Penduduk antarpulau kecil yang berserak di Kabupaten Natuna, kepulauan di kawasan perbatasan yang menyimpan lebih dari separuh cadangan gas nasional ini, dilayani oleh sebuah kapal kargo bekas. Kondisinya jauh dari layak.
______
DARI kejauhan, Pulau Senua mirip orang yang sedang tidur telungkup. Karena itu, orang Ranai menyebutnya Pulau Putri Tidur. Dari dermaga kecil di Pantai Tanjung, di ibu kota Kabupaten Natuna itu, Pulau Senua bisa dicapai 20 menit dengan pompong. Laut sekitar Pulau Senua sangat bersih. Karang di kedalaman tujuh meter pun masih bisa dilihat dari permukaan air. Para pekerja ekspatriat perusahaan pengeboran minyak dan gas di lepas pantai Laut China Selatan kerap menyelam di Senua.
Aneka jenis ikan hidup di sana. Ketika musim utara tiba, November-Februari, nelayan setempat bak memancing di kolam sempit yang penuh ikan. "Itulah musim terbaik untuk mencari ikan," ujar Musidi, nelayan dari Pantai Tanjung. "Sehari, kalau sanggup bisa dapat lima ton," ujarnya.
Senua adalah satu dari tujuh pulau terluar Indonesia di Natuna. Sejauh 12 mil laut ke arah timur melintas garis batas negara Indonesia dengan Malaysia. Enam pulau terluar lainnya adalah Pulau Tokong Boro yang berbatasan dengan Malaysia bagian barat, Pulau Kepala di Serasan dan Pulau Subi Kecil yang berbatasan dengan Malaysia bagian timur, serta Pulau Semiun, Pulau Sebetul, dan Pulau Sekatung yang berbatasan dengan Malaysia bagian barat, Thailand, dan Vietnam.
jika kau menghamba kepada ketakutan kita memperpanjang barisan perbudakan (wiji thukul)
Thursday, November 29, 2012
Saturday, March 17, 2012
Langit Garuda dalam Cengkeraman Singa
Sudah 66 tahun, setara dengan usia kemerdekaan Indonesia, ruang udara Indonesia di wilayah Kepri dikuasai dan dikendalikan Singapura. Pesawat-pesawat Indonesia, termasuk pesawat militer yang ingin berangkat, mendarat, atau hanya sekedar melintas di atas Batam, Tanjungpinang, dan Natuna harus mendapat izin Singapura terlebih dahulu. Upaya merebut kembali kedaulatan itu selalu gagal di meja perundingan.
DARI pengeras suara di langit-langit ruang kantor pengelola Bandar Udara Hang Nadim Batam, pengumuman itu terdengar nyaring. “ ...Pesawat Lion Air tujuan Jakarta segera diberangkatkan.” Pada saat yang sama, Kamis siang pertengahan Februari 2012, di ruang tunggu A4, yang berjarak 50 meter dari kantor pengelola Bandara, puluhan calon penumpang merangsek masuk ke tubuh bongsor Boeing 737 ER 900 milik Lion Air.
Sepuluh menit berselang, pesawat berjalan pelan menuju landasan pacu, siap lepas landas. Kendati berangkat dari Batam menuju Jakarta, yang sama-sama berada di wilayah Indonesia, tetapi pesawat Lion Air baru boleh bergerak dari apron ke landasan pacu Hang Nadim dan kemudian mengangkasa, setelah ada restu dari otoritas penerbangan Singapura.
“Di sini, semua pesawat yang ingin take off atau landing harus mendapat izin dari Singapura. Kalau dari sana belum kasih persetujuan belum boleh berangkat,” kata Hendro Harijono, Kepala Kantor Pengelola Hang Nadim.
