentanannya, dan itu bukan sesuatu yang membuat pria gembira. Pria memang sering mengalami stres, tetapi menghadapinya dengan cara yang berbeda, bagi wanita cara yang dilakukan pria ini mungkin terdengar agak menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu survei yang dilakukan oleh tim peneliti dari Leeds University, Inggris, guna menyelidiki kegemaran favorit pria, yaitu minum bir seusai pulang kerja mendapati bahwa hanya 9,5 persen saja dari mereka yang benar-benar menikmati minuman itu. Sebagian besar dari mereka, yaitu 85 persen, minum untuk menghilangkan stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, wanita tak perlu merasa diabaikan bila suaminya memilih mengerami persoalannya sendiri dan tidak mengungkapkan perasaannya. Cukup perhatikan saja apakah taktik yang dipakai suaminya untuk meredam stres itu berhasil atau tidak, sambil bersiap-siap mendengarkan bila terlihat ia sudah siap bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tak Ingin Terlihat Lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria tidak mau mendongeng bagi anaknya di kamar tidur. Tidak mau mencuci. Selalu istrinya yang harus berinisiatif dengan bertanya ke mana mau pergi untuk liburan. Tidak mau pula mengerjakan permintaan istri untuk membereskan hal-hal sepele di seputar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi istri, suami seperti itu tampak sangat malas dan tidak peduli, sehingga membuatnya jengkel. Padahal, lebih dari itu, kemungkinan besar pria itu merasa tak sanggup mengerjakan semua permintaan istri dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui saja, sebenarnya seorang pria butuh perasaan kompeten atau mampu, dan gemar memperoleh pujian atas apa yang berhasil dilakukannya dengan baik. Pria ingin merasa seperti jagoan. Bila suatu kegiatan membuat mereka merasa lemah, bodoh, tidak berdaya, mereka tak ingin melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seorang istri tak perlu mengawasi dan membuntuti suaminya untuk memastikan semua yang diperintahkan benar-benar dikerjakan. Sebaliknya, hujanilah suami dengan pujian, betapa pun tampak repot upaya yang dilakukannya untuk memenuhi permintaan istri. Pujian seperti ini perlu diupayakan dua kali lipat oleh istri saat berada di tempat tidur bersama suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Beda Level&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mate Value Discrepancy (MVD), artinya kira-kira Kadar Kesetaraan Pasangan, merupakan suatu hal yang tidak sopan dibicarakan oleh terapis dan biro konsultasi perkawinan ternama. Untuk sederhananya saja, MVD adalah suatu upaya ilmiah untuk menguantifikasi apa yang terjadi ketika seseorang yang sangat rupawan menikah dengan seseorang yang, katakanlah, sangat kurang rupawan. Banyak pasangan yang dalam hal penampilan wajah ini levelnya hanya beda sedikit. Meski begitu, selalu saja ada yang beda levelnya njomplang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu temuan penelitian yang sangat mengusik belum lama ini mengatakan, bila pihak wanita lebih cantik ketimbang sang pria, wanita itu jauh lebih berkemungkinan untuk berselingkuh ketimbang bila sang pria yang jauh lebih ganteng. Jadi, terus terangnya saja, bila sang pria lebih ganteng dan rupawan, dia sebenarnya lebih bisa dipercaya ketimbang bila pihak wanita yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Dr. Persuad, dari pengalaman praktiknya, ada saja wanita-wanita yang datang mengeluhkan kekesalannya karena setelah sekian lama, ternyata pasangannya bukan orang yang ganteng, serta bukanlah tipe orang yang mereka inginkan atau dambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan sehari-hari, kekesalan seperti ini pasti terkomunikasikan secara halus atau terang-terangan kepada pasangannya, sehingga membuat hubungan mereka menjadi tidak manis lagi. Dari situ, ada kemungkinan pihak pria lalu akan merasa satu-satunya cara untuk menunjukkan kerupawanannya adalah dengan berada di pelukan wanita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ingin Merasa Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin juga merupakan persoalan klasik. Wanita yang sudah sedemikian berhasil membuat pria mudah merasa tertinggal. Perasaan mandiri yang besar pada wanita akan membuat pria merasa mereka tidak memiliki peran penting dalam kemajuan yang diperoleh pasangannya dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan yang kuat didasarkan pada perasaan dua belah pihak bahwa mereka masing-masing memiliki peran yang satu sama lain saling berpengaruh. Bila ini tidak terjadi dalam suatu perkawinan, sudah saatnya untuk menciptakan keseimbangan tersebut, sehingga tidak ada yang merasa tertinggal dalam hubungan itu. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-6526078003836104056?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/6526078003836104056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=6526078003836104056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6526078003836104056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6526078003836104056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/03/selingkuh.html' title='Selingkuh'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-1464719830392265255</id><published>2008-02-19T01:24:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:43:46.320-08:00</updated><title type='text'>Menanti Kiriman Bondan Winarno</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;INILAH  penantian yang lama untuk mendapatkan sebuah buku, yang menabuh rasa penasaran bertalu-talu. Sejak tahun 2002 saya berusaha mencarinya,  ketika pertama kali diberitahu Septiawan Santana Kurnia, mantan dosen saya di Bandung dulu. ''Itu buku yang layak dibaca semua wartawan dan orang yang berminat pada jurnalistik,'' begitu katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika menerbitkan buku berjudul "Jurnalisme Investigasi" Kang Septi, begitu Septiawan biasa disapa, juga menyebut buku karya Bondan Winarno yang diberi titel "BRE X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi" sebagai salah satu karya peletak dasar jurnalistik investigasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Kang Septi, memberi kehormatan kepada Mas Bondan untuk menuliskan pengantar di bukunya itu. Mas Bondan menceritakan secara ringkas perjuangan dia mengumpulkan data dan informasi sehingga lahirlah buku yang menguak pepesan kosong timbunan emas di Busang, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta tolong teman SMA dulu untuk mencarikannya di toko buku dan bursa buku bekas Palasari, Bandung. Sebulan setelah saya menelepon, si teman itu menyerah. ''Bensin gua habis, bukunya gak ada yang jual,'' katanya. Adik saya juga mencoba menyisir beberapa toko buku di Jakarta dan bursa buku bekas di kawasan Senen, hasilnya nihil juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa mailing list