DI usianya yang tak lagi muda, 62 tahun, Roh Moo-hyun mestinya hidup dalam ketenangan. Jabatan Presiden Korea Selatan yang pernah digenggamnya selama lima tahun, dari 2003-2008, lebih dari cukup untuk menjamin kesejahteraan di hari tua.
Tetapi, di hari-hari masa pensiunnya, Roh adalah seorang yang gelisah. "Banyak orang menderita karena saya," ujarnya. "Apa yang saya lakukan di akhir hayat hanya jadi beban untuk orang lain."
jika kau menghamba kepada ketakutan kita memperpanjang barisan perbudakan (wiji thukul)
Monday, January 23, 2012
Sunday, November 20, 2011
Ikan Teri dan Sarung Gubernur Sani
SABTU pagi pertengahan Juli 2011 lalu, saya dihubungi Rizal Saputra, staf khusus Gubernur Kepri Muhammad Sani.
"Gubernur minta diwawancara soal setahun kepemimpinannya," kata Rizal.
"Kapan?" saya bertanya.
"Pagi ini kita ke Tanjungpinang," katanya.
Naik feri pukul 10.00 dari Pelabuhan Punggur sampai di Tanjungpinang hampir pukul 11.00. Setelah makan gado-gado di pintu keluar pelabuhan, kami berjalan kaki ke Gedung Daerah, rumah dinas Gubernur Kepri yang tak jauh dari pelabuhan.
"Gubernur minta diwawancara soal setahun kepemimpinannya," kata Rizal.
"Kapan?" saya bertanya.
"Pagi ini kita ke Tanjungpinang," katanya.
Naik feri pukul 10.00 dari Pelabuhan Punggur sampai di Tanjungpinang hampir pukul 11.00. Setelah makan gado-gado di pintu keluar pelabuhan, kami berjalan kaki ke Gedung Daerah, rumah dinas Gubernur Kepri yang tak jauh dari pelabuhan.
Monday, November 14, 2011
Ke Jantung Sejarah Malaysia
SUNGAI bersih dan tenang. Bangunan tua berarsitektur Eropa, yang terawat baik, berderet di tepi kiri dan kanannya. Sebagian bangunan disulap jadi kafe. Orang-orang duduk di sana menyeruput teh dan kopi, menanti senja, memandang perahu motor yang hilir mudik di aliran sungai.
Ini bukan di Venezia, Italia yang sudah tersohor itu. Ini di Melaka, jantung sejarah negara Malaysia.
Ini bukan di Venezia, Italia yang sudah tersohor itu. Ini di Melaka, jantung sejarah negara Malaysia.
Sunday, July 10, 2011
Mengendalikan Diri di Meja Makan
HAMPIR sebulan lamanya, sejak Mei lalu, saya menderita tukak lambung. Kata dokter di rumah sakit, tukak lambung adalah luka di lapisan lambung atau usus dua belas jari yang disebabkan oleh tingginya asam lambung.
Semua bersumber dari makanan. "Ini karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas dan minum soda," kata dokter pertama yang saya kunjungi. Dokter perempuan itu saya datangi setelah seminggu saya mencoba bertahan dengan mual di perut dan nyeri di ulu hati, karena tersedak-sedak tiap menit.
Setelah dua hari minum obat yang diberikan ibu dokter, penyakit tak juga reda. Saya beralih ke dokter lain. Kali ini obatnya lumayan membantu, meski tak sembuh total. Dokter kedua menguatkan informasi dokter pertama: penyebabnya adalah makanan.
Semua bersumber dari makanan. "Ini karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas dan minum soda," kata dokter pertama yang saya kunjungi. Dokter perempuan itu saya datangi setelah seminggu saya mencoba bertahan dengan mual di perut dan nyeri di ulu hati, karena tersedak-sedak tiap menit.
Setelah dua hari minum obat yang diberikan ibu dokter, penyakit tak juga reda. Saya beralih ke dokter lain. Kali ini obatnya lumayan membantu, meski tak sembuh total. Dokter kedua menguatkan informasi dokter pertama: penyebabnya adalah makanan.