DARI pengeras suara di langit-langit ruang kantor pengelola Bandar Udara Hang Nadim Batam, pengumuman itu terdengar nyaring. “ ...Pesawat Lion Air tujuan Jakarta segera diberangkatkan.” Pada saat yang sama, Kamis siang pertengahan Februari 2012, di ruang tunggu A4, yang berjarak 50 meter dari kantor pengelola Bandara, puluhan calon penumpang merangsek masuk ke tubuh bongsor Boeing 737 ER 900 milik Lion Air.
Sepuluh menit berselang, pesawat berjalan pelan menuju landasan pacu, siap lepas landas. Kendati berangkat dari Batam menuju Jakarta, yang sama-sama berada di wilayah Indonesia, tetapi pesawat Lion Air baru boleh bergerak dari apron ke landasan pacu Hang Nadim dan kemudian mengangkasa, setelah ada restu dari otoritas penerbangan Singapura.
“Di sini, semua pesawat yang ingin take off atau landing harus mendapat izin dari Singapura. Kalau dari sana belum kasih persetujuan belum boleh berangkat,” kata Hendro Harijono, Kepala Kantor Pengelola Hang Nadim.
Tuesday, January 31, 2012
Pak Ruhmari dan Mas Teguh
PAK RUHMARI dan Mas Teguh, ayah dan anak dari Jepara, adalah orang kecil belaka. Jika tak ada peristiwa getir yang melibatkan keluarga mereka, dan diekspos luas media massa, barangkali kita takkan mengenal keduanya.
Pak Ruhmari dan Mas Teguh adalah orang kecil belaka, bukan sosialita kota yang sering datang ke acara-acara amal untuk orang miskin dengan tas kulit, rambut berlumur jelly, dan sneakers berharga puluhan juta.
Tetapi, kelapangan dan ketulusan hati mereka melampaui sekat-sekat teritorial dan status sosial yang dibuat manusia.
Pak Ruhmari dan Mas Teguh adalah orang kecil belaka, bukan sosialita kota yang sering datang ke acara-acara amal untuk orang miskin dengan tas kulit, rambut berlumur jelly, dan sneakers berharga puluhan juta.
Tetapi, kelapangan dan ketulusan hati mereka melampaui sekat-sekat teritorial dan status sosial yang dibuat manusia.
Monday, January 23, 2012
Roh Moo-hyun
DI usianya yang tak lagi muda, 62 tahun, Roh Moo-hyun mestinya hidup dalam ketenangan. Jabatan Presiden Korea Selatan yang pernah digenggamnya selama lima tahun, dari 2003-2008, lebih dari cukup untuk menjamin kesejahteraan di hari tua.
Tetapi, di hari-hari masa pensiunnya, Roh adalah seorang yang gelisah. "Banyak orang menderita karena saya," ujarnya. "Apa yang saya lakukan di akhir hayat hanya jadi beban untuk orang lain."
Tetapi, di hari-hari masa pensiunnya, Roh adalah seorang yang gelisah. "Banyak orang menderita karena saya," ujarnya. "Apa yang saya lakukan di akhir hayat hanya jadi beban untuk orang lain."
Sunday, November 20, 2011
Ikan Teri dan Sarung Gubernur Sani
SABTU pagi pertengahan Juli 2011 lalu, saya dihubungi Rizal Saputra, staf khusus Gubernur Kepri Muhammad Sani.
"Gubernur minta diwawancara soal setahun kepemimpinannya," kata Rizal.
"Kapan?" saya bertanya.
"Pagi ini kita ke Tanjungpinang," katanya.
Naik feri pukul 10.00 dari Pelabuhan Punggur sampai di Tanjungpinang hampir pukul 11.00. Setelah makan gado-gado di pintu keluar pelabuhan, kami berjalan kaki ke Gedung Daerah, rumah dinas Gubernur Kepri yang tak jauh dari pelabuhan.
"Gubernur minta diwawancara soal setahun kepemimpinannya," kata Rizal.
"Kapan?" saya bertanya.
"Pagi ini kita ke Tanjungpinang," katanya.
