Monday, June 15, 2009

Sebutir Apel dari Pak Ton

JUMAT (12/6) siang, dari sebuah situs berita, saya baca kabar wafatnya psikolog senior, pakar pendidikan dan sumber daya manusia Sartono Mukadis. Pak Ton, sapaan akrabnya, adalah ''padi yang matang''. Ia orang dengan penguasaan ilmu dan pengetahuan yang tinggi namun tetap menjaga kerendahan hati.

Ia bukan tipikal "pengamat" atau "pakar" yang kini banyak jadi selebritis media, yang berkelakuan seperti pendekar baru belajar ilmu silat; tiap dapat jurus baru pamer kepada banyak orang sambil teriak-teriak.

Pak Ton mengamalkan ilmunya dengan hati dan empati. Ia tak membeda-bedakan siapa lawan bicaranya. Ia selalu menghargai orang di sekitarnya, apapun latar belakangnya. Saya merasakan semua kemuliaan hati Pak Ton saat pertama kali bertatap muka dan berbincang dengannya, sekitar bulan April 2002, ketika saya baru bekerja sebagai wartawan dalam status magang tiga bulan pertama.

Kala itu, saya ditugaskan membuat tulisan tentang pendidikan dengan narasumber dari luar pemerintahan. Saya berjalan kaki dari Kantor Dinas Tenaga Kerja di kawasan Seiharapan ke kantor Pak Ton yang berada dekat Guest House Otorita Batam. Jaraknya sekitar lima kilometer.

Pak Ton mempersilakan saya masuk ke ruang kerjanya yang kecil dan biasa-biasa saja. ''Sudah makan belum? Sepertinya Anda sedang lapar,'' katanya, sembari melihat bagian belakang kemeja saya yang basah oleh keringat. Saya jawab sekenanya, bahwa saya sudah makan.

''Saya tak punya stok makanan di sini. Ambil ini saja, cukuplah buat mengganjal perut,'' katanya, sambil mengulurkan sebutir apel besar.

''Makan dulu itu. Kalau perut lapar Anda nanti nggak konsentrasi,'' ucapnya. Saya pun manut saja.

Sembari saya mengunyah apel pemberiannya, Pak Ton bertanya hal-hal yang ringan kepada saya, misalnya dulu kuliah dimana, sudah berapa lama bekerja dan sebagainya. ''Gimana betah di Batam?'' ia bertanya setelah saya beritahu bahwa saya baru sebulan bekerja di sini. Saya bilang, saya terus berusaha menyesuaikan diri. ''Semua permulaan itu berat,'' katanya.

Ia juga mengaku baru beberapa bulan terakhir tinggal di Batam. Ia diangkat sebagai konsultan pendidikan dan SDM oleh Persatuan Istri Karyawan Otorita Batam. Menurut Pak Ton, Batam adalah kota tanpa jiwa. Orang-orangnya terlalu sibuk memikirkan uang. Interaksi sosial, ikatan emosianal, dan solidaritas sangat tipis. ''Kebanyakan orang datang ke Batam bukan untuk membangun kehidupan, tapi semata-mata hanya mencari uang,'' katanya.

Kendati begitu, ia memuji arsitektur Masjid Raya Batam. ''Karena ada jalan khusus untuk penyandang cacat berkursi roda,'' ujarnya. Pak Ton memang menggunakan kursi roda. Sebab kaki kirinya diamputasi karena diabates.

Saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang pendidikan, yang jawabannya akan saya kutip jadi berita. Ia bercerita panjang bagaimana dunia pendidikan Malaysia bangkit dari ketertinggalan, sedangkan Indonesia yang dulu banyak mengekspor guru ke negeri jiran itu, pendidikannya justru makin mundur.

Usai wawancara, saya tanyakan, apakah dia bisa menerima keadaan hidup di kursi roda. Pak Ton bilang, ia harus bisa. Sebab, kepada setiap orang yang datang berkonsultasi dengannya ia selalu memotivasi bahwa semua masalah hidup bisa diatasi. ''Kalau saya bisa memotivasi orang, saya harus bisa memotivasi diri sendiri,'' katanya. Dukungan keluarga, kata dia, sangat meringankan bebannya.

Ia menekankan pentingnya kesamaan antara isi hati, ucapan dan tindakan dalam menjalani hidup sehari-hari. Sesuatu yang terasa makin langka hari-hari terakhir ini di sekitar kita. ''Nilai utama manusia adalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan,'' katanya. Ia kasih contoh, betapa banyak orang bicara A tapi kelakuannya B. ''Ada yang nasihati orang jangan mencuri, tapi justru dia sendiri yang mencuri. Orang seperti ini tak punya nilai apa-apa,'' katanya.

Saat hendak pamit saya minta nomor teleponnya. Saya tanyakan, apakah saya bisa menghubungi bila suatu saat saya memerlukan pendapatnya. ''Silakan. Selagi tidak sedang beristirahat akan saya respon,'' kata Pak Ton. Saat bangkit dari kursi yang saya duduki, Pak Ton memasukkan sebutir lagi buah apel ke dalam ransel saya. ''Untuk bekal di jalan,'' katanya. Terima kasih, Pan Ton. Selamat jalan. ***

Wednesday, April 29, 2009

Antara Harry dan Dhany





DALAM politik, komunikasi adalah unsur utama untuk memenangkan persaingan. Selama Pemilu Legislatif 2009 di Kepulauan Riau, persaingan politik yang paling sengit tentu saja memperebutkan jatah sebagai wakil Kepri di DPR RI. Sebab hanya tersedia tiga kursi, dan hampir seluruh partai peserta pemilu yang buka cabang di Kepri menempatkan kader terbaik mereka untuk ikut berkompetisi agar meraih, setidaknya, satu dari tiga kursi itu.

Namun di atas itu semua, persaingan yang paling menarik ada di Partai Golkar, antara caleg nomor urut satu Harry Azhar Azis dan caleg nomor urut tiga Ramatsyah Ramadhany. Berdasarkan hasil pleno KPU Kepri, Harry unggul atas Dhany. Harry dan Dhany sama-sama lulusan dari Oklahoma State University, tapi beda jurusan dan angkatan.

Kenapa Harry bisa mengalahkan Dhany, yang jauh-jauh hari diprediksi banyak orang bakal melenggang ke Senayan? Menurut saya, kemenangan Harry adalah karena keberhasilannya mengkomunikasikan isu-isu aktual kepada calon pemilih melalui media dan keberhasilannya melakukan pendekatan kepada media (baca: wartawan)

Harry muncul nyaris setiap hari di media cetak dan elektronik. Jabatannya yang strategis di DPR RI, sebagai wakil ketua panitia anggaran, memudahkan ia memainkan begitu banyak informasi tentang dana yang bakal meluncur ke Kepri selama tahun anggaran 2009. Ia, dengan jabatannya itu, tentu saja mengetahui dengan detil dana apa saja, dan berapa jumlah yang bakal diterima Kepri.

Misalnya, dana bantuan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Ia pernah melansir informasi ini dan diliput semua media. Kita tahu pendididkan dan kesehatan adalah isu vital. Apalagi bila pada judul berita ada kata "gratis" atau "bisa lebih murah", tingkat keterbacaannya diyakini lebih tinggi. Itu artinya, makin banyak orang yang melafalkan nama si narasumber dalam berita tersebut. Jika berita itu terdiri dari tujuh alinea, dan namanya ditulis dalam tiap alinea, berita tersebut telah menanamkan nama Harry dalam ingatan pembaca. Tujuh kali mengulang nama seseorang dalam satu kesempatan, cukup bagi yang melafalkan untuk mengingat dalam waktu yang lama.

Dengan posisinya itu, seharusnya setiap kali memberi informasi soal kucuran dana jatah Kepri di pusat, Harry tak perlu mengeluarkan kalimat klise dan membosankan: "saya sudah memperjuangkannya di pusat". Dengan menilik jabatannya saja persepsi pembaca akan langsung terbentuk bahwa kucuran-kucuran dana itu adalah bagian dari perjuangannya. Ini adalah kemenangan pertamanya.

Saya beberapa kali mewawancarai dan berdiskusi dengannya, menurut saya, bahasa yang digunakan Harry untuk menyampaikan informasi-informasi yang dikantonginya, sebenarnya, masih teramat tinggi untuk masyarakat awam. Harry masih sering memakai istilah-istilah akademik. Penyampaiannya kurang bertutur (ingat masyarakat jenuh dengan petuah-petuah, orang hanya betah mendengarkan atau membaca pesan yang panjang jika itu disampaikan dengan cara berkisah). Ini mungkin karena latar belakangnya sebagai dosen. Tapi Harry beruntung, para wartawan yang kerap mengutip informasi darinya bisa menerjemahkan setiap pesan dalam "bahasa Harry" menjadi "bahasa awam".

