Tuesday, September 2, 2008

Dua Minggu Bersama Kelly

PERTENGAHAN Juli lalu, selama dua minggu, aku menemani perjalanan jurnalistik Kelly McEvers keliling Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Kelly adalah wartawan radio independen yang berbasis di New York. Ia juga seorang penulis freelance.


Ini merupakan kunjungan perdana Kelly ke Batam, walau begitu Indonesia bukan tempat yang asing bagi perempuan yang kini berusia 37 tahun itu. Sebelumnya, Kelly kerap datang ke Jakarta. Selain melakukan kerja jurnalistik, ia juga memberi pelatihan dan pendidikan jurnalistik yang diadakan Pantau dan Indonesian Association for Media Development.

Kelly pernah membuat tulisan feature sepanjang 10.000 kata tentang kehidupan istri Ali Ghufron alias Mukhlas, salah satu tersangka Bom Bali I. ''Butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkan bahan tulisan itu,'' katanya. Ia 'memburu' Faridah, perempuan yang memberi Ali Ghufron dua orang anak itu dari Jombang, Solo, Surabaya, hingga ke Malaysia. ''Perburuan yang menegangkan dan mengasyikan,'' katanya.

Untuk memperoleh hasil liputan bernilai tinggi, Kelly diberi dukungan dana tak terbatas oleh kantornya. Hanya saja, laporan pengeluarannya selama melakukan peliputan harus transparan dan bisa dipertanggungjawabkan.

Karena itu, apa pun kegiatan yang mengeluarkan biaya, Kelly selalu meminta bukti pembayaran. Pelayan sebuah kedai kopi di pelantar Belakangpadang sempat kalang kabut ketika ia meminta bon, setelah kami singgah di situ untuk minum dua gelas teh obeng (es teh manis), satu gelas teh susu dan sepotong prata. ''Belum pernah ada orang minum teh obeng minta bon,'' kata pelayan itu.

Karcis pancung (perahu mesin tempel) yang kami naiki bolak balik ke Belakapngpadang pun ia simpan rapi. Kepada tiap sopir taksi yang kami tumpangi ia selalu minta tanda tangan bukti pembayaran yang sudah ia siapkan. ''Saya bikin bukti pembayaran sendiri, sebab taksi di sini tak pernah punya kuitansi,'' ujarnya. Selama di Batam ia nginap di hotel bintang empat.

Selain dukungan dana, kantornya pun memberi sarana kerja kelas satu. Sebagai wartawan radio, ia dibekali alat perekam canggih keluaran terbaru. Alat itu bisa menyaring suara bising yang ditimbulkan oleh kendaraan atau hiruk pikiuk manusia yang menggangu pembicaraan narasumber. Aku tanya harganya, Kelly tertawa. ''Coba tebak berapa menurut kamu?''

Setiap kerusakan alat kerja selalu direspon dengan cepat oleh kantornya. ''Ini adalah nyawa wartawan,'' katanya sambil mengacungkan mikropon alat perekam miliknya. ''Tanpa ini, kamu nggak bisa kerja. Semua bukti kalau kamu bekerja ada di sini.''

Setelah dua hari di Batam mikropon alat prekam itu sempat ngadat. Ia lalu brkirim email ke kantornya di US minta ganti yang baru. Malam itu juga kantornya membalas email tersebut, mempersilakan Kelly mencari mikropon baru. Biayanya akan diganti etelah ia pulang. Ia juga diberi kamera poket dengan kekuatan 8 mega piksel. Dan tentu saja gaji bulanan yang memadai.

Di atas pancung dalam perjalanan pulang dari Belakangpadang menuju Batam, aku melamun membayangkan bagaimana suasana redaksi tempat Kelly bekerja dan orang-orang di sekitarnya. Pastilah sangat jauh berbeda dengan atmosfer kerja media di Tanah Air kita. Di sana, pasti tidak ada lagi keluhan soal kesejahteraan. Atau atasan yang menanggapi keluh kesah wartawan soal kesejahteraan, dengan jawaban yang aneh: ''Ah, pandai-pandailah kalian di lapangan.''