Naik feri pukul 10.00 dari Pelabuhan Punggur sampai di Tanjungpinang hampir pukul 11.00. Setelah makan gado-gado di pintu keluar pelabuhan, kami berjalan kaki ke Gedung Daerah, rumah dinas Gubernur Kepri yang tak jauh dari pelabuhan.
Monday, November 14, 2011
Ke Jantung Sejarah Malaysia
SUNGAI bersih dan tenang. Bangunan tua berarsitektur Eropa, yang terawat baik, berderet di tepi kiri dan kanannya. Sebagian bangunan disulap jadi kafe. Orang-orang duduk di sana menyeruput teh dan kopi, menanti senja, memandang perahu motor yang hilir mudik di aliran sungai.
Ini bukan di Venezia, Italia yang sudah tersohor itu. Ini di Melaka, jantung sejarah negara Malaysia.
Ini bukan di Venezia, Italia yang sudah tersohor itu. Ini di Melaka, jantung sejarah negara Malaysia.
Sunday, July 10, 2011
Mengendalikan Diri di Meja Makan
HAMPIR sebulan lamanya, sejak Mei lalu, saya menderita tukak lambung. Kata dokter di rumah sakit, tukak lambung adalah luka di lapisan lambung atau usus dua belas jari yang disebabkan oleh tingginya asam lambung.
Semua bersumber dari makanan. "Ini karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas dan minum soda," kata dokter pertama yang saya kunjungi. Dokter perempuan itu saya datangi setelah seminggu saya mencoba bertahan dengan mual di perut dan nyeri di ulu hati, karena tersedak-sedak tiap menit.
Setelah dua hari minum obat yang diberikan ibu dokter, penyakit tak juga reda. Saya beralih ke dokter lain. Kali ini obatnya lumayan membantu, meski tak sembuh total. Dokter kedua menguatkan informasi dokter pertama: penyebabnya adalah makanan.
Semua bersumber dari makanan. "Ini karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas dan minum soda," kata dokter pertama yang saya kunjungi. Dokter perempuan itu saya datangi setelah seminggu saya mencoba bertahan dengan mual di perut dan nyeri di ulu hati, karena tersedak-sedak tiap menit.
Setelah dua hari minum obat yang diberikan ibu dokter, penyakit tak juga reda. Saya beralih ke dokter lain. Kali ini obatnya lumayan membantu, meski tak sembuh total. Dokter kedua menguatkan informasi dokter pertama: penyebabnya adalah makanan.
Wednesday, September 15, 2010
Di Sudut Penjara
DI SELA jeruji besi selebar 10 cm, di ruang besuk Lembaga Pemasyarakatan Batam, Senin (6/9), bibir itu beradu. Sebuah kecupan tanda perpisahan. Tak ada kata terucap. Hanya dua pasang bola mata saling menatap, menyiratkan harap bisa berjumpa lagi dalam waktu dekat. Dari balik jeruji, sesosok lelaki berkaus biru melambai kepada perempuan yang baru saja mengecup bibirnya. Setelah si perempuan menghilang di balik pintu penjaga, sang lelaki menyusup ke dalam lingkungan penjara.
Lima belas menit sebelum perpisahan yang mirip jalan cerita di novel cinta itu, keduanya berbincang mesra. Tangan mereka saling menggenggam di sela-sela jeruji penjara. Di sebelah mereka, seorang lelaki paruh baya, yang juga menghuni Lapas Batam, menerima kunjungan istri dan tiga orang anaknya. Istrinya bercerita tentang kelakuan satu per satu anak mereka. Tawa dan keceriaan pecah, meski hanya untuk sementara. Di ujung pertemuan, si istri menyerahkan tiga bungkusan berisi makanan. ''Bapak baik-baik di sini, ya,'' pesannya.