Kenapa Harry bisa muncul nyaris setiap hari di media? Ini adalah soal aksesibilitas media terhadapnya. Para caleg, siapapun dia, harus sadar bahwa ia membutuhkan media. Sebab media mempermudah mereka menjangkau pemilih. Harry sepertinya sangat menyadari itu. Wartawan yang ingin mendapat informasi darinya cukup mengirim pertanyaan lewat SMS atau miss called saja. Biasanya ia merespons balik dengan menelepon si wartawan dan menjawab semua pertanyaan. Sebenarnya ini sederhana, remeh saja, tapi ini adalah cara efektif untuk memenangkan akses menembus media.

Biasanya bila para wartawan sedang seret berita, mereka akan menghubungi narasumber yang paling mudah diakses, kompeten dengan topik yang akan ditanyakan, dan bisa bicara detil dan panjang. Harry, entah sengaja atau tidak, berhasil menangkap momen itu. Ini bisa dilihat dari berita-berita yang bersumber dari dia yang terbit di media. Ia bicara tentang kawasan perdagangan bebas, ia bicara soal pasokan gas yang macet ke Batam sehingga harga listrik melonjak (dalam hal ini ia menggunakan posisi sebagai anggota Fraksi Partai Golkar), ia bicara soal ketertinggalan SDM dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan Dhany? Putra Gubernur Kepri ini memang tak punya jabatan se-strategis Harry. Menurut saya, inilah faktor pertama yang menghambat proses komunikasi politik Dhany dengan masyarakat. Bila ingin memberi pernyataan soal kesehatan atau pendidikan, ia akan berbicara dalam kapasitas apa? Dhany, selain seorang pengusaha, selama ini ia "hanya" dikenal sebagai ketua AMPI. Dengan jabatan ini, isu yang bisa digarap tak bisa lebih jauh dari soal kebutuhan-kebutuhan generasi muda.

Kendati begitu, menurut saya, Dhany sebenarnya punya satu kartu truf, yang entah kenapa tak pernah dimaksimalkan oleh dia dan tim suksesnya. Dhany adalah Ketua Umum Program PNPM Mandiri Provinsi Kepri. Padahal, PNPM adalah salah satu program andalan kampanye Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat. Iklannya muncul hampir setiap hari di televisi. Ia bisa bikin satu hajatan peluncuran program tersebut di Kepri dengan mengundang pejabat pusat untuk memperbesar dering beritanya di media. Setelah itu, ia bisa menindaklanjuti peluncuran itu dengan turun ke pasar-pasar, ke tempat-tempat mangkal nelayan, bicara tentang mudahnya mendapat pinjaman lewat PNPM Mandiri dan manfaatnya bagi pengembangan usaha kecil.

Seandainya Dhany "menggunakan" jabatan Ketua Program PNPM Mandiri pada Desember 2008, ketika semua orang sedang bicara soal krisis ekonomi global dan solusinya, serta upaya penanganan pengangguran, Dhany bisa merebut perhatian publik, tentu saja dibantu dengan kemasan berita dalam media. Maka orang akan beranggapan dia sosok yang punya antisipasi, anak muda yang punya banyak gagasan, punya cara untuk membantu usaha kecil keluar dari krisis. Dengan tidak menggarap PNPM, Dhany, menurut saya, telah membuang sebuah peluang untuk dikenal. Kata Wilbur Schramm, salah satu faktor komunikasi efektif, adalah timing yang tepat untuk sebuah pesan.

Kendala lain Dhany adalah ia sulit diakses media, setidaknya bila dibandingkan dengan kompetitornya. Ia tak mudah dihubungi wartawan. Kadang ia menyerahkan tim suksesnya untuk menjelaskan kepada media. Ini adalah blunder. Kesan yang ditangkap, Dhany memposisikan dirinya sebagai orang yang penting. Definisi orang penting di sini adalah, media butuh dia sebagai narasumber yang pernyataan-pernyataannya ditunggu pembaca. Padahal, dalam situasi ini justru Dhany amat butuh dukungan media. Maka tak ada cara lain, selain membuka akses semudah-mudahnya kepada media. Menyerahkan penyampaian informasi kepada tim sukses justru tak menguntungkan, sebab bagi wartawan dan media mendapatkan informasi dari tangan pertama, orang yang jadi fokus berita, nilai beritanya empat kali di atas press release.

Hal lain yang, menurut saya, jadi faktor gagalnya Dhany mengalahkan pesaingnya adalah image tentang dinasti politik keluarga Ismeth Abdullah. Dinasti politik bukan sesuatu yang haram. Di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat, dinasti politik bertumbuhan. Orang menganggapnya biasa saja. Tapi di masyarakat kita, dinasti politik konotasinya negatif: kolusi dan nepotisme.

Dengan asumsi itu, menurut saya, Dhany sejak awal kemunculannya sebagai caleg, seharusnya membangun image baru, sebagai anak muda yang punya karakter sendiri. Intinya, image bukan "anak babe". Repotnya Dhany justru memperteguh image sebagai anak babe. Ia mengkampanyekan secara sadar nama Dhany Ismeth. Kalau bisa dimana-mana orang menyebutnya Dhany Ismeth, bukan Ramatsyah Ramadhany. Saya pernah menanyakan ini kepada Dhany, kenapa tagline-nya harus Dhany Ismeth, kenapa tak mencari yang lain, yang mengesankan ia sebagai anak muda yang bisa berjuang sendiri, tanpa bawa-bawa nama orang tua. Dhany bilang, karena itu mudah diingat. ''Kenyataannya saya memang anak Pak Ismeth dan tak bisa dipisahkan dengan Pak Ismeth,'' katanya.

Soal konotasi negatif dinasti politik, kata Dhany, ia akan menjelaskan kepada setiap orang yang mempertanyakannya. Bukankah itu akhirnya menyita waktu. Masa kampanye adalah saat untuk menjual program dan langkah-langkah untuk memperjuangkan hak konstituen di parlemen, bukan untuk menjelaskan latar belakang, mengklarifikasi isu-isu miring dan hal-hal yang tak perlu. Pada akhirnya, saya tak bisa mengelak dari kesimpulan, bahwa Dhany memang sangat bergantung pada popularitas orang tuanya. Dan, ia gagal dengan jalan itu. ***

Sunday, April 5, 2009

Orang-orang di Balik Layar

Mengantar pesanan dan kiriman orang dengan cepat sesuai alamat tujuan bukan sesuatu yang baru bagi M Irfan. Pengalaman bekerja sebagai pegawai Kantor Pos telah mengajarkannya bagaimana menyiasati semua rintangan di jalan, agar surat dan paket yang jadi tanggung jawabnya bisa sampai tepat waktu.

Pengalaman itulah yang mempertebal keyakinannya saat mengajukan lamaran bekerja sebagai pengantar gulungan film milik jaringan bioskop Kelompok 21 yang menaungi Studio 21 di Nagoya Hill dan XXI di Mega Mall Batam Center. ‘’Sejak Mei 2008 saya ganti profesi dari pengantar surat jadi pengantar gulungan film,’’ katanya, saat ditemui di XXI, pekan lalu. Petugas pengantar film biasa disebut endit. Namun Irfan tak tahu darimana asal kata itu.

Kendati memiliki banyak kesamaan, tapi pekerjaan lama dan pekerjaan barunya, kata Irfan, memiliki tekanan yang berbeda. Mengantar surat dan paket, meski alamat tujuan sangat banyak, tenggat waktu yang dimiliki cukup longgar.

‘’Kalau antar surat yang penting hari itu harus sampai, tak masalah siang atau sore. Yang penting sampai ke alamat,’’ katanya.

Namun, bertugas sebagai endit, walau hanya bolak-balik Nagoya-Batam Center, Irfan harus jeli menghitung setiap menit yang berputar. ‘’Kita tak boleh terlambat, karena itu akan mengganggu kenyamanan penonton,’’ katanya. ‘’Ternyata jadi endit lebih berat.”

Seorang endit memang dituntut cekatan. Lancar atau tersendatnya pemutaran sebuah film, sangat tergantung pada mereka. ‘’Di sini, kita punya enam orang endit,’’ kata Dewo, manajer operasional Studio XXI.