yang berhubungan dengan jurnalistik saya bertanya adakah yang tahu di toko buku mana buku karya Bondan Winarno itu dijual. Jawabannya sama saja: susah cari buku Bondan. Karena tak ada hasilnya, saya lalu melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Desember 2007, ketika menonton tayangan Wisata Kuliner di Trans TV, program yang diasuh Mas Bondan, saya tiba-tiba teringat lagi buku itu. Seorang anggota mailing list Pantau menyarankan untuk berkirim email saja kepada Mas Bondan. Saran itu saya ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Desember 2007, saya menulis email untuk Mas Bondan. Saya bilang, saya adalah wartawan kurcaci yang sedang belajar mengetahui jurnalistik yang benar. Saya tuliskan pula, banyak orang merekomendasikan kepada mereka yang belajar jurnalistik agar membaca bukunya. Tapi, bertahun-tahun saya gagal mendapatkannya. Di ujung email, saya menawarkan Mas Bondan kalau ia berkunjung ke Batam, saya akan traktir sup ikan Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, Mas Bondan membalas email saya. Isinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah pernah makan sup ikan itu. Yang di Nagoya, kan? Memang enak. Sayangnya, saya lupa catat nomor teleponnya. Boleh dibantu? OK, buku Bre-X akan segera saya kirim. Salam, BW.  &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt; BW adalah singkatan Bondan Winarno).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan main berbunga-bunganya hati saya. Nomor telepon sup ikan Yong Kee Batam langsung saya cari. Tak sulit untuk mendapatkannya. Tak sesulit memperoleh buku "BRE X: Sebungkah Emas di kaki Pelangi". Nomor telepon itu saya kirim lewat email juga, sehari setelah Mas Bondan berkirim email kepada saya. Kini masanya menunggu buku itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam berputar, hari berganti, bulan berubah, tahun bertukar, tapi kiriman Mas Bondan tak datang juga. Saya coba menduga-duga apa penyebabnya. Ah, barangkali saya salah menuliskan alamat. Saya cek ulang surat-surat yang terkirim dari email saya. Ternyata, dalam email kepada Mas Bondan alamat yang saya tulis sudah benar adanya. Barangkali Mas Bondan sedang sibuk, sehingga belum sempat mengirimkannya, dugaan saya yang berikutnya. Sudahlah tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya tak sabar juga. Tanggal 4 Februari 2008 saya kirim email lagi. ''Ini yang terakhir, kalau tidak dapat juga, sudah nasib,'' gumam saya dalam hati. Enam hari kemudian, Mas Bondan membalasnya. Ia meminta alamat saya dikirim lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Februari buku itu, akhirnya sampai di tangan saya. ''Mas Bondan, terima kasih berjuta-juta,'' tulis saya dalam email untuknya.  Di belakang sampul buku itu, Mas Bondan menuliskan dengan pulpen warna biru: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;To M. Iqbal, Be Your Best!. &lt;/span&gt;Saya senang bukan kepalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang sampul itu pula terselip empat halaman kertas warna kuning. Rupanya ini adalah penjelasan tambahan dari Mas Bondan tentang bukunya. Diberi judul "Setahun dalam Pemberangusan". Di situ ia menceritakan kesedihan dan kepedihan hatinya, karena bukunya yang terbit tahun 1997 itu dilarang beredar oleh pemerintah. Karya itu, akhirnya, hanya jadi simpanan di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kerugian terbesar yang saya alami adalah kerugian moral. Saya mengalami periode biru selama berbulan-bulan. Setiap kali saya memasuki kamar, dimana 5.000 buku itu disimpan, hati saya menjerit. Saya sering tercenung memandangi tumpukan itu, bagai masokis yang menikmati siksaan terhadap batin saya sendiri,''  tulis Mas Bondan. Padahal, puluhan juta rupiah sudah ia habiskan untuk menerbitkan buku tersebut. Kalimat demi kalimat di kertas kuning itu sarat emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia lalu berniat menerbitkanya dalam edisi bahasa Inggris. Buku itu pun diserahkan kepada seorang editor ulung di Kanada, tapi hantaman krisis ekonomi membuat rencana itu gagal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saking frustrasinya, Mas Bondan berniat memberikan gunungan buku itu kepada pemulung untuk didaur ulang. Tapi, Yvonne, istrinya, menganjurkannya untuk memasarkan kembali, karena sekarang pelarangan sudah tak berlaku lagi. Akan tetapi, menurut Mas Bondan, momentumnya sudah lewat. Lagi pula beberapa fakta dalam buku itu sudah mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Akhirnya saya kalah oleh tirani kebutuhan. Dalam masa krismon seperti ini, apa saja yang bisa mendatangkan uang secara halal harus dilakukan. Saya putuskan untuk memasarkan buku ini dengan menyisipkan lembar tambahan ini, sebagai upaya memutakhirkan data dan informasi ... Terima kasih atas dukungan yang telah Saudara tunjukkan dengan membeli buku ini. Dukungan Saudara merupakan penghiburan yang sangat besar,'' kata Mas Bondan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kecil dalam kertas kuning itu, jadi daya tarik tersendiri dalam buku karya Mas Bondan. Ia adalah contoh sebuah perjuangan dalam menelurkan karya bermutu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apapun yang terjadi, buku "BRE X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi" tetaplah buku yang penting untuk dibaca. Bahasanya lugas dan mudah dipahami. Teknik bertuturnya sangat memikat. Menurut saya, Bondan Haryo Winarno, wartawan cum enterpreneur yang rendah hati itu, patut ditabalkan sebagai salah satu perintis jurnalistik investigasi di Indonesia. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bravo, Mas Bondan! Terima kasih berjuta-juta. &lt;/span&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-1464719830392265255?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/1464719830392265255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=1464719830392265255' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1464719830392265255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/1464719830392265255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/02/menanti-kiriman-bondan-winarno.html' title='Menanti Kiriman Bondan Winarno'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-2401155892155999791</id><published>2008-01-10T07:06:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:44:15.398-08:00</updated><title type='text'>Narsis Itu Mirip Najis</title><content type='html'>Apa yang paling memuakkan ketika kita berkomunikasi dengan seseorang? Bagi saya, adalah lawan bicara yang tak bisa mengendalikan ego, ingin memonopoli arus pembicaraan, dan selalu merasa paling super setiap kali membicarakan topik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Manusia super ini selalu merasa tahu semua hal dan merasa bisa mengerjakan semua hal lebih baik dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kalau soal yang satu ini, dia harus belajar dari saya.’