Wednesday, September 15, 2010
Di Sudut Penjara
DI SELA jeruji besi selebar 10 cm, di ruang besuk Lembaga Pemasyarakatan Batam, Senin (6/9), bibir itu beradu. Sebuah kecupan tanda perpisahan. Tak ada kata terucap. Hanya dua pasang bola mata saling menatap, menyiratkan harap bisa berjumpa lagi dalam waktu dekat. Dari balik jeruji, sesosok lelaki berkaus biru melambai kepada perempuan yang baru saja mengecup bibirnya. Setelah si perempuan menghilang di balik pintu penjaga, sang lelaki menyusup ke dalam lingkungan penjara.
Lima belas menit sebelum perpisahan yang mirip jalan cerita di novel cinta itu, keduanya berbincang mesra. Tangan mereka saling menggenggam di sela-sela jeruji penjara. Di sebelah mereka, seorang lelaki paruh baya, yang juga menghuni Lapas Batam, menerima kunjungan istri dan tiga orang anaknya. Istrinya bercerita tentang kelakuan satu per satu anak mereka. Tawa dan keceriaan pecah, meski hanya untuk sementara. Di ujung pertemuan, si istri menyerahkan tiga bungkusan berisi makanan. ''Bapak baik-baik di sini, ya,'' pesannya.
Lima belas menit sebelum perpisahan yang mirip jalan cerita di novel cinta itu, keduanya berbincang mesra. Tangan mereka saling menggenggam di sela-sela jeruji penjara. Di sebelah mereka, seorang lelaki paruh baya, yang juga menghuni Lapas Batam, menerima kunjungan istri dan tiga orang anaknya. Istrinya bercerita tentang kelakuan satu per satu anak mereka. Tawa dan keceriaan pecah, meski hanya untuk sementara. Di ujung pertemuan, si istri menyerahkan tiga bungkusan berisi makanan. ''Bapak baik-baik di sini, ya,'' pesannya.
Monday, August 30, 2010
Menjaga Bakau demi Anak Cucu
TAHUN 2003, saat pertama kali pindah ke Kavling Pancur Pelabuhan, Kelurahan Tanjungpiayu, Batam, Slamet seperti pulang ke desa. Maklumlah, sebelumnya Slamet tinggal di sebuah permukiman liar yang padat dan sumpek di sekitar Batam Center. ''(Saat itu) suasananya beda banget. Di sini masih benar-benar alami,'' katanya.
Sekitar seratus meter di belakang rumahnya, laut menghampar luas. Ratusan pohon bakau ukuran besar tumbuh di bibir pantai. ''Mirip hutan di kampung-kampung. Rimbun,'' ujar ayah empat anak kelahiran Yogyakarta itu. Di sela-sela akar bakau itulah, warga sekitar biasa memancing ikan sembilang atau lele laut. Ikan ini biasanya hidup di bagian laut yang dangkal. Di Kepulauan Riau, ikan sembilang adalah salah satu ikan favorit. Banyak rumah makan menyajikannya dalam bentuk asam pedas.
Sekitar seratus meter di belakang rumahnya, laut menghampar luas. Ratusan pohon bakau ukuran besar tumbuh di bibir pantai. ''Mirip hutan di kampung-kampung. Rimbun,'' ujar ayah empat anak kelahiran Yogyakarta itu. Di sela-sela akar bakau itulah, warga sekitar biasa memancing ikan sembilang atau lele laut. Ikan ini biasanya hidup di bagian laut yang dangkal. Di Kepulauan Riau, ikan sembilang adalah salah satu ikan favorit. Banyak rumah makan menyajikannya dalam bentuk asam pedas.
Saturday, June 26, 2010
Sahabat Anak-anak Tuna Rungu
PEREMPUAN itu mendekatkan wajahnya ke cermin. Bibirnya terbuka lebar ketika melafalkan huruf B dengan suara sedikit nyaring. Seorang anak laki-laki, yang duduk persis di sampingnya, tak bereaksi apa-apa. Si anak mematut cermin, memperhatikan gerak bibir perempuan itu, mengernyitkan dahi, setelah itu menggelengkan kepala.
''Oke, sekarang kita coba pakai kertas ini,'' kata Riniatun, perempuan berjilbab biru yang duduk di depan cermin itu. Ia mengeluarkan potongan kertas kecil dari kantong celana olahraga yang dikenakannya. Dengan tetap menghadap cermin, kertas sepanjang sepuluh sentimeter itu didekatkan ke bibirnya sembari melafalkan huruf B. Kertas berayun ke depan dan ke belakang. Ada getaran di situ. Rafi, anak laki-laki yang duduk di samping kanannya, spontan mengikuti. ''B'', kata Rafi. Suaranya cukup jelas.