Karena berada di bawah bendera usaha yang sama, semua judul-judul film yang diputar di Studio XXI di Batam Center dengan Studio 21 di Nagoya pun sama. Dan, selisih jam tayang untuk satu judul film antara kedua bioskop itu hanya satu jam.

Misalnya, film Laskar Pelangi jadwal tayangnya di XXI pukul 14.00, maka di Studio 21 akan diputar pukul 15.00. Karena itu pula, untuk satu judul film mereka dijatah satu paket gulungan saja yang harus dipakai bergiliran. Di sinilah tekanan terberat para endit, menjaga ketepatan waktu tayang sebuah film di masing-masing bioskop.

Irfan menjelaskan, sebuah judul film, yang durasi tayangnya rata-rata 90 menit, terdiri dari lima sampai tujuh gulungan film. Satu gulungan panjang durasinya antara 15 sampai 20 menit. Gulungan itulah yang disusun sambung menyambung oleh operator hingga jadi tayangan film yang utuh dan enak ditonton.

Agar jadwal pemutaran film tidak terlambat, para endit telah memiliki metode kerja baku. Setiap satu gulungan yang selesai ditayangkan di satu bioskop akan langsung diantar ke bioskop lain. Misalnya, film Sumpah Pocong yang terdiri dari tujuh gulungan film sedang diputar di Studo 21. Maka begitu gulungan pertama selesai diputar langsung dibawa oleh seorang endit untuk diputar lagi di XXI. Gulungan kedua dan seterusnya akan dibawa oleh endit yang berbeda. ‘’Bawanya pakai motor,’’ kata Yulhendri, salah seorang endit.

Dengan pengantaran yang terpisah-pisah seperti itu, maka ketika film Sumpah Pocong masih memasuki bagian tengah cerita di Studio 21, di XXI Batam Center bagian awal film itu sudah mulai tayang. ‘’Penonton nggak tahu, kalau ekor film ini masih ada di Nagoya,’’ kata Yulhendri. Saat penonton berdebar menyaksikan jalannya cerita di layar, para endit dan operator justru berdebar memikirkan kontinuitas film dan kenyamanan penonton. ‘’Yang selalu bikin cemas, kalau gulungan berikutnya tak tepat waktu, film terpaksa putus beberapa menit,’’ kata Sugiono, operator XXI.

Kejadian tak mengenakkan itu, bukan tak pernah mereka alami. Hambatan justru kerap datang dari hal-hal yang tak mereka duga. ‘’Pernah kawan yang sedang ngantar gulungan keempat sebuah film dari Nagoya kena razia di depan ruko Edukids. Padahal, gulungan pertama dan kedua sedang tayang di Batam Center. Yah, akhirnya film sempat putus beberapa menit,’’ ungkap Irfan. Kalau sudah begitu, giliran operator turun tangan. ‘’Biasanya kita kasih permohonan maaf ke penonton lewat slide,’’ kata Sugiono.

Bukan cuma razia, cuaca dan kempes ban di jalan juga kerap membuat para endit terlambat. ‘’Padahal, kita sudah mematok jarak tempuh Nagoya-Batam Center itu maksimal 20 menit saja,’’ kata Irfan.

Pada malam penyambutan Tahun Baru 2009 lalu, hampir semua jadwal tayang film di XXI molor. Kemacetan parah di seputar Batam Center menuju Engku Putri, yang berlokasi di samping XXI, membuat laju motor para endit tersendat-sendat. “Bahkan, kita sampai berlari dari Simpang Masjid Raya ke sini sambil membopong gulungan film,’’ kenang Yulhendri. Untungnya, malam itu, penonton tak penuh. ‘’Orang lebih banyak berada di luar tahun baruan,’’ kata Dewo, manajer operasional XXI.

Apa yang paling tak mengenakkan jadi endit? Yulhendri menjawab, “Kalau nonton film nggak pernah tuntas. Selesai nonton satu gulungan langsung pergi, kadang lagi seru-serunya he..he..he..”

Berbeda dengan endit, seorang operator seperti Sugiono justru bisa menikmati tayangan film secara utuh, bahkan hingga berkali-kali. Film-film laris seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi bisa tayang hingga dua bulan. ‘’Tapi, biasanya yang serius natap layar itu hanya pas pemutaran pertama saja. Setelah itu biasa saja,’’ katanya.

Karena keseringan menonton film yang sama, tak jarang pula Sugiono tertidur saat film sedang tayang. ‘’Biasanya kita tidur-tidur ayam gitu,’’ ungkapnya.

Menjadi operator, kata Sugiono, tak perlu pendidikan khusus. ‘’Yang mutar gulungan film itu mesin. Kita cuma ngawasin saja gimana layar dan suaranya bersih,’’ katanya. Sugiono sebelumnya bekerja sebagai operator perusahaan elektronik di Mukakuning. ‘’Waktu baru masuk, saya dikasih kursus satu bulan di Nagoya Hill, setelah itu langsung bisa,’’ katanya.

Terlepas dari keterlambatan akibat faktor non teknis yang dialami para endit dan operator, kata Dewo, secara keseluruhan penayangan film di XXI dan Studio 21 cukup memuaskan penonton yang datang. ‘’Kenyamanan penonton tetap terjaga,’’ katanya. Itu bisa dibuktikan dari rata-rata jumlah penonton yang yang datang saban hari. ‘’Rata-rata di XXI 200 penonton per hari tiap studio,’’ katanya. ***

Monday, February 2, 2009

Brokenhearts Community

PERKENALKAN namaku Electric. Anda tak perlu bertanya kenapa harus itu jadi namaku. Toh, aku sendiri juga tak tahu kenapa nama itu bisa kupakai dan kukenalkan kepada banyak orang, terutama di komunitas kecil, di mana orang-orangnya hanya kukenal lewat nama, tapi tak pernah kulihat wajah mereka.

Walau begitu, di komunitas kecil ini, yang “hidup” di sebuah ruang yang aku tak bisa gambarkan seperti apa bentuknya, karena memang tak punya wujud, kami berteman akrab, saling menyapa, berbagi keluh kesah, bahkan saling jatuh cinta.

Aku, yang tak pernah melihat wajah-wajah temanku itu, coba mengidentifikasi mereka lewat kata-kata yang “diucapkan” atau tepatnya dituliskan di ruang hampa tempat kami rutin bertemu tiap hari. Sebagian dari identifikasi semiotika terhadap teman-temanku itu, benar adanya. Setidaknya mendekati kebenaran.

Dengan begitu, keisengan ini, telah ikut membantu membuktikan kebenaran pendapat ahli komunikasi Dr Deddy Mulyana MA, dosen yang aku kagumi kesederhanaan dan kepiawaiannya. Dr Deddy, yang punya buku “Menjadi Muslim di Amerika”, pernah bilang: pilihan kata dalam berkomunikasi adalah cerminan watak dan karakter seseorang. Maksudnya, seseorang boleh saja bilang ia demokratis dan tidak otoriter, tapi kalimat-kalimat tertentu yang diucapkan dan dituliskannya secara konsisten saat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya bisa dijadikan identifikasi watak yang sesungguhnya, demokratiskah atau otoriterkah.

Aku tak pernah tahu sejarah pasti siapa penemu ruang hampa tempat kami rutin berkomunikasi hingga lahirlah komunitas kecil ini. Ruang hampa ini dan komunitas seperti yang kami miliki ini bukan satu-satunya di dunia. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Ia sangat mudah diciptakan. Dengan memiliki komunitas hampa ini, sesungguhnya aku punya dua dunia.

Dunia pertama adalah dunia nyata: tempat aku bertemu teman-teman yang senyum dan kemarahannya bisa kutangkap dengan mata telanjang; dimana pilihan kata mereka bisa kudengar dengan telinga; tempatku mendengarkan kuliah-kuliah dosen dari yang memukau hingga yang benar-benar menjemukan; tempatku bisa berutang kepada teman-teman di kampus dan di tempat kos jika duit kiriman orang tua sudah habis sebelum waktu yang semestinya.

Satunya lagi, ya dunia maya: dunia di mana aku hanya bisa meraba kejujuran seseorang lewat kata-kata yang ditulisnya. Dunia tanpa intonasi, tanpa mimik, tapi tetap punya emosi.

***
SEMUA bermula di sebuah warnet kecil di Jalan Titimplik Bandung, awal tahun 2000. Ketika itu, jagad internet, yang baru memasyarakat di Indonesia, disibukkan dengan rumor bakal runtuhnya sarana komunikasi terbaru tersebut karena perubahan abad, dari abad 20 ke 21 atau dikenal dengan istilah Millenium Bug.