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sayalah orang pertama yang melakukan itu.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Kalau bukan saya, tak akan hasilnya sebagus ini.’’ &amp;nbsp;Dan sejuta kalimat lainnya yang mengkultuskan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ilmu psikologi menyebut perilaku seperti ini sebagai narsis. Perilaku narsis sungguh memuakkan. Tapi, dalam hidup ini, orang narsis selalu ada dalam lingkungan yang kita singgahi: di perumahan, di kantor, kampus, sekolah, organisasi dan pergaulan sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komunitas wartawan, misalnya, ada saja yang mengaku sebagai yang paling tahu dan paling khatam soal jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sayalah wartawan pertama yang membongkar kasus A.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hanya aku yang berani menulis tentang si A dengan kritis dan tajam.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku narsis juga muncul di kalangan penulis lepas yang kerap menobatkan diri sendiri sebagai analis. Di Batam,&amp;nbsp;misalnya, ada seorang penulis yang amat sangat sok tahu soal cara pengembangan usaha, menggurui pembaca dengan beragam trik cepat sukses, tapi begitu bikin usaha sendiri di bidang makanan malah tak maju-maju dan akhirnya bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisme juga mengurung dunia remaja. Karena begitu terkagum-kagumnya pada kemolekan tubuh sendiri, banyak di antara mereka kemudian mengabadikannya (secara telanjang) di depan kamera, lalu disebar kepada khalayak luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitchell JJ dalam bukunya, &lt;i&gt;The Natural Limitations of Youth&lt;/i&gt;, mengatakan,  ada lima penyebab kemunculan narsis, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roslina Verauli Mpsi, biasa disapa Vera, seorang psikolog dari Empati Development Center mengatakan,  ''Orang yang narsis merasa dirinya lebih tinggi dibanding orang lain.''  Menurut dia, narsis sudah tergolong ke dalam gangguan kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa ciri-ciri orang narsis, Vera coba menjabarkan:.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Orang narsis merasa lebih penting dan besar dibanding orang lain. Contohnya, dia merasa paling hebat dalam hal prestasi, bakat, dan karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Punya fantasi untuk mencapai sukses dan kekuasaan yang sangat tinggi. Walaupun hal itu mustahil untuk bisa dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Merasa dirinya begitu unik dan beda dengan yang lainnya. ''Dia akan merasa lebih tinggi statusnya serta lebih cantik atau ganteng dibanding orang lain,'' papar Vera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Selalu merasa butuh pengakuan yang berlebihan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5). Mereka yang narsis selalu berharap yang tak masuk akal untuk diperlakukan oleh orang lain. ''Orang yang narsis selalu ingin diperlakukan istimewa, meski dirinya sebenarnya tak istimewa.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6). Narsis juga cenderung manipulatif dan selalu mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7). Tidak bisa berempati pada orang lain. Ya, orang seperti ini tak  akan merasa peduli dengan apa yang menimpa orang lain. Misalnya saja, bila ada temannya yang terkena musibah, orang narsis tak akan peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8). Selalu arogan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di antara kita merasa punya lima saja ciri-ciri seperti itu, kata Vera, berarti sudah tergolong narsis. Karena narsis itu termasuk gangguan kepribadian, katanya, maka harus segera diatasi dengan cara berkonsultasi dengan psikolog. ''Tapi, kalau masih di bawah lima (ciri), masih tergolong kecenderungan narsis,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas narsisme harus dihindari, karena orang-orang narsis cenderung dijauhi oleh lingkungannya.&amp;nbsp;Barangkali&amp;nbsp;karena&amp;nbsp;narsis&amp;nbsp;itu&amp;nbsp;mirip&amp;nbsp;najis.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Setiap si narsis bicara orang selalu berusaha menghindar untuk tidak mendengar. Kalau pun terpaksa mendengar, mungkin sungkan untuk pergi karena si narsis adalah orang berpengaruh, maka setelah dia berlalu, orang-orang yang mendengar selalu membahas ulang omongannya sambil tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisme ternyata sangat berbeda dengan percaya diri (PD). Orang yang benar-benar PD tak  perlu memamerkan semua kelebihannya. Dia tahu kualitas dirinya dan tidak bergantung kepada orang lain agar merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang narsis justru butuh pengakuan orang lain demi menggenjot rasa PD-nya. Inilah rahasia terbesar orang narsis. Jauh dalam hati mereka, tersimpan sebuah jiwa yang sangat rapuh dan mereka menutupinya dengan menekankan betapa hebatnya mereka yang terbukti dari banyaknya pujian dari orang lain. Seperti tokoh ibu tiri Putri Salju yang selalu bertanya pada kaca ajaibnya, "Mirror… mirror on the wall. Who’s the fairest of hem all?" ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-2401155892155999791?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/2401155892155999791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=2401155892155999791' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2401155892155999791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2401155892155999791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2008/01/narsis-itu-memuakkan.html' title='Narsis Itu Mirip Najis'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-2725854052484246436</id><published>2007-12-31T01:20:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:44:45.217-08:00</updated><title type='text'>Setahun Itu Tak Lama</title><content type='html'>SETAHUN silam di hari yang sama, ia menyaksikan di televisi paranormal bicara soal kehidupan 360 hari ke depan. Pada hari yang sama dan di televisi yang sama, puluhan artis dan orang-orang yang mengaku artis serta yang ngebet dianggap artis, dari yang paling picisan sampai karatan, cuap-cuap tentang harapan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Hari ini, setelah 360 hari berlalu, tayangan yang sama muncul lagi. Si paranormal masih mengulang “analisa”-nya, yang menunjukkan ia tak punya ilmu baru dalam membuat ramalan. Kajian lama diedit sedikit lalu dipaparkan lagi. Dan, televisi, dengan kebodohan yang sama dengan 360 hari lalu mengutipnya mentah-mentah, tanpa rasa berdosa kepada pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para artis, yang setahun lalu mengucap kata-kata penuh harapan, merapal kembali kalimat itu di layar kaca yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Semoga album ku tahun depan lebih laris.