''Oke, sekarang kita coba pakai kertas ini,'' kata Riniatun, perempuan berjilbab biru yang duduk di depan cermin itu. Ia mengeluarkan potongan kertas kecil dari kantong celana olahraga yang dikenakannya. Dengan tetap menghadap cermin, kertas sepanjang sepuluh sentimeter itu didekatkan ke bibirnya sembari melafalkan huruf B. Kertas berayun ke depan dan ke belakang. Ada getaran di situ. Rafi, anak laki-laki yang duduk di samping kanannya, spontan mengikuti. ''B'', kata Rafi. Suaranya cukup jelas.
Wednesday, June 23, 2010
Tusiran Merawat Pantun
BERKARYA dan menoreh prestasi dalam sunyi. Begitulah potret hidup sastrawan dan budayawan Tanjungpinang Tusiran Suseno. ''Saya sebenarnya tak suka ditulis-tulis media,'' katanya. ''Saya grogi kalau diwawancara.''
Jika kita membuka file pemberitaan media massa tentang kiprah sastrawan dan budayawan di Kepulauan Riau dalam lima tahun terakhir, nama Tusiran muncul, barangkali, tak lebih dari jumlah jari tangan. ''Bukan apa-apa, saya ini dulu wartawan. Kerja saya nanya-nanya kayak Anda ini. Sekarang kalau saya ditanya-tanya, jadi merasa nggak enak saja,'' ujarnya memberi alasan.
Jika kita membuka file pemberitaan media massa tentang kiprah sastrawan dan budayawan di Kepulauan Riau dalam lima tahun terakhir, nama Tusiran muncul, barangkali, tak lebih dari jumlah jari tangan. ''Bukan apa-apa, saya ini dulu wartawan. Kerja saya nanya-nanya kayak Anda ini. Sekarang kalau saya ditanya-tanya, jadi merasa nggak enak saja,'' ujarnya memberi alasan.
Monday, April 26, 2010
Gerilya Menutup Dugaan Korupsi Bansos
AHMAD Dahlan berkali-kali mengucap istighfar. Wali Kota Batam itu tak sanggup menyembunyikan kecemasannya. ''Saya mohon maaf. Saya berjanji, komit untuk membenahi masalah-masalah yang terjadi. Itu komitmen saya,'' katanya.
Hari itu, Kamis (15/4), di ruang kerjanya di lantai lima Kantor Wali Kota Batam, Dahlan menggelar pertemuan dengan pengurus Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Menurut Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin, yang ikut dalam pertemuan itu, Dahlan meminta pengurus Aspan agar membatalkan rencana menggelar unjuk rasa menuntut kejelasan aliran dana bantuan sosial (bansos) untuk panti asuhan. ''Wali Kota memohon-mohon supaya tidak ada unjuk rasa,'' ungkap Syamsuddin.
Hari itu, Kamis (15/4), di ruang kerjanya di lantai lima Kantor Wali Kota Batam, Dahlan menggelar pertemuan dengan pengurus Asosiasi Panti Asuhan (Aspan) Kota Batam. Menurut Ketua Yayasan Mama Syamsuri KH Syamsuddin, yang ikut dalam pertemuan itu, Dahlan meminta pengurus Aspan agar membatalkan rencana menggelar unjuk rasa menuntut kejelasan aliran dana bantuan sosial (bansos) untuk panti asuhan. ''Wali Kota memohon-mohon supaya tidak ada unjuk rasa,'' ungkap Syamsuddin.
Monday, April 5, 2010
Nasib Pahit Tionghoa Kebun Karet
PADA sebuah meja di beranda rumahnya yang bersebelahan dengan dapur, di Seipancur, Kecamatan Seibeduk, Batam, pasangan suami-istri Thang Ajek dan Tang Alian melahap makan siang mereka, Kamis (1/4). Gulai ikan kuah kuning adalah satu-satunya menu yang terhidang, ditemani sepiring kecil sambal goreng. Dua ekor anjing piaraan lalu lalang dari kolong meja ke sudut-sudut beranda, tak mengusik kenikmatan santap siang tuan rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)