Isu yang beredar mengatakan, perangkat keras dan lunak yang terpasang di komputer, pada saat itu, tidak bisa membaca perubahan tarikh dari digit 199... menjadi 200.... Ternyata rumor itu hanya bohong belaka. Penggunaan internet justru makin meluas. Pasar warnet, di Bandung misalnya, pada awal milenium itu tumbuh subur. Di seputaran Haur Mekar dekat Kampus Universitas Padjajaran saja, ada puluhan warnet baru berdiri.

Di tengah kemeriahan dan kegilaan terhadap internet itulah, kesibukan bergeliat di rumah kontrakan mungil di Jalan Titimplik, Bandung. Ruang-ruang yang kusam dicat ulang. Dinding diberi warna krem, biar terlihat luas dan cerah. Kusen-kusen dari kayu yang mulai lapuk dimakan rayap dilapis warna hijau. Komputer baru berdatangan, semua ada sembilan unit, sepuluh dengan server. Untuk menjaga privasi pelanggan, masing-masing komputer disekat dengan tiang besi yang ditutup kain motif kotak-kotak kuning dan hijau. Mirip kemeja flanel yang banyak dijual di Toko Alpina, toko penjual perlengkapan naik gunung paling populer di Bandung.

Akhir Januari 2000, warnet ini beroperasi, bersaing dengan para pendahulu. Ia diberi nama JumperNet, dengan logo sebuah panah warna merah melingkari bola dunia warna biru muda. “Kelak warnet ini akan melompat meninggalkan pesaingnya,'' kata Riki, sepupuku yang mengilhami kelahiran warnet ini. ''Makanya, namanya Jumper.'' Satu jam tarifnya Rp6.000 plus teh botol.

Beroperasinya JumperNet juga menandai hadirnya dunia lain dalam kehidupanku. Hari-hari, dari pagi ke pagi, dari malam ke malam, aku ada di sini. Bertahan di depan layar komputer sambil mendengar lagu-lagu dari Radio K-Lite, radio milik PT Telkom yang menyajikan lagu-lagu easy listening sepanjang hari. Aku menemukan begitu banyak keasyikan dalam internet. Chatting terutama. MiRC adalah wahana ngobrol di internet paling ramai sejagad.

Skripsi, sebuah kewajiban dari dunia nyataku, yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya, tak kusentuh lagi. Catatan-catatan koreksi dosen pembimbing hilang entah kemana. Komputer Acer Aspire di kamar kos yang menyimpan semua file-file hasil penelitian tak pernah kuhidupkan lagi. ''Nggak ada internetnya. Nggak seru,'' kataku setiap kali memandang komputer yang dibelikan ayahku tahun 1996 itu.

Di dunia baru ini, aku makin jauh tersesat. Hingga suatu hari terdampar di situs www.lovemail.com. Situs ini segmennya adalah para remaja. Warna ungu mendominasi desain halamannya. Selain menyediakan fasilitas email, juga ada ruang ngobrol (chat room). Untuk bisa masuk ke chat room, pengunjung harus daftar untuk dapat email dulu. Chat roomnya dibagi lagi dalam beberapa kelompok. Ada chat room Indonesia, Malaysia, Filipina dan beberapa lainnya. Brokenhearts adalah chat room yang paling sepi pengunjungnya. Malah kadang tak ada orang di sana.

Pertama kali aku bertemu pengunjung dengan nickname Starlight. Ia mengaku dari Thailand. Tapi Starlight tak mau kasih tahu jenis kelaminnya, apakah perempuan atau laki-laki. Ia selalu bilang kalau ia hermaprodhite, atau makhluk dengan dua jenis kelamin. Setelah seminggu rutin ngobrol di situ, Starlight mau juga buka kartu. ''Karena aku mulai percaya sama kamu'' kata dia memberi alasan. Menurut Starlight, ia sudah menyinggahi banyak tempat chatting di dunia maya. ''Kebanyakan isinya para penipu. Mereka cuma ingin cybersex,'' katanya. Starlight adalah seorang perempuan, tinggal di Chiangmai, bekerja sebagai staf administrasi di Unversitas Negeri Chiangmai.

Starlight mengirimkan fotonya lewat email, wajahnya mirip campuran Jepang dan Asia Tenggara, mengenakan kacamata berbingkai tebal. Starlight ngotot minta agar aku juga kirim foto diriku. Bertukar foto lewat email, setelah berkenalan di chat room, adalah hal lazim bahkan wajib pada masa itu.

Tapi sumpah demi Tuhan, aku tak punya koleksi foto. Dokumentasi hidupku terbilang kacau. Hanya ada foto 3x4 yang dicetak saat mendaftar masuk perguruan tinggi tahun 1995. Tapi tak mungkin aku mengirim itu. Akhirnya aku mengirim foto BJ Habibie, presiden Indonesia yang digulingkan lewat sidang umum MPR 1999. Foto itu aku download dari sebuah situs berita. Starlight tak percaya dengan foto yang kukirim itu. ia marah-marah.

“You are too old to be here,'' katanya mengomentari foto Habibie itu.

“But i'm too smart to chat with you. I was a president'' kataku hehe.

Sejak hari pertama kenalan hanya aku dan Starlight yang rutin berkunjung ke Brokenhearts. Tapi, gara-gara foto Starlight puasa bicara. ''Aku ditipu oleh orang yang aku kira bisa dipercaya,'' katanya. Starlight orangnya sangat reaktif dan moody. Ia bisa begitu gembira dan amat ramah, namun bisa berbalik seketika jadi sosok yang sangat sensitif dan pemarah.

Setelah seminggu berdiam diri, ia akhirnya mulai ngobrol lagi. ''Kamu saya maafkan,'' ujarnya. Di Brokenhearts kami ngobrol dari pagi hingga malam. Setiap hari. Perlahan pengunjung mulai ramai, ada Cheris dan Trish, dua perempuan Filipina yang selalu ceria. Mereka adalah mahasiswa kedokteran di Manila. Menyusul kemudian Blade dari Malaysia. ''I'm Malay, but Christian,'' begitu Blade selalu mengidentifikasi diri. Lalu ada Skate dari Jakarta, penggemar skateboard kuliah di Akademi Transportasi Trisaksi. Ada juga Ryanne, lelaki keturunan India yang tinggal di Singapura dan suka merajuk. Ia naksir berat sama Starlight. Inilah generasi pertama Komunitas Brokenhearts.

Meski sama-sama terdampar di sebuah ruang bernama Brokenhearts, tapi tak satupun di antara anggota komunitas yang mengaku masuk ke sana karena alasan sedang patah hati. Starlight, misalnya, mengaku masuk karena nama ruangnya yang unik. Iseng dan coba-coba adalah jawaban yang diberikan Cheris dan Trish. ''Patah hati? Gua lagi hot-hotnya sama pacar gua,'' kata Skater.

Walau bisa ngobrol 24 jam sehari, tapi primetime-nya chatting di Brokenharts adalah antara pukul 4 sore hingga 8 malam. Bisa dikatakan seluruh “anggota tetap” rutin hadir pada jam-jam tersebut. Ngobrol biasanya juga diramaikan oleh sejumlah pendatang baru. Topik obrolan bisa apa saja: pengalaman di kampus atau di lingkungan sekitar, hiburan, dan curhat. Politik dan agama adalah topik yang sangat jarang dibicarakan.

Hadirnya para “pendatang baru” membuat ruang ngobrol tambah dinamis. Di antaranya adalah:

Nitze, bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang makanan, alumnus Politeknik UI. Pertama membaca namanya aku mengira dia penggemar Friedrich Nietzsche , filsuf Jerman yang terkenal dengan kalimat: “Tuhan telah mati”. Waktu aku mengonfirmasinya, Ia malah balik bertanya, “Siapa itu? Hehehe.”

Sparky, manajer hotel bintang lima di Jalan Merdeka Bandung, alumnus ITB. Rumah orang tunya berjarak enam rumah saja dari warnetku. Karena itu, ia sering mampir dan “on air” dari sini. Oleh anggota komunitas lain (dari Indonesia) ia biasa disapa “Teteh” karena dia paling tua.

Setanbaek, anak buah Sparky di bagian front office. Drop out dari FH Unisba, juga sering mampir ke Titimplik.

Cherry alias Wild Honey, pencinta kebebasan, alumnus sastra Jerman UI. ''Gua orangnya emang moody,'' katanya.

Satriavi, freelance di berbagai bidang, mahasiswa Unpar.