Lima belas menit sebelum perpisahan yang mirip jalan cerita di novel cinta itu, keduanya berbincang mesra. Tangan mereka saling menggenggam di sela-sela jeruji penjara. Di sebelah mereka, seorang lelaki paruh baya, yang juga menghuni Lapas Batam, menerima kunjungan istri dan tiga orang anaknya. Istrinya bercerita tentang kelakuan satu per satu anak mereka. Tawa dan keceriaan pecah, meski hanya untuk sementara. Di ujung pertemuan, si istri menyerahkan tiga bungkusan berisi makanan. ''Bapak baik-baik di sini, ya,'' pesannya.
Monday, August 30, 2010
Menjaga Bakau demi Anak Cucu
TAHUN 2003, saat pertama kali pindah ke Kavling Pancur Pelabuhan, Kelurahan Tanjungpiayu, Batam, Slamet seperti pulang ke desa. Maklumlah, sebelumnya Slamet tinggal di sebuah permukiman liar yang padat dan sumpek di sekitar Batam Center. ''(Saat itu) suasananya beda banget. Di sini masih benar-benar alami,'' katanya.
Sekitar seratus meter di belakang rumahnya, laut menghampar luas. Ratusan pohon bakau ukuran besar tumbuh di bibir pantai. ''Mirip hutan di kampung-kampung. Rimbun,'' ujar ayah empat anak kelahiran Yogyakarta itu. Di sela-sela akar bakau itulah, warga sekitar biasa memancing ikan sembilang atau lele laut. Ikan ini biasanya hidup di bagian laut yang dangkal. Di Kepulauan Riau, ikan sembilang adalah salah satu ikan favorit. Banyak rumah makan menyajikannya dalam bentuk asam pedas.
Sekitar seratus meter di belakang rumahnya, laut menghampar luas. Ratusan pohon bakau ukuran besar tumbuh di bibir pantai. ''Mirip hutan di kampung-kampung. Rimbun,'' ujar ayah empat anak kelahiran Yogyakarta itu. Di sela-sela akar bakau itulah, warga sekitar biasa memancing ikan sembilang atau lele laut. Ikan ini biasanya hidup di bagian laut yang dangkal. Di Kepulauan Riau, ikan sembilang adalah salah satu ikan favorit. Banyak rumah makan menyajikannya dalam bentuk asam pedas.
Saturday, June 26, 2010
Sahabat Anak-anak Tuna Rungu
PEREMPUAN itu mendekatkan wajahnya ke cermin. Bibirnya terbuka lebar ketika melafalkan huruf B dengan suara sedikit nyaring. Seorang anak laki-laki, yang duduk persis di sampingnya, tak bereaksi apa-apa. Si anak mematut cermin, memperhatikan gerak bibir perempuan itu, mengernyitkan dahi, setelah itu menggelengkan kepala.
''Oke, sekarang kita coba pakai kertas ini,'' kata Riniatun, perempuan berjilbab biru yang duduk di depan cermin itu. Ia mengeluarkan potongan kertas kecil dari kantong celana olahraga yang dikenakannya. Dengan tetap menghadap cermin, kertas sepanjang sepuluh sentimeter itu didekatkan ke bibirnya sembari melafalkan huruf B. Kertas berayun ke depan dan ke belakang. Ada getaran di situ. Rafi, anak laki-laki yang duduk di samping kanannya, spontan mengikuti. ''B'', kata Rafi. Suaranya cukup jelas.
''Oke, sekarang kita coba pakai kertas ini,'' kata Riniatun, perempuan berjilbab biru yang duduk di depan cermin itu. Ia mengeluarkan potongan kertas kecil dari kantong celana olahraga yang dikenakannya. Dengan tetap menghadap cermin, kertas sepanjang sepuluh sentimeter itu didekatkan ke bibirnya sembari melafalkan huruf B. Kertas berayun ke depan dan ke belakang. Ada getaran di situ. Rafi, anak laki-laki yang duduk di samping kanannya, spontan mengikuti. ''B'', kata Rafi. Suaranya cukup jelas.