Sempat juga terlintas di pikiranku, di sana pastilah tidak ada wartawan yang risau dan gelisah memikirkan berita-berita buruk tentang narasumber yang sudah berubah jadi donatur hidup mereka. Barangkali juga, di sana, tidak ada wartawan yang resah menunggu koran datang di pagi hari hanya sekedar mengetahui apakah berita berbau "wangi" yang diketik kemarin petang terbit atau tidak.

Lamunanku makin jauh. Aku mereka-reka, di sana, pastilah para redakturnya orang-orang yang piawai menyusun perencanaan dan pengembangan isu. Pasti di sana tidak ada -meminjam istilah bos Jawa Pos Dahlan Iskan- ''redaktur tukang pungut'' alias '"redaktur pemulung''. Yaitu, redaktur yang menjadikan kerja jurnalistik sebagai kerja rutin, bukan kerja kreatif.

Kata Dahlan, redaktur seperti ini hanya datang pada sore hari. Lalu duduk di depan komputer dan bertanya pada reporternya, ''Apa beritamu hari ini?'' Padahal, pertanyaan itu seharusnya ia tanyakan di pagi hari sembari memberi gagasan tambahan. ''Pada pagi hari, redaktur sudah bisa membayangkan halamannya akan diisi berita dan foto apa,'' kata Dahlan.

Dan biar terlihat bekerja di mata atasan dan terkesan hebat di mata reporter, ''redaktur pemulung'' suka memarah-marahi reporter atas sebuah kesalahan yang tidak esensial sekalipun. ''Kamu nggak ngerti ya bikin berita yang benar,'' begitu biasanya si redaktur memarahi.

''Seolah-olah ia sudah ngerti benar bikin berita yang benar. Padahal, ia sendiri nggak pernah kasih contoh reporternya bikin berita yang benar. Lha dia sendiri nggak pernah nulis,'' kata Dahlan.

***
BRAK! Suara ujung pancung bertabrakan dengan dermaga Pelabuhan Sekupang membuyarkan lamunan saya. ''Saya masih harus memburu banyak sumber lagi. Yang tadi belum cukup. Besok kita jalan lagi,'' kata Kelly, begitu menginjakkan kaki di Pulau Batam. Padahal, sebelumnya kami sudah bertemu satu narasumber utama dan satu narasumber pendamping sebagai tempat verifikasi data yang disampaikan narasumber utama. Saya pikir itu sudah cukup.

Jika menilik standar kerja media di negeri kita, bahan yang dikantongi Kelly adalah bahan yang sudah layak tulis untuk publikasi. Tapi, kata Kelly, ''Itu baru lima persen saja dari yang saya inginkan. Hasil kerja saya harus 110 persen.''

Bagi Kelly, dukungan dan perhatian perusahaan yang luar biasa harus dibayar dengan kesungguhan. Ia punya standar tinggi untuk menentukan sebuah liputan bisa dikatakan layak tayang atau tidak. Untuk meyakini kebenaran fakta yang disampaikan narasumber, ia harus melakukan verifikasi berlapis. Bahkan sampai empat kali. Ia belum berani pulang ke negaranya jika menurut dia hasil liputannya belum memuaskan. ''Saya malu,'' ucapnya.

Ia menunjukkan dirinya sebagai wartawan dengan jam terbang tinggi, yang telah meliput di 29 negara di lima benua. ''Walau sudah sampai ke Afrika dan ujung Asia, tapi saya belum pernah ke Kanada. Padahal Kanada sebelahan dengan Amerika,'' katanya tertawa. Kelly punya pengalaman ditahan saat meliput di Rusia dan Kamboja. Pengalaman itu memperkuat mentalnya di lapangan. Gertak sambal dan ancaman orang-orang yang baru dijumpainya, sedikitpun tak membuat nyalinya ciut.

Saat kami berkunjung ke sebuah pulau tua tak jauh dari Belakangpadang, seorang pria yang menasbihkan dirinya sebagai ketua pemuda, mencegat langkah kami sesaat setelah turun dari pancung. ''Kalau mau foto dan wawancara orang-orang di sini lapor dulu pada saya,'' ujar si ketua pemuda tadi dengan wajah seram. Tapi Kelly bergeming. ''Dia tak punya hak melarang kita melakukan kerja jurnalistik. Negara Anda punya hukum bukan?'' katanya pada saya. Lalu, ia menghampiri seorang warga dan bertanya apa saja. Dari kejauhan si ketua pemuda hanya memandang dengan wajah gemas. ''Kamu harus yakin, jika kamu melakukan sesuatu secara benar, hukum akan melindungimu,'' ujarnya pula.