Leo, pekerja bidang industri perangkat komputer di Islambad, Pakistan.

Sexybites, perempuan wiraswasta di Jakarta.

Bob, pekerja bidang pemasaran alat-alat kesehatan di Kuala Lumpur.

Stormlord, kontraktor di Jakarta.

Vallkyrie, pawang gajah, tinggal di Aceh.

Juga ada Zoso, anak diplomat. Pernah tinggal di London dan USA. Kuliah di desain komunikasi visual Trisakti. Bahasa Inggrisnya bagus. Zozo-lah yang bantu menuliskan surat lamaranku dalam bahasa Inggris untuk Kompas dan Majalah Tempo, setelah pada akhirnya aku bisa menamatkan kuliah Maret 2001.

Candle, pelajar SMA di Surabaya.

Hanny, pelajar SMA di Surabaya.

KK, pengusaha biro perjalanan umrah dan haji.

***
CINTA datang karena terbiasa, kata lagu Dewa. Idiom itu juga berlaku di Komunitas Brokenhearts. Beberapa anggota (akhirnya) saling jatuh cinta. Maklum saja, hampir sebagian besar waktu mereka habis untuk ngobrol di ruang ini. Anggota komunitas yang sudah bekerja, seperti Sparky dan Nitze, selalu online dari kantor sembari menjalankan perintah atasan. Itu berarti, setidaknya mereka aktif di chat room dari pagi hingga petang hari.

Selain ngobrol ramai-ramai di public chat room, masing-masing anggota komunitas juga bisa mengadakan private chat, atau ngobrol berdua saja dengan teman yang dia sukai. Private chat biasanya dilakukan bersamaan dengan ngobrol di public chat room. Namanya juga private chat, sesama anggota nggak pernah tahu siapa bicara dengan siapa. Di private chat yang biasa disingkat PC inilah, si X yang naksir si Y berupaya menjalin komunikasi pribadi.

Starlight dan Setanbaek resmi mengikat ikrar. Sebulan setelah jadian di dunia maya, Setanbaek terbang ke Chiangmai. ''Gua mau nunjukkin, kalau gua serius. Nggak semua hubungan di internet ini palsu,'' kata lelaki berbadan tambun ini saat menemuiku di warnet, sebelum berangkat ke Chiangmai.

Begitu sampai di Chiangmai dan bertemu Starlight, Setanbaek meneleponku. Inilah kali pertama aku mendengar suara Starlight. ''I still can't believe it. Is it a dream?'' kata Starlight. Suaranya ceria.

Sexybites jadian dengan Stormlord. Waktu datang ke Bandung, Sexybites ngaku ia sering kopi darat dengan Stormlord di Tebet, tempat tinggalnya. Nitze saling jatuh cinta dengan Satriavi. Wild Honey menemukan Vallkyrie sebagai pasangannya. Padahal, Bob adalah fans berat Wild Honey, dan memburunya sejak pertama kali kenal. Marlboro Man pacaran dengan Mandy. Serene dari Filipina juga mengumumkan jadian dengan Falcon dari Kuching, Malaysia.

Sparky merajut kasih dengan Leo dari pakistan. Kepada Leo, Sparky bilang kalau dia adalah tetangga dekatku. Mungkin karena itu, Leo selalu berbaik-baik dengan ku di chat room. Ia bahkan mengirimkan aku dua buah buku karya Muhammad Iqbal, sastrawan Islam asal Pakistan. Masing-masing berjudul My Leader dan The Messages from the East. Meski belum pernah bertemu fisik dengan Leo, kepada aku, Sparky bilang ia cinta benar pada Leo. Setiap kali hubungan mereka memanas, Leo selalu bertanya padaku lewat jalur private chat. Aku selalu jawab: “Sabar Leo. Mungkin dia sedang datang bulan, tensinya agak tinggi.'' Padahal aku nggak ngerti masalah mereka. Aku bilang begitu, semata agar Leo tak menyesal telah mengirim buku dan percaya padaku.

Adanya “pertemuan-pertemuan darat” yang tak direncana antara aku dengan Setanbaek dan Sparky, memacu keinginan anggota lain untuk menggelar pertemuan darat yang lebih meriah dan well organized.

Sekitar bulan Oktober 2000, suatu malam sehabis hujan, Komunitas Brokenharts menggelar kopi darat terbesar pertama. Kebanyakan yang datang adalah anggota yang tinggal di Bandung, antara lain Pluffy, Marlboro Man, Satriavi, Setanbaek, dan Sparky. Hanya Skate yang datang dari Jakarta. Kami ketemu di Titimplik, lalu makan di warung tenda tak jauh dari warnet. Sparky yang traktir. ''Biar dia yang bayar. Dia paling banyak duitnya,'' kata Setanbaek.

Pertemuan kedua, berlangsung bulan Desember 2000. Wild Honey, Baby dan Nitze juga ikut gabung. Mereka dari Jakarta. Seluruh pertemuan komunitas digelar di Titimplik. Tidak ada kikuk dan canggung saat pertama kali bertemu, Semua seperti sudah saling mengenal sejak lama. Heboh sudah pasti. ''Tampang lu persis seperti yang gua bayangin di layar komputer,” kata Wild Honey saat menjabat tanganku.

Selain pertemuan-pertemuan di atas, beberapa anggota komunitas dari Jakarta juga kerap datang sendiri ke Bandung dan selalu mampir di Titimplik. Baby adalah yang paling sering. Sexybites pernah datang sekali akhir tahun 2000. Setelah itu, ia selalu bilang ke orang-orang: ''Gua ke tempat Electric cuma ngantar handphone aja.'' Sexybites kehilangan handphone saat duduk-duduk di warnet. Dia aku tinggal untuk salat Jumat. Sorry Sexybites!

Kini, Komunitas Brokenhearts, bukan sekedar hubungan di dunia maya, ia juga adalah kehidupan di dunia yang sebenarnya.

***
JULI 2001, sebuah bus meninggalkan terminal Leuwipanjang Bandung, ketika Matahari baru saja muncul. Menjelang siang, bus merapat di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Aku turun bersama puluhan penumpang lainnya. Hari itu, aku janjian ketemu dengan KK, di rumahnya di Pondok Gede. Aku menghubungi teleponnya, ia ngasih tahu aku harus naik angkutan apa biar sampai ke sana.

KK bukan cuma pengusaha biro perjalanan haji dan umrah, ia juga mengelola sejumlah unit usaha lainnya, seperti pesantren, universitas, radio, minimarket dan wartel. Semua berada dalam satu kompleks di Pondok Gede. Orangtuanya Tutty Alawiyah pernah jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan zaman BJ Habibie.

Sore harinya, aku duduk-duduk di studio radio milik KK, nungguin dia siaran. Selepas maghrib, kami janjian ketemu Wild Honey dan Nitze di Blok M Plaza. Makan malam dengan menu nasi goreng. ''Biar gua yang bayar. Ntar kalau lu udah kerja lu yang bayarin gua'' kata Nitze. Aku dan Wild Honey memang masih nganggur.

Dari Blok M kami meluncur ke rumah KK. Ngobrol-ngobrol di sana, gosipin anggota komunitas yang lain dan hubungan spesial mereka, hingga tengah malam. Saat mau pulang ke apartemennya, Wild Honey tanya aku. ''Benar lu mau berangkat besok?'' katanya. Aku menganggukkan kepala. ''Wah, pisah dong. Kalau ke Bandung gua mau mampir ke mana lagi?'' katanya. Besok paginya dari rumah KK aku berangkat ke Batam. Memulai hidup baru. Cari kerja.

Setelah berada di Batam dan masih menganggur, aku jarang mengunjungi Brokenhearts. Paling sebulan hanya satu kali, just to keep in touch. Sisanya bertukar kabar lewat SMS. Aku nggak bisa menikmati internet gratis lagi seperti di Bandung. Situasinya sudah beda. Di Batam, tiap pemakaian satu jam di warnet diganjar Rp7.000, membuat aku berpikir untuk ke warnet. Dan, kendati sudah bekerja, ternyata aku juga tak bisa serutin dulu ngobrol di sana. Karena aku kerja lapangan dari pagi hingga sore. Lagi pula, komputer yang aku gunakan sehari-hari di kantor tidak ada internetnya.

Dalam kunjungan yang intensitasnya makin berkurang itu, aku dengar kabar Starlight dan Setanbaek menikah di Thailand, Sexybites juga menikah dengan Stormlord, Bob married dengan anggota baru Komunitas Brokenhearts asal Jakarta, yang aku tak kenal orangnya. Brokenhearts tidak hanya mempertemukan, tapi juga menyatukan mereka.

***
AKU melongokkan kepala di pintu sebuah warnet tak jauh dari Simpang Kuda Seipanas, Batam. Seorang perempuan berambut pendek berkacamata bingkai tebal melambaikan tangan dari dalam. ''Electric, is that you?'' katanya. Hari itu, sekitar bulan Februari 2003, aku bertemu Starlight untuk pertamakali di dunia nyata. Starlight mengungkapkan, sejak pertama kenal di chat room, ia yakin pasti akan bertemu dengan ku di real life. Kendati begitu, ia berkali-kali bilang pertemuan ini adalah “miracle” dan “amazing”.

Aku tahu Starlight ada di Batam secara tak sengaja. Sabtu sore itu aku iseng masuk ke chat room dari komputer milik redaktur di kantor. Starlight kebetulan sedang online. Ia bilang dia sekarang tinggal di kota yang sama dengan ku. Setanbaek, suaminya memang orang Batam. Orangtua dan keluarganya tinggal di sini. Tapi, mulanya, aku tak percaya. Starlight lalu kasih tahu alamat warnet tempat dia sedang online. Itulah yang membuat aku yakin dia benar-benar di Batam.

Starlight cerita panjang soal kehidupan barunya bersama Setanbaek. Ia mencoba bicara dalam Bahasa Indonesia. Tapi masih kacau. Bahkan sulit dimengerti. Kalimantan ia lafalkan dengan “Golomonton”. Setengah mati mengartikan kalimat-kalimatnya. Ia ngaku baru dua bulanan ada di Batam. Aku melihat ia berusaha keras untuk cepat menyesuaikan diri. Dari dompetnya, ia keluarkan foto pernikahan mereka di Thailand. Starlight bilang ia sedang hamil dan tinggal di ruko di Nagoya. Sedangkan orangtua Setanbaek tinggal di perumahan Marchelia. Setanbaek kerja di sebuah resort di Marina City.

Sejak itu aku beberapa kali ketemu Starlight dan Setanbaek. Aku pernah datangin ketika mereka pindah ke rumah orangtua Setanbaek di Marchelia, setelah anak mereka lahir.

Entah kebetulan atau tidak. Setelah semua yang ada di dunia maya jadi nyata, awal 2004 situs lovemail.com tiba-tiba tak bisa diakses lagi (hingga kini). Tak ada anggota komunitas yang tahu pasti alasannya, dan tak ada pula yang menyesalinya. Ini adalah sebuah episode hidup yang memang harus ada garis finishnya. Tapi, seperti kata Setanbaek, saat terakhir ketemu dengan ku di lobby Hotel Mercure Batam, ''Situs itu cuma ingin mempertemukan kita, jadi keluarga jadi saudara.'' ***
_________________________
Untuk semua anggota Komunitas Brokenhearts yang kini menapaki kehidupan baru: Starlight (Jay) dan Setanbaek (Hendra) kini bermukim di Thailand; Sparky (Noeke) wakil GM Ritz Charlton di Dhaka Bangladesh; Nitze (Aniss) akuntan USAID di Jakarta; Wild Honey (Marina) setelah pulang dari Australia kini jadi editor di Penerbit Erlangga; KK (Bastian) tetap dengan bisnis asalnya; Sexybites (Camelia) dan Stormlord (Wawan) punya usaha cafe di Jakarta; Candle (Peggy) setelah menamatkan S1 di Beijing kini bekerja di Konsulat RRC di Surabaya; Satriavy (Zulphiandi) masih dengan dunianya yang dulu; Marlboro Man (Steven) manajer EDP perusahaan garment di Bandung; Mandy (Sisca) pengajar di Jakarta International School; Jassica (Ika) ibu rumah tangga di Surabaya; Cheris (Lawrence) bekerja di RS Manila; Trish (Maria) dokter di Manila; Vallkyrie (Yogi), Skater (Narendra), Pfluffy (Mya); Hanny; Tasya; Mars (Martinus); Bob (Syaiful); Zoso (Nuni) dan semua yang pernah singgah di Brokenhearts Room. (*)

Thursday, December 25, 2008

Ke Solo Kami kan Kembali

HARI ini, tiga tahun sudah saya bersama istri mengarungi hidup dalam sebuah keluarga. Sejak November dua tahun lalu, kami tak cuma sepasang suami istri, tapi juga ayah dan ibu bagi anak lelaki yang kami beri nama Radithya Wisanggeni. Bocah kecil yang hanya berhenti bergerak dan bicara ketika tidur.

26 Desember adalah hari ulang tahun pernikahan kami.

Saya selalu terkenang Solo, kampung istri, tempat kami melangsungkan resepsi, tiap kali teringat hari pernikahan kami.

Saya selalu berangan-angan, Solo adalah tempat saya bersama istri dan anak melanjutkan episode hidup berikutnya. Kami selalu bercita-cita, lima atau enam tahun lagi akan memulai kisah baru kehidupan kami di sana. ''Enak juga dari Batam kita transit dulu di Jakarta tiga tahun, setelah itu baru ke solo. Pulangnya naik kereta lewat Bandung,'' kata istri.

Kami ingin hidup kami punya banyak halte. Singgah di berbagai tempat. Mencicipi makanan-makanan baru yang jadi ciri khas tempat tertentu (makan adalah hobi yang hanya bisa berhenti ketika kas keluarga sedang kosong). Mengenali budaya, bahasa, atmosfer, dan orang-orang baru. Status quo, kemapanan, dan rutinitas adalah sebuah kebosanan. Tapi Solo adalah pelabuhan terakhir kami.

Di solo hidup tak terlalu ribet seperti halnya Batam atau Jakarta. Cuacanya sedang. Ada banyak tempat-tempat bagus yang nggak membosankan untuk dikunjungi berulangkali, seperti Kampung Batik Laweyan yang tak jauh dari rumah mertua. Pertunjukan seni dan budaya tak pernah berhenti. Masyarakatnya cukup kreatif. Contohnya, untuk mindahin pedagang kaki lima dari pasar tradisional yang dibongkar karena sudah tak layak, pemerintah kota menggelar pawai budaya, tak ada pengerahan Satpol PP dan perang batu antara pedagang dengan aparat.

Dan, yang pasti banyak tempat makan enak tersedia di sana. Bebek Goreng Pak Slamet kesukaan kami, Soto Gading plus sate brutunya yang sekali duduk bisa habis sepuluh tusuk, Timlo Sastro yang dikenal seluruh pencinta makan-makan di Indonesia, Serabi Notosuman langganan keluarga Cendana, tengkleng di Pasar Klewer. Jika rindu masakan padang kami bisa datang ke rumah makan tenda di pertigaan dekat Masjid Besar Laweyan (depan Hotel Puspita). Di Solo semua yang enak-enak tersedia. Harganya murah meriah.

Kalau sedang jenuh di Solo, kita bisa jalan-jalan ke Yogya naik kereta api Prambanan Ekspres. Cuma satu jam. Yogya jauh lebih menarik daripada Singapura. Ia eksotisme alami pemberian Tuhan. Singapura adalah keunikan yang direkayasa, karena itu kalau kita ke sana kadang kita seperti robot yang dikontrol untuk bergerak secara teratur.

Ke Solo kami kan kembali. ***


Monday, December 22, 2008

Anda Pahlawan kalau Nabrak Aturan


SEBUAH berita kecil di pojok kiri bawah sebuah media, Jumat pekan lalu, menyebutkan, seorang pelajar harus dilarikan ke rumah sakit karena kakinya patah dan kepala mengeluarkan darah setelah motor yang dikendarainya bertabrakan dengan angkutan umum. Menurut berita tersebut, tabrakan terjadi karena si pelajar menerobos traffic light warna merah. Ini bukan berita pertama dalam kasus serupa. Tapi kita tak pernah juga belajar dari kesalahan.

Tentu saja banyak alasan yang bisa digunakan si pelajar yang terkapar tadi, jika kita tanya kenapa ia begitu nekat menerobos lampu merah di jalanan yang sibuk. Ia bisa saja bilang takut telat ke sekolah, dipanggil orang tua karena ada urusan penting keluarga dan beragam dalih formal lainnya.

Di luar alasan-alasan itu, ada kebiasaan yang tak juga hilang dalam keseharian kita: merasa bangga jika melanggar aturan. Kita kerap merasa diri kita hebat, bahkan sebagai pahlawan ketika berhasil mengelabui aturan dan aparat yang mengawalnya. Ketika seseorang bisa dengan sukses menerobos lampu merah yang tak jauh dari pos polisi, saya hakul yakin, ia akan bersorak girang, setidaknya dalam hati. ''Mampus lu, gua kerjain,'' sembari menoleh ke arah polisi.

Kebiasaan buruk ini bersemi di zaman Orde Baru, dimana hampir semua aspek hidup warga negara diatur oleh pemerintah. Kita diarahkan untuk terbiasa hidup dalam keseragaman, termasuk pola pikir. Banyak orang yang menolak, tapi tak banyak yang berani menyuarakan dan mengekspresikan. Sebab itu, pada masa itu, ketika ada orang yang berani berbeda dengan keadaan yang serba seragam itu, entah yang diperjuangkan itu benar atau tidak, label "pahlawan" otomatis melekat. Ia jadi fokus perhatian dan perbincangan.

Jika perlawanan yang diberikan berkaitan dengan rasa keadilan dan kepentingan khalayak, tentu tak ada persoalan. Ia harus didukung habis. Tapi, celakanya kita sering menentang hal-hal yang semestinya tidak perlu ditentang. Kita sering melabrak aturan yang dibuat memang untuk kebaikan bersama. Kasarnya, kita kerap asal beda. Barangkali, itu dilakukan cuma untuk menjadi pusat perhatian semata.

Saat duduk di bangku SD, misalnya, selain wajib bercelana merah dan kemeja lengan pendek putih yang bagian bawahnya dimasukkan ke dalam celana, anak sekolah juga harus bersepatu hitam. Maka, kalau ada yang tidak mematuhi ketentuan di atas, misalnya lengan baju digulung dan bagian bawahnya dikeluarkan, serta memakai sepatu putih pula, cap sebagai jagoan di sekolah bakal disandangnya.

Label dan predikat pahlawan dan jagoan salah kaprah begini justru mendapat penguatan melalui ungkapan atau idiom yang kita ciptakan sendiri. Misalnya: ''Dia itu hebat lho, nge-ganja tiap hari, tapi masih bisa juara kelas", "Meski sering teler begitu, shalatnya rajin juga tuh anak'', "Gak jantan lu, masa bolos aja takut", ''Selingkuh dikit gak apa-apa, yang penting kebutuhan istri sama anak terpenuhi. Santai saja''.

Intinya, kita menganggap menabrak hukum adalah prestasi dan kebanggaan. Dan itu terpelihara hingga kini, ketika keseragaman tidak seketat dulu lagi, di saat sudah seharusnya kita membanggakan kedisiplinan dan prestasi. Di suatu siang bulan Ramadan dua tahun lalu, saya bertemu seorang teman kantor yang dengan ekspresi penuh kebanggaan mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Barangkali dia bangga karena telah berani melawan perintah Tuhannya secara sadar.

Di acara kongkow wartawan beberapa waktu lalu ada yang bangga-banggaan soal siapa yang paling banyak dapat amplop dari narasumber:

"Kemarin pejabat A kasih Rp1 juta. Lumayanlah zaman susah begini, masih ada yang mau kasih segitu," kata salah satu peserta kongkow.

''Ah, itu belum seberapa. Aku kemarin sama pengusaha B dikasih Rp2,5 juta. Istriku mau pulang kampung melahirkan juga dibeliin tiket sama dia,'' peserta lain menanggapi.

"Aku dulu juga pernah dikasih voucher Hotel Le Meridien Singapur. Nginap seminggu di sana,'' wartawan yang ngomong pertama tak mau kalah.

Mudah-mudahan kita tidak sedang sakit jiwa karena menganggap pelanggaran terhadap aturan, yang sebenarnya adalah aib, sebagai simbol kehebatan dan keberanian. Atau jangan-jangan kita melakukan ini semua hanya karena kita merasa tak punya sesuatu yang bernilai positif dalam diri kita, yang bisa kita banggakan? ***

Friday, December 12, 2008

Habis Karet Gagallah Nenas


MARYONO Ibrahim hanya bisa mengenang empuknya jok sepeda motor baru merek Kanzen. Cuma tiga bulan kuda besi buatan China itu sempat ia tunggangi, sebelum ditarik balik oleh dealer tempat ia membeli pertama kali. Sebabnya, Maryono tak sanggup membayar cicilan sebesar Rp380 ribu per bulan yang ia sepakati dalam perjanjian jual beli.

Sejak Kanzen lepas dari genggaman, Maryono harus kembali ke selera asal. Kemana-mana, kini ia menaiki Vespa tua warna merah peninggalan orang tua. ‘’Sebelum ada Kanzen dulu pakai Vespa ini. Waktu punya Kanzen, Vespa istirahat dulu. Sekarang balik ke Vespa lagi,’’ tuturnya. Ia tersenyum, tapi getir.

Ditemui di rumahnya di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, pertengahan November lalu, Maryono menceritakan, saat meneken akad kredit dengan dealer pada Agustus 2008, ia hakul yakin semua bakal berjalan mulus layaknya laju kendaraan baru. Maklumlah, kala itu, kantong Maryono sedang gembung. Getah karet yang menjadi sandaran hidup keluarga, harganya tengah menjulang. ‘’Sekilo Rp12 ribu. Itu puncak paling tinggi,’’ katanya.

Dengan harga getah di tingkat penampung Rp12 ribu sekilo, Maryono bisa mengantongi pendapatan rata-rata Rp500 ribu per empat hari. ‘’Rata-rata tiap empat hari hasil panen sekitar 40 sampai 50 kilo,’’ katanya.

Tak cuma Maryono yang berpesta di bulan kemerdekaan itu, para tetangga se-desa yang juga menggantungkan hidup dari karet ikut merasakan nikmatnya hasil keringat menoreh getah. ’’Itu sudah biasa di sini. Kalau harga sedang tinggi, petani beli barang-barang konsumtif, seperti motor dan elektronik. Agustus lalu, stok di dealer motor sampai kosong,’’ kata Raja Abdul Aziz, pimpinan PT Bintan Jaya, perusahaan penampung getah karet terbesar di Pulau Kundur.

Di awal bulan puasa, jalan raya Desa Tanjungsari yang penuh lubang dan batu, disesaki puluhan sepeda motor baru berbagai merek. Barang-barang elektronik yang masih mengkilat seperti televisi, VCD player, dan lemari es terpajang di ruang tamu rumah warga. Lebaran dilewati penuh keriangan. ‘’Anak-anak dan menantu semua pakai baju baru,’’ kenang Maryono.

Hidup bagi petani karet Pulau Kundur seperti berselancar di atas gelombang. Kadang terbang tinggi melayang, di lain waktu terempas hingga ke dasar. Selepas Idul Fitri, harga karet di tingkat penampung tiba-tiba rontok. ‘’Turun sampai Rp2.000 sekilo,’’ ujar Maryono. ‘’Pahit,’’ ucapnya sambil menggelengkan kepala.

Maryono dan ratusan petani karet Pulau Kundur kaget dan terpukul. ‘’Kita tak siap menerima harga turun secepat itu,’’ katanya. Di kalangan petani karet Pulau Kundur istilah rugi digunakan bila harga satu kilo karet di penampung tidak cukup untuk membeli satu kilo beras. ‘’Kalau sekilo karet sama dengan sekilo beras, itu namanya balik modal,’’ kata Maryono. Bila satu kilo karet sama dengan sekilo beras plus sebungkus ikan asin, maka istilah yang dipakai adalah untung sedikit. Tapi jika sekilo karet bisa membeli berkilo-kilo beras, itu adalah untung besar.

Menurut Raja Abdul Aziz, bos perusahaan penampung getah petani, dari dulu harga karet memang naik turun. ‘’Jangankan hitungan bulan, dalam sehari saja harga bisa berubah sampai tiga kali,’’ katanya. Perusahaannya rutin menerima informasi perubahan harga dari kantor pusat di Tanjungpinang.

Situasi yang berubah cepat membuat petani pontang panting mencari duit melunasi kredit motor. Ada yang coba jadi pengojek, sebagian beralih jadi buruh bangunan. Yang lain berubah wujud jadi pedagang kagetan.

Maryono sendiri ikut jadi buruh di perusahaan pertambangan granit. ‘’Hasilnya hanya cukup untuk makan,’’ katanya. Ia hanya bisa memandang ketika petugas dealer akhirnya menggiring motor Kanzen miliknya menjauh dari halaman rumah. ‘’Itu dealer tiba-tiba penuh lagi. Habis motor yang dulu dibeli petani ditarik lagi semua,’’ katanya.