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Semoga aku bisa dapat peran yang lebih menantang.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’ Mudah-mudahan rumah tanggaku baik-baik saja, tidak kawin cerai seperti yang lain.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koran-koran dan majalah: polikus, koruptor yang dipuja-puja sebagai sosok mulia, pengusaha hitam dan pengusaha putih, tokoh masyarakat dan orang-orang yang sangat ingin ditokohkan oleh masyarakat nampang memberikan ucapan “Selamat Tahun Baru” dibumbui dengan harapan-harapan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, persis seperti setahun silam, di depan televisi yang bodoh itu sambil memegang lembaran koran yang mengabarkan berita-berita yang sama dengan tahun lalu: pesawat jatuh, kapal karam, banjir menerjang, tanah longsor dan sejuta lara lainnya,  ia tertegun. ‘’Ternyata, setahun itu tak lama,’’ katanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, setahun yang lalu, anaknya masih berumur 40 hari. Ketika itu, wajah si bayi masih merah. Hanya bisa menangis ketika popoknya basah. Atau menjerit saat perutnya lapar. Kini, si bocah sudah bisa berdiri. Berjalan tiga empat langkah.  Giginya sudah tumbuh. Sudah bisa bicara memanggil ayah, mengucapkan mamam saat lapar terasa, menunjuk celananya yang basah setelah ia pipis sambil berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Rupanya, setahun itu memang tak lama,’’ ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tanpa kita berharap pun, seperti para artis dan paranormal itu, semuanya pasti berubah,’’ ia bergumam dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Walau diri dan kehidupan kita tak berubah, waktu pasti berubah. Jika waktu berubah semua pasti berubah,’’ ia memperpanjang debat dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih utuh dalam kotak memorinya, setahun lalu, ketika harap dan ragu bercampur jadi satu, saat hendak mengambil keputusan, apakah akan mengubah haluan yang sudah dilayarinya selama enam tahun terakhir. Godaan mencoba peruntungan di lautan yang baru sulit dienyahkan, karena alasan yang sungguh berat untuk dituliskan. Setahun berlalu, keputusan tak juga pernah ada. Harap dan ragu terus terpelihara. ‘’Nah, betul kan, setahun memang tak lama,’’ bisik hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;360 hari silam, usai salat ashar di sebuah masjid di Batam Center, ia bertanya kepada takmir masjid, adakah Pak Takmir punya harapan di Tahun Baru?  ‘’Saya berharap setiap saat, setidaknya tiap usai salat. Seperti semua jamaah yang datang ke sini, saya senantiasa berdoa,’’ jawab Pak Takmir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertegun lagi, sambil bertanya dalam hati, kalau ucapan Pak Takmir ini benar adanya, lalu buat apa orang berpesta tiap Tahun Baru tiba? Ia mencoba menduga-duga. Barangkali Pak Takmir berpikir seperti ini: ‘’Harapan itu ada setiap waktu, karena Tuhan sebagai pendengar harap tak terbatas oleh waktu.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Tahun Baru hanyalah setitik momen dalam sekian panjang waktu yang kita miliki dalam hidup ini. Mau Tahun Baru atau tidak, janganlah putus berharap. Sebab, hidup tidak bergulir dari tahun ke tahun, tapi dari detik ke detik  yang terakumulasi dalam bilangan tahun. Dan perubahan yang baik adalah, perubahan yang terjadi dari detik ke detik dari jam ke jam dari hari ke hari.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tuntas debat hati dalam ketertegunannya, Pak Takmir menyela dan membuyarkannya. ‘’Bagi saya tahun baru itu peristiwa biasa saja. Toh setelah pesta, hidup orang mengalir lagi seperti biasa. Bagi saya, seperti pesan Nabi Muhammad, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, itu saja,’’ kata Pak Takmir sambil pamit membersihkan ruang masjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun memang tak lama, buat apa berharap untuk  berubah harus menunggu pergantian tahun dulu. Detik ini, hari ini pun sebenarnya bisa. Lalu teringatlah ia pada puluhan utang perubahan yang belum juga dilunasinya. ‘’Dari berpuluh-puluh tunggakan itu, satu yang paling mendesak saat ini, yaitu bersyukur,’’ batinnya coba mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang ia pada SMS teman kuliah dulu, yang sudah lima tahun lulus, tapi belum juga bekerja. ‘’Alhamdulillah, meski belum sepenuhnya sesuai idealisme dan harapan, saya ada pekerjaan.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat ia pada cerita seorang sahabat, yang setiap saat harus bertengkar dengan istrinya, karena anggaran bulanan keluarga tak pernah cukup. ‘’Ya, Allah, Engkau Maha Pemurah. Walau tak berlebih, tapi rezekimu selalu tiba tiap hamba-Mu membutuhkannya.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatannya melayang pada bocah kurus berkaos oblong tanpa celana yang menangis di tepi jalan dekat rumah liar Tiban III. ‘’Ya, Tuhan, Engkau luar biasa. Telah Kau karuniakan bagi keluarga kami seorang anak yang senantiasa melahirkan tawa dan kegembiraan di tengah gelisahnya hati.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Sudahlah, Mas. Jangan terlalu lama melamun. Sudah mau maghrib. Berdoalah dan berusahalah setiap saat, jangan hanya di Tahun Baru, mudah-mudahan besok ada perubahan,’’ suara Pak Takmir mengagetkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Terima kasih. Saya ingin mencoba, tolong doakan saya.’’ Ia pun pamit pada Pak Takmir. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-2725854052484246436?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/2725854052484246436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=2725854052484246436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2725854052484246436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/2725854052484246436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2007/12/setahun-itu-tak-lama_280.html' title='Setahun Itu Tak Lama'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-6744120215929371870</id><published>2007-12-28T23:16:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:45:56.614-08:00</updated><title type='text'>Bertaruh Nyawa Menjaga Hutan</title><content type='html'>KARTU bridge warna biru itu tak sempat dirapikan. Lembar-lembarnya berserakan tak beraturan. Umar Saleh (34) bersusah payah menyusunnya. Tapi, kantuk yang mendera membuat tangannya seperti kehilangan tenaga. Ia terkulai dengan wajah tengkurap di atas lembaran kartu permainan logika yang sudah lusuh itu. Sayup-sayup suara dengkuran terdengar dari mulutnya. Berpacu dengan bisingnya knalpot dan mesin kendaraan yang melintas hanya beberapa meter saja tempatnya terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Anggalena (29), rekan Umar Saleh, sudah lebih dulu menuju ‘’peraduan’’. Meski hanya beralas sehelai tembikar, lelaki asal Aceh itu tak merasa kedinginan. Bahkan, ia tidur tanpa baju. ‘’Pengap dan gelap di