Di samping jam terbang tinggi, Kelly hidup dalam keluarga wartawan. Suaminya adalah wartawan majalah Rolling Stone. Kekayaan pengalamannya bekerja sebagai wartawan terlihat dari cara ia menggali cerita narasumber. Ia selalu memberikan kesempatan narasumbernya bercerita lebih lama. Ia jarang memotong, meski kadang cerita si narasumber agak ngelantur. ''Biarkan saja. Siapa tahu ada yang menarik dari cerita dia (yang ngelantur) itu,'' katanya ketika saya memberi tanda kepadanya untuk menghentikan cerita si narasumber.

Ia baru mengajukan pertanyaan setelah narasumber berhenti bicara. Dan memang tak jarang, ia mendapat informasi baru untuk pengembangan topik liputannya justru dari pembicaraan narasumber yang ngelantur itu. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, yang semula dianggap penting, yang diajukan justru hanya jadi data pelengkap saja.

Pada kesempatan lain, ia tak pula sungkan mencecar dan menekan narasumbernya untuk memberikan keterangan yang detil dan konkret. ''Saya tidak menginginkan jawaban itu dari Anda. Yang saya tanyakan adalah ......''

Pernah suatu kali setelah mendapat jawaban dari seorang narasumber yang menceritakan soal keterlibatan Mr X dalam sebuah kasus, Kelly terus mengajukan pertanyaan apakah si narasumber bisa mempertemukannya dengan Mr X itu. ''Di mana dia sekarang, Bisakah Anda pertemukan dia dengan saya,'' kata Kelly.

Kendati si narasumber menjawab sulit, Kelly terus mengajukan pertanyaan itu. Berulang-ulang. Kadang ia menyelingi dengan satu atau dua pertanyaan lain, setelah itu permintaan itu ia tanyakan lagi. Jika Anda ada di sana pada saat itu, barangkali Anda gusar dan bosan mendengarnya. Saya yang menemaninya wawancara kadang merasa sungkan dan tak enak hati kepada narasumber yang ditemuinya. Tapi Kelly ngotot saja. Tak ada pilihan lain, saya mencoba berbaik sangka saja. Barangkali ini soal perbedaan budaya semata. ''Saya tahu dia bisa, tapi dia berusaha menyembunyikannya,'' katanya. Dari mana ia bisa tahu? ''ekspresi dan bahasa tubuhnya,'' katanya.

Kematangan juga ditunjukkan Kelly lewat sikap skeptis dan kecurigaannya terhadap setiap keping fakta yang diperoleh. ''Saya nggak percaya pada cerita dia. Feeling saya mengatakan dia berbohong,'' katanya usai berbincang dengan seseorang tentang sebuah topik di Nagoya.

Ia lalu mencari teman-teman dan orang-orang yang kenal dengan narasumber tersebut dan tahu dengan masalah yang diceritakan narasumber itu. Hasilnya: tiga orang yang ditemui mengatakan, mayoritas cerita yang diungkap si narasumber tadi, adalah bohong belaka. ''See, what i said,'' katanya tertawa.

Dan ia berpesan, ''Jangan pernah percaya pada apa yang diceritakan orang, sebelum kamu benar-benar membuktikannya, sebelum kamu memverifikasinya. Tanggung jawab wartawan adalah menyampaikan kebenaran.'' ***


1 comment:

muhammad riza fahlevi said...

Cakep ball. Saya jadi ingat pertemuan dengan wartawan AP Simon Simms dan wartawan Straits Time Yeoh En Lai, 2000 lalu. Mereka memang kalau kerja profesional banget. Bedanya ya, selain dari perencanaan, juga tak mengharap angpao. itu saja. sehingga pertanyaan dan penggalian ke nara sumber selalu apa adanya. beda kalau berharap angpau, pertanyaannya cenderung menggertak atau memuji-muji.
Satu lagi, mereka tak pernah mengiklankan diri bahwa mereka hebat, bahwa mereka yang berkuasa di starit time, mereka hanya menunjukkan bagaimana bekerja yang baik dan benar, itu saja. Karena sekali lagi, mereka tak berharap angpao, mereka tak berharap setoran.