Kekalutan Maryono kian berlipat. Setelah kehilangan motor, ia juga dikejar-kejar guru tempat anak bungsunya bersekolah. Iuran rutin bulanan dan bayaran buku paket belum sanggup dilunasinya. ‘’Cam mana lagi, uang sudah tak ada,’’ katanya.

Di rumah panggung peninggalan kakek dan orang tua yang kini dihuninya, Maryono hidup bersama istri, tiga anak, menantu dan mertua. ‘’Total kami ada sembilan orang,’’ katanya. ‘’Semua harus makan. Kalau ada duit kita dulukan kebutuhan pokok dulu, sisanya baru buat bayar sekolah,’’ paparnya.

***
KARET adalah hasil pertanian utama di Pulau Kundur. Menurut sejumlah petani, kebun karet di pulau terluas dalam wilayah Kabupaten Karimun itu sudah ada sejak zaman Jepang. ‘’Waktu kakek saya masih hidup dia sudah petani karet,’’ kata Ismail Hisam, petani karet di Kundur Utara.

Mayoritas lahan perkebunan dikelola secara tradisional oleh warga, mengikuti cara-cara yang digunakan kakek dan orang tua mereka sebelumnya. Masing-masing petani memiliki luas lahan sekitar dua hektare sampai empat hektare.

Catatan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun, total luas lahan perkebunan karet di Pulau Kundur 18.394 hektare dari 19.210 hektare luas kebun karet secara keseluruhan di kabupaten itu. Lahan perkebunan itu terserak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kundur 2.260 hektare, Kecamatan Kundur Utara 14.106 hektare, dan Kecamatan Kundur Barat 2.028 hektare.

Pada tahun 2002 silam, saat Karimun dipimpin Bupati HM Sani (kini Wakil Gubernur Kepulauan Riau), ratusan hektare lahan kebun karet warga dialihkan jadi perkebunan nenas. Sejumlah petani memperkirakan luasnya mencapai 400 hektare.

Maryono mengenang, ketika itu, para pemilik kebun karet di desanya diiming-imingi janji, bahwa pendapatan dari nenas lebih besar daripada karet. Para pejabat kabupaten yang mendadak rajin turun ke Kundur selalu membangga-banggakan prospek perkebunan nenas. ‘’Banyak yang menerima, tapi saya menolak,’’ katanya. ‘’Itu, itu semua bekas kebun nenas,’’ katanya menunjuk dua petak lahan di sisi kanan rumahnya yang kini ditumbuhi rumput dan ilalang.

Besarnya harapan yang digantung pada kebun nenas terlihat dari meriahnya pesta panen perdana yang digelar Pemerintah Kabupaten Karimun, pada hari Selasa, 24 Agustus 2004 di Desa Tanjungsari. ‘’Bahkan Pak Menteri juga datang,’’ kata Maryono. ‘’Ada acara makan-makan dan foto-foto,’’ katanya. Yang hadir saat itu adalah Menteri Koperasi dan UKM Ali Marwan Hanan didampingi Pjs Gubernur Kepri Ismeth Abdullah (kini Gubernur Kepulauan Riau).

Namun, kegembiraan yang terpancar pada perayaan panen perdana tak berlanjut pada hari-hari berikutnya. Pasalnya, petani tak tahu kemana harus menjual hasil panenan mereka yang melimpah-limpah.

Memang, kata Tumardi, Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Lahan Perkebunan Kabupaten Karimun, waktu itu ada investor lokal PT Inmas Sun Shine yang berencana membangun pabrik pengolahan nenas, yang hasilnya akan diekspor ke Malaysia. Janji investor itulah yang turut dijual Pemerintah Karimun kepada petani hingga bersedia mengkonversi kebun karet jadi kebun nenas.

Tapi, hingga kiini, pabrik itu tak kunjung berdiri. Nenas yang sudah terlanjur ditanam warga membusuk di batangnya. ‘’Dipanen juga mau diapakan, dijual mentah siapa yang mau beli,’’ kata Maryono terkekeh. Saat panen perdana harga nenas masih berkisar Rp450-Rp500 per kilogram, karena distribusi tidak berjalan harga anjlok hingga Rp250 per kilogram. Petani menanggung kerugian.

Kenapa proyek impian itu gagal? Tumardi tak bersedia menjelaskan. Ketika ditemui di Kantor Bupati Karimun, ia tampak hati-hati menjawab pertanyaan seputar alih fungsi kebun karet ke kebun nenas, yang berbuah kegagalan itu. ‘’Jangan tanya itu ke kami, tanya ke Dinas Koperasi. Itu urusan mereka,’’ katanya. ‘’Kami hanya ngurus teknis penanamannya saja, soal investor dan penjualan itu tugas Dinas Koperasi,’’ katanya.

Batang-batang nenas yang membusuk itu kini terhampar di sisi kiri kanan jalan Desa Tanjungsari. Sebagian sudah dialihkan warga jadi kebun sawit. Sebagian lagi sudah ditanami karet kembali. Hanya saja, warga mesti bersabar menunggu hingga enam tahun setelah bibit ditanam. Sebab pohon karet baru bisa ditoreh getahnya setelah berumur enam tahun ke atas. Pemerintah lepas tangan? ‘’Kita bicara karet saja,’’ kata Tumardi.

***
TAK beranjaknya nasib petani karet dari sekapan kemiskinan, menurut Ismail Hisam, disebabkan tidak adanya keseriusan pemerintah melakukan pembinaan. ‘’Hidup kita seperti harga karet saja. Naik turun,’’ ucap petani Kundur Utara ini.

Seharusnya, kata dia, pemerintah mendorong petani yang jumlahnya 3.273 orang (jumlah petani karet di Pulau Kundur) untuk membentuk koperasi yang kuat. ‘’Kalau harga sedang turun, kita bisa pinjam koperasi untuk nutup kebutuhan sampai harga naik lagi,’’ katanya. Pemerintah, kata dia, juga tak pernah mengajar petani mengelola uang hasil penjualan yang diperoleh ketika harga sedang tinggi. Karena itu, pola hidup petani, yang cenderung berfoya-foya ketika sedang punya banyak uang, tak berubah sejak dulu.

Pola hidup yang dilakoni petani tersebut ikut menghambat laju produktivitas kebun karet. Peremajaan tidak berjalan. Petani lebih mengutamakan barang-barang konsumsi ketimbang membeli bibit baru dengan kualitas nomor satu.

Di kebun karet milik Maryono, misalnya, dari 15 jalur yang ada, hanya enam jalur saja yang masih bisa berproduksi (satu jalur terdiri dari 180 pohon karet). ‘’Sisanya sudah tua,’’ katanya. Batas usia produktif pohon karet adalah 30 tahun. Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Karimun menunjukkan, total area kebun karet di Pulau Kundur yang dihuni tanaman tua rusak alias tidak berproduksi lagi mencapai 9.440 hektare.

Menurut Tumardi, makin banyaknya area kebun tanaman tua rusak, makin menurunkan angka produksi rata-rata petani. Catatan pemerintah, kata Tumardi, di Kecamatan Kundur angka produksi berkisar 661,22 kilo per hektare kebun. Di Kundur Utara 698,36, dan di Kundur Barat 716,61.

Bos PT Bintan Jaya Raja Abdul Aziz mengatakan, produktivitas petani juga naik turun mengikuti harga. ‘’Kalau musim hujan, otomatis produksi turun, petani tak bisa menoreh batang,’’ katanya. Dan, walau cuaca bagus, tapi harga sedang rontok, produksi petani juga tidak akan naik.

Di tempat penampungan miliknya, kata Abdul Aziz, rata-rata menerima karet 20 ton sehari. Di Karimun, karet yang yang baru ditoreh dari batang disebut ojol. Ojol yang terkumpul kemudian dikirim ke Tanjungpinang untuk diolah, lalu diekspor ke Singapura.

Untuk mendongkrak produktivitas petani, kata Tumardi, Pemerintah Karimun sudah menjalankan program peremajaan yang disebut Gerakan Satu Juta Pohon Karet. ‘’Dari 2007 sudah jalan sampai 2010,’’ ujarnya. Satu juta bibit karet itu dibagikan cuma-cuma kepada petani. ‘’Ini bibit unggul dari Palembang dan Medan, harganya Rp6.000 per batang,’’ katanya. ‘’Kalau ada yang bilang pemerintah tak peduli, itu yang vokal-vokal saja. Mungkin bibit belum sampai ke rumah mereka,’’ katanya. ***

Older Posts

Blogger Template by Blogcrowds