sini. Tapi, silakan kalau mau istirahat,’’ kata Anggalena kepada saya di Pos Pengamanan Hutan Lindung Seiladi. ‘’Saya ketiduran, habis kerja kami hanya berjaga seharian,’’ kata Umar. ‘’Suntuk juga, tapi tak ada pilihan,’’ lelaki asal Flores beranak dua itu menambahkan. Umar dan Angga adalah petugas jaga hutan atau biasa disebut jagawana, khusus Hutan Lindung Seiladi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hutan Lindung Seiladi memiliki luas 59,37 hektare. Kawasan itu ditetapkan sebagai hutan lindung melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 428/Kpts-II/1992. Kerika itu Menteri Kehutanan dijabat oleh Ir. Hasrul Harahap. Hutan Lindung Seiladi membentang dari arah Simpang Jam sampai areal permukiman Tiban Kampung. Ia berbatasan dengan Hutan Lindung Bukit Tiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan itu melintasi sebuah waduk yang jadi salah satu sumber air utama warga Batam, Waduk Seiladi. Volume air di waduk ini mencapai 9.600.000 meter kubik, dengan kisaran debit 290 liter per detik. Fungsi utama Hutan Lindung Seiladi adalah menjaga sistem tata air atau hidro orologis Waduk Seiladi. Umar dan Anggalena adalah bagian tak terpisahkan dari lingkaran sistem itu. Menjaga agar hutan tak punah dan air waduk tak mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah pengamanan Umar dan Angga berada tak jauh dari Waduk Seiladi. Pos mereka berjarak sekitar 100 meter dari jembatan besi yang membentang di atas waduk itu, tepat di seberang jalan masuk Hotel Vista. Beban tugas sebagai jagawana tidaklah ringan. ‘’Selain menjaga hutan, kami juga mengamankan waduk,’’ kata Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dua rekan lainnya, mereka bergiliran siang dan malam. Kadang duet Umar dan Angga kebagian jatah jaga malam, rekan lainnya jaga siang. Dan, sebaliknya. Untuk menumpas rasa jemu karena berjaga seharian atau semalaman, mereka bermain bridge. ‘’Kalau main kartu terus bosan juga. Ya, kita tidur aja lah,’’ ucap Angga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga mengatakan, mengamankan hutan butuh nyali besar. ‘’Ini kerja menyabung nyawa,’’ katanya.  Selain berhadapan dengan manusia, mereka juga harus menatap risiko bertemu binatang buas. ‘’Yang harus kita hadapi penebang liar dengan alat yang tak bisa ditandingi,’’ ujarnya dengan ekspresi orang sedang ketakutan. Bagi Umar dan Angga menyerbu penebang liar adalah berjudi dengan nasib. Pasalnya, peralatan yang mereka miliki sungguh sangat minim. Patroli rutin yang mereka gelar hanya berbekal sebuah senter. Senjata? ‘’Senjata kami hanya keberanian,’’ Angga mengeluh. ‘’Paling kalau duel, ya pakai kayu,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penebang liar kini makin canggih. Selain menggunakan mesin, mereka juga pakai kendaraan roda empat gardan ganda menembus hutan. Sebab itu, jagawana kerap kecolongan. Pernah, suatu ketika, tutur Umar, mereka dapat informasi ada penebang liar. ‘’Tapi, begitu sampai di lokasi, kita hanya menemukan sisa-sisa. Kami kalah cepat,’’ kata Umar. Sama dengan Angga, Umar pun hanya mengandalkan nyali dan pasrah pada Tuhan. ‘’Sesungguhnya ibadahku, hidup dan matiku hanya karena Allah,’’ kata Umar mengutip bacaan salat. ‘’Kalau terjadi apa-apa itu risiko,’’ katanya kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu pula, setiap penggerebegan penebangan liar mereka lebih memilih berkoordinasi dengan Direktorat Pengamanan Otorita Batam. ‘’Kita lapor ke pusat saja,’’ kata Angga. Pusat yang dimaksud adalah OB sebagai institusi.  Karena, rantai informasi yang begitu panjang, jangan heran mereka sering kecolongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mengamankan hutan, mengawasi waduk pun tak kalah rumitnya. Mereka diperintahkan untuk melarang orang-orang yang memancing di waduk itu. Tapi, usaha mereka kerap membentur tembok. ‘’Yang paling banyak mancing justru aparat. Kita serba salah,’’ kata Angga. ‘’Kita ingatkan, mereka  malah sebut-sebut pangkat segala,’’ katanya. ‘’Bahkan, motor mereka di parkir di depan pos kami ini. Ini nantang atau apa?’’ ucapnya.  ‘’Orang ATB pun sering mancing di sini,’’ ia menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati mempertaruhkan nyawa, tapi upah yang diterima jagawana masih jauh dari layak. Per bulannya, ungkap Angga, mereka hanya mendapat gaji Rp750 ribu yang dibayar tiap tanggal 17 plus makan siang. Kalau kebagian shift malam, jatah makan hilang. Terpaksa bawa sendiri dari rumah. ‘’Yang antar gaji orang dari PT,’’ kata Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, mereka direkrut melalui perusahaan outsourcing. Tapi, malangnya, Angga dan Umar sendiri tak tahu nama perusahaannya. ‘’Apa ya…? Saya lupa,’’ kata Angga sambil menatap Umar seolah mencari jawaban kepada rekannya itu. ‘’Saya juga tak tahu,’’ Umar menukas cepat.  ‘’Yang jelas, orangnya kalau datang pakai Motor Supra Fit,’’ ujar Angga. Mereka juga tak paham apakah dapat asuransi kerja atau tidak. ‘’Itulah, saya nggak ngerti. Ditawarkan kerja, ya saya terima saja,’’ kata Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukupkah gaji itu? ‘’Jangankan Pak Umar yang punya keluarga, saya yang lajang saja, gaji itu tak cukup,’’ ungkap Angga. Dan, tak hanya gaji yang di bawah UMK, fasilitas kerja pun sungguh sangat minim. Dari pertama masuk, mereka dijanjikan akan diberi seragam dinas (pakaian, sepatu dll). ‘’ Tapi sampai sekarang nggak ada. Mungkin dia sudah lupa,’’ kata Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos penjagaan yang mereka tunggui pun kondisinya sangat memprihatinkan. Kamar mandi yang tersedia di dalam pos, tak pernah berfungsi, karena tidak ada aliran air. ‘’Kalau mau buang air atau mandi, harus pergi ke mata air di belakang, jaraknya 200 meter,’’ ujar Umar.  Derita itu belum cukup, listrik di pos jaga pun kini tak mengalir lagi. ‘’Sudah dua bulan mati,’’ kata Angga. Sampai sekarang, mereka hanya mengandalkan penerangan lampu jalan yang berada persis di depan pos jaga.  ‘’Beginilah, bagaimana lagi,’’ kata Umar. ‘’Kalau ada pekerjaan lain, tolong kabari saya,’’ Angga berharap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SETELAH hampir 14 tahun sejak pertama kali dikukuhkan, kondisi hutan di Batam telah mengalami banyak perubahan, penyusutan, dan kerusakan. Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Batam, Himawan Sasongko menyebutkan, kerusakan hutan di Batam disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, adanya perubahan peruntukan secara sepihak untuk kepentingan pembangunan. Kedua, karena perambahan liar. ‘’Namun, faktor pertama jauh lebih dominan. Perambahan liar persentasenya sangat kecil sekali,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan peruntukan secara sepihak yang dimaksud Himawan adalah pengalokasian kawasan hutan lindung oleh Otorita Batam kepada pihak ketiga untuk keperluan komersil. Selama ini, proses itu dikenal dengan istilah ‘’alih fungsi”. Akan tetapi, Himawan menjelaskan, kata ‘’alih fungsi” bisa digunakan jika perubahan peruntukan hutan sudah mendapat persetujuan Menteri Kehutanan dan dibuatkan surat keputusannya. ‘’Kalau belum ada SK Menhut, berarti itu perubahan peruntukan secara sepihak, bukan alih fungsi,” tegasnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yang berhak melakukan alih fungsi kawasan hutan adalah Menteri Kehutanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan fungsinya, hutan di Batam dibagi dalam dua kategori, yaitu hutan lindung dan hutan wisata. Seluruhnya ada 13 titik. 12 titik merupakan kawasan hutan lindung, dan satu titik adalah kawasan hutan wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Berdasarkan prinsip otonomi daerah, hutan lindung berada di bawah kendali pemerintah daerah. Sementara hutan wisata adalah kawasan konservasi untuk pengembangan wisata alam. Pengawasan dan kendali terhadap hutan wisata berada di bawah Kantor KSDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kawasan hutan di Batam ditetapkan melalui empat Surat Keputusan Menteri Kehutanan. SK Nomor 427/Kpts-II/1992 adalah penetapan untuk Hutan Wisata Mukakuning seluas 2.065.62 hektare; SK Nomor 428/Kpts-II/1992 adalah penetapan untuk hutan lindung di kawasan Sekupang (terpecah di empat titik) dengan total luas 2.695.37 hektare; SK Nomor 719/Kpts-II/1993 menetapkan kawasan hutan lindung di Batuampar dan Tanjungpiayu yang luas keseluruhannya mencapai 674.66 hektare: SK Nomor 202/Kpts-II/1994 mengukuhkan empat kawasan hutan lindung di Duriangkang, Baloi, dan Nongsa (dua titik) dengan total keseluruhan 6.645.95 hektare. Secara keseluruhan, luas hutan lindung dan hutan wisata di Batam adalah 12.081.60 hektare.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PUSAT perbelanjaan Aviari di Batuaji selalu ramai dikunjungi. Selain supermarket moderen, juga ada pasar tradisional melengkapi fasilitas yang dibangun pengelola. Dulu, area tempat pertokoan itu kini berdiri adalah Hutan Wisata Mukakuning. Area itu dialokasikan secara sepihak oleh Otorita Batam pertama kali pada tahun 1994. Atau hanya berselang dua tahun setelah penetapan oleh Menhut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, perubahan sepihak seolah tak bisa dihentikan. Hutan Wisata Mukakuning yang juga meliputi kawasan komersil Panbil, hingga akhir 2005, diperkirakan menyusut sampai 800 hektare! Anehnya, Otorita Batam tak pernah berkirim surat ke Kantor KSDA sebagai pengendali hutan wisata, perihal areal yang sudah dialokasikan dan yang bakal dialokasikan. ‘’Kalau mereka ajukan, pasti kami tolak. Tapi, sampai hari ini tak ada selembar pun surat dari OB yang masuk,” ungkap Himawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup dengan hutan wisata, hutan lindung pun ikut dalam perubahan peruntukan sepihak itu. Bahkan, Hutan Lindung Batuampar I seluas 78,21 hektare, tandas tak bersisa! Hutan Lindung Batuampar III juga bernasib hampir serupa. Dari total luas 248.10 hektare, yang tersisa hanya 5.10 hektare saja! Semua berubah jadi ruko, perumahan, dan kawasan industri. Berdasarkan catatan rekapitulasi tahun 2003 yang dibuat Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Kota Batam, perubahan peruntukan hutan mencapai 1.618.91 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Batam membisikkan, ‘’Kalau pemerintah konsisten, mereka yang terlibat bisa dibui dengan jerat UU 41. Apa bedanya ini dengan ilegal logging. Malah lebih gawat dari ilegal logging.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi IV DPR RI menuliskan angka perubahan seluas 2.235 hektare sampai akhir 2005. Dari jumlah yang direkam wakil rakyat di pusat itu, seluas 846 hektare di antaranya sudah didiami bangunan permanen. Padahal, kata Ketua Sub Komisi Kehutanan Komisi IV DPR, Suswono, seluruh areal hutan yang sudah berubah fungsi itu belum mendapat persetujuan pemerintah dan DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU 41/1999 secara tegas menyebutkan, alih fungsi hutan harus mendapat persetujuan DPR. Suswono meminta dilakukan pengkajian ulang untuk rekonservasi. ‘’Jika perlu, bangunan itu dibongkar dan lahannya dikembalikan jadi hutan lindung,” tegasnya. 'Sekalipun pihak ketiga sudah mengantongi izin prinsip atau membayar UWTO,'' kata Azwar Chez Putra, kolega Suswono di Komisi IV. Suswono meradang. Pasalnya, legislator dari PKS itu melihat OB tak pernah menjalankan mekanisme yang diatur UU dalam mengalokasikan kawasan hutan lindung. Legislatif merasa dilangkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih fungsi hutan harus melewati beberapa tahapan. ‘’Pertama, mereka harus membuat permohonan resmi dulu kepada Menteri Kehutanan,” papar Himawan. Setelah Itu, Menhut melalui jajaran di bawahnya melakukan pengkajian dan anlisa. ‘’Dalam hal ini, kita harus meminta pertimbangan otoritas keilmuan. Bisa saja dalam hal ini LIPI. Itu diatur dalam undang-undang,” kata Himawan lebih lanjut. Dari kajian itu, Menhut bersama jajarannya akan membuat resume dan meminta persetujuan DPR. Jika Menhut setuju dan DPR menyatakan OK, maka alih fungsi bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak OB beralasan, perubahan fungsi hutan lindung dilakukan untuk mendukung investasi. Pada beberapa titik hutan mereka mencarikan hutan pengganti dan melakukan penghijauan. Menurut Direktur Permukiman, Tenaga Kerja dan Sosial OB, Fitrah Kamarudin, setidaknya ada anggaran sebesar Rp700 juta per tahun untuk penghijauan kawasan yang sudah gundul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di mata Azwar Chez Putra, alasan itu tak bisa diterima. Justru, kata dia, Batam tidak akan menarik lagi sebagai kawasan tujuan investasi jika beberapa tahun ke depan daerah ini kesulitan sumber air bersih. Investor akan ketar-ketir. ‘’Kalau begitu, bukan investasi yang akan kita dapat, tapi bencana yang bakal dituai,” kata politisi Partai Golkar asal Riau itu. ‘’Justru banjir yang akan jadi langganan,” ujarnya. Peringatan Azwar bukan isapan jempol. Bencana banjir dan longsor, karena kian menyusutnya daerah serapan air, sudah jadi tamu tahunan penduduk Batam. Bahkan, awal 2006 lalu gambaran mengerikan itu sudah jadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal krisis air juga sangat mungkin terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Waduk Baloi sebagai salah satu sumber air bersih tidak lagi difungsikan seiring pengalokasian kawasan hutan lindung di sana untuk kepentingan komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halomoan Panjaitan, mantan staf ahli Ketua OB, dalam risalahnya menjelaskan, kawasan hijau Waduk Baloi merupakan salah satu situs sejarah yang harus dilindungi. Kawasan ini adalah penyimpan air pertama di Batam. Dari sisi fungsi? ''Batam akan kekurangan 30 liter per detik air jika Dam Baloi kelak dimatikan,'' kata Halomoan dalam penghitungan teknisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun pengalihfungsian hutan Waduk Baloi telah dituangkan dalam MoU Pemko dan OB tentang Pengembangan Baloi Dam Nomor 12/MoU/IX/2003 dan Nomor 15/PWERJ-KA/IX/2003 tertanggal 12 September 2003, toh masih ada yang bisa terselamatkan dari rentetan catatan di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan hutan tentulah bagai deret ukur dengan deret hitung, tak akan pernah bertemu pada satu simpul yang sama. Deforestasi sudah begitu cepat lajunya, sementara kemampuan mengembalikan ke tingkat semula sangat minimal. ''Saya khawatir dengan kondisi saat ini dan melihat deforestasi yang begitu tinggi dalam waktu 15 tahun lagi hutan kita akan habis,'' ujar salah seorang anggota Komisi III DPRD Kota Batam. Melihat fakta tersebut, dia menyatakan pemerintah harus sangat tegas memberlakukan peraturan yang berlaku dan meninjau aturan yang jelas tak mendukung upaya-upaya penyelamatan hutan. Pemerintah juga jangan sampai membiarkan ada lahan hijau yang dibiarkan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himawan Sasongko mengatakan, jalan satu-satunya adalah moratorium (penghentian) alokasi hutan lindung untuk pembangunan. ‘’Tidak ada pilihan. Kondisinya sudah lampu kuning,” katanya. Selain banjir dan terancamnya sumber air bersih, kerusakan hutan juga akan berdampak terhadap suhu kawasan yang akan terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim peneliti dari ITB dalam paparannya pertengahan 2002 silam memperkirakan, pada 2009 Batam akan kesulitan air bersih, salah satu penyebabnya, berkurangnya catchment area. ‘’Kita belum punya teknologi menyuling air laut untuk air minum,” kata Himawan. ‘’Cari air sulit, cuaca pun akan terus terasa gerah. Perkiraan dan cuaca sangat mudah meleset,” paparnya. ‘’Kalau seperti itu, siapa orang yang mau tinggal di Batam?” katanya bertanya. Jawabannya ada pada komitmen pemerintah dan lembaga yang punya kewenangan mengalokasikan lahan, apakah mereka bersedia berhenti bersekongkol dengan kelompok kapitalis penghisap hutan Batam?  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-6744120215929371870?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/6744120215929371870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=6744120215929371870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6744120215929371870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/6744120215929371870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2007/12/bertaruh-nyawa-menjaga-hutan.html' title='Bertaruh Nyawa Menjaga Hutan'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-5668350066354159710</id><published>2007-12-28T23:13:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:46:30.770-08:00</updated><title type='text'>Mereka Pamit Setelah Digigit</title><content type='html'>SARI Rahma kini hanyalah sebuah nama yang jadi kenangan tak terlupakan bagi keluarga Salbi dan Siti Lazima. Bocah perempuan berusia 12 tahun itu tak lagi muncul di tengah-tengah kehidupan mereka. Tak ada lagi kelucuan dan kelincahan Sari yang biasa mewarnai hari-hari keluarga Salbi. Hilang pula kenakalan khas anak-anak yang selama ini menghadirkan derai tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sari Rahma gadis cilik yang menjadi bunga di sebuah rumah bersahaja di Kampung Agas RT IV/RW VII, Kelurahan Seiharapan itu, pergi meninggalkan Salbi dan Siti selama-selamanya. Virus demam berdarah dengue (DBD) merenggut hidupnya sebelum sempat menapak masa yang lebih indah. Bunga keluarga Salbi itu kuncup sebelum merekah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sari ‘pamit’ pada Senin, 28 Juni silam di ruang ICU Rumah Sakit Umum Otorita Batam (RSUOB). Pelajar kelas enam SD itu digotong ke rumah sakit sepekan sebelumnya. Siti menuturkan, putri kesayangannya itu mengalami demam tinggi sekitar empat hari sebelum dibawa ke rumah sakit. Kala itu, Siti menduga anaknya hanya didera demam biasa. Karena itu, kata dia, ‘’Saya bawa berobat ke bidan saja.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena resep bidan tak mempan meredakan demam Sari, Siti memutuskan membawanya ke rumah sakit. Di sana, ia dipasangi dua buah selang infus masing-masing di hidung bagian kiri dan tangan sebelah kanan. Tapi, panas Sari tak surut juga. Ia masih sering merasakan demam tinggi bahkan kerap mengeluarkan muntah. Berbagai upaya ditempuh tim dokter untuk menyelamatkan Sari, tapi Tuhan menginginkannya saat itu juga. Pukul 11.15 Senin itu, Sari meninggalkan dunia fana. Duka menyesaki relung hati Salbi sekeluarga. ‘’Kami hanya bisa tabah dan berdoa semoga arwah Sari diterima di sisi-Nya,’’ kata Salbi pasrah. Sari dimakamkan di Pekuburan Umum Seipanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DBD pula yang memisahkan Petrus Panji Negara Sipahutar, biasa dipanggil Ipan, dengan kedua orangtuanya Dumas Sipahutar dan Sutinah Br Tobing. Ipan yang masih berumur lima tahun itu meninggal di RSUOB Selasa, 2 Mei silam.  Sebelum masuk ke RSOB, warga Perumahan Bida Ayu, Tanjungpiayu tersebut sempat di rawat di RSUD Batuaji dan RS Casa Medical Center, Mukakuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian Ipan menambah panjang daftar kemalangan yang menimpa keluarga Dumas Sipahutar. Pasalnya, setahun lalu, salah seorang anaknya telah lebih dulu ‘meninggalkan’ mereka sekeluarga. Enam bulan kemudian bayi kembar pasangan Dumas-Sutinah juga mengalami nasib serupa. Kini, keluarga ini hanya punya Daniel (12) sebagai pelipur lara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari dan Ipan adalah dua dari 149 korban DBD yang terdata sejak Januari lalu. Korban terakhir yang meninggal tercatat adalah Satria (1,9 tahun). Balita itu wafat di RSUD Batuaji, awal Agustus lalu, selang beberapa jam setelah sampai di rumah sakit milik pemerintah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal musim penghujan pertengahan tahun ini, kasus DBD merebak lagi. Hampir setiap hari, rumah sakit kedatangan pasien DBD. Di RSUD saja, misalnya, dalam sepekan terakhir tercatat enam orang pasien. Pun demikian di RSUOB dan sejumlah rumah sakit lainnya. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan, tapi jatuhnya korban tak bisa dihindarkan. ‘’Batam masih rawan,’’ kata Kepala RSUD Batam dr Nenden Siti Komariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, kata dia, bila ada anggota keluarga yang terkena gejala DBD berupa demam tinggi, sakit pada otot dan persendian, serta timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, maka segera larikan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. ‘’Jangan biarkan jadi parah. Makin cepat dibawa ke rumah sakit, makin besar kemungkinan diantisipasi,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, hampir sebagian warga, termasuk kalangan menengah atas, tidak bisa membedakan gejala DBD dengan gejala flu biasa ataupun penyakit lain, karena semuanya memiliki kemiripan. Bahkan, tak jarang petugas medispun kerap salah menduga. Karena itu, penanganan dan langkah pencegahan yang diberikan kepada korbanpun jadi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah pengakuan Nurhayati (35), warga Perumahan Bida Ayu, Blok W, Tanjungpiayu, ketika anaknya Monika Matondang terserang DBD, pertengahan Mei lalu. Nurhayati menuturkan, begitu Monika menderita panas dan demam ia langsung membawanya ke bidan terdekat untuk mendapat pertolongan. ‘’Kata bidan, anak saya kena demam dan campak,’’ ia menuturkan. ‘’Karena demamnya tak turun juga saya putuskan bawa ke rumah sakit saja, eh, ternyata DBD,’’ katanya. Setelah menjalani rawat inap di RSUOB, Monika dinyatakan sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal salah diagnosis ini diakui dr Titte K. Adimidjaja dari Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan. Dalam situs depkes.go.id, ia menyebutkan, ‘’Penyakit DBD sering salah diagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah bisa bertambah rumit karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu, kata Titte K. Adimidjaja, diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang, Kepala Dinas Kesehatan Batam juga mengakui seringnya salah diagnosa terhadap penderita dalam penanganan pertama. Akibatnya, penderitaan korban jadi berlarut-larut. Sebab itu, ia mewanti-wanti warga agar langsung ke rumah sakit saja. ‘’Kalau anaknya demam jangan ditunda, langsung periksa ke dokter jangan bidan. Bidan kan tidak ahli dalam hal penyakit DBD ini,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli epidemiologi dari RSUOB dr Thamrin Aziz menjelaskan, penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4 oleh nyamuk aedes aegypti. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. ‘’Yang paling berat itu tipe tiga,’’ ujar Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan terserang penyakit DBD setelah mendapat gigitan aedes aegypti, dan virus yang dibawa oleh nyamuk tersebut menyebabkan gangguan pada pembuluh darah. ‘’Tapi, tidak setiap gigitan akan menyebabkan DBD,’’  katanya. Pasalnya, tidak semua nyamuk aedes aegypti mengandung virus dengue setiap saat. Akan tetapi, kata dia, warga harus tetap berhati-hati dan melakukan pencegahan dini. ‘’Karena sampai sekarang DBD belum ada obatnya,’’ Thamrin mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena obat penangkal belum ditemukan, maka penanganan yang diberikan kepada korban adalah meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh. Maka tak heran, begitu pasien DBD masuk, petugas rumah sakit langsung memasang selang infus untuk menyuntikkan nutrisi ke dalam tubuh korban. Bahkan, hingga dua selang infus sekaligus. Trombositnya juga ditambah. ‘’Hanya itu yang bisa dilakukan, karena seperti penyakit AIDS, obat DBD juga belum ditemukan,’’ papar Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi lingkungan adalah faktor yang paling menentukan berkembang biaknya penyakit membunuh ini. Departemen Kesehatan menyebutkan, yang paling berisiko menderita DBD adalah warga yang tinggal di daerah lembab serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan dari sejumlah rumah sakit di Batam, mayoritas penderita DBD adalah warga yang hidup di permukiman padat. Dinas Kesehatan Kota Batam mengidentifikasi kawasan Sagulung, Tiban kampung, Bengkong, dan beberapa permukiman padat lainnya sebagai daerah rawan DBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thamrin mengatakan, nyamuk aedes aegypti berbeda dengan nyamuk anopeles penyebab malaria. Aedes aegypti, dalam istilah Thamrin, adalah “nyamuk elit”. Pasalnya, ia hanya bisa berkembang biak pada air yang bersih dan jernih. ‘’Tidak seperti nyamuk anopeles yang hidup di selokan,’’ katanya. Karena itu, yang terus menjadi perhatian adalah tempat-tempat penampungan, seperti bak air kamar mandi, tempat penampungan air minum, dan pot bunga. ‘’Hujan yang belakangan ini sering turun menyebabkan air banyak yang tergenang hingga habitat nyamuk makin tinggi pula,’’ kata Thamrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan faktor penyebab seperti itu, Thamrin tak sepakat bila DBD dikategorikan hanya untuk kelompok warga kurang mampu saja. ‘’Mau anak yang tinggal ruli atau anak direktur sekalipun bisa kena DBD. Virus dengue tidak mengenal diskriminasi,’’ ujarnya. ‘’Sepanjang lingkungannya rawan untuk pembiakan aedes aegypti mau di perumahan elit sekalipun bisa kena,’’ katanya.  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2276975256795875703-5668350066354159710?l=iqbalfile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iqbalfile.blogspot.com/feeds/5668350066354159710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2276975256795875703&amp;postID=5668350066354159710' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5668350066354159710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2276975256795875703/posts/default/5668350066354159710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iqbalfile.blogspot.com/2007/12/mereka-pamit-setelah-digigit.html' title='Mereka Pamit Setelah Digigit'/><author><name>Muhammad Iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15731715341250585111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2276975256795875703.post-9016796263654440985</id><published>2007-12-24T19:38:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T05:46:57.549-08:00</updated><title type='text'>20/11/2006 (Kelahiran)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/R3B8brugj4I/AAAAAAAAABU/6o4WYVnlwvE/s1600-h/Radith+5.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147751189120585602" src="http://1.bp.blogspot.com/_ekFPfeeP7Xc/R3B8brugj4I/AAAAAAAAABU/6o4WYVnlwvE/s320/Radith+5.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HARI baru saja berganti. Pukul 24.10, sepi membekap kawasan Simpang Jam, titik lalu lintas terpadat di Batam. Dari sebuah kamar di lantai dua Rumah Sakit Awal Bros, seorang suster berseragam merah berkata kepada rekan kerjanya, yang mengenakan seragam putih, ‘’Kalau jam segini, Batam sudah mati,’’ ujarnya. ‘’Kita saja yang masih hidup,’’ temannya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di samping kedua suster itu, di atas sebuah ranjang dengan seprei putih, seorang perempuan tak henti mengucap sahadat dan salawat. Ujung selang infus terpasang di tangan kirinya. ‘’Sudah buka berapa?’’ suster baju merah bertanya. ‘’Baru dua,’’ si baju putih menjawab dan menambahkan, ‘’Masih lama, mungkin tiga jam lagi.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiga jam, dalam situasi menahan sakit, bukanlah waktu yang singkat. Setelah para suster itu pergi, saya mengulang lagi ucapannya kepada perempuan yang terbaring di ranjang. ‘’Suster tadi bilang sekitar tiga jam lagi,’’ kata saya. ‘’Ya, nggak apa-apa, tunggu saja,’’ kata Narti Kristiyani, perempuan itu, istri saya. Ia sedang berjuang menahan sakit mela