Wednesday, June 23, 2010
Tusiran Merawat Pantun
BERKARYA dan menoreh prestasi dalam sunyi. Begitulah potret hidup sastrawan dan budayawan Tanjungpinang Tusiran Suseno. ''Saya sebenarnya tak suka ditulis-tulis media,'' katanya. ''Saya grogi kalau diwawancara.''
Jika kita membuka file pemberitaan media massa tentang kiprah sastrawan dan budayawan di Kepulauan Riau dalam lima tahun terakhir, nama Tusiran muncul, barangkali, tak lebih dari jumlah jari tangan. ''Bukan apa-apa, saya ini dulu wartawan. Kerja saya nanya-nanya kayak Anda ini. Sekarang kalau saya ditanya-tanya, jadi merasa nggak enak saja,'' ujarnya memberi alasan.
Jika kita membuka file pemberitaan media massa tentang kiprah sastrawan dan budayawan di Kepulauan Riau dalam lima tahun terakhir, nama Tusiran muncul, barangkali, tak lebih dari jumlah jari tangan. ''Bukan apa-apa, saya ini dulu wartawan. Kerja saya nanya-nanya kayak Anda ini. Sekarang kalau saya ditanya-tanya, jadi merasa nggak enak saja,'' ujarnya memberi alasan.
Monday, April 26, 2010
Gerilya Menutup Dugaan Korupsi Bansos
AHMAD Dahlan berkali-kali mengucap istighfar. Wali Kota Batam itu tak sanggup menyembunyikan kecemasannya. ''Saya mohon maaf. Saya berjanji, komit untuk membenahi masalah-masalah yang terjadi. Itu komitmen saya,'' katanya.
Hari itu, Kamis (15/4), di ruang kerjanya di lantai lima Kantor Wali Kota Batam, Dahlan menggelar pertemuan dengan pengurus Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Menurut Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin, yang ikut dalam pertemuan itu, Dahlan meminta pengurus Aspan agar membatalkan rencana menggelar unjuk rasa menuntut kejelasan aliran dana bantuan sosial (bansos) untuk panti asuhan. ''Wali Kota memohon-mohon supaya tidak ada unjuk rasa,'' ungkap Syamsuddin.
Hari itu, Kamis (15/4), di ruang kerjanya di lantai lima Kantor Wali Kota Batam, Dahlan menggelar pertemuan dengan pengurus Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Menurut Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin, yang ikut dalam pertemuan itu, Dahlan meminta pengurus Aspan agar membatalkan rencana menggelar unjuk rasa menuntut kejelasan aliran dana bantuan sosial (bansos) untuk panti asuhan. ''Wali Kota memohon-mohon supaya tidak ada unjuk rasa,'' ungkap Syamsuddin.
Monday, April 5, 2010
Nasib Pahit Tionghoa Kebun Karet
PADA sebuah meja di beranda rumahnya yang bersebelahan dengan dapur, di Seipancur, Kecamatan Seibeduk, Batam, pasangan suami-istri Thang Ajek dan Tang Alian melahap makan siang mereka, Kamis (1/4). Gulai ikan kuah kuning adalah satu-satunya menu yang terhidang, ditemani sepiring kecil sambal goreng. Dua ekor anjing piaraan lalu lalang dari kolong meja ke sudut-sudut beranda, tak mengusik kenikmatan santap siang tuan rumah.
Tuesday, March 23, 2010
Redupnya Kilau Pulau Sambu
MENGENANG masa lalu bagi Safitri adalah beban yang berat, walau sederet peristiwa indah terekam jelas dalam ingatannya. ‘’Sedih rasanya kalau ingat zaman dulu. Semuanya indah. Rasanya ingin kembali, tapi kan nggak mungkin,’’ katanya. ‘’Saking bahagianya tinggal di sini, dulu saya sampai nggak ingin keluar dari Sambu,’’ ujarnya.
Wednesday, March 10, 2010
Teladan Buya Syafii
''Banyak orang bilang Anda orang yang sederhana.''
''Ah, ndak juga. Saya menikmati hidup juga.''
''Menikmati kemewahan juga?''
''Ya, istri saya kan pintar masak. Sesekali kami makan yang enak-enak juga.''
''Ah, ndak juga. Saya menikmati hidup juga.''
''Menikmati kemewahan juga?''
''Ya, istri saya kan pintar masak. Sesekali kami makan yang enak-enak juga.''
Tuesday, March 9, 2010
Nasib Kasus Dana Bansos
HARAPAN terakhir membuka seterang-terangnya dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Kota Batam kini hanya tersisa di Kejaksaan Negeri Batam. Kepala Kejaksaan Batam Tatang Sutarna berjanji akan menuntaskan kasus tersebut, dan menyeret orang-orang yang terlibat ke proses hukum. Jangan sampai kasus Dana Bansos punya nasib yang sama dengan kasus bagi-bagi upah pungut di Dinas Pendapatan Daerah Kota Batam, yang mandek tak jelas muaranya. Jika ditelisik lebih jauh, kasus upah pungut dan kasus Dana Bansos melibatkan nama yang sama, orang kuat yang punya akses langsung ke sumber-sumber dana di Kota Batam, dan tentu saja bagian dari kekuasaan.
Thursday, March 4, 2010
Wiji Thukul
TIBA-tiba teringat Wiji Thukul, penyair dan aktivis buruh asal Solo yang hilang diculik karena sajak-sajaknya meresahkan penguasa. Sajak-sajak Wiji Thukul masih amat relevan dengan situasi saat ini: pemimpin yang mengaku bertanggung jawab, tapi buang badan ketika kerja anak buahnya ada yang mempermasalahkan; mengaku idealis, tapi kebenaran yang dipegangnya gampang goyah karena lobi dan bujuk rayu, pikirannya mudah disetir orang lain; pintar beretorika soal kepemimpinan yang baik, tapi buruk dalam memimpin; sok tegas, tapi sesungguhnya tak bisa menyembunyikan wajah ragu-ragu dan ambigu; menyebut diri ksatria, tapi takut mengambil risiko.
Monday, February 22, 2010
Jalan Panjang Mbak Uti
IA pamit setahun lalu, setelah empat bulan bekerja di rumah kami: memasak, bersih-bersih, dan menjaga anak kami. Empat bulan bukanlah waktu yang lama. Tapi, bagi kami, yang sudah berganti empat orang pembantu rumah tangga sejak 2006, dialah yang paling mengesankan. Kerjanya tangkas dan rapi. Masakannya bersih dan enak.
Saturday, January 23, 2010
Duka dalam Sepotong Kaos Bola
Menelusuri kematian tahanan bawah umur di Polsek Batam Kota, Josua Michael Sinaga. Banyak perbedaan antara keterangan polisi dengan keterangan keluarga dan saksi-saksi.
RABU 23 Desember 2009 dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, Josua Michael Sinaga (17) berada di dalam bengkel milik Hartono Surbakti, di kawasan Simpang Franky, Batam Center. Entah apa yang dia lakukan di situ. Tapi, Aleksander Sembiring, anak buah Hartono tak nyaman dengan kehadiran anak muda yang tak dikenalnya itu. Perasaannya tak enak. Nalurinya mengatakan, Josua berniat mencuri. Bersama temannya, Jefri Tarigan, Aleksander menegur Josua dan memintanya pergi.
RABU 23 Desember 2009 dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, Josua Michael Sinaga (17) berada di dalam bengkel milik Hartono Surbakti, di kawasan Simpang Franky, Batam Center. Entah apa yang dia lakukan di situ. Tapi, Aleksander Sembiring, anak buah Hartono tak nyaman dengan kehadiran anak muda yang tak dikenalnya itu. Perasaannya tak enak. Nalurinya mengatakan, Josua berniat mencuri. Bersama temannya, Jefri Tarigan, Aleksander menegur Josua dan memintanya pergi.
Thursday, January 21, 2010
Sate Pelanduk Gelora
Subscribe to:
Posts